
"Dan untuk kamu" si Mbok beralih ke Darren.
Darren menegang mendengar namanya di panggil, ia lalu duduk tegak serius mendengar wejangan peramal dadakannya itu.
"Kamu itu jadi laki-laki mbok ya seng sabar, nggak usah grusa-grusu kayak mau nangkep ayam tetangga gitu lhoo" omel si Mbok sembari manabok lengan Darren, Darren hanya meringis merasakan bekas tabokan sang Mbok.
Fatira yang tadinya merenung tiba-tiba langsung tertawa tertahan, ia sampai menggigit bibirnya supaya suara tawanya tak akan lolos dari bibirnya. Sesungguhnya ia syok karena masih ada orang yang dengan beraninya memukul pewaris utama Wijaya Group.
'Wah si mbok nggak takut di pidana apa yak' pikir Fatira takjub.
"Loh salah saya dimana mbok?" tanya Darren masih meringis mengusap lengannya.
"Ya kamu salah.. Kalau dia nggak nyaman gimana? Mau kamu kalau dia kabur terus di ambil orang lain" kesal si Mbok.
"Ya jangan dong mbok" sewot Darren.
"Makanya sabar! Dasar laki-laki gak sabaran.. pelan-pelan aja nanti juga luluh" lanjut si mbok mengomel.
"Iya mbok bakalan sabar saya kedepannya" pasrah Darren karena disudutkan.
"Memangnya tuan muda sepertimu tau arti sabar?" tanya si Mbok menohok.
"Bukannya tadi kamu sogok pelanggan saya biar kamu duluan yang masuk karena udah nggak sabar" tambahnya sinis.
Darren kaget bukan main karena ia ketahuan memakai pelicin, ia melirik ke arah Fatira dan hanya di jawab gedikan bahu tampak jelas raut wajah bingung Fatira sama seperti dirinya sepertinya ia juga tak kalah kaget.
'Lah siapa yang bocorin dah' pikir Darren sembari menggaruk pelipisnya.
"Nggak usah heran saya tau dari mana, bahkan saya juga tau kalau kesabaran kamu itu setipis kulit bawang" ledek si mbok.
"Sudah kamu keluar sana" usir si mbok.
Darren pun buru-buru pergi sembari menggandeng tangan Fatira.
Fatira hanya bisa pasrah saja tangannya di gandeng oleh Darren mumpung tujuannya sama yaudah deh pikirnya.
'Kalaupun tujuanya sama-sama pelaminan jugaa gue hayok aja eh!'
"Ehemm!! Besok kalau nikah jangan lupa undang saya" ucap si Mbok sembari memberi kartu nama kepada Darren.
"Pasti Mbok" jawab Darren tersenyum bahagia.
'Itu artinya gue bakalan jodoh kan sama fatira' batin Darren berbunga-bunga.
__ADS_1
......................
Setelah keluar, Darren mengajak Fatira makan malam. Karena ia tak ingin jatah traktirannya berkurang ia pun dengan cerdiknya melobi Fatira supaya makan malam kali ini ia yang bayar.
Awalnya Fatira menolak dengan tegas karena Fatira ingin hutang traktiranya segera lunas ia berfikir mumpung sekarang mereka berada di luar kota akan lebih mudah bertemu tanpa harus main kucing-kucingan dengan karyawan kantor yang akan mengenalinya serta harga makanan disini tentunya lebih murah di bandingkan di Ibu Kota yang tak akan membuat dompetnya kering kerontang, tetapi ia salah lawan kali ini karena yang menjadi lawannya adalah Darren si ahli modus dari Wijaya Group, tentu saja Fatira kalah telak walaupun ia sudah mengeluarkan semua isi otak dan ototnya.
Karena lelah berdebat dengan berakhir kekalahan akhirnya Fatira setuju dengan syarat ia sendiri yang memilih tempat yang ingin ia kunjungi.
Dan sekarang Jreng!Jreng!
Darren dengan wajah cengo-nya berdiri mematung menatap warung tenda pinggir jalan yang sedang ramai di kerubungi pembeli bahkan sampai mengantri.
"Jadi kamu dari tadi keukeh pengen milih tempat itu disini?" tanya Darren.
"He'eum, Ini termasuk makanan legendaris yang wajib di coba kalo kesini boss" jelas Fatira dengan mata yang berbinar-binar.
"Ke tempat lain aja yuk" ajak Darren menarik tangan Fatira ke menuju mobil.
"No..No..Nooo" ucap Fatira sembari menggerakan jarinya ke kiri dan ke kanan.
"Nanti saya isiin shopeepay kamu deh, tapi kita makan di tempat lain" nego Darren.
"Ck.. Mau boss kasih Tv sebesar bioskop juga aku nggak mau boss" ujar Fatira masih keukeh dengan pendiriannya.
"Nggak bagus apanya coba liat tuh bagus gitu kok" Fatira menunjuk ke arah tenda yang sedang ramai di kelilingi pembeli.
