
Aku yang saat ini sedang berhenti di lampu merah pun mencoba melihat sekeliling ku sebelum lampu Hijau kembali menyala.
Terlihat anak kecil laki-laki sedang membawa dagangan kacang goreng di bungkus memanjang dengan plastik transparan.
Aku yang melihat itu pun tersentuh, melihat betapa tabahnya anak yang ku perkirakan berumur Sepuluh tahunan itu menawarkan dagangan dari motor satu ke satunya lagi.
" Dek Sini !! " Teriakku memanggil anak laaki-laki itu.
" Kak mau beli kacang nggak? Ini buatan ibu saya sendiri loh di jamin enak rasanya" Ucap Anak itu mempromosikan dagangannya.
" Mauuu " ucapku
" Berapa dek satu harganya ?" lanjutku bertanya.
" Satu Dua Ribuan aja kak" sahutnya.
" Ini totalnya semua berapa biji ?" tanyaku lagi.
" Semua? " Tanya anak itu memastikan.
" Iya semua " Ucapku menganggukan kepala.
Kulihat anak itu langsung semangat menghitung semua dagangannya, aku pun beralih melihat tubuh kurusnya yang kusam karena terpapar sinar matahari terus menerus, membuatku iba sekaligus sedih.
" Total semuanya Tiga Puluh lima kak, jadi semua Tujuh Puluh Ribu" ucap anak lelaki itu.
Aku pun langsung mengambil uang yang ada di dalam Waistbag ku.
" Ini kembaliannya untukmu aja " ucapku sembari menyodorkan Dua lembar uang ratusan.
" Alhamdulillah kak,, Makasih banyak ya akhirnya saya bisa beliin Kue untuk adik saya" ucap anak itu menangis.
" Wah adik mu ulang tahun ya?" tanyaku.
" Hehe,, Iya kak ini ulang tahunnya yang ke Tujuh" jawab anak itu.
Aku langsung mengangguk-anggukan kepala.
" Kalau gitu kakak juga mau kasih hadiah deh " Ucapku sembari menyodorkan uang merah Dua lembar lagi.
" E-eehh nggak usah kak, ini aja udah cukup" ucap anak itu mengangkat Dua lembar uang yang sebelumnya ku kasih.
" Kan ini untuk adikmu, ya rejeki adikmu dong dan kamu nggak boleh nolak" aku memaksa.
" Tapi i-ini terlalu banyak kak" cicit anak itu.
" Nggak papa kan rejeki nggak boleh di tolak"
" Kakak duluan ya, semoga ketemu lagi" pamitku.
" Terimakasih kak" teriak anak itu, karena saat ini memang sedang ramai suara klakson mobil dan motor.
Aku langsung mengacungkan jempol kemudian tancap gas ke rumah Dio.
Tanpa Fatira sedari tadi ia di perhatikan oleh seseorang yang sedang duduk di balik kemudi mobil di sebelah Fatira.
"Aku makin kagum sama kamu" ucap orang itu.
...****************...
Sesampainya di rumah Dio aku langsung melipir kedalam rumah dan langsung di sambut asisten rumah tangga Dio.
" Bi Dio udah bangun ?" tanyaku.
" Udah non lagi siap-siap katanya" jawab bibi.
__ADS_1
" Oh yaudah kalau gitu saya langsung naik ya bik" ujarku.
" Silahkan non"
Karena aku sudah sering kerumah Dio Art-nya pun sudah sangat hafal denganku, bukan karena aku spesial atau bagaimana tetapi karena cuma aku satu-satunya teman Dio yang berani kerumah mengingat Orang Tua Dio yang lumayan garang dan over protektif dengan sistem pertemanan anaknya.
Maklum Dio ini tergolong orang yang lumayan mampu bahkan orang tuanya pun memiliki beberapa Butik terkenal yang tersebar di seluruh wilayah jabodetabek.
