
Sudah pukul 10 pagi, tapi Tiku masih tertidur nyenyak. Mungkin karena dia sangat lelah dengan semua yang terjadi semalam dan juga kurang tidur
Aku meraih ponsel ku yang berdering, ada. pesan dari Farah juga Galuh
"@Aluna @tiku pada kemana sih"
"Kenapa ga pernah online? "
"Are u okey guys? "
"Aman kok, ini aku dirumah Tiku"
"Tiku nya masih tidur"
"Lohh nga ngajak-ngajak ish"
"Lah aku kesini saja jam 12 malam"
"Mana ada kalian masih bangun jam segitu"
"Ada nyokap sama bokapnya Tiku ga Le? "
"Gaada, kesini aja"
"Aku mandi dulu baru kesitu yaah"
"Aku juga"
"Oke deh"
Perutku sudah bunyi kriuk kriuk dari tadi
Aku memilih menuju dapur rumah Tiku dan mencari apapun yang bisa di olah dari kulkasnya.
Kebetulan ada sayur dan juga telur yang bisa di buat omelet.
Dan juga roti yang bisa di bakar. Tak lupa aku juga memasak nasi.
Ternyata sering membantu mbak Dewi di dapur menjadi pengalaman yang berharga buatku. Aku bisa memasak di dapur seadanya dengan apa yang sudah ku pelajari sebelumnya
Hanya butuh waktu 30 menit aku sudah selesai menyelesaikan semuanya
Nasi goreng dengan sosis, susu hangat, roti bakar, dan juga omelet telur.
Bertepatan itu juga Tiku bangun
"Omg Aluna, maaf yah aku ga bantu apa-apa ataupun siapain kamu makanan"
"Santailah Tiku"
"Ga bisa gitu Aluna kan kamu tamu disini"
"Udah ah santai saja"
"Sini duduk dulu kita makan"
"Ohiya aku sampai lupa kalau tadi katanya Galuh sama Farah mau kesini"
"Huum udah nelfon tadi kalau udah hampir sampai"
Aku dan Tiku menyantap sarapan dengan lahap sembari menunggu kedatangan Galuh juga Farah.
Aku melirik ponselku sesekali tidak ada juga telfon dari mama atapun ayah. Rasanya aku sudah tidak ada dipedulikan oleh mereka.
Orang dewasa hanya mementingkan ego mereka masing-masing. Rasanya menyebalkan sekali
Notifikasi masuk begitu saja, ah Leo
"Gimana lukanya? "
"Chat dari siapa tuh, mukanya merah gitu"
"Ada deh" Jawabku memicingkan mata
__ADS_1
"Paling juga kak Kevin"
"Ohiya ngomong-ngomong soal kak Kevin, kamu kayak paling pro ke dia"
"Naksir ya Tiku? "
"Eh gak" Ngelesnya
"Kentara banget ya Aluna? " Wajahnya Tiku berubah malu
"Gak juga karena kamu selalu natural"
"Tapi ga mungkin Aluna, aku sama kak Kevin"
"Kan dia naksirnya sama kamu bukan aku"
"Aku ngerasa ga cocok sama kak Kevin, dia terlalu perfeksionis orangnya, cocoknya sama orang yang berantakan kayak kamu, biar seimbang" Ucapku sembari tertawa
"Aluna, ahrg" Tiku hanya bisa memasang wajah ngambek dengan dramatis setelah aku meledaknya anak gadis yang berantakan
Tak butuh waktu lama, farah dan galuh sampai juga.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikummusalam" Jawabku dari dalam menghampiri mereka berdua. Dibandingkan Tiku jiwa toleransi ku jauh lebih kental, mungkin karena dia tidak paham atau apalah
"Kamu kenapa Aluna"
"Iya kakinya sampa ke plaster gitu? "
Galuh segera meraih tubuhku dan menuturnya ke berbagai sisi untuk memastikan kondisi ku
"Aku baik-baik saja"
"Tunggu tapi kok kamu keliatan kurus, kamu ga dikasih makan ya sama Tiku"
"Enak aja, aku timpuk nih anak lama-lama"
"Aluna disini gizinya teratur, tidurnya juga nyenyak"
"Yuk masuk dulu girls" Sambut Tiku karena dari tadi kami sibuk ngobrol di depan pintu
Karena kedatangan mereka berdua, aku sampai lupa belum membalas pesan dari Leo.
