Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Aksi Nekat Aluna


__ADS_3

Denis sudah semakin suntuk, menunggu dan terus menerus menunggu. Setelah penantian yang cukup lama. Akhirnya Anita pun sudah siap, ia memakai blazer coklat dan rok diatas lurus senada dengan warna blazernya.


Ditambah ia mengikat keatas rambutnya dengan jepitan rambut khas ala-ala sosialita. Anita memang perempuan yang selalu mengikuti tren dan bergaya sesuai dengan umurnya tapi sayangnya ia selalu terlihat jauh lebih muda dibandingkan umurnya.


"Sayang, sudah siap" teriak Anita memanggil Aluna


"Anita berdiri di depan tangga memanggil Aluna"


Sedangkan Denis malah sibuk melihat kemolekan tubuh Anita. Tak bisa di sembunyikan wajah Denis yang memerah. Walaupun ia tinggal di Amerika namun ia belum pernah pacaran, karena terlalu sibuk dengan rutinitasnya setiap hari untuk bekerja. Jadi ketika melihat Anita ia merasa telah merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Loh Denis, kok mukanya kayak kepiting rebus gitu?"


"Eh Masa Tante" jawab Denis gugup


"Efek panas kali rat" ujar Denis lagi dengan mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangan


"Hahahah, lucu juga ya kamu, padahal ada AC Masih aja kepanasan"


"Hehehe" Denis pun hanya bisa menanggapi Anita dengan tertawa kecil


Jelang beberapa saat, Aluna pun turun ia menggunakan kemeja dengan di padukan jeans denim. Tak lupa tas selempang hitam di sisi kiri tubuhnya, dan sepatu kets hitam di kedua kaki jenjangnya.


"Ayok sayang, takutnya kesiangan ini"


"Kunci mobilnya mana Tant?"


"Ambil di supir saja Denis"


"Oke Tante"


Tak lama kemudian, Denis sudah duduk dibalik setir.


"Aluna di depan ya Denis, dia mudah pusing"


"Umm iya Tant" jawab Denis dengan nada kecewa


"Aduhhh, jantung ku.. pelan-pelan ya detaknya jangan kenceng- kencang" ujar Aluna membatin


Anita pun duduk di bangku belakang dan bermain ponsel sedangkan kini Aluna tepat di samping Denis. Perasaan nya mulai tak karuan, tapi ia berusaha tetap tenang dan stay calm.


"Aluna, kamu suka denger lagu apa?" Kata Denis memecahkan keheningan diantara mereka


"Dia suka yang Korea tuh Denis" potong Anita


"Bener Aluna?"


"Emm iya om"


"Eh ga usah panggil om, berasa tua banget aku, gimana kalau panggil kakak aja?"

__ADS_1


"Hahahah, dasar" Anita hanya bisa tertawa mendengar permintaan keponakannya tersebut


"Iya kak"


"Kira play musik Korea aja yah, biar Aluna ga bosan dijalan"


"Iya kak" jawab Aluna malu-malu


Kota Makassar yang cukup macet memberikan waktu yang cukup panjang pula untuk menempuh tempat tujuan, belum lagi Denis yang harus menggunakan maps karena sudah lupa jalan di Makassar ini.


Sedangkan Anita sudah tertidur di belakang begitupun Aluna. Denis segera mengatur cermin di mobil di depan tersebut agar bisa melihat dengan jelas wajah Anita. Sesekali ia melirik Anita sembari mengemudi. Sayangnya Aluna ternyata hanya berpura-pura tidur, agar tidak canggung dan malu pada Denis.


Hingga ia pun mengerti bahwa Denis om nya itu, menyukai Mamanya sendiri, lebih tepatnya istri dari pamannya sendiri. Aluna tidak punya pilihan lain selain berpura-pura tidur terus. Tapi dalam hatinya sudah berserakan luka.


"Kenapa orang yang aku suka, harus sukanya ke Mama."


"Aku benci sama Mamaaaa."


Akankan kebencian Aluna akan menjauhkan dia dari Mamanya?


Pukul 11 siang akhirnya mereka bertiga sampai di Takalar, sebuah kota dengan jajanan kue tradisional yang sangat banyak dan beragam belum lagi buah-buahan yang segar di setiap hulu jalan.


"Aluna mau makan sesuatu?" Tanya Denis sembari menatap keponakannya itu yang baru saja bangun.


"Rupanya aku tadi karena kelelahan pura-pura tidur malah akhirnya tidur beneran, aku ga ngorok kan ya"


"Aluna?" Tanya Denis lagi


Denis pun menepikan mobilnya ke samping tepat di antara buah-buahan yang di jajakan di pinggir jalan dengan kios-kios buah.


"Berapa bu, satu keMasannya anggur yang itu?" Tanya Denis pada penjual buah setelah menurunkan kaca mobilnya.


"50 ribu dek"


"Aluna suka anggur ya?" tanya Denis melirik Aluna lagi


"Suka kak"


"Saya ambil 5 ya Bu"


"Kok banyak banget kak"


"Kan kamu suka, bisa di makan dirumah juga kan"


Denis lalu menyodorkan tiga lembar uang merah kepada penjual buah anggur tersebut.


"Kembaliannya buat anak ibu saja"


"MasyaAllah, makasih ya dek. Semoga rezekinya di lancarkan oleh Allah" kebahagiaan sederhana dari wajah ibu berkerudung motif bunga-bunