
Setelah puas menikmati wahana kora-kora Fatira kembali mengajak Deren menikmati permainan dia dengan entengnya menarik Darren kesana kemari guna mencoba permainan-permainan yang ada seperti lempar kaleng, rumah hantu, tong setan dan yang terakhir memainkan boneka capit.
Alhasil setelah 2 jam berkeliling ria akhirnya Fatira menyerah juga sedangkan Darren masih santai saja bahkan tak keberatan digilir sana-sini oleh Fatira ia malah ketularan senang karena ternyata asik juga bermain di pasar malam apalagi bersama fatira, ia seperti anak Tk yang baru saja di izinkan ke luar rumah oleh ibunya.
"Hufftt ternyata capek juga ya" ucap Fatira sembari menghela nafas.
"Boss capek nggak?" tanya fatira sambil berjalan memdekati tempat duduk yang kosong.
"Enggak sih biasa aja" jawab Daren santai ia masih asik melihat kesana kemari mencari sesuatu yang membuatnya tertarik.
"Masa sih? Aku aja sampai encok pinggang boss" 'Ck kayaknya gue musti minum vitamin biar nggak cepet osteoporosis' batin Fatira sembari memijit pinggangnya.
"Makanya banyakin olahraga jangan males jadi orang minimal jogging kek seminggu sekali'' omel Darren.
"Nggak sempet boss aku kan kerja dari Senin sampai Jumat belum lagi sabtu minggunya kadang aku bantu ibu cosplay jadi Ijah'' curhat Fatira.
"Ijah siapa tuh?" bingung Darren.
"Art masa kini boss" seloroh Fatira.
"Woww multi talenta juga ya kamu'' ujar Darren terkekeh.
''Aku emang multitalenta sih nggak heran kalau banyak yang sayang'' bangga fatira dengan dirinya sendiri.
''Iya deh iya banyak yang sayang, termasuk aku'' ucap Darren keceplosan.
''Heuu gimana?'' tanya Fathir kaget.
Darren gelagapan telah keceplosan mengakui perasaannya di waktu yang tidak tepat.
"Loh itu emang salah ya kalau aku sayang sama karyawan?''
"Ya nggak sih boss cuman dalam konteks yang gimana dulu sayangnya''
__ADS_1
"Iya sayang karena kamu karyawan yang baik teladan sama cekatan makanya aku sayang, kalau nggak sayang mungkin aku udah buang kamu ke perusahaan lain'' alibi Darren.
''Ya kalo Bos nggak nyesel sih nggak apa-apa kapan lagi ya kan punya karyawan loyal kayak aku'' sombong fatira dengan polosnya.
Darren hanya bisa terkekeh mendengar kesombongan Fatira yang merujuk ke fakta itu.
Tetapi Darren juga tak kalah bersyukur mengingat betapa polosnya Fatira karena tak menangkap maksud dari ucapannya tadi.
Setelah beberapa menit bercengkrama dengan Fatira tak sengaja mata Darren menangkap sesuatu yang membuatnya tertarik.
Ia lalu berjalan ke arah keramaian yang dari tadi membuatnya penasaran. fatira yang melihat darren beranjak pergi pun pelan-pelan mengikuti dari belakang karena ia juga penasaran dengan apa yang dilihat bossnya.
'Lah kok malah nyamperin peramal gocengan' pikir Fatira aneh.
Darren lalu mendekati anak-anak yang berdiri tak jauh dengan dirinya karena ingin bertanya.
"Dek, yang rame-rame tu apaan sih?" tanya Darren kepada anak kecil yang di tangannya di penuhi dengan es krim dan harum manis itu.
"KAMU NANYEA??" jawabnya dengan nada menyebalkan nan asing di pendengaran Darren.
"Ouhh.. Kamu bertanyea tanyea.. Yaudah kalo kamu nanyea biar aku kasih tau yeahh" jawab anak kecil itu yang membuat Darren geregetan setengah mati ingin sekali Darren melemparkan anak itu ke pucuk tower yang sedang berdiri gagah tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sedangkan di belakang Darren, Fatira yang tengah menyaksikan percakapan Darren dan anak kecil itu pun tertawa terpingkal-pingkal.
