KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG

KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG
Bab 30


__ADS_3

"Pokoknya saya nggak mau tau ya Pak proyek ini harus selesai tepat waktu sesuai dengan kontrak awal" tekan Darren kepada salah satu kontraktor yang sedang mengerjakan proyek Wijaya Group sebelum menyudahi sesi kunjungan siang ini.


"Tapi mengingat waktu yang hanya sisa Tiga bulan agak mustahil mewujudkan itu semua Pak" jelas salah satu kontraktor.


"Saya nggak mau tau! Saya mau proyek ini selesai tepat waktu seperti di perjanjian awal, atau saya tuntut anda karena telah bersekutu dengan pembelot, harusnya anda bersyukur karena saya masih berbaik hati dengan anda karena kasihan melihat keluarga kecil anda" Darren berkata dengan nada dingin.


Mereka hanya bisa menunduk ketakutan serta menyesali perbuatan mereka yang pernah mendukung para penghianat walaupun mereka begitu karena terhasut oleh kelompok penghianat tetap saja mereka juga salah, beruntung Boss-nya masih berbaik hati dengan mereka karena kasihan melihat nasib keluarga kecil mereka jika sang tulang punggung harus mendekam di balik jeruji besi.


"Pak, Bapak nggak salah ya ngasih tenggat waktu mereka mepet kayak gitu" tanya Fatira setelah menjauh dari kerumunan para pekerja proyek.


"Kenapa?" tanya Darren mengernyitkan dahi.


"Kali ini saya nggak mau dengar hasutan kamu lagi ya Raa, cukup masalah kemarin saya ngasih toleransi ke mereka karena kehasut sama kamu karena kamu cerita tentang keluarga kecil mereka, masalah kali ini jangan berani-berani ceramahin saya atau saya potong gajimu bulan ini Lima Puluh persen" omel Darren sembari berjalan mengecek konstruksi jalan Tol yang sebagian baru selesai.


Fatira mendelikan matanya tak terima mendengar gajinya akan di potong sebagian.


"Ishh Bapak ini, saya kan cuman nanya bukan mau ceramahin Bapak" ujar Fatira mengerucutkan bibirnya,


'mana berani gue selancang itu, ngadi-ngadi nih si Boss' batin Fatira masih mengerucutkan bibirnya.


Darren sempat melirik ke arah Fatira yang tengah memanyunkan bibirnya ia begitu gemas ingin sekali mencium bibir yang seakan menggoda dirinya untuk dilumat, sadar akan otak panasnya Darren segera berpaling ke arah lain sebelum terjadi kejadian yang panas di bawah terik matahari yang panas.


"Ehem! Pokoknya saya nggak peduli dengan cara mereka mecahin masalah bagaimana yang jelas dalam waktu Tiga bulan proyek ini harus rampung, mau mereka nyontek caranya Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam semalam juga saya nggak peduli" omel Darren panjang lebar.


Fatira terkikik geli mendengar omelan Darren di bagian yang akhir.

__ADS_1


"Serem kali Pak yang begitu-begituan mah..." ucap Fatira sebelum mendengar seruan 'Awas' dari Darren.


Fatira yang tak siap pun sempat oleh sebelum pinggangnya di tangkap Darren agar tak nyungsep di tengah padi yang mulai menguning.


"Tuh kan saya bilang juga apa, kamu harusnya tadi nggak usah ganti baju tuh sekarang lihat mau nya di gendong kan sama saya" ujar Darren menarik sudut bibirnya.


Fatira yang masih syok pun langsung mendelik tak terima mendengar ucapan Darren seolah dirinya ingin modus dengan Bossnya.


Buru-buru Fatira melepaskan diri dan berjalan mendahului Darren antara kesal dan malu, kesal karena ucapan Bossnya yang asal nyeletuk dan malu karena mereka menjadi pusat perhatian para pekerja proyek melihat adegan dirinya yang seperti berpelukan dengan Bossnya.


