KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG

KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG
Bab 19


__ADS_3

Fatira tiba di ruangan Darren dengan nafas yang sedikit tersengal sengal karena ia tadi sangat buru-buru saat melihat mood bosnya sedang tidak baik.


'Ais ngapain juga sih gue malah mikirin penyebab moodnya si boss harusnya gue mikirin nasib gue dong moga aja gak bakalan ngerodi ampe malem aelah' gerutu Fatira.


Tok!tok!tok!


"Pagi Pak ini sarapan sama susunya maaf saya terlambat"


"Hem" jawab Darren bergumam.


'Si Bos sariawan kali ya singkat banget jawabnya'


"Silahkan dinikmati Pak" fatira meletakkan makanan di meja.


Saat fatira berbalik badan menuju pintu tiba-tiba Darren bersuara.


"Yang tadi pacar kamu?"


"Hah...maksud bapak?" fatira balik bertanya.


"Lelaki tadi siapa?"Darren mengulangi pertanyaannya.


"Lelaki?" fatira mengerutkan keningnya.


"Yang sama kamu di lobi tadi" ucap Darren naik satu oktaf ia kesal dengan Fatira.


"Di lobby? oohh" fatira menepuk keningnya


Ia sampai lupa kalau Dio itu termasuk spesies lelaki yang sekarang dimaksud oleh bosnya. Fatira terkikik geli mendengar Dio disebut lelaki oleh Bosnya. Sedangkan dalam tangkapan mata Darren fatira terlihat sangat senang saat membahas Dio. Seketika benih-benih cemburunya tumbuh lagi setelah susah payah ya redamkan. "Kamu segitu sukanya sama dia Sampai tertawa seperti itu" ucap Darren dengan nada tajam.


"Hah suka maksudnya bapak? Saya suka sama dia?" ucap fatira sedikit menahan tawanya.


"Iya" jawab Darren malas membahas lelaki yang bersama Fatira sebelumnya.


'Dia nggak tau kalo gue sebisa mungkin nahan cemburu sampe rasanya gue mau bunuh laki-laki tadi' batin Darren.


Ia deg-degan menunggu jawaban dari Fatira semoga jawabannya tidak mengecewakan.


"Puffttt" Fatira menahan tawanya sampai ia menggigit-gigit Bibir bawahnya.


Melihat fatira malah menahan tawa membuat Darren sedikit geram karena fikiran Darren sudah negatif thinking sekarang.


"E-eh maaf maaf Pak saya kelepasan"ujar Fatira merasa bersalah.


"Jadi yang tadi itu teman saya sewaktu masih kerja di divisi yang sebelumnya pak"


"Bukan pacar kamu"


"E-eh bukan pak dia itu teman dekat saya"jawab Fatira sedikit terkejut.


" Baguslah" Darren bernafas lega mendengar penjelasan Fatira yang ternyata hanya sebatas teman.


"Tapi kamu nggak suka sama dia kan?"


"Ya suka pak"


Darren menegang mendengar ucapan Fatira ia sampai mengepalkan erat tangannya.

__ADS_1


"Saya suka karena dia orang yang sangat baik, tidak bermuka dua dan apa adanya jadi saya nyaman berteman dengan dia pak" jelas Fatira.


Mendengar penjelasan dari Fatira yang sangat di nanti-nantikan Darren langsung mengendurkan kepalan tangannya lega seketika.


"Oh saya kira dia tadi pacar kamu Soalnya kalian dekat"


"Emm.. kami memang dekat Pak saya sudah menganggap dia seperti saudara saya sendiri"


"Oh sekarang saya paham"


"Jadi kamu sekarang punya pacar?" tanya Darren kepo.


Fatira mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan yang sangat jauh dari kesan embel-embel pekerjaan. Tak mau berprasangka buruk ia langsung menjawab.


"Saya nggak tertarik untuk pacaran Pak"


"Jadi maunya langsung nikah" tanya Deren menyunggingkan senyumannya.


"E-eh nggak gitu.. Emm maksud saya lagi nggak mikirin ke arah situ Pak"


"Kenapa?"


"Kenapa Bagaimana Pak?"


"Kenapa belum mikirin nikah bukannya perempuan lebih suka cepat punya pasangan ya?"


"Bapak mau saya cepat resign ya"tanya fatira memicingkan mata ke arah bosnya.


"Eh Bukan begitu maksud saya, saya tadi hanya ingin tahu saja" alibi Darren.


"Pak.. Bapak kayaknya kalau mau interview saya sudah sudah telat deh" ujar fatira jengkel.


Bagaimana tidak jengkel saat bosnya seakan menyinggung umur Fatira yang memang sebentar lagi menginjak angka kepala tiga walaupun masih ada jangka waktu 3 tahun lagi dan sedikit merendahkan martabat perempuan padahal tidak semua perempuan ingin bergantung dengan lelaki dan tidak semua perempuan hanya mau dengan lelaki yang sudah mapan untuk menjadi pasangannya.


