KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG

KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG
Bab 31


__ADS_3

"SATU JAM LEWAT SEPULUH MENIT" ujar Darren berkata setelah melihat Fatira tiba di lobi dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Ya allah ya rabbi, saya tadi kebelet Pak udah di ujung nggak bisa di tahan atau di masukin lagi" ceplos Fatira.


Darren meringis geli mendengar kata-kata tanpa filter di tengah lalu lalang pengunjung hotel, bahkan banyak orang yang menoleh ke arahnya walau sekedar kepo. Agak malu sebenarnya tapi karena cinta-nya besar kepada gadis bar-bar di depannya ini rasa malu itu segera terhapus dengan rasa cinta yang lebih besar.


"Kamu ngapa sampe nyebut segala sih, kayak pernah sholat aja"


"Ishh si Bapak ini, walaupun kelakuan saya rada kunti kayak gini masalah ibadah jangan di raguin lagi, emang kayak Bapak"


"Emang saya kenapa?" tanya Darren menaikan alisnya.


"Engg itu- Eh! Pak kita telat" Seru Fatira saat melihat jam tangan kecil di pergelangan tangannya, ia sengaja berseru mengalihkan perhatian Darren karena tak ingin melanjutkan acara debat terbukanya yang bisa ia pastikan akan memakan waktu yang cukup lama.


Dan disinilah Fatira dan Darren berada sekarang, mereka sedang menikmati makan siang yang agak tertundanya di salah satu lounge yang berada di bandara kota Solo, tempat orang-orang berdompet tebal beristirahat sembari menunggu pesawat dengan fasilitas yang begitu WAHH, dan tak akan terjangkau bagi kaum WUEK seperti Fatira. Ia kali ini lumayan beruntung karena bisa menikmati fasilitas mewah untuk pertama kalinya karena fasilitas dari perusahaan, jika bukan karena perusahaan mungkin seumur hidup Fatira tak akan pernah menginjakan kakinya di tempat seperti ini ia masih sayang uang dibanding di buat bersenang-senang dalam waktu sekejapse mungkin ia akan lebih memilih meng-upgrade motor kesayangannya dengan motor yang lebih kencang agar ia bisa kebut-kebutan di jalan atau sekedar memacu adrenalin. Walau konteksnya sama-sama menghabiskan uang tapi Fatira lebih menyukai hal yang seperti itu di banding menikmati fasilitas mewah seperti ini.


Dan entah sejak kapan Bosnya mempersiapkan rencana ini semua Fatira juga tak tahu dan tak mau tahu, yang ia fikirkan sekarang hanya makan, makan dan makan!


"Menurut Bapak orang-orang yang ada disini dompetnya pada tebel nggak?" celetuk Fatira tiba-tiba setelah menghabiskan dessert terakhirnya.


Darren yang menjadi obyek bertanya pun mengalihkan pandangannya sejenak dari laporan-laporan perusahaan yang berada di hand phone-nya ke arah perempuan cantik di hadapannya yang terlihat sedang berpangku tangan.


Ia mengerutkan kening menerka-nerka konteks apa yang akan di bicarakan Fatira selanjutnya.


"Kenapa kamu nanya gitu?" ia balik bertanya.


"Yah sekedar pengen tau aja sih Pak, mereka beneran kaya atau enggak" jawabnya.


"Ya mana saya tau, saya bukan cenayang yang bisa liat isi dompet orang, terus kenapa kamu panggil saya Pak-Pak lagi?"


"Saya nyamannya manggil Bapak, kesannya kalo saya manggil nama kok kayak nggak tau diri gitu"


"Telinga saya yang nggak nyaman kamu panggil gitu" kesal Darren.

__ADS_1


"Ya jangan nyalahin saya dong Pak, siapa suruh anda jadi atasan saya, ya saya bicaranya formal dong" sengit Fatira.


Darren menghela nafas mencoba merilekskan emosinya karena lagi-lagi Fatira membawa jabatan sialannya.