'Tadi cuman insiden Pak insiden, bukan di sengaja! saya anak baek-baek Pak anak sholeha saya mah' jelas Fatira dalam hati sembari menatap beberapa orang yang masih menatapnya.


*


Fatira sendiri sedang mengernyit bingung, mengingat-ngingat apakah ada schedule lain yang sempet terlewatkan oleh dirinya atau tidak.


Iya saat ini mereka sedang berada di mobil yang seharusnya pulang menuju kantor cabang kota itu bukan ke hotel, setelah kejadian sedikit memalukan tadi Fatira sengaja menghindari Bossnya, alhasil sisa waktu survey tadi ia bermain kucing-kucingan dengan Boss-nya di saat Darren mencoba mendekat Fatira punya seribu cara untuk menghindar contohnya berpura-pura bertanya ini-itu ke salah satu pekerja proyek lalu mencatat beberapa poin-poin penting, lalu bertegur sapa dengan pemilik sawah yang lahannya sudah di beli sebagian oleh Wijaya Group.


Sungguh Fatira sangat malu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu yang menjadi pusat perhatian hampir semua orang yang ada di proyek itu.


Bagaimana tidak? Jika posisi Fatira dan Darren tadi seperti pasangan yang sedang berpelukan seperti Jack dan Rose yang tengah berpelukan sembari merentangkan kedua tangan dan di peluk oleh Jack dari belakang lalu Rose berkata 'I'm flying' di salah satu scene Film Titanic yang sempat booming beberapa tahun silam, bedanya jika di Film Titanic rose merasa terbang karena lautan cinta berbeda dengan yang di alami oleh Fatira ia terbang karena kepleset dan terjun ke arah kubangan lumpur. Memang nasib sial sebagai pejomlo abadi.


"Loh kita nggak ke kantor dulu Pak? Bukannya masih ada jadwal temu dengan beberapa pejabat daerah setelah ini Pak" tanyanya di tengah kebingungannya.


"Saya udah minta tolong sama asisten saya untuk mewakilkan"

__ADS_1


"Haa.. Asisten Bapak yang mana?" Fatira bertambah kaget.


"Ada deh kamu nggak perlu tau yang mana, yang jelas dia orang yang jujur dan yang terpenting dia cowok bukan cewek, jadi kamu tenang saja" jawab Darren tersenyum singkat.


Fatira sedang mencerna maksud perkataan dari Darren yang agak aneh menurutnya, pusing memikirkan Bossnya yang menurutnya sedikit agak-agak ia tak ambil pusing.


'Bodo amatlah yang penting masalah proyek ama laporan ke pusat selesai'.


"Kamu langsung beresin barang kamu ya dan pastiin jangan ada yang tertinggal satupun kita ketemu lagi di lobi Satu jam lagi" tutur Darren yang membuat Fatira membolakan matanya bingung sekaligus kaget.


"Kita pulang ke Jakarta sekarang Pak?"


Darren menggelengkan kepalanya dan menyuruh Fatira segera masuk ke kamarnya supaya tak membuang waktu lagi.


"Pak! Saya belum pesen tiket ini gimana mau pulang" serunya lagi.


"Udah kamu tenang aja duit saya banyak" ucap Darren dengan entengnya ia lalu melenggang pergi masuk ke dalam kamar hotelnya meninggalkan Fatira yang tengah bersungut-sungut.


"LAH APA HUBUNGANNYA SAMA DUIT BAMBANK!" seru Fatira setelah Darren masuk ke kamarnya.


"Emang sekate-kate ya kalo punya Boss muda nih dikira packing nggak butuh waktu banyak apa? Cumana sejam mana laper ya elaahhh"


"Lah kamvret siapa yang berantakin kamar gueee" teriaknya frustasi, padahal tersangkanya utamanya adalah ia sendiri tadi pagi yang memporak-porandakan kamarnya akibat bangun telat akibat maraton drakor hingga pukul Tiga pagi. Alhasil ia salah kostum dan ditertawakan oleh Darren.


......................

__ADS_1


__ADS_2