
Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 1 jam Fatira dan Darren sampai juga di bandara Adi Soemarmo Solo. Mereka langsung pergi menggunakan mobil jemputan perusahaan menuju ke kota kecil yang bersebelahan dengan Solo yang memakan waktu perjalanan sekitar 45 Menit.
Fatira dan Darren langsung datang ke kantor cabang tanpa mampir dulu ke hotel sekedar merehatkan badan hanya menyuruh sopir untuk mengantarkan barang mereka ke hotel yang telah di reservasi. Karena kantor cabang yang mereka datangi termasuk kecil yang terdiri dari 2 ruko yang di gabungkan dan hanya bersifat sementara sampai proyek selesai jadinya ruangan Daren dan Fatira bergabung jadi 1 mengingat mereka hanya sekitar beberapa hari saja di situ. Jangan kalian kira kalau ini adalah sebuah kebetulan.
Jawabannya Tidak pemirsa! ini termasuk salah satu taktik Darren untuk menggaet hati pujaannya padahal Ruko yang kantor cabang sewa masih mampu jika hanya untuk membuat sebuah ruangan untuk Fatira tapi karena berhubung Darren terlalu pintar lebih tepatnya pintar modus jadi ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan sesempit mungkin untuk modus ke Fatira.
Dan terjadilah saat ini di ruangan sebesar 5 kali 4 meter ini sebuah modus berkedok kerja dilaksanakan.
"Pak ini berkas yang harus bapak periksa" ucap Fatira menyerahkan setumpuk berkas yang telah ia pilih.
"Saya tadi sudah periksa pak, ternyata kecurigaan kita selama ini benar" lanjutnya lagi.
"Ada berapa berkas yang menurutmu sangat mencurigakan?" tanya Darren.
"Lumayan banyak Pak, sekitar 10 sampai 12 berkas ini sangat mencurigakan dari yang harga tanah yang di beli dari masyarakat tak sesuai dengan Bujet yg Wijaya Group berikan dan harga Supplier yang tiba-tiba naik 2 kali lipat dengan alasan yang tak masuk akal" jelasnya.
"Bukannya Supplier ini sudah bekerja sama dengan Wijaya Group bertahun-tahun, siapa penerusnya sekarang?" tanya Darren.
"Pak Yudha Pratama pak, Cucu sulung sang pendiri Abadi Jaya pak"
"Oh Dia" jawab Darren mengangguk.
"Putuskan kerja sama sekarang" titah Darren.
"Tapi pak-"
"Nggak ada negosiasi Fatira" ucap Darren.
"Baik pak" jawab Fatira menganggukkan kepala.
"Oke.. sekarang mari kita bahas berkas-berkas ini" Darren menggeser kursinya sembari menepuk meja yang lapang.
Sedangkan Fatira mengernyit bingung melihat tingkah Bossnya.
"Ck.. Waktu kita sedikit Fatira lebih baik kita kerjakan semuanya bareng-bareng karena lebih efektif, saya kasian lihat kamu mondar-mandir padahal ruangan kita kecil seperti ini"
'Sekalian biar aku bisa deket sama kamu' lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Setelah berfikir sebentar akhirnya Fatira pun meng-Iyakan perintah Bossnya, karena ia sendiri pasti juga lelah mondar-mandir menghampiri bossnya.
"Baik pak saya ambil laptop sama berkas saya dulu" jawabnya sembari berjalan ke arah meja yang berjarak 3 meter.
'Tumben nggak bantah, kalo tiap hari kek gini jadi pengen cepet-cepet halalin' batinnya sembari tersenyum tak jelas.
"Pak" tegur Fatira sembari melambaikan tangan memecah lamunan Darren.
"Ehhh iya kenapa" jawab Darren sedikit gelagapan ia malu ke Gap pujaan hatinya dalam keadaan senyum nggak jelas.
"Maaf pak.. boleh nggak laptop bapak saya geserin supaya lebih lapang" pinta Fatira sedikit tak enak.
"Ohh boleh kamu atur saja" jawab Darren sembari membuka-buka berkas di depannya. Ia ingin bersikap Cool di depan Fatira dan tak ingin membuat pujaannya ilfil dengan tingkahnya barusan.
Setelah membereskan barang-barangnya Fatira segera mengambil kursinya menaruh kursinya di depan darren agak memojok ke sudut meja.
