
"Aluna sayang"
"Ayah" Aluna memeluk erat tubuh Ayahnya seolah ada ketakutan yang menyelimuti seluruh dunianya. Sedangkan Andre tak sanggup menyembunyikan kesedihannya melihat putri manisnya itu dengan tubuh penuh luka dan memar di wajah cantiknya.
"Ayahhh... Takut" teriak Aluna memeluk kembali luka yang menggoreskan trauma mendalam di hatinya.
Anita yang baru saja dari kamar mandi segera menghampiri kamar Aluna karena mendengar suara teriakan Aluna yang menggema sampai ke luar.
"Sayang, kamu kenapa" tanya Anita ceMas
Aluna melirik tajam ke arah Anita, sorot matanya seolah ingin menikam mati tepat di jantung Anita saat itu juga.
"Aku ga mau sama Mama lagi, Mama jahat" teriak Aluna lagi.
"Ayah usir Mama dari sini, Aluna ga mau sama Mama lagi"
Andre hanya bisa pasrah dengan perintah anaknya tersebut.
"Tapi kenapa, ini Mama loh sayang"
"Mama jahat, Mama jahat" Aluna menangis sesenggukan di dalam pelukan Andre.
"Sayang, udah ya kamu keluar dulu. Jangan sampai Aluna makin histeris"
Anita tak punya pilihan lain selain melangkah keluar kamar. Sekilas Andre melihat bibir Anita yang di miringkan kesamping.
Namun Andre segera menipis praduga nya, ia merasa sangat tidak mungkin istrinya meMasang senyum culas seperti itu, seolah ada rasa muak yang mengepul di wajahnya.
"Ayah, Aluna takut" ujar Aluna lagi
"Takut sama siapa, sayang?"
"Mama"
"Loh Mama itu yang paling sayang sama kamu, Mama rela panas-panasan demi cari kamu sayang"
"Pokoknya aku benci sama Mama"
"Ga boleh gitu sayang"
"Aluna ga mau Ayah belain Mama"
"Iya sayang, maafin Ayah ya"
"Mama terlalu sMamak dengan teman-teman arisannya sampai nga tepatin janji temani Aluna ke salon"
"Mama itu baik kok sayang, kamu cuman salah paham sama Mama mu mungkin Mama ada keperluan mendesak"
"Pokoknya Aluna benci sama Mama"
Aluna Masih merasakan pundaknya berguncang hebat, ada luka yang Masih basah disana. Tak ada paling menyayat hati ketika orang tua kita sendiri yang menggoreskan kekecewaan bagi seorang anak.
Kembali memori kelam kurang lebih 10 jam lalu hinggap di kepala Aluna. Bagaimana ia mendapatkan fakta yang mengguncang hatinya.
Bagaimana tidak ia menemukan kenyataan sangat memilukan. Namun ia rela menyimpan itu sendiri, dan tak memberi tahukan Ayahnya.
Dia seolah ingin menanggung perih nya sendirian tanpa harus melukai Ayah yang ia sayangi juga.
__ADS_1
Sedangkan Andre mengira putrinya hanya ingin di perhatikan lebih oleh Mamanya.
"Kamu jangan marah-marah terus ya sayang. Supaya kamu cepat sembuh" Andre belum ingin Aluna membicarakan bagaimana dan seperti apa badannya bisa terluka seperti itu sampai kebiruan.
Karena melihat kondisi mental Aluna yang Masih tidak stabil. Tapi disisi lain Andre menegaskan kepada bawahannya untuk mencari tau inforMasi tentang putrinya.
Andre menemani Aluna sampai ia tertidur, lalu mengelus pelan pipi anaknya itu yang bisa ia rasakan sendiri sakitnya. Seorang anak kecil merasakan luka seperti ini.
Lukanya pun cukup serius. Sebagai seorang Ayah patah hati terdalamnya ketika gagal menjaga anak perempuannya. Andre menatap wajah Aluna leka-lekat. Dan berjanji pada diri sendiri untuk selalu menjaga ia selamanya.
Anita mengintip pelan di balik celah pintu, setelah melihat Aluna tertidur. Ia pun melangkahkan kakinya perlahan.
"Aluna sudah tidur ya Mas"
"Iya sayang, kamu istirahat juga ya"
"Aku mau jagain Aluna Mas"
"Kita jaga sama-sama ya sayang"
"Sebaiknya yang tidur itu Mas"
"Ga sayang, kamu juga capek mending kita jaga Aluna sama-sama"
Andre tak lupa mempersilahkan Anita duduk di samping ranjang Aluna.
"Aku khawatir Mas, sama keadaan Aluna"
"Iya sayang, aku juga"
"Aku merasa bersalah Mas hanya punya waktu sedikit untuk keluarga kita karena sMamak kerja"
"Bagaimana kalau Aluna kita sekolah di sekolah biasa Mas"
"Tapi kan Aluna katanya lebih nyaman dirumah. Lebih baik di sekolahkan di luar rumah kalau memang Aluna nya yang mau sayang"
"Iya juga ya Mas, takutnya Aluna malah ga mau belajar"
Malam berlalu dengan percakapan antara Anita dan Andre yang membahas Masa depan putrinya itu.
"Sayang, sudah jam 2 pagi. Kamu harus cepat tidur"
"Aku Masih kuat begadang kok Mas"
"Bukan gitu sayang, ingat anak kita yang ada dalam perut kamu sayang"
Andre mengelus pelan perut Anita yang anak kedua mereka baru lah berusia sekitar 2 minggu. Andre pun merangkul Anita pelan ke arah sofa.
