KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG

KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG
Bab 15


__ADS_3

Pagiku cerahku


Matahari bersinar


Ku gendong tas Laptopku


Di pundak....


Kalian pasti ikut nyanyi kan??? hayoo ngaku nggak usah malu-malu hehehe.


"Selamat pagi dunia tipu-tipu" teriakku semangat.


" Tuh muka cerah amat ya.. tapi masih cerahan masa depanku sih" kelakar adikku.


Aku yang mendengar kata-kata adikku langsung mengibas-ngebaskan rambutku di depan mukanya supaya dia tambah kesal denganku.


" Sumpah ya mbak,, mbak tuh norak banget tahu nggak sih" kesalnya.


Tuh kan!!


" Enggak tuh" ejekku sembari menjulurkan lidah.


" Udah pergi sana,, nih dari ibu" usirnya sembari menyodorkan kotak bekal makanan.


" Kata ibu makasih sutilnya sesuai ekspektasi"


"Oooh,,, ya jelas dong fatira gitu loh yang beliin" Sombongku.


Aku melenggang menuju ke arah motor kesayanganku karena Jam sudah menunjukkan jam 06.30 pagi.


Banyak persiapan yang harus kulakukan mengingat kemarin aku tidak masuk kantor.


Dan lagi Aku harus semangat karena hari ini akan ada pertunjukan heboh seheboh konser KPop hihihi.


Saat Jam sudah menunjukkan pukul 07.45 pagi.


Terdengar suara sepatu yang memenuhi koridor lantai tempatku bekerja. Tak usah ditebak siapa dia karena aku sudah sangat hafal dengan langkah kaki orang itu dan lagi di lantai ini hanya terdiri dari ruangan CEO dan ruangan meeting hanya untuk para petinggi atau pemegang saham.


" Selamat pagi Pak" sapaku tersenyum.


Pak Daren berdiri mematung melihat ku, aku yang diperhatikan sedemikian rupa pun langsung menilik outfit ku hari ini takut ada yang salah.


'Perasaan gue biasa aja deh' batinku.


"Pak Bapak!" panggilku tapi masih tak ada respon dari beliau.


"Pak!!!" panggilku sedikit meninggi sambil melambaikan tangan di depan wajahnya.


"E-eh ya Eh iya" Darren terlihat gelagapan.


"Bapak kenapa pagi-pagi melamun?? takut kesambet loh pak"


"Eh siapa yang melamun??" tanyanya.


"Saya.. saya tadi lagi mikirin sesuatu"


"Oooh saya tadi udah takut loh pak kalau bapak kesambet, maklumlah Pak setan kalau pagi masih suka full energi"


" Hampir aja saya manggilin OB suruh cari ustadz buat ruqyah bapak" ceplosku.


"Nggak ada saya kesambet setan yang ada setan malah bakalan bersyukur banget kalau ketemu saya" jawab Darren.


" Lah kenapa gitu Pak??" Tanyaku bingung sembari mengikuti langkah beliau masuk ruangan.


"Setan juga senang kali hidup berdampingan dengan orang seganteng saya, Apalagi saya bos di sini pasti dia bangga banget" ucap Pak Darren narsis.


" Bapak bisa narsis juga ya ternyata" ucapku terkekeh geli melihat kenarsisan big bosku.


"Saya kan bicara fakta, Menurut kamu saya ganteng nggak??"


Pak Darren memajukan wajahnya tepat di hadapan wajahku. Aku yang mendapat pertanyaan dengan jarak yang terlalu dekat pun membuat kinerja jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya.


'Kenapa jantung gue rasanya jungkir balik kayak gini sih' batinku.


" Ehem~ehem" Aku berusaha berdehem berusaha mengusir kegugupanku di hadapan Big Boss


" Menurut saya definisi ganteng itu berbeda-beda ya pak, Kalau menurut saya sih orang ganteng itu yang baik perilakunya, macho dan sedikit misterius"


' Kayak Kim Taehyung' batinku senyam senyum.


"Kalau Bapak menurut saya yah cukup tampan".

__ADS_1


" Cukup tampan?? Bukan sangat Tampan? Padahal menurut saya ketampanan saya ini termasuk berada di atas level rata-rata orang Indonesia loh"


"Bahkan banyak perempuan dari kalangan konglomerat sampai artis mengantri untuk saya jadikan pacar, tapi saya nggak mau karena selera saya sangat tinggi"


" Wuahh sepertinya Bidadari Kayangan juga bakalan Insecure sama selera bapak" Gurauku.


" Hemmm.. Mungkin, karena selera saya memang sangat tinggi" ucap beliau Menatap lekat kedua mataku.


Aku mengangguk-anggukkan kepala berusaha menghindar dari tatapan Pak Darren.


Gimana ya?


Walaupun aku sukanya sama Kim Taehyung tapi sekarang kalo di hadapanku di tatap sedemikian intens dengan spek yang Sebelas Dua Belas mirip sama Song kang Hati hayati juga bisa Jiper pemirsahh.


" Mereka cinta sama Bapak atau cinta uang bapak aja?" tanyaku berusaha mengalihkan pandangan beliau.


" Emmm, entahlah" jawabnya mengedikan bahu.


" Kalau kamu jadi mereka bakalan cinta sama saya atau uang saya??" katanya Pak memepet tubuhku ke arah pintu.


Saat ini kami memang sudah berada di dalam ruangan CEO karena biasanya setelah Big Boss datang aku harus briefing dulu dengan Beliau.


Aku yang mendengar pertanyaan bernada gombalan itu pun langsung memutar bola mataku malas.


" Kalau saya jadi mereka ya pak, saya nggak bakalan naksir sama bapak" jawabku sedikit Ketus.


" Loh kenapa?? Saya tampan banyak uang, terpandang, jabatan saya bagus, pewaris sah Wijaya Group masih muda, kalau kamu menikah dengan saya, saya pastikan anak-anak kita bakal menjadi bibit unggul semuanya tanpa terkecuali"


' lah lah kok jadi makin jauh gini' batinku mengernyit.


" Gini ya Pak Yang Pertama kalau orang biasa seperti saya nikah sama bapak bakalan makan hati Pak, di sekeliling bapak pasti bakalan banyak calon cabe binti pelakor yang bakalan hadir godain bapak tiap hari"


" Yang kedua Orang kaya bin konglomerat seperti bapak juga kalau cari pendamping hidup pasti juga bakalan pilih-pilih dari keluarga mana, lulusan mana atau bahkan Bapak sudah di jodohin sama keluarga bapak dengan wanita dari keluarga terpandang juga biar bisa Merger Perusahaan".


"Dan yang ke Tiga saya nggak mau makan hati terus seumur hidup saya, Apalagi nih yang saya dengar kalau bos-bos kalangan bapak tuh nggak cukup dengan satu wanita lebih baik saya jomblo seumur hidup dari pada nangis darah tiap hari pak" cibirku tanpa Filter.


" Waaah,, Saya sakit hati loh kamu samain saya dengan laki-laki hidung belang di luar sana" Ucap pak Darren geleng-geleng kepala.


" Yang pertama saya nggak mudah tertarik sama perempuan matre di luaran sana"


" Yang Kedua keluarga saya nggak sekolot itu mendikte saya soal pendamping hidup, apalagi sampai penganut jodoh-jodohan untuk memperbesar Perusahaan, saya bisa besarin Wijaya Group tanpa harus Merger dengan perusahaan lain"


"Dan yang terakhir yang bikin Saya lumayan sakit hati"


" Kamu tuh jangan kebanyakan baca novel makanya " ucapnya menyentil dahiku yang rasanya lumayan panas.


" Saya kan cuman jawab Pak lagian kan bapak sendiri yang nanya ke saya, makanya saya jawab dengan sejujur-jujurnya" jawabku sedikit meringis sambil mengusap-usap dahi.


" Hem,, Saya sepertinya harus memberikan reward karena kejujuranmu sedikit nyelekit, Baru kali ini ada karyawan yang berani berkata jujur walaupun menginjak harga diri bosnya" Ucap pak Darren geleng-geleng kepala.


Aku yang mendengar ucapan Big Boss hanya bisa menggaruk tengkukku yang tak gatal.


' Nih mulut kenapa sih pada suka jujur kalau mau jujur mah harusnya ingat dulu lawan bicara ntar kalau si Bos kecewa terus dipecat gimana' batinku merutuki kejujuran mulutku.


"Kata ibu kalau jadi orang tu harus jujur pak" kelakarku sedikit mencairkan suasana.


" Wah jadi pengen kenalan langsung sama calon ibu mertua" goda Pak Darren.


" Nggak ada kenalan kenalan Pak" ucapku sedikit ngegas disertai delikan mata.


'Bisa berabe ntar urusannya'


Pak Darren tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawabanku yang sedikit ngegas sepertinya ia memang hobi sekali menggodaku aku pun sedikit kesal dibuatnya.


"Oke -oke,, kamu hari ini bawa apa?" tanya Pak Darren mengalihkan topik.


"Sandwich aja Pak."


"Dessertnya mana?"


" Nggak ada pak"


" Pelit banget sih heran deh kenapa Papa bisa-bisanya ngasih sekretaris yang pelit kayak kamu" Cibir pak Darren.


" Lah " aku cengo mendengar ucapan Pak Bos.


" Pak Bapak emang nggak pernah sarapan di rumah ya??" tanyaku penasaran.


" Saya yakin pasti di keluarga Wijaya punya koki pribadi spek hotel bintang Lima, kenapa malah suka sarapan di kantor?" lanjutku.


