KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG

KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG
Bab 28


__ADS_3

Ada nggak sih disini yang pernah ngalamin habis terbang tinggi ke angkasa lalu di hempasin sekuat tenaga ke bumi?


Kalo pernah yaudah kalian sama kayak Fatira.


Bayangin deh gimana keselnya Fatira pas lagi seneng-seneng eh... tiba-tiba di buat badmood mendadak seperti ini.


Kan jadi kesel yah.


Terserahlah kalau kalian bilang Fatira lebay atau apapun nggak peduli, yang ia pedulikan saat ini hanya perutnya yang kehabisan stok makanan.


Kalian pasti taukan gimana perempuan kalau lagi laper buasnya kayak gimana?


Mungkin kalau berantem sama harimau juga perempuan bakalan menang.


'Dalam halunya'


"Raa.. Raaa.. Masih marah ya?"


'Ini nih kebiasaan orang indonesia yang nggak hilang-hilang, Udah tau jawabannya masih aja nanya untung aja boss gue.. kalo enggak cih udah gue tendang ke pluto ni orang' gerutunya dalam hati.


"Menurut anda?" jawabnya sinis.


Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju ke hotel tempat mereka menginap, setelah membereskan keriweuhan tadi Fatira memang tak bicara sedikitpun biar si boss tau bentuk protes yang ia kibarkan.


Kenapa berani?


Karena sekarang lagi mode temen dan nggak ada atasan bawahan, kalau lagi mode boss ya nggak berani juga sih.


"Maaf Raa" ucap Darren lembut, terlihat raut penyesalan di wajahnya.


"Semua sudah berlalu Pak mau di apain lagi" jawabnya cuek bebek.


"Kok jadi Pak lagi sih raa" ujar Darren memelas.


"Gelap Pak" ucapnya ngawur.


"Mau saya hidupin aja lampunya?" tanya Darren polos.


"Ck.. Penglihatan saya gelap karena saya laper Pak, ditambah Bapak tadi asal nyeplos aja di tempat umum bikin saya tambah gelap" cerocosnya kesal.

__ADS_1


"Kan tadi udah minta maaf raa"


"Saya belom maapin" ucap Fatira menatap sinis Darren.


Darren cukup menggigil melihat tatapan Fatira yang selalu membuatnya panas dingin.


"Jadi saya harus gimana biar kamu maafin? Apa saya harus bikinkan restoran untuk penjual tadi" tanya Darren putus asa.


"Bapak nggak usah becanda, ngga lucu" saut Fatira.


"Saya ngga bercanda Fatira, saya serius" jelas Darren.


"Ehh Beneran?" beo Fatira tak percaya.


"Kalo beneran, kamu mau maafin aku kan?"


"Nggak usah ngadi-ngadi, anda cukup jaga lisan tanpa menyakiti perasaan orang lain aja saya udah maafin" jelas Fatira.


Mata Darren langsung berbinar indah mendapat angin segar dari sang calon ayang yang sudah ia klaim akan menjadi ayang merangkap menjadi nyonya Darren suatu saat nanti.


"Beneran??" tanyanya.


"He'emmm" jawab Fatira malas, ia sudah kehabisan tenaga, setengah ngantuk di tambah lapar paket komplit pokoknya.


......................


Mereka kini telah sampai di hotel dan sedang berjalan ke arah kamar masing. Fatira sibuk dengan makanannya walaupun matanya sudah tekantuk-kantuk, sedang Darren malah sibuk jalan sembari memperhatikan Fatira yang menurutnya begitu menggemaskan malam ini di tambah matanya yang sayu sangat persis seperti kucing persia menambahkan rasa gemas Darren terhadap Fatira.


"Pak, ini makan malam buat Bapak" ujar Fatira di tengah kantuknya sembari memberi Darren sebungkus sate, sedangkan 3-nya lagi ia sendiri yang makan. Yang jelas walau kantuk menyerang, badai menerjang, tsunami melanda, gempa bergoyang Fatira abaikan jika sudah menyangkut kelangsungan hidup cacing ternak di perutnya.


Darren sendiri sangat tak suka mendengar Fatira yang kembali menyebut dirinya Pak, tapi ia terlalu dini jika ingin protes.


"Apa ini?" tanya Darren sembari mengernyitkan dahi bingung melihat buntalan kertas serta lidi panjang-panjang dimasukkan ke plastik, ia merasa asing dengan makanan yang berbungkus plastik tersebut.


