
"Aduh gimana ya pak, saya ini orang-nya cablak kalau bicara pak ssperti yang sudah saya bilang kapan hari, saya takut kalau bapak nanti bakalan sakit hati sama pengucapan saya" jelas Fatira tak enak.
"Saya nggak keberatan tuh, saya juga masih suka ngomong kasar kalau bicara sama sahabat laknat saya" sanggah Darren.
"Oh woww benarkah begitu pak?" ucap Fatira pura-pura syok seraya menutup mulutnya.
"Ck.. Nggak usah lebay deh!" ucap Darren menjitak pelan kepala Fatira.
"Jadi gimana mau nggak berteman sama saya kalau diluar jam kerja" lanjut Darren.
"Pak kayaknya tadi mintanya cuma nggak usah bersikap Formal deh, kenapa jadi ngelunjak jadi berteman" ucap Fatira menaikan satu alisnya.
"Hahahaha.. Sekalian biar nggak ribet"
"Sekretaris berteman sama Boss?" ucap Fatira berfikir.
"Oke juga tuh pak.. Jadi saya nggak usah segan-segan marahin bapak, kalau bapak ngasih saya pekerjaan seabrek" lanjut Fatira cengengesan.
"Wahhh kamu jangan jadi sekretaris dan teman yang nggak tau diri dong" balas Darren.
"hwahahaha... Sekalian dong pak, kalau bisa berteman sama harimau kenapa nggak sekalian sama si singa juga" ujar Fatira
"Jadi selama ini kamu nganggep saya singa ya?" tanya
"Hehe ya semacam itulah pak" cengir Fatira Darren langsung geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Oh ya satu lagi permintaan saya" ucap Darren.
"Wah si Bapak makin nglunjak aja nih, dari tadi satu mulu kayaknya" celetuk Fatira yang masih bisa di dengar oleh Darren.
"Ini mengenai panggilan kamu yang masih formal ke saya.. Setelah saya fikir-fikir nggak ada teman yang masih manggil 'pak' ke temannya, Jadi kamu harus manggil saya nama aja tanpa embel-embel 'pak' Oke!".
"Ngga bisa gitu dong pak nanti kalau ada yang dengar saya bersikap kurang ajar sama bapak abis karir saya, spesies kayak saya bisa punah pak di dunia perkantoran" jelas Fatira tak lupa di sertai lawakan.
"Tenang aja nggak ada yang bisa pecat kamu di kantor selain saya"
"Ck.. Ck.. Ck.. Iya memang cuma bapak yang bisa mecat tapi saya juga nggak bakalan lupa kalau orang tua anda juga punya kuasa yang sama,, tolong garis bawahi orang tua Anda" ucap Fatira menekankankata Orang tua.
"Santai aja.. Papa saya nggak pernah peduli dengan sistem pertemanan saya kok, yang dia pedulikan hanya bagaimana memperkuat wijaya group bukan anaknya, jadi kamu nggak usah takut" ucap Darren tersenyum getir tetapi terpancar sorot mata kesedihan yang tak bisa di tutupi.
"Jadi gimana mau nggak berteman dengan saya dan memanggil saya dengan sebutan Darren tanpa embel-embel 'pak'?" ucap Darren mengalihkan.
__ADS_1
"Ya kalau Boss maksa ya saya bisa apaa" ucap Fatira pasrah.
"Good good"
"Baiklah Darren mari kita ke pasar malam lets gooo" teriak Fatira tanpa malu. Jika saat ini ada para sahabat Fatira pasti mereka tak akan segan-segan mangatai 'Fatira si tanpa urat'. Kenapa tanpa urat? Lihat saja tingkahnya sekarang seperti manusia yang tak punya urat malu.
Setelah mobil berjalan sekitar 15 menit terakhir melewati kemacetan karena adanya pasar malam dan drama parkiran yang penuh akhirnya mereka sampai juga di depan gerbang pasar malam.
Tanpa menunggu Darren Fatira bergegas keluar dari mobil. Darren pun hanya bisa menggelengkan kepala heran melihat tingkah Fatira yang terlampau senang.
'Ke pasar malem aja seneng apalagi di ajak ke pelaminan coba' batin Darren terkekeh.
"Okee Darren malam ini kita bakalan senang-senang biar kakak yang traktir" ujar Fatira menunjuk dirinya sendiri.