"Tidur ya sayang"
"Hmm, iya Mas"
Anita merebahkan badannya di atas sofa. Tak lupa Andre merapatkan meja ke sisinya agar Anita tak terjatuh nantinya. Dia juga menyelimuti badan Anita dengan penuh rasa tanggung jawab. Anita sudah sepantasnya ia jaga, sebab karena dialah Anita menjalani banyak kesulitan selama ini.
"Tidur nyenyak ya sayang"
Tak lupa Andre mengecup pelan dahi istrinya tersebut. Tak lama Anita pun menyelami mimpi nya dengan bahagia.
__ADS_1
Berada di tengah-tengah dua perempuan penting di hidupnya. Andre malah teringat kenangan dengan Dahlia dulu.
Dahlia yang selalu berupaya menjadi istri sempurna bagi Andre, justru harus mendapatkan perselingkuhannya kala itu di depan matanya sendiri.
Bagaimana tidak, Dahlia mendapati Andre sedang lMamaran ke Bali bersama Anita. Dahlia bukan hanya kecewa, ia bahkan sampai di opname selama satu minggu dirumah sakit karena syok berat.
Bajingannya Andre tidak pernah menjenguk dan mengunjungi Dahlia saat ia dirumah sakit. Hanya naya adiknya yang selalu setia menjaga, dan mengabari Andre keadaan Dahlia.
Sampai akhirnya Dahlia sembuh dan mengajak Anita dan Andre untuk bertemu.
"Mas sayang sama Anita?" Tanya Dahlia dengan wajah serius
"Iya" jawab Andre yakin
"Dek Anita sayang sama suami saya?" Tanya Dahlia lagi
"Iya Mbak"
"Kalau begitu, sebaiknya kalian menikah. Agar tidak terjadi fitnah disini terus menerus. Saya tau bahwa saya tidak akan mampu menghalangi dua orang yang saling mencintai"
"Serius?" Tanya Andre kaget
"Hahahhahahaa, suara tawa Dahlia menjeda waktu bagi Andre mencerna situasinya.
"Bagaimana mungkin saya seikhlas itu Mas, sampai kapanpun kalian ga akan pernah aku izinkan hidup dengan damai"
Terdengar suara Dahlia bergetar di antara kerongkongannya perasaannya bercampur aduk dengan amarah.
"Sabar Mbak, kita pergi saja yuk Mbak" Tanya Naya yang selalu setia menemani Dahlia kemanapun.
"Ga bisa Naya, Mbak ga terima di giniin sama mereka"
Walaupun Naya Masih seorang anak SMP saat itu tapi dia begitu bijak dalam menghadapi segala situasi untuk Kakaknya.
Dia mungkin sudah terbiasa dengan luka apalagi hanya Dahlia keluarga satu-satunya yang dia miliki setelah Ayah dan Mamanya meninggal dunia akibat kecelakaan saat Naya Masih sangat kecil.
Naya juga paham kapan harus memberikan ruang sabar kepada Dahlia, dan kapan harus membiarkan kakaknya bertindak untuk menyalurkan emosi yang membentur kepalanya.
Tampak wajah lesu di wajah Dahlia hari itu sembari memegang perutnya yang mulai kontraksi karena dia emosi.
"Udah Mbak ya, ayok kita pergi" ujar Naya sembari mengelus pelan-pelan pundak Dahlia yang terlihat Masih bergetar hebat. Sedangkan air mata di pipinya telah tumbuh merayap di seluruh pipinya.
"Mas sangat jahat ke saya dan anak kita karena diaaa" tunjuk Dahlia ke Anita
Anita hanya diam, dia meMasang wajah datar seolah tak punya kata yang ingin ia sampaikan.
"Udah Mbak, ayok pulang kasihan anak Mbak dengar Mbak marah-marah, malu juga di liatin orang Mbak"
Setelah di bujuk oleh Naya sekian lama, Dahlia pun akhirnya bersedia untuk meninggalkan restoran saat itu juga. Andre mengintip dibalik jendela terlihat oleh matanya bagaimana Dahlia menuruni anak tangga dengan tertatih dan berjuang sekuat tenaga.
Kandungan yang sudah berusia 7 bulan itu sudah sangat membebani kekuatan fisiknya. Andre sedikit tergores hatinya. Melihat Dahlia bersusah pAyah meraih pegangan tangga.
"Maafkan aku Dahlia" ujar batin Andre hari itu.
Tapi kata maaf tidak akan mengembalikan apapun lagi. Luka yang di ciptakan Andre kepada Dahlia sudah sangat jahat.
Bagaimana pun perselingkuhan adalah hal yang sangat memalukan untuk di terima kembali. Andre juga mulai teringat bagaimana dia berjanji kepada Dahlia untuk menjaga dia sepenuh hati dan menua bersama. Malam itu Andre terus menerus terbayang akan wajah Dahlia.
__ADS_1
Bagaimana dia yang bersuka cita, walaupun hanya Andre bawakan pulang tahu isi bakso, bagaimana dia begitu bahagia walaupun hanya Andre bawakan nasi kotak.
Andre secara tidak sadar hanya ingin berkata ke Dahlia sekali lagi, bahwa dia merindukannya. Rindu yang dia patahkan karena egois dan kebodohannya sendiri.