"Ya ampun boss ngapain coba nanya bocil yang baru brojol kemarin sore" ujar Fatira di tengah tawanya, bahkan saking lucunya ketika melihat ekspresi Darren, Fatira tertawa sampai mengeluarkan suara Ngik-ngik hingga sudut matanya berair.
"Kan cuman dia doang yang nganggur ya aku tanya, kenapa jawabannya malah aneh plus ngeselin gini heran deh" gerutu Darren.
Fatira semakin tertawa mendengar gerutuan Darren yang berfikir aneh kepada anak kecil itu.
"Haha.. Ya elah boss itu mah bukan aneh cuman sekarang emang lagi booming kali yang begitu-gituan mah, mangkanya boss jan kerja mulu update gih sama yang namanya tok tok" ejek Fatira.
"Aku nggak ada waktu buat begituan" jawab Darren kesal dan berjalan ke arah kerumunan peramal yang membuat ia penasaran karena sedari tadi ramai pengunjung.
__ADS_1
"Trus bos juga ngapain kesini" tanya Fatira, ia merasa aneh melihat kelakuan random Darren yang dengan semangatnya mendatangi peramal hingga tak sayang mengeluarkan beberapa lembaran merah guna menyuap para pengunjung yang antri terlebih dahulu.
'The real horang kaya' batin Fatira takjub.
"Boss ngapain kesini?" tanya Fatira berbisik ke telinga Darren.
"Husstt.. udah diem aja kamu temenin aja duduk sini" jawab Darren sembari menarik tangan Fatira dan mendudukannya di kursi lalu ia pun ikut duduk di sebelahnya.
"Kalo kita di jadiin tumbal proyek gimane boss" ujar Fatira berbisik sembari melirik seorang perempuan sekitar berumur 40-an yang tengah memainkan kartu di depannya.
Darren hanya mendecakkan lidah mendengar celetukan Fatira seperti biasa yang selalu out of the box itu ia bahkan terlihat sudah terbiasa dengan pola fikir wanitanya itu.
"Tingkat kewasapadaanmu yang membuat dirimu hingga kini masih belum bisa berdamai dengan takdirmu" ucap Wanita itu tiba-tiba dengan logat khas jawa medhoknya.
Fatira pun mendadak bingung mendengar perkataan wanita itu secara tiba-tiba tanpa ada yang mengajaknya berbicara.
"Kamu terlalu waspada dengan orang di sekitarmu nak, mulai sekarang berdamailah dengan takdir" kali ini wanita itu berbicara menatap mata Fatira dalam.
"Ibu bicara sama saya" ucap Fatira kaget sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Ya... dan panggil saya Mbok bukan ibu" ujar wanita itu.
"Kamu takut di jadikan tumbal bukan?" ujar Mbok itu lagi sembari tersenyum.
Dua orang yang sedang duduk berdampingan itu pun seketika berjingkat kaget dan saling berpandangan.
'Kok bisa tau kan tadi gue cuman bisik-bisik sama si boss' batin Fatira heran.
"Bahkan saya juga tau isi hati mu sekarang" ucap si Mbok tersenyum sekilas.
Fatira langsung kicep tak berani berekspresi apapun ia takut ketahuan kalau sering menyumpah serapahi bossnya lalu si mbok membocorkan tabiatnya.
"Jadi saran dari saya untuk kamu nak, cobalah lebih berfikir positif terhadap orang yang sedang memberikan ketulusan kepadamu.. Lupakan semua masalalu yang selalu menggerogoti batin mu dan mulailah nikmati hidup yang lebih baik lagi, tidak semua laki-laki itu sama seperti orang yang telah menorehkan luka di hatimu dulu, bisa jadi orang yang sedang berada di sekitarmu ialah yang paling tulus mencintaimu dan dia pula orang yang bisa menyembuhkan lukamu yang terdalam" Fatira langsung terdiam sungguh hatinya sangat tersentil mendengar ucapan si Mbok itu.
__ADS_1
Iya..
selama ini Fatira memang terlalu waspada terhadap orang yang mendekatinya apalagi itu bergender laki-laki. Ia sangat susah percaya lagi dengan mereka karena lelaki yang pernah hadir dari masalalunya sangat menorehkan trauma yang sangat dalam kepada dirinya sehingga ia susah membuka diri apalagi tertarik kepada lawan jenis.