"Oke kembali ke topik!" Darren mencoba mengalihkan topik untuk menjaga emosinya tetap stabil.


"Saya nggak tau mereka beneran kaya atau enggak, tapi setahu saya orang seperti mereka kelihatannya ya mungkin kaya walau nggak sekaya saya, emang kenapa?" tanya Darren.


Fatira mendengus mendengar kenarsisan boss-nya di akhir kalimat. Tapi ia juga berbinar mendengar jawaban bossnya yang lumayan membuatnya puas.


"Pengen saya gebet Pak, lumayankan nikah ama yang tua-tua kayak mereka" ucap Fatira sembari menunjuk salah satu pria paruh baya yang berpakaian branded dari ubun-ubun sampai kuku kaki.


"Lumayan kan Pak, nikah setahun langsung jadi janda kaya raya tanpa susah-susah nyari uang" lanjut Fatira terkekeh membayangkan dirinya bersuami pria yang lebih cocok di panggil kakek olehnya, ia menatap pria paruh baya itu lagi sambil berdecak kagum melihat banyaknya cincin yang nangkring di jarinya dan Fatira bisa jamin itu semua berlian Ori no KW KW, apalagi KW super.


'Satu,dua,tiga... Eh busyet enem cuy semua.. Gue yakin itu satu cincin harganya pasti melebihi rumah Ibu' batinnya kagum, ia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya bingung menebak seberapa kayanya bapak-bapak itu.


Tanpa Fatira sadari pria di hadapannya sedang menggeram marah sampai mukanya merah padam siap meledak kapan saja, bahkan Darren sampai mengeratkan tangannya meremas hand phone yang sedari tadi di genggamnya, beruntung hand phone Darren barang mahal yang tak akan remuk walau ia meremas menggunakan seluruh tenaganya menilik harga hand phone itu sendiri. Bahkan ia juga menatap tajam Fatira, tetapi memang dasarnya kepekaan Fatira nol persen jadinya ia tak merasakan perubahan aura mencekam yang ada di depannya.


Malah Fatira merasa bahwa bulu kudunya berdiri karena adanya kegiatan makhluk tak kasat mata di sekitarnya karena lokasi mereka saat ini memang di daerah jawa yang masih sedikit kental dengan mistis-mistisnya makanya ia cuek saja selagi tak mengganggu.


Tanpa Babibu Darren pun langsung berdiri hingga membuat kursi yang ia duduki terjengkang ke belakang, tak ada seorang pun yang berani menegur melihat wajah dingin serta sorot mata tajam yang Darren pancarkan.


Fatira yang melihat itu langsung melongo heran kenapa Bos kecilnya tiba-tiba tantrum tanpa sebab, ia pun bergegas berdiri juga meminta maaf kepada Staff yang tadi sempat ingin menegur Darren, dan beberapa orang yang masih stand by di lounge itu salah satunya kepada pria yang tadi sempat Fatira jadikan obyek pembicaraan. Fatira meminta maaf sembari membungkukan badan sembari menangkupkan tangannya di depan dada.


Fatira berjalan mengejar Darren yang lebih dulu, sesampainya di peswat Fatira tak hentinya takjub bibirnya berkali-kali berdecak kagum melihat fasilitas serta interior private jet yang sedang ia naiki.


"Wjy Group?" gumam Fatira melihat ke arah lambang yang ada di kursi berlapis kulit itu.


'Ini punya Wijaya Group???' pekiknya dalam hati.


Lalu ia membuka katalog yang tersedia di atas meja tepat di hadapannya.


'Anjirrr!!! Jadi selama ini gue di perbudak orang kaya! Woww' Fatira sendiri tau harga pesawat yang saat ini ia naiki itu bukanlah sedikit, menilik dari berapa banyaknya kursi penumpang lalu interior mewahnya dan jangan lupakan biaya operasionalnya, Fatira tak bisa pastikan seberapa kayanya keluarga Bossnya tersebut.