"Bagus apanya lihat tuh kotor gitu pasti nggak higienis apalagi-"
Sreeettttt!!
Seketika semua orang yang berada di warung itu menoleh ke arah Darren dengan pandangan sinis serta banyak semburan kata-kata panas yang keluar dari mulut beberapa orang yang tak terima mendengar ucapan Darren yang sangat arogan.
Karena memang semua orang disana sedari tadi tengah mencuri pandang ke arah mereka. Bagaimana tidak? jika sedari tadi Darren dan Fatira seperti pasangan muda-mudi yang tengah bermain tarik tambang di tengah keramaian pembeli yang sedang antri.
"Ssssstttt... Bapak kalo ngomong bisa nggak sih di filter dikit aja" kesal Fatira membekap mulut Darren.
Darren melotot tak terima karena Fatira kembali memanggil Bapak seperti setelan awal, tetapi belum sempat ia protes Fatira langsung melengos.
Fatira lalu menghadap ke arah kerumunan orang yanh masih terlihat marah kemudian membungkuk meminta maaf. Sungguh ia merasa tak enak hati dan sangat malu karena kelakuan bossnya.
Jika saat ini ada lubang buaya yang berada di depannya ia pasti tak akan segan-segan menceburkan Darren ke dalam lubang tersebut.
Fatira lalu menghampiri kerumunan orang-orang yang masih terlihat marah guna meminta maaf tetapi sebelum berlalu Fatira menyempatkan diri memberi pelajaran yang berharga untuk Darren.
__ADS_1
Fatira menginjak kaki Darren sekuat tenaga karena saking kesalnya.
"Aduhhhh Sssttt" Darren mangaduh tertahan gengsi jika sampai ia teriak kesakitan walaupun fakta yang sesungguhnya kakinya seperti habis terinjak badak.
"Kamu apa-apaan sih raa-"
"Diemm!!" saut Fatira memotong ucapan Darren dan berlalu pergi.
Darren langsung kicep melihat raut wajah Fatira sedang manahan amarah ia takut kalau Fatiranya marah, bisa bisa ia tak bisa tidur nyenyak semalaman.
"Untung sayang kalo enggak entah bakalan gue apain tu anak orang" gumam Darren sembari masuk ke dalam mobil guna mengecek kondisi kakinya.
'Moga aja bengkak atau paling nggak berdarah gitu biar gue bisa modus lagi' batinnya nyeleneh.
Disisi lain Fatira berjalan menghampiri sang penjual guna meminta maaf serta memesan makanan karena cacing di perutnya sedari tadi sudah koploan minta amunisi karena kehabisan tenaga akibat sedari awal sudah di ajak cosplay menjadi bola yang menggelinding kesana-kemari di pasar malam tadi.
"Ibu-bapak maafin kata-kata teman saya tadi, saya sebagai temannya mohon maaf atas perkataannya yang mungkin sangat menyinggung bapak dan ibu" ucap Fatira berbicara santun.
"Nggak papa kok Mbak, saya ngerti sepertinya temennya si Mbak juga bukan orang sembarangan, mungkin belum terbiasa aja" jawab si Ibu penjual ramah.
"Oalahh temennya mbak itu loh, kayaknya belom pernah ngerasain pedesnya omongan tetangga ya mbak" celetuk ibu pembeli lain.
"Hehe maafin temen saya ya buk, dia soalnya baru keluar dari rumah sakit gini buk" nista Fatira sambil memiringkan jarinya di kening.
"Ya allah gusti lah itu ganteng-ganteng jebule stress toh Mbak" prihatin si ibu penjual.
"Ya begitulah Buk kadang dunia memang kejam" jawab Fatira dramatis.
"Oalah kasian banget ya ganteng loh padahal" ucap pembeli menjadi iba.
"Yaudah Buk.. Mbak ini duluin aja kasian takut temennya kumat kalau sendirian" ucap pembeli lain dan langsung di angguki pembeli lainnya.
'Nah kan!! Emang rezeki orang sholeha nggak bakalan kemana, setiap musibah pasti ada hikmahnya, walopun gue harus nistain boss sendiri hehehe' girang Fatira dalam hati.
"Aduuuhh buk.. Nggak usah saya nggak papa kok kalau harus ngantri kayak yang lain" ucap mulut Fatira tak enak walaupun dalam hati sangat girang.
"Nggak papa Mbak duluan aja"
'Yaudah Gas lah' batinnya.
Dengan hati riang Fatira langsung memesan menu yang memang ingin ia coba yaitu sate kelinci dan sate rusa, tak tanggung-tanggung ia memesan 4 porsi karena saking laparnya 1 untuk Darren dan 3 untuk dirinya sendiri.
Walaupun cantik tapi Fatira juga sama seperti kita pemirsa ketika cacing sudah ber-koplo ditambah kesal makanan adalah solusinya.
__ADS_1