
Dengan berat hati Fatira akhirnya menerima hukuman yang menurutnya sangat menjengkelkan itu.
Sedangkan si pembuat malah tersenyum menang tanpa beban dan rasa bersalah sama sekali.
Membuat Fatira gatel tangannya,, ingin sekali ia memakai skill lempar lembingnya sewaktu sekolah saat ini juga untuk melempar kepala sang boss menggunakan high heels yang di belinya dengan harga diskon itu.
"Huhh" Fatira mendesah sambil memijit pangkal hidungnya, pusing mikirin bakti sosial selama empat hari.
' Lembur ditemeni calon masa depan kapan lagi' kekeh Darren dalan hati.
Ia melirik ke arah Fatira yang sepertinya lagi menyumpah serapah dirinya dalam hati.
Bukanya sakit hati darren malah tersenyun girang membayangkan itu.
Ia mempunyai taktik akan menarik perhatian tira dan membuatnya kesal dahulu terhadap dirinya supaya terbiasa akan hadirnya darren.
Tak terasa jam menunjukan setengah delapan, sepertinya memang mereka pasangan workaholic, jika bekerja sampai tak kenal waktu.
"Ahh akhirnya " lega Fatira sembari melemaskan ototnya yang sedikit tegang akibat duduk terlalu lama.
" Pak sudah jam setengah delapan" ucap Fatira memberi tahu.
" Hem,, ya " jawab darren sambil membereskan berkas-berkasnya.
" Saya besok mau sarapan nasi goreng" lanjutnya.
Fatira mendecakkan lidahnya dan hanya menjawab anggukan kepala saja.
Ia takut jika menjawab akan mendapatkan masalah lagi.
" Kamu pulang naik apa??" tanya Darren.
" Saya pak? " tanya Fatira menunjuk dirinya sendiri.
" Emang ada orang lain selain kita" jawab Darren.
" Ohh saya naik motor pak " jawab Fatira sambil menekan tombol Lift parkiran motor dan lobi untuk sang big boss.
" Oh " ucap Darren kecewa.
Padahal ia berharap kalau Fatira tak membawa kendaraan sendiri, nanti ia akan bermodus menawari tumpangan dan mengantarkannya sekalian modus.
Sempurna sekali bukan halunya.
Tetapi ia harus menelan kecewa ternyata hayalan tak sesuai kenyataan.
" Loh kok kamu kesana?? " tanya darren heran.
" Saya gak mungkin naik motor pake baju beginikan pak" tunjuk Fatira pada dirinya sendiri.
Fatira langsung pamit ke Darren yang hanya menatapnya dalam.
...----------------...
Pagi ini Fatira sedang berkutat di dapur milik ibunya. Hari masih petang kemungkinan orang dirumahnya masih tidur, biasanya jam segini Fatira juga masih tidur tapi karena ada Special Request dari sang Boss, jadilah ia jadi babu dirumahnya sendiri.
Udah dibilangkan nasip jadi bawahan itu nguenes huehehehe.
Menu nasi goreng seafood sudah terhidang diatas meja, Fatira sekalian masak banyak untuk sarapan ibu dan adiknya.
" Hemmm,, Wangi banget mbak ayu masak apa? " tanya Fania yang baru turun kelantai satu.
Iya, semenjak Fatira memutuskan pindah ke jakarta ia membeli rumah yang sangat sederhana dari penjualan rumah yang ada di bandung dulu lalu sisanya untuk modal ibunya membuka usaha bakery dan catering. Alhamdulillah setelah berjalan hampir empat tahun lebih, usaha ibunya makin maju hingga setahun yang lalu mereka bisa merenovasi rumah dan membeli ruko satu lantai terletak tak jauh dari rumahnya, hanya Sepuluh menit naik motor.
Fania sekarang sedang menyusun Skripsi dan setelah wisuda ia berencana akan membantu ibu memperluas usahanya hingga ke Wedding Organizer dan yang menjadi investornya adalah Fatira sendiri.