" Saya kan nggak tinggal di mansion keluarga saya tapi tinggal di apartemen sendiri, makanya saya suruh kamu nyiapin saya sarapan setiap hari"

__ADS_1


"Pak, Bapak nggak sekalian aja nyuruh saya jadi koki pribadi"sinisku.


" Wah ide bagus tuh sekalian tuh baju-baju saya kamu laundry-in, apartemen saya kamu rapiin kebetulan sekali ART saya lagi Cuti" Jawab pak Darren tanpa beban.


"Maaf pak job desk saya di Wijaya group banyak sampai nggak kepegang-pegang"


"Sekalian aja bapak nyuruh saya jadi Baby Sitter-nya Bapak " kesalku.


" Ooh dengan senang hati,, sekalian ya nanti kamu mandiin saya" goda pak Darren mengerlingkan mata.


Aku melototkan mata agar mendengar ucapan beliau yang lumayan absurd itu.


"Pak! Yuk deh kita debat di aula kayaknya bakalan seru ditonton seluruh karyawan Wijaya Group" Ucapku kesal.


Big Bos mendengar ucapan kesalku malah tertawa ngakak.


Aku Sampai heran kok Bos gue nggak kayak bos biasanya di luaran sana ya tegas disiplin serius gitu.


LAH INI?


Nah ini lagi, kok bisa bisa nya aku sesantai ini bicara sama boss.


Aku yang biasanya selalu bersifat santun selalu menghormati atasan, tapi dengan Big Boss aku bisa berperilaku seperti diriku sendiri tanpa ada jaim atau apapun.


'Ini benar-benar bukan seperti diriku'


" Pak kerjaan kita banyak loh" ucapku meng-intruksi.


" Ehem- iya jadi gimana rencana kamu" tanya beliau menyetel mode serius.


" Nanti sekitar jam 03.30 sore bakalan ada surprise dari saya"


"Saya Fikir jam segitu tidak akan mengganggu pekerjaan kantor karena setelah jam 03.30 hanya ada waktu 30 menit sampai jam pulang kantor"


" Dan saya rasa itu tidak membuat membuat Wijaya Group rugi karena telah memberikan waktu agar karyawati yang telah menjadi korbannya akan bisa menemukan teman senasip dan mereka bisa langsung menggugat beliau".


" Baguslah, sekalian kamu sediakan pengacara terhebat supaya bisa membantu mereka dalam mengungkap kasus ini" pinta pak Darren.


"Noted Pak" jawabku.


" Dan lagi mereka nggak bakalan tahu kan kalau kamu yang mengungkapkan semua kebusukan tikus itu?" tanya Pak Darren memastikan.


"Saya bisa jamin Pak kalau nggak akan ada yang curiga sama Wijaya Group apalagi dengan saya saya bisa jamin itu" jawabku Mantap.


"Apa saya bisa pegang omongan kamu?"


"Sangat bisa Pak" ucapku tegas.


Pak Daren mengangguk-anggukan kepala tanda percaya atas ucapanku.


"Jadi rencana kita hari ini membuat planning strategi kedepannya, karena pasti akan ada sedikit goncangan akibat terungkapnya kasus ini dari dewan direksi, apalagi bapak baru memegang perusahaan ini kurang dari seminggu akan ada sisi negatif dan positifnya".


"Negatifnya Bapak mungkin akan Ekstra kerja lebih keras lagi dari sekarang mungkin kita juga bakalan sibuk-sibuknya karena masalah ini dan positifnya bapak pasti akan mendapat dukungan penuh dari para pemegang saham karena mereka bisa menilai Bapak kalau bapak mampu memegang jabatan ini tanpa embel-embel CEO sebelumnya" jelasku panjang lebar.


"Oke saya akan bekerja keras kedepannya mohon kerjasamanya Partner sekaligu sekretarisku"


" Saya pasti akan membantu bapak sebisa mungkin" ucapku tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak" pamitku.


"TUNGGU" panggilnya.


" Ya pak?" jawabku bingung.


Pak Darren melangkah mendekat ke arahku.


"Kamu cantik dengan gaya rambut seperti ini" bisiknya.


"Blush"


Seketika wajahku memerah karena bisikan Big Boss. Tanpa aba-aba aku langsung balik arah keluar dari ruangan itu sambil mengomel-ngomel.


"Ngapain sih pakai bisik-bisik segala"


omelku sambil menggosok-gosokan tangan ke telinga karena benar-benar merinding.


Terdengar suara tawa membahana dari ruangan itu.


"Katanya beda sama laki-laki di luaran sana tapi ternyata sama aja"


" Dasar Kang Buaya!!" makiku dengan menghentak-hentakan kaki hingga sampai di mejaku.

__ADS_1


Pov Fatira End


__ADS_2