"Saya hanya ingin tahu dengan kehidupan pribadi karyawan apa itu masalah?"


"Bukannya seorang bos tidak akan mencampuri hidup pribadi karyawannya ya pak"


"Ya kalau sama kamu kan beda siapa tahu setelah saya mengenal kamu lebih dalam kita bisa jadi teman yang sangat menyenangkan mungkin"ujar Darren. Darren agak ragu mengucapkan kata teman karena ia sendiri inginya menjadi pasangan bukan hanya sekedar teman.


"Sepertinya tidak ada Note khusus yang mengharuskan Bapak berteman dengan saya"


"Kalau saya mau kenapa tidak"


"Bapak nggak takut kalau karyawan seperti saya bakalan semena-mena sama bosnya"


"Emang kamu berani semena-mena sama saya"


"Iya kan misalnya Pak"


"Berarti kamu ada rencana begitu ya"


"Makanya Pak nggak usah berteman sama saya, saya nyebelin soalnya" canda fatira.


"Kamu tuh bukan nyebelin tapi gemesin"lirih Daren dan masih bisa terdengar sedikit bergumam oleh Fatira.


"Gimana Pak" tanya fatira.

__ADS_1


"Bapak tadi bicara apa?"


Darren yang takut ke Gap saat mengagumi sekretarisnya pun gelagapan sendiri.


"Oh nggak... Oh ya business trip kita dimajuin jadi besok" ucap Darren mengalihkan perhatian Fatira.


"Bukannya Lusa ya pak kenapa dimajukan jadwal kita besok masih ada meeting sama Pak Pandu, dewan direksi dan yang lainnya Pak"


"Itu masalah gampang biar saya jelaskan dengan papa nanti setelah pulang kerja"


"Proyek kita lebih urgent dari pada sekedar meeting dengan dewan direksi yang hanya mempermasalahkan masalah-masalah sepele seperti kemarin"


"Baiklah Pak... berarti hari ini kita lembur sampai malam ya pak?"


"Iya sebisa mungkin laporan sama Pak Pandu selesai hari ini juga Supaya besok kita hanya fokus ke proyek kita saja" jelas Daren.


"Baik Pak"


"Kalau begitu saya reservasi tiket pesawat dan hotel ya Pak bapak mau terbang jam berapa" tanya fatira.


"Sekitar jam 07.00 pagi saya mau sampai di proyek langsung kerja tanpa membuang-buang waktu lagi"jelas Darren.


"Tapi untuk masalah Pak Wira di sini bagaimana pak?"


"Saya sudah serahkan sama orang saya kamu tenang saja, Dia pasti bakalan dapat hukuman yang setimpal saya pastikan itu"


Fatira bernafas lega sekaligus mendesah pasrah bersamaan ia lega karena Pak Wira akan secepatnya bergelar Napi dan sepertinya ia juga sebentar lagi akan sibuk luar biasa.


'gila euy ntar malam lembur besok pagi-pagi buta udah otewe ke bandara Welcome to Hell deh pokoknya mah' batin fatira.


'Jangan sampai ya bonus gue bulan ini kurang kalau kurang gue bakalan mencak-mencak ama si Boss' fatira hanya bisa menggerutu tak jelas di dalam hati.


"Besok saya jemput di rumah kamu jam 04.30 subuh"


"Loh Pak kan bisa ketemuan di kantor?"


"Sekalian fatira biar kamu nggak usah bolak-balik lagian rumah kamu juga searah sama bandara-kan untuk mempersingkat waktu apa salahnya?"


"Tapi saya kan nggak enak pak masa iya Bos jemput Karyawan"


"Ya udah kamu jemput saya kalau gitu"jail Darren.


Fatira mendengus saja mendengar ucapan bosnya.


"Udah kamu nggak usah banyak protes besok saya jemput jam 04.30 sekalian saya mau pamit sama ibu kamu bawa anaknya pergi dinas selama seminggu"


"Pak... Bukannya 3 hari ya pak Kenapa jadi seminggu"


"Memangnya kamu bisa jamin kalau 3 hari bisa selesai tepat waktu semua masalah yang di sana?"


"Ya nggak sih Pak tapi kenapa harus bapak yang izin sama ibu saya"


"Saya sebagai Bos harusnya tahu sopan santun bawa anak orang selama seminggu" "Tapi Pak-"


"Sudah tidak ada tapi-tapian kamu bilang sama orang kantor kalau selama satu minggu saya tidak boleh diganggu dengan urusan kantor selain mengurus masalah di proyek ingat itu"


"Baik Pak" pasrah fatira.

__ADS_1


__ADS_2