Aku sempatkan membalasnya dengan cepat
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir" Tak lupa aku menambahkan stiker anak gemoy yang merupakan stiker sejuta ummat itu.
Leo juga menjawabnya dengan stiker oke saja. Sudahlah dia memang seperti itu. Atau memang sibuk dengan Cecilianya itu. Padahal baru semalam dia bersikap manis padaku. Benar-benar menyebalkan memang orang itu
"Kenapa Aluna" Farah yang melihatku berhenti segera menanyakan
"Ga ada kok ,cuman balas wa dari mbak Dewi"
"Yaudah yuk"
Kami berempat memilih ke kamar Tiku untuk membantu Galuh dan Darah meletakkan barang bawaan mereka yang rencananya akan ikut nginap disini bersama kami
"Asik bisa ramai nih malam ini" Lirik ku ke arah Tiku mengirimkan kode
"Yoi Aluna kita bakal seru-seruan"
"Seru apaan sih? " Galuh tampak penasaran sekali
"Udaa tunggu saja"
"Jadi kita ngapain sekarang"
"Gini aja, kamu hutang penjelasan ke kami semua, kamu kenapa, ada apa, kenapa sampai kabur keruma Tiku"
"Mana tengah malam juga lagi"
Aku menghela nafas dalam-dalam. Mencoba mengumpulkan keberanianku memulai lukaku semalam dalam cerita ke telinga orang lain lebih tepatnya sahabat-sahabatku
__ADS_1
Aku menceritakan semuanya lengkap dari awal sama akhir. Mereka memperhatikan semua ceritaku dengan tenang dan sesekali menghiburku. Tak lupa kami berpelukan untuk mengungkapkan satu hal. Bahwa sesulit apapun cobaan hidupmu. Teman akan selalu ada menopang bahumu yang hampir runtuh
Tak sadar kami bercerita sampai siang hari.
"Eh lapar nih" Keluh Galuh
"Go-food sajalah" Ujar Tiku santai
"Tapi apaan" Tanyaku juga memastikan
"Ayam Geprek? " Tanya Farah
"ga ah aku bosen" Tolak Galuh tak mau makan itu
"Bakso aja kali yah, cocok nih karena mendung-mendung gini pasti bentar lagi hujan"
"Tapi ga kenyang tau"
Notif di ponsel ku kembali berbunyi dari kak Leo lagi, segera aku meraihnya meninggalkan pembahasan mereka yang tak menemukan sepakat sama sekali
"Ada siapa saja dirumah Tiku? "
"Ada Girls Sqd" jawabku singkat
"Kalian udah makan?"
"Belum, baru mau go-food nih"
"Aku kirimin makanan yah, kamu aktif terus"
"Eh ga usah kak"
Tapi kak Leo sudah tidak membaca pesan dariku. Kebetulan juga anak-anak ini malah sibuk dengan ponsel masing-masing scroll makanan yang ingin mereka makan. Entahlah tapi inilah problem cewek pada umumnya.
15 menit kemudian
"Drivernya udah sampai depan rumah"
"Girls" Ketiganya menatap kearah bersamaan karena memecah konsentrasi mereka mencari makanan
"Ada makanan di pesanin sama kak Leo dibawah"
"Whattt"
"Alhamdulillah yaAllah"
"Yuk ambil buruan"
Kami ber empat menuju pintu depan. Tampak seorang driver aplikasi pesan antar makanan tersenyum ramah kepada kami.
"Banyak sekali"
"Apa semua ini"
"Berapa semuanya kak? "
"6 jt 8 ratus ribu dek"
"Wow" Mulut Farah membulat sempurna
"Tapi sudah dibayar dek"
Kami memang anak orang-orang kaya tapi tak juga pernah pesan makanan sekali antar sampai 6 jutaan. Leo terlalu membuang-buang uang untuk kami. Yah walaupun di lubuk hati terdalam aku juga senang.
"Ohiya kak Terima kasih yaa"
"Baik dek, sama-sama"
Kami membawa semuanya ke meja makan. Beruntung meja Tiku sangat besar jadi bisa muat semua.
Tak lupa aku menghubungi kak Leo
Berdering....
__ADS_1