" Nasi goreng seafood menu andalan mbak ayu dong" Ucap Fatira sambil nyengir.
" Aku cobain ya" pinta Fania,
__ADS_1
" Ini enak banget mbak!!" pekik fania.
" Ck biasa aja dong, Gue emang jago masak kali, segini mah kecil buat Fatira mah" sombong Fatira menjentikan jarinya.
" Yaudah join yuk bikin Caffe kayaknya lagi hits banget di jakarta" ucap Fania semangat.
" Ogah, kasian owner caffe yang lain ntar pada gulung tikar kalo saingan sama gue" ucap Fatira mengibaskan rambut lepeknya. Kan belum mandi ya pasti lepek.
Fania jengah melihat kakaknya yang somplak itu semenjak ke jakarta otak kakaknya geser seratus delapan puluh drajat dari semula.
Fania mendecakan lidah lalu bertanya
" Mbak punya kenalan orang proyek nggak?" tanya Fania serius.
" Buat apa " tanya Fatira bingung.
"Gue pengen banget numbalin mbak jadi tumbal proyek " jawab fania tertawa.
Fatira mendelikan matanya ke adiknya yang sedang tergelak itu.
" Dasar adek lucknut lo yaaaaa" umpat Fatira sambil mencoba menimpuk kepala fania pakai sutil kesayangan ibunya.
" Gak kena wleeee" Ejek fania sambil berlari mengitari meja makan.
" Sini looooo" kejar Fatira.
" Mbak lo gausah deh kayak anak kecil ngejar-ngejar gue, gue cuman kasihan sama pinggang mbak yang udah mulai encok" tambah Fania makin mengejek.
" Faniaaaa" teriak Fatira.
" Mbak ingat mbak bentar lagi kepala Tiga " ledek fania.
" Udah deh mbak kalo emang udah berumur tu emang gak bisa di sembunyiin" tambah Fania.
" Makanya nikah dong mbak, Cantik iya laku kagak"
Mendengar ucapan adiknya membuat Fatira semakin semangat mengejar adiknya.
" Happp... nah dapat kan lo " ucap Fatira menerkam fania yang terengah-engah.
" Aduhh mbak ampun" Teriak fania.
" Ampunn?? Haha Gue dari tadi pengen banget nimpuk kepala lo sama nyabein tuh mulut biar kalo ngomong keinget azab" ucap Fatira tersenyum smirk.
" Mbak jangan dong" rengek fania berusaha merebut sutil itu supaya tak kena dirinya.
Pletakk
" Apa yang kalian lakukan sama sutil ibuuuuuu" teriak bu fatma.
Tanpa ba bi bu bu fatma langsung menjewer telinga dua anak gadisnya.
" Aduh buu!!! " pekik fania.
" Aw ibuuu sakit lepasin" rengek Fatira.
" Lebih sakit lagi hati ibu!! kenapa barang kesayangan ibu kalian patahin" pekik ibu pas di kedua telinga anak gadisnya.
" Ampun buu, nanti Fatira bakalan ganti yang lebih bagus" rengek fatira.
" Aduh!!! iya bu uang kak Fatira banyak kok minta aja ganti sama dia " tambah fania seperti kompor mbleduk.
" Kalian gak bakalan tahu gimana perjuangan ibu bareng sutil itu kalo lagi begadang!! " marah Bu Fatma.
" Iya bu maaf, nanti Ayu ganti deh sekalian sama yang udah bisa otomatis ngaduk sendiri, tanpa ibu pegang" mohon Fatira.
" Kamu anggep ibu gak bisa ngaduk sendiri!!" ucap Bu Fatma makin marah.
" Aw aw aw,, ibuu aduh ibuu" rengek Fatira yang ternyata ibunya malah menambah kekuatan jewerannya.
__ADS_1
" Syukurinn" ledek Fania memeletkan lidahnya.