"Ya sate lah Pak masak pizza" jawab fatira kesal, Ia sepertinya lupa jika Darren adalah keturunan sultan sejak dalam kandungan, yang terbiasa makan-makanan ala kaum borjuis bukan berkaki lima seperti dirinya.


"Oooh sate" beo Darren sembari membolak-balikkan bungkusan itu di tangannya.


'Ck soto tau, ayam geprek tau, ayam bakar tau, masa iya sate nggak tau dasar aneh' gumam fatira dalam hati.

__ADS_1


"Ya udah Pak saya mau masuk dulu selamat malam" pamit Fatira, belum sempat tangannya menggapai handle pintu ia kembali lagi menoleh karena dipanggil Darren.


"Eh tunggu" Darren sengaja mengulur waktu, Ia memaksa otaknya berpikir supaya ada alasan tetapi mulutnya malah berkata lain dan kembali menyulut amarah Fatira lagi.


"Kenapa Pak?" tanya Fatira kembali menghadap ke arah Darren, Ia Mencoba sabar di saat kepalanya pening akibat kelelahan beraktivitas seharian ditambah telat makan malam membuat lambungnya nyeri setengah mati ( bagi kalian yang mempunyai penyakit lambung pasti akan mengerti).


"Emm" Darren menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari berpikir alasan apa yang terdengar logis agar ia bisa makan malam bersama calon Ayang.


"Ini sate apa" tanya Darren polos.


"Bapak cuman mau nanya itu aja?" tanya Fatira geram, saking geramnya ia sampai menggigit-gigit mulut bagian dalamnya untuk meredam amarahnya supaya tak meledak saat itu juga.


"Iya" jujur Darren dengan bodohnya.


"Ini yang saya kasih ke bapak sate rusa.. Kenapa saya pilih sate rusa? kalau sate ayam Bapak lagi berusaha nangkep ayam tetangga kan makanya saya enggak mesenin Bapak sate ayam takut dosa udah ngedahului takdir".


Setelah itu Fatira langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu.


Brakkk!!


Darren sampai terlonjak kaget ia mengelus dadanya yang berdebar tak karuan.


Masih disertai bingung ia juga mengikuti langkah Fatira memasuki kamar tetapi kamarnya sendiri bukan kamar Fatira, bisa kena lemparan meja kalau ia berani masuk ke kamar si calon Ayang.


Ia lalu duduk dengan gerakan slow motion Ia membuka bungkusan kertas dan plastik yang diberi oleh fatira. Lambat laun ia mulai mencicipi salah satu tusukan daging dan memasukkan ke dalam mulut. Lama ia mengunyah sembari berpikir lalu matanya berbinar-binar tak menyangka dengan rasa yang dihasilkan oleh lidahnya.


'pantes aja kamu sampai marah-marah ternyata emang seenak ini' gumamnya.


Ia lalu kembali memasukkan satu persatu tusukan daging itu beserta lontongnya sampai habis ia sampai bersendawa karena kekenyangan sejenak y


ia lupa kalau Fatira terakhir kali masih kesal terhadap dirinya.


"Kayaknya aku musti ngasih restoran nih buat penjualnya, sekalian buat bahan sogokan kalo calon ayang ngambek" gumamnya.


Sedangkan di kamar sebelahnya Fatira tengah mengobrak-abrik isi tasnya sibuk mencari obat asam lambung yang ia bawa dari Jakarta setelah meminumnya ia ikut memakan sate yang ia beli 3 porsi untuk dirinya sendiri. Di saat tengah asik makan ia melihat ponselnya sedang bergetar ia langsung meraih dan membaca pesan yang tak di ketahui namanya.


Nomor tak diketahui


(Hai.. selamat malam)

__ADS_1


Farah mengernyitkan dahi bingung menerka siapa tersangka yang tengah mengirimi ia pesan yang menurutnya sangat ketinggalan zaman.


"Kurang kerjaan banget sih udah tahu malam masih aja diucapin selamat malam.. ucapin kek 'Hai dek transferan bulan ini udah aku kirim ya' gitu biar gue semangat ngabisin duitnya.. Selamat malam doang mah nggak bikin gue kenyang dasar!" gerutunya. Ia lalu mengacuhkan pesan itu dan melanjutkan makan malam nikmat yang tertunda.


__ADS_2