"Kenapa kamu duduknya di situ?" tanya Darren mengernyitkan dahi.
"Jadi saya harus dimana pak" jawab Fatira mendesah pasrah.
"Disini" tunjuk Darren ke arah meja di sisinya yang kosong.
"Saya disini saja pak nggak enak kalau di lihat orang" jawab Fatira tak enak.
"Siapa yang lihat? saya yang menyuruh kamu dan tidak ada tawar menawar lagi, jangan membuang waktu kita demi berdebat nggak jelas seperti ini" tegas Darren.
'Yassalam sabar hati sabaarr' batin Fatira menggerutu.
Tak mau berdebat lagi akhirnya Fatira pun menuruti keinginan Bossnya dan duduk di sebelah bossnya.
Jangan tanya lagi bagaimana senangnya hati Darren melihat Fatira mau duduk di sampingnya walaupun ia harus menggunakan perintah kekuasaan baginya tak masalah asal ia bisa dekat dengan Fatiranya.
Tak ingin terlalu menampakan euforianya Darren dengan segera menyembunyikan ekspresi muka cool seperti biasa, andai ia bisa berselebrasi ia ingin sekali jungkir balik di mejanya.
Aneh memang!
Hening terjadi setelah mereka fokus ke pekerjaannya masing-masing hingga entah kejadian dari mana dan mau apa mereka memanggil di waktu yang berbarengan.
__ADS_1
"Pak~Raa" panggil mereka berbarengan menatap satu sama lain dengan jarak yang lumayan dekat sampai nafas mereka menerpa wajah lawan merka masing-masing.
Ohooo tentu saja kesempatan ini tak akan Darren sia-siakan begitu saja.
Darren malah sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Fatira dan menelisik wajah pujaan hatinya dengan jarak sejengkal tangan.
'Mata bulat, bulu mata lentik, hidung, bibir bahkan semua yang ada dirimu membuatku tergila-gila Fatira' batin Darren.
Lalu ia terpaku dengan bibir merah muda milik Fatira dan tak sadar sudah memiringkan wajah ke arah bibir yang membuat imannya goyah ingin meraup bibir yang sangat membuat ia gila itu.
Hingga jarak kurang sedikit lagi Fatira tiba-tiba memalingkan wajahnya. Sungguh Fatira malu hingga wajahnya merah padam karena bertatap muka dengan bossnya dan dengan lancang memperhatikan bibir seksinya.
'Gue udah gila ya! Gak tau diri banget dasar otaaak!' batinya merutuki.
'Ehh bentar-bentar ngapain Pak Darren deket-deket tadi? Atau jangan-jangan~' Fatira membulatkan matanya hingga menutup mulutnya dengan tangan syok bukan main ketika sadar apa yang ia fikirkan.
'Ahh enggak-enggak! Nggak mungkin pak Darren mau cium gue' batinya lagi sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Raa~Fatiraa" panggil Darren sembari menoel-noel tangan Fatira.
"Ehh iya pak-" jawab Fatira gelagapan.
"Ituu-" tunjuk Darren kearah bibir Fatira.
"Hah maksud bapak" tanya Fatira Bingung.
"Sini kamu" ucap Darren menyuruh Fatira mendekat.
Dengan ragu-ragu Fatira mendekatkan diri ke arah Bossnya.
"Kamu tadi nggak ngaca ya pas berangkat belepotan gini pake lipstiknya" tegur Darren sembari menghapus sisa lipstik yang menempel di tempat yang tak seharusnya.
Dengan lembut Darren mengelus bibir Fatira sembari manahan otaknya supaya tak berfikiran kotor.
Sedangkan Fatira perempuan Jomlowati sejati yang sedang menikmati sentuhan dari bossnya itu menahan diri agar tidak terjebak virus baper berkelanjutan dengan bossnya.
'Yaoloo yang di elus bibir kenapa geternya sama ke Hati sih' batinnya frustasi, ia tak ingin menyangkal bahwa ia sendiri sangat nyaman di perlakukan lembut seperti ini oleh seorang lelaki.
__ADS_1
"Udah selesai, kamu tuh pake lipstik kayak lagi di kejar-kejar rentenir aja" ujar Darren meledek Fatira.