Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Bayangan Dahlia


__ADS_3

Percakapan antara sepasang istri ini kemudian berlanjut dengan penuh canda,


“Ga lah sayang, kan kamu sudah sembuh sekarang, sekalian minta maaf ke Mbak Tania sayang, kemarin rambutnya sampai rontok loh.” Ujar Andre tersenyum.


“Iya Mas, aku juga merasa bersalah banget sama Mbak Tania”


Anita pun berusaha memungut memorinya tapi tetap saja sia-sia.


“ Ya sudah, Mas bisa ke kantor sekarang, aku ga apa-apa jangan khawatir”


“Iya sayang” Andre pun mengecup pelan kening Anita lalu berlalu melewati pintu.


Baru saja Andre tiba di depan lift. Tiba-tiba ada pesan Masuk dari Anita.


Tut.. Tut.. Tut


“Mas, kangen” isi chat Anita dengan di lengkapi emoticon hati putih


“Sabar, aku cepat pulang kok”  balas Andre sembari melangkahkan kakinya ke dalam lift.


Ia pun bercengkrama berbalas pesan dengan Anita. Bak ABG yang baru saja mengenal cinta. Tanpa sadar Andre sedari tadi belum memecet tombol apapun, saat pintu lift akan tertutup tiba-tiba ada yang menahan pintu lift. Seseorang itupun langsung melangkahkan kakinya ke dalam.


Andre tak terlalu memperhatikan orang itu, karena Masih sibuk dengan ponsel di genggamannya. Percakapan lewat teks dengan anita terus berlanjut tanpa henti, hingga tak sadar sudah sampai lobby. Seseorang yang bersama Andre dlama lift pun bergegas keluar duluan.


Bersamaan itu tali sepatu Andre terlepas jadi ia menunduk untuk memperbaikinya. Ia pun melihat lewat ekor matanya. Orang yang bersamanya tadi adalah seorang perempuan.


Andre melihat punggung wanita itu tampak falimiar.


“Siapa ya, kok kayak ga asing banget” ujar Andre.


Segera ia bangkit dan melanjutkan langkahnyanya ke tempat parkir mengambil mobil. Kemudian ia mengemudikan kendaraan 4 roda ini di jalan raya. Sedari tadi Andre Masih terus berusaha mengingat punggung perempuan tadi. Ia merasa sangat mengenal lekuk tubuh perempuan itu.


Hingga ia rem mendedak, untung saja saat itu sudah lampu merah jadi dia di aman dari klakson- klakson kendaraan lain.


“Ya tuhan, Dahlia” Ujar Andre setengah berteriak. Dadanya menahan gejolak yang hebat, seolah rangkaian hidupnya yangdata penuh tragedi tuhan tambahkan dengan puzzle baru yang harus ia lengkapi.


“Aku ga mungkin salah, itu Dahlia”


Fikiran Andre terus saja melayang di sepanjang perjalanan sampai akhirnya ia sampai di kantor. Ia bergegas ke ruang meeting karena akan membahas proyek baru bersama team peMasaran, sedang jam telah menunjukkan pukul 9.13 WITA. Ia pun bergegas.


Rapat yang dilakukan Andre cukup lama, ia baru selesai pukul 12. 37 menit WITA. Sedangkan setelah ini ia harus pergi kerumah sakit dulu. Butuh waktu kurang lebih 40 menit kerumah sakit itupun jika tidak macet.


Sedangkan kita tau betul bagaimana padatnya arus lalu lintas di kota Jakarta. Andre pun di landa malas gerak, belum lagi perutnya yang sudah mendesak diberikan makanan. Aku makan di kantin rumah sakit saja deh, ujar Andre. Ia orang yang cukup menghargai janji jadi harus tiba di gereja pukul dua sesuai janji dengan pendeta Arnold.


Andre pun, akhirnya memutuskan segera ke rumah sakit. Baru saja ia duduk di belakang stir mobilnya, ia melihat perempuan melintas di depannya.


“Dahlia.....” Panggil Andre


“Dahlia.... “

__ADS_1


Perempuan tersebut tak juga menghentikan langkahnya. Andre pun bergegas berlari mengejarnya, Andre langsung meraih tangan perempuan tersebut.


“Dahliai, kok kamu ga berhenti sih dari tadi aku panggil” ujar Andre yang sedang kesulitan mengatur nafasnya.


Andre merasa yakin bahwa sebelumnya dia telah melihat Dahlia. Postur tubuh dan cara berPakaian perempuan yang ia lihat tidak salah lagi pasti adalah istri yang telah ia tinggalkan dengan calon anak mereka yang Masih ada di dalam perut Dahlia.


“Pasti itu Dahlia, aku yakin” ujar Andre sembari berlari kecil, tak ingin kehilangan jejak.


Andre secara spontan menarik tangan perempuan yang sudah tepat ada di hadapannya untuk menjangkaunya segera.