Fatira hanya mendelik tajam ke arah adik lucknutnya itu.
Sedangkan ekspresi yang di pelototin? Jangan tanya lagi, fania malah tertawa terbahak-bahak melihat mbaknya tersiksa.
" Ibuu,, Ayu minta maaf nanti Ayu ganti yang sama, dari penjual sama modelnya" rengek Fatira.
" Bener ya" tanya ibu memastikan.
" Pegangannya juga harus sama rasanya di tangan ibu" lanjutnya .
Fatira menganggukan kepalanya tanda setuju.
" Oke, Ibu maafin" ucap Bu Fatma sambil melepas tangannya di telinga Fatira.
" Makasih bu " ucap Fatira sembari mengelus-ngelus telinganya yang terasa panas, lalu berjalan kearah meja makan untuk sarapan bersama.
" Mbak sih sombongnya overdosis langsung dibayar tunaikan karmanya" ledek Fania sembari melirik ke Bu Fatma.
" Buuu, Liat tuh si fania dari tadi ledekin mbak" rajuk Fatira.
"Dihhh, Udah gede masih CEPU!!" sewot Fania.
" Sepertinya ibu harus memberikan cuti hari ini untuk Bi Sumi, kebetulan kalian lagi kurang kerjaankan?" ucap Bu Fatma tanpa melihat dua anak gadisnya.
Fania dan Fatira saling melirik sepertinya mereka tau arti dari perkataan ibu mereka,tanpa aba-aba mereka langsung menghabiskan sarapannya.
Dirumah itu seperti ada aturan ghaib yang telah disepakati oleh Fatira dan Fania bahwasanya
*Di larang membangunkan ibu Suri dari pertapaannya, atau tamat riawayat Kalian!*.
Tapi naasnya kalian pasti punya kan saudara kandung yang kelakuanya pasti jail sebelas dua belas sama dakjal.
Ingin rasanya mencincang-cincang dagingnya lalu di buat jadi gulai beuuhh, Nikmat Dunia!!.
Setelah selasai sarapan Fatira langsung menuju kamarnya untuk mandi dan ganti baju sebelum berangkat ngerodi seharian.
" Bu,, Ayu berangkat ya" pamit Fatira.
" Iya, Ini sekalian dessertnya dibawa, ibu lagi bikin menu baru kamu kasih nilai ya" ucap ibu.
Fatira hanya mengangguk dan memasukan kedalam tas ransel doraemonnya.
" Jangan lupa Sutil Ibuu!!" Teriak ibu saat Fatira sudah naik ke atas motornya.
' Aduhh, Sutil lagi' batin Fatira sambil menepuk keningnya, yang sialnya malah kena Helm.
Jam menunjukan Delapan kurang seperempat, seperti biasa setelah tira berganti kostum ke setelan ngerodinya ia langsung menyiapkan sarapan untuk sang big boss sebelum jam delapan.
Tepat Jam delapan terdengar pintu terbuka dan pasti itu sang big boss.
Saat ini Fatira sedikit tahu selain workaholic ternyata boss nya itu orang yang sangat tepat waktu dan kemungkinan besar dia juga perfeksionis.
' Bakalan berat kayaknya hidup gue beberapa waktu kedepan' desah Fatira.
" Ini kamu sendiri yang masak? " Tanya Darren.
" Iya Pak"jawab Fatira.
' Pengennya sih nyuruh bi sumi ' batin Fatira.
" Hemm, Enak" Puji Darren.
" Besok pagi saya pengen makan Coto Makasar" ucap Darren dengan nada perintah.
" Nggak sekalian soto medan sama rawon pak" tanya Fatira dengan nada sinis.
" Wah soto medan oke juga tuh" jawab Darren tanpa beban.
__ADS_1
Fatira langsung memelototkan matanya hampir keluar dari tempatnya.
' SUMPAH!!! Bos gue rese gilaaaa' batin Fatira frustasi.