"Hahh kakak?" kaget Darren, ia sungguh speechless mendengar perkataan Fatira dengan sebutan 'kakak'.
"Iya kakak.. kan aku lebih tua dari kamu 2 tahun, harusnya kamu panggil aku kakak dong biar sopan" ucap Fatira dengan polosnya.
'Tuhaan tolong beri saya kesabaran yang tinggi saya bisa beli juga nggak papa tuhan uang saya banyak' teriak batin Darren frustasi.
"Aku nggak mau lagian umur kita cuma beda 2 tahun bukan 10 tahun" ujar Darren bersikeras.
"Cihh.. Nggak minat! Punya kakak kayak kamu pasti cepet ngabisin stok sabarku" sewot Darren.
"Hahahaha beneran nih??" goda Fatira.
"Benerrrr" jawab Darren malas.
"Kalau gitu kira-kira Wijaya Group masih butuh tambahan anak nggak ya? Jadi anak adopsi juga aku hayuk ajaa" ucap Fatira masih menggoda.
Sretttt!!!
Seketika tatapan tajam dari Darren langsung Fatira dapatkan.
"Hehe Ceilehh bang pemarah amat" ujar Fatira salah tingkah, sesungguhnya ia sedikit takut ketika Darren sudah dalam mode senggol bacok seperti ini.
"Masih pengen masuk atau pulang?" tanya Darren dengan nada datarnya.
"Masuk boss! Ayokk"
Fatira tanpa permisi langsung menarik tangan Darren dan memegangnya. Darren langsung menegang sewaktu tangannya bergandengan dengan Fatira hati yang sedang dongkol pun seketika menghangat. Di wajahnya lalu terbit senyuman semanis gulali sampai para pengunjung wanita di buat lumer dengan senyumannya.
__ADS_1
Sedangkan tersangka utama yang telah menerbitkan kembali senyum Boss-nya yang sempat tenggelam pun lagi-lagi tidak peka jika dirinya sudah membuat hati anak bujang orang jumpalitan tak jelas.
'Bisa berabe ntar kalo si boss ampe ke gores di keramaian gini ntar gue lagi yang jadi tersangka utamanya' itulah yang ada di fikiran Fatira.
"Kita ngapain kesini?" tanya Darren bingung saat Fatira berhenti di salah satu wahana yang paling rame.
"Kita naik itu yuk boss!" tunjuk Fatira semangat.
"Hahh naik itu?" beo Darren ikut menunjuk ke arah permainan kora-kora yang sedang berayun.
"Iya naik itu.. Seru loh" ucap Fatira antusias.
Darren mengamati wahana tersebut ia merasa permainan itu yang kurang safety pun mengajak Fatira berlalu.
"Itu bahaya nggak safety.. Liat tuh" ujar Darren.
"Ihh.. Ini itu udah standart-nya pasar malam, boss jangan samain sama safety-nya Disneyland dong" kesal Fatira.
"Ya tapi liat aja tuh-" belum selesai Darren berucap Fatira sudah menarik tangannya menaiki wahana tersebut. Tak tanggung-tanggung Fatira langsung memilih kursi yang paling ujung tertinggi.
"Ini beneran amankan?" tanya Darren sedikit teriak karena ramainya pengunjung.
"Aman aku jamin.. Disini kamu bisa teriak sepuasnya luapin amarah yang ada dalam diri kamu" jawab Fatira berteriak juga.
Darren yang awalnya masih sanksi pun langsung tenang ketika mendengar ucapan meyakinkan dari Fatiranya.
Satu! Dua! Tiga!
Whoaaaaaaaaaa berbagai teriakan terdengar.
Darren menjadi tegang bukan main ia takut kalau tiba-tiba terjadi suatu hal buruk yang tak di inginkan.
Fatira yang melihat raut tegang Darren pun berinisiatif memegang tangannya dan berbisik
"Tenang.. Lalu nikmati.. Teriakan semua amarah yang ada di dalam hatimu selama ini"
Nyessss!!!
Bagai api yang di siram air raut wajah Darren yang awalnya tegang pun seketika langsung rileks.
Dalam hitungan ke-3 ia pun ikut berteriak heboh sampai melupakan kekhawatiran yang membuatnya kepikiran sedari tadi.
__ADS_1