Mungkin karena itu, orang tuanya hati-hati dengan orang yang mendekati Dio mengingat betapa baiknya Dio yang memiliki hati lembut kenyal serta legit itu.
Kalau kalian mikir kenapa ia masih mau bekerja jadi karyawan di perusahaan lain padahal ia bisa menjadi Boss di Butiknya sendiri.
Jawabannya adalah 'Pengen aja sih, kalau langsung jadi Boss kok kayaknya hidup gue terlalu mulus ya, bosen gue nggak ada lika-likunya'.
Nah itu dia ngeselin kan? Sama!! aku awalnya juga pengen getok kepalanya kesel banget soalnya.
Intinya adalah Gabutnya orang kaya emang beda guys!!
" Woyy" teriakku mengangetkan Dio.
" Astaga!! " pekik Dio.
" Lo lama-lama bikin jantung gue lompat dari tempatnya tau nggak!" marah Dio.
" Ehehe,, Sorry abisnya gemes banget gue ama lu " cengirku.
" Gemes pala lu, hampir aja ketendang ni kaca kesayangan gue!" kesal Dio tangannya sembari mengelus standing miror di hadapannya.
" Elah kaca doang, lagian empet gue liatin lu ngaca tiap hari"
" Emang ya kalo Haters itu paling nggak suka liat orang seneng!" sinis Dio.
" Idihh berasa artis ya Situ!"
"Bentar anjirr Tas gue!" pekiknya.
" Buruaaann!!" teriakku.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya sang bintang pun keluar dengan setelan yang lumayan membagongkan.
" Kok nggak sekalian lu pake Baju APD" kesalku melihat setelan yang di pakai oleh Dio.
Bayangkan saja saat ini dia memakai setelan yang hanya memperlihatkan matanya saja bahkan tangannya saja memakai sarung tangan yang harganya membuat ginjalku bergoyang!.
" Kita kan naik motor masa gue udah cakep glowing abis nyalon abis tu perang ama debu sia-sia dong gue nyalon" jawab Dio.
" Enggak segininya juga kali, lo naek Mobil aja sono ngapain numpang ama gue kalo takut debu" geramku.
" Lo kalo masih mau ngomel, ntar kita bakalan nggak nyampe-nyampe" jawab Dio cuek sembari naik ke motorku.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan nyata bin ajaibnya temenku yang satu ini.
" Tangan lo sante dong meluknya engap tau nggak!" teriakku di tengah bisingnya kendaraan yang melintas.
" Ntar kalo gue jatoh Papi marah" jawab Dio.
Aku langsung memutar mataku malas melihat kelebaiannya yang sudah next level itu.
...****************...
Sesampainya di salon aku langsung disambut ramah oleh karyawati salon yang memang mengenal Dio sejak lama.
Aku pun langsung memilih perawatan yang membuat kulitku terlihat glowing serta men-Cat rambutku dengan warna Coklat sedikit Ombre berwarna abu-abu yang kian memancarkan sesuatu yang berani dalam diriku.
Di saat kami sedang asyik melakukan perawatan terdengar suara gaduh perempuan dari luar tanpa ba-bi-bu perempuan itu langsung masuk ke dalam ruangan yang sedang kugunakan.
__ADS_1
"Pokoknya saya nggak mau tahu!! saya mau dia, yang melayani saya" teriak perempuan itu dengan lantang. Menunjuk ke salah satu staf yang sedang melakukan perawatan ke aku dan Dio.
Aku yang sedang bingung pun langsung melihat ke arah Dio yang ternyata juga menatapku seakan bertanya padaku Siapa tuh.
Mungkin dia juga bingung melihat perempuan yang tiba-tiba menerobos masuk ke tempat perawatan kami
"Hei kamu cepat layani saya" ucapnya sembari menunjuk salah satu staf yang sedang melakukan perawatan kepadaku.
" Ma-maaf Nona saya sedang melayani nona ini" Ucap staff yang melayani diriku.
