
" Iya tapi kamu harusnya tau kalau ada anak buah pak wira memotret kamu lalu melaporkan ke dia, kamu dalam bahaya!" marah darren.
Fatira semakin bingung dibuatnya, bukannya seharusnya Big boss nya itu senang karena ia sudah berhasil mendapatkan bukti-bukti untuk mengungkap siapa saja tikus di perusahaan ini.
Padahal ia berharap kerja kerasnya dapat reward oleh sang big boss, tapi lagi-lagi ekspetasi Fatira terlalu tinggi, ia malah kena semprot oleh bossnya.
"Hahhhh" Fatira menghela nafas.
" Pak saya nyamar loh, bahkan bapak aja gak bakalan kenal sama saya" jawab Tira.
" Kamu sudah memastikan kalau nggak ada yang kenal sama kamu? " tanya Darren memastikan.
" Saya yakin seratus persen nggak akan ada yang mengenali saya pak" jawab Tira yakin.
" Apa perlu saya sewakan bodyguard untuk memastikan keselamatan kamu?" tanya Darren.
" Ck ck ck,, Pak saya bukan anak kecil loh" ucap Tira sedikit kesal.
" Penjahat gak akan pilih-pilih orang FATIRA" jawab Darren menekankan namanya.
Fatira tidak tau bagaimana darren mengkhawatirkan dirinya, setelah fatira menyerahkan bukti yang menurut darren sangat berbahaya itu ia menjadi was-was terhadap calon masa depannya itu, walau dirinya belum tau apakah Fatira mau menjadi masa depannya atau tidak.
" Ya kalau mereka tau identitas saya, besar kemungkinan saya gak bakalan ada di hadapan bapak sekarang" jawab Tira memamerkan giginya.
" Jangan aneh- aneh kamu " bentak Darren.
" Hehe " jawab tira nyengir sembari garuk-garuk kepala.
" Pak bukannya seharusnya bapak senang ya, saya sudah berhasil loh membongkar tikus berhianat di perusahaan ini, kenapa nggak senang" tanya Tira menyelidik.
Darren menghampiri gadis itu yang sedang duduk di meja kerjanya, ia meletakan kedua tangannya di atas meja dan langsung berhadapan dengan Fatira dengan jarak sekitar sepuluh senti meter.
Ia menatap lurus mata jernih gadis itu, tira yang di tatap dengan seintens itu pun gugup tetapi tanpa sadar ia juga memabalas tatapan big bossnya seperti ada magnet yang menyuruh dirinya untuk membalas tatapan mata tajam itu.
" Saya gak mau kamu terluka" jawab darren membius tatapan Tira.
'Deg deg deg' suara jantung Tira.
Ia lalu mengangkat tangannya dan mengelus kepala Tira.
" Karena pasti bakalan repot kalau Wijaya Group sampai hutang budi sama kamu" lanjut Darren menarik pipi Tira.
" Aaww " Pekik Tira mengelus pipinya yang merah sehabis di cubit oleh sang big boss.
" Pak saya bisaloh tuntut bapak atas kasus penganiayaan terhadap karyawan" sinis tira.
" Emang bakalan ada yang percaya " Tanya Darren dengan mimik polos.
" Kok saya jadi nyesel ya pak bantu Wijaya Group" kesal Tira.
__ADS_1
Dan langsung mengundang tawa menggelegar oleh Darren.
Darren lalu berlalu menuju meja kerjanya tak lupa mengacak-acak rambut Tira.
' Untung gue gak jadi baper tadi, Gak lucu banget baper ama brondong 'gerutu tira dalam hati sembari merapikan rambutnya yang telah di acak-acak oleh big bossnya itu.
Darren yang sedang duduk di kursinya kerjanya langsung meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu lalu dikirim ke orang kepercayaannya.
Ternyata ia menyuruh orang suruhannya mencarikan beberapa bodyguard untuk diam-diam melindungi Fatira.
' Aku gak bisa maafin diri aku sendiri kalau kamu sampai kenapa-kenapa' batin darren sambil menatap sebuah foto yang diambilnya diam-diam saat Fatira tengah fokus bekerja kemarin.
*
Saat ini Darren dan Fatira sedang menuju sebuah hotel untuk melakukan pertemuan bisnis dengan seorang client untuk membahas sebuah kerja sama yang sebelumnya telah di sepakati oleh Papanya, papanya berniat mengembangkan perusahaannya ke bidang pariwisata, dan darren menambahkan idenya untuk membuka pariwisata sebuah Villa mewah di bali dengan pemandangan sawah yang membentang luas memanjakan mata memandang dan beberapa resort yang di lengkapi sebuah kolam renang mewah dan sebuah private Beach.
" Saya tak menyangka kalau Pak Pandu mempunyai keturunan yang nyaris menyaingi beliau sendiri" ucap Tuan Raditya client yang umurnya sebaya dengan papanya yang di temui Darren siang ini.