__ADS_1


Sedangkan disebelahnya Darren sedari tadi hanya memperhatikan tingkah lucu Fatira walau masih dengan sorot mata yang terlihat dingin, semarah apapun ia tetap saja matanya tak akan bisa beralih dari seorang Fatira. Hati dan mata Darren semua telah terpaut oleh Fatira Ayunda si gadis bar bar yang tingkat kepekaanya Nol persen.


Saat ini ia sedang berusaha mereda emosi yang sempat berkuasa di jiwanya, ia sadar jika ia mempunyai sifat tempramental yang parah. Makanya ia tadi lebih memilih pergi daripada meledak, ia takut Fatira akan menjauhinya karena sifat yang ia miliki dan ia tak ingin hal itu.


......................


Sedangkan disisi lain tepatnya di Ibu kota ada seorang pria yang akhir-akhir ini diliputi rasa galau karena pesannya yang ia kirim sedari Tiga hari yang lalu tak di respon sama sekali.


"Eh busyett! Gue kira cuma ketek si Ujang aja yang asem tapi setelah gue liat-liat muka lo kok malah lebih asem" sindir seorang gadis yang sedang memasuki ruang kerja kakak sepupunya.


Sedangkan lelaki itu malah berdecak kesal melihat kedatangan adik sepupunya yang pasti akan menambah keruwetan yang ada di otaknya.


"Kak, hand phone lo kemana sih di museum-in ya.. Kata mami lo di suruh nemenin anak temennya makan siang nanti" seru Shella, ia sangat kesal karena terus menerus mendapat teror telepon dari mami kakak sepupunya.


Kakak sepupunya tak lain dan tak bukan ialah Raja Pamungkas Ceo Daily News yang sedang terlihat galau berat.


"Bilang sama mami, gue lagi banyak kerjaan gak bisa di ganggu" ketus Raja, ia tau maksud terselubung maminya yang mengatas namakan (nemenin anak temannya makan siang) ia sudah bisa mencium aroma-aroma mak comblang yang sedang maminya perankan.


Sudah sedari Satu tahun yang lalu maminya gencar sekali mengenalkan ia dengan anak dari temannya, bahkan hampir tiap bulan ia akan di teror terus menerus dengan pertanyaan Raja kapan nikah?? Sungguh Raja sudah muak dengan pertanyaan itu, sampai-sanpai ia malas menghadiri acara keluarganya sendiri demi mengamankan mentalnya.


"Ya elahh.. Yang ngeganggu elo juga siapa bambank! Mami cuma nyuruh elo maksi(makan siang) ama anak temennya, udeh itu aja" sengit Shella.


Raja menghela nafas lelah, pening memikirkan cara supaya maminya stop untuk mengenalkan dirinya dengan berbagai wanita, ya selama ini memang baru tahap perkenalan karena setiap pertama kali bertemu Raja langsung bersikap dingin dan acuh tak acuh atau paling konyolnya ia akan mengaku penyuka sesama jenis tujuannya hanya satu supaya cewek-cewek yang maminya kenalkan tak akan minta lagi bertemu untuk yang kedua kalinya.


"Lu lagi ada masalah apa sih kak?" tanya Shella melunak, ia kasian melihat kakak sepupunya seperti lagi ketimpa kemalangan.


"Udah Tiga hari dia nggak bales gue" lirih Raja lesu.


"Haa? Siapa yang nggak bales siapa sih??" tanya Shella bingung.


"Fatira... Dia nggak bales pesan gue"


"WHATT! Elo ngehubungi dia?" tanya Shella dan langsung dijawab anggukan lemah dari Raja.

__ADS_1


"Coba sini gue liat lo Wa apaan ama dia, napa sampe nggak di bales" Shella mengambil hand phone Raja yang tergeletak di atas tumpukan berkas, sedang si empunya malah bersemder di kursi memejamkan mata.


"HAHAHAHA... Kalo elo Wa beginian ama bebeb gue yang ada elo malah dikira cowok pedofil yang lagi nyari mangsa tau nggak" ujar Shella tertawa kencang hingga mengeluarkan bunyi ngik-ngik.


__ADS_2