"Pokoknya saya nggak mau tahu saya maunya kamu" ucapnya menunjuk nunjuk staff itu.
" ta- tapi"
" Hey kamu berani ya sama saya,, kamu nggak tahu saya itu siapa?" ucapnya sombong.
Staff itu pun langsung menundukkan kepalanya terlihat takut dengan wanita itu.
"Dan kamu" ucapnya menunjukku.
"Kamu rakyat jelata harus ngalah dong sama saya,, Saya ini pelanggan VIP di sini dan saya adalah salah satu Top Model di Indonesia jadi kamu harus mengalah sama saya" sombongnya.
Aku yang mendengar nada hinaan yang keluar dari mulut perempuan itupun langsung ikut mendidih.
'Enak banget ya lo ngehina gue! Oke lo jual gue beli!' batinku geram.
" Maaf ya Mbak yang katanya Top Model" ucapku menekankan kata Top Model.
"Situ kan datangnya terakhir,, Duluan saya kenapa Saya harus ngalah?? saya juga bayar loh di sini" ucapku tak kalah lantang
" Kamu kamu berani ya sama saya" ucapnya ingin menamparku.
"Silakan tampar saya,, Tapi saya juga akan pastikan video ini bakalan saya viralin se-indonesia" ucapku sembari memamerkan handphone yang sedang merekam aktivitas kami.
"Lu- lu berani ya sama gue!! gue bisa pastiin lo bakalan nyesel berurusan sama gue dan ingat urusan kita belum selesai" Ucapnya dengan muka merah padam kemudian dia berlalu karena ada seorang wanita yang aku taksir managernya menarik paksa dia keluar.
"Mbak sekalian tuh artisnya diajarin attitude biar tahu bahasa ngantri"
"Makanya dulu kalau sekolah jangan tidur biar tahu budaya Indonesia" tambah Dio memanas-manasi perempuan itu.
"Cih sok banget jadi cewek" gerutu Dio yang masih bisa kudengar.
"Gue paling males banget ketemu orang kayak gitu" ucapku malas.
"Berasa dirinya paling Princess kali, maunya di utamain terus" Dio kesal.
"Emang dia siapa sih??" tanyaku.
"Dia Cindy frederica nona,, artis yang sedang naik daun sekaligus Top Model" jawab staf yang sedang melayaniku.
"Tapi kok gue nggak kenal ya mbak" ujar Dio bertanya-tanya karena memang Dio biasanya sangat Update dengan hal yang berbau-bau artis di indonesia. Maklum clien keluarganya kan kebanyakan artis.
"Dia memang artis yang suka nyari sensasi sih Mas,, kalau nggak salah dia terkenal karena pernah nyenggol dan menjelek-jelekin model yang saat ini sedang naik daun juga" jelas salah satu staf.
"Oalah Pantes,, nggak ada prestasi rupanya" Cemooh Dio.
Waktu pun berlalu sehingga kami cepat selesai dan sesuai dengan janjiku kemarin aku yang membayar Dio sekaligus tanda terima kasih karena sewaktu dulu aku bekerja di divisi yang sama bersama dia, dia selalu bersikap baik dan selalu membelaku dari fitnahan Duo Kunti.
Walaupun setelah aku melihat Struk kepalaku langsung berdenyutan syok melihat angka yang tertera. Tapi demi teman yang super baik seperti Dio aku rela mengeluarkan hampir setengah dari gajiku sewatu menjadi asisten bu Sari.
Setelah kami puas dengan acara salon menyalon kami pun berlanjut ke arah mall yang lumayan terkenal di daerah Jakarta.
Kami menghabiskan waktu weekend kami dengan makan dan menonton film Marvel yang baru rilis dan sedang hangat-hangatnya dibicarakan di Indonesia.
Setelah menonton dan memastikan perut kami kenyang kami berlanjut ke Timezone sekedar mengisi daya yang akan digunakan untuk ngerodi dari Senin sampai Jumat belum lagi kalau lembur.
__ADS_1