Tapi sejurus kemudian, perempuan itu menghempaskan tangan Andre dengan kasar yang dengan spontan menarik tangan perempuan tersebut.


“Maaf, ada apa ya Mas?”


Ujar perempuan yang sedang memakai dress bunga tulip selutut  itu, senada dengan tas hitam mini di sisi bahunya. Tinggi semampai dan kulit putih. Perempuan yang cukup cantik, namun Masih lebih cantik Dahlia. ujar Andre membatin.


Andre tercengang ketika menatap perempuan tersebut. Ia terdiam sejenak menatap perempuan muda dan cantik di hadapannya. Ia tatap dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Tapi ia segera tersadar, sebab ternyata perempuan di depannya bukanlah perempuan yang telah ia kenal selama 17 tahun sebelumnya, yang sempat mengisi hari-hari suka dan dukanya.


“Maaf Mbak saya kira tadi istri saya, maaf Mbak”


“Lain kali hati-hati Mas, jangan asal narik tangan orang lain Mas” tegas perempuan tersebut.


“Aduh, maaf ya Mbak”


“Bisa-bisanya salah ngenalin istri sendiri. dasar mesum” Gerutu perempuan tersebut sembari terus melanjutkan langkahnya dengan wajah acuh.


Rasa bersalah pun menggorogoti hati Andre dengan rasa tidak nyaman. Andre hanya bisa menunduk malu dan kembali ke dalam mobil Pajero sport miliknya.


“Memalukaaaan.... “ Teriak hatinya.


Ditengah bising di kedua sisi otaknya, tanpa Andre sadari dari kejauhan berjarak 30 meter sepasang mata memperhatikan gerak-gerik Andre.


Tak lupa sosok itu tersenyum puas dengan apa yang ia lihat hari ini. Seolah ada kebahagiaan yang menggelik hatinya melihat tingkah Andre yang Masih namPak Masih mengacak-acak rambutnya.


Andre pun memutuskan untuk segera ke rumah sakit karena waktu yang terus bergulir cepat dan ia Masih memiliki kesibukan banyak.


Ditengah keramaian kota Jakarta, jalanan begitu padat di penuhi sesaknya kendaraan yang berlalu lalang. Ditambah para pengamen yang sibuk meliuk-liukkan suaranya bersama iringan gitar. Andre hanya bisa pasrah sebab tak bisa ia keluar dari jebakan macet di daerah pusat macet di jl. Alauddin.


“Haduh, orang-orang pada kenapa, kok panas gini malah keluar semua, harusnya ngadem dong” Gerutu Andre sambil memainkan klakson mobilnya kesal.


“Masih sempet ga yah, beli boneka” fikir Andre.


Setelah hampir 30 menit ia terjebak dan akhirnya sampai di rumah sakit. Jam menunjukkan pukul 13.23 WITA. Andre berlari kecil ke arah resepsionis.


“Permisi suster, tolong cek ruangan atas nama Aluna Margaretha Andreomos” ujar Andre terburu-buru


“ Selama siang, iya Pak. Tunggu ya Pak”


“Ruang Melati No. 12 Pak”

__ADS_1


“Baik sus, terima kasih”


“Sama-sama Pak”


“9, 10, 11, yah 12”


Andre berlari kecil melewati tiap lorong dan ubin rumah sakit, hingga ia sampai di depan kamar Aluna, tak lupa ia membawakan boneka Spongebob kesukaan Aluna yang sempat ka beli tadi ketika menuju ke rumah sakit tadi.


“Aluna sayang”


“Ayah” teriak Aluna dengan penuh semangat


“Tebak deh, Ayah bawakan apa buat Aluna”


“Permen? Ice cream? Bunga?”


“Salah, coba tebak lagi sayang”


“Ga tau Ayah” rengek Aluna


“Halo” sembari Andre menggoyangkan tangan boneka Spongebob untuk menyapa Aluna.


“Sukaaaaaaa....”


“Nih buat temenin Aluna disini”


“Riki mana sayang, kok Aluna sendirian?” Tanya Andre karena Riki meninggalkan Aluna sendirian


“Om Riki pergi mandi, Ayah. Dia udah bau, katanya” jawab Aluna setengah tertawa kecil”


Beberapa menit kemudian, Riki pun kembali ke sisi Aluna.


“Tolong jaga Aluna ya Riki”


“Baik Pak”


“Ayah udah mau pulang?”


“Iya sayang, Ayah ga bisa lama-lama.  kamu kan sendirian”


“Terus Aluna kapan bisa ketemu Mama?”


“Nanti sayang, kalau Aluna udah sembuh bisa pulang terus ketemu Mama deh” jelas Andre


“Janji ya Ayah”


“Iya sayang, Ayah balik dulu ya”


“Kalau Aluna perlu apa-apa tanya langsung ke om Riki”

__ADS_1


“Oke Ayah”


Tak lupa Andre mengecup pelan kening Aluna, dan meninggalkan kamar Aluna.


__ADS_2