" Anda terlalu berlebihan Tuan, saya masih harus belajar banyak terhadap papa saya" jawab Darren merendah.
" Ah kamu salah anak muda, saya sekarang seperti melihat Pak Pandu sewaktu muda" Jawab Tuan Raditya terkekeh.
" Dan saya yakin kalau beberapa tahun kedepan kamu akan lebih sukses dari pada Pak Pandu " lanjut Tuan Raditya.
" Terima kasih tuan saya akan berusaha maksimal kedepannya" jawab darren tersenyum.
Meeting hari ini berjalan dengan lancar, setelah berpisah dengan Tuan Raditya ia dan fatira lalu berlanjut untuk makan siang.
" Nggak perlu reservasi tempat saya sudah punya tujuan " jawab darren.
" Lanjut ke Hokki Caffe pak " perintahnya kepada sang sopir setelah ia masuk ke mobil.
" Bapak nggak mau ke Restauran saja?" tanya tira mengerutkan kening.
" Tak perlu, kebetulan saya ada perlu disana" jawab Darren sembari mengetikan sesuatu di ponselnya.
" Kok saya tidak tau,, Apakah ini menyangkut pertemuan Client?" Tanyanya bingung
Karena setahu dirinya sang big boss baru akan ada jadwal lagi sekitar jam tiga, itu pun meeting internal bersama para petinggi perusahaan yang akan membahas penangkapan si botak pagi tadi.
Jangan sampai ia tak tahu apa-apa bisa hilang nanti predikat karyawan paling handal yang melekat pada dirinya kalau ia sampai kecolongan.
" Tak perlu sekhawatir itu,, ini hanya janji dengan sahabat saja kok" jawab darren.
" Ohh" ucap tira mengangguk-anggukan kepalanya.
Sesampainya di Caffe Tira di buat bingung ia terlihat berpikir hingga dia ingat kalau beberapa bulan yang lalu ia mengalami sebuah insiden kecil disini.
" Ayo turun" ajak Darren.
__ADS_1
" Bapak kalau sudah selesai memarkirkan mobil ikut saya saja makan siang di dalam " pintanya pada sang sopir.
Lagi-lagi fatira di buat kaget oleh darren, fatira kira big bossnya itu sama seperti orang kaya pada umumnya yang tak mau tahu tentang keadaan sang sopir, ternyata ia salah darren berbeda dengan yang lain.
Tindakan darren mendapat nilai plus dari gadis itu.
Sesampainya di Caffe mereka di sambut hangat oleh seorang waiters dan langsung di arahkan ke ruangan VIP yang ada di lantai tiga.
Fatira di buat terkesima oleh gaya caffe yang bertema Hygge di lantai satu dan Modern untuk lantai dua dan tiga.
" Kamu pesan saja apa yang kamu mau" perintah Darren.
" Bapak mau di pesankan apa" tanya Tira.
" Saya spaghetti bolognese sama orange juice " ucap Darren yang sibuk dengan ponselnya.
" Bapak gak makan nasi?" tanya tira, Ia heran dengan perut orang kaya yang cukup kenyang hanya dengan makan Mi dengan roti di siang bolong seperti ini.
Sedangkan dirinya kalau tidak kesentuh nasi perutnya akan terus keroncongan terus menerus.
" Nggak, saya masih kenyang sarapan nasi goreng tadi" jawab Darren.
" Huftt, Dunia memang gak adil ya " lirih Tira yang ternyata di dengar oleh darren.
" Kenapa gitu? " Tanya darren sembari mengerutkan kening.
" Harusnya orang kaya yang banyak duitnya makannya banyak, bukan seperti kami-kami ini yang duitnya pas-pas an malah banyak makan" ucap Tira.
" Ha ha ha ha ha" pecah tawa darren mendengar keluhan konyol Sekretarisnya.
" Gak semua orang kaya makannya sedikit fatira" ucap darren masih memegang perutnya yang terasa keram.
Tok Tok Tok
" Gue ganggu nggak? " tanya lelaki yang baru masuk itu.
" Menurut lo?? " kesal darren.
Ia sungguh kesal karena acara kebahagiaannya di ganggu sahabat tengilnya itu.
Padahal kapan lagi ia bisa menikmati raut wajah fatira yang sedang polos dan kesal itu bersamaan kalau bukan sekarang.
" Wuiihh santai dong bro" ucap lelaki itu tanpa dosa.
" Eh- ada cewek cantik disini, Kenalin aku Leon pratama temennya Darren" sapa leon mengulurkan tangan nya ke arah Tira.
" Fatira Ayunda sekretarisnya Pak Darren Pak" jawab tira sembari menjabat tangan leon.
" Aduuh,, Jangan panggil pak dong cantik, panggil aja leon atau sayang juga boleh " ucap Leon mengerlingkan mata ke arah Fatira.
__ADS_1
Plakkkk
" Jangan macem-macem lo ya!!! jangan samain dia sama cewek-cewek di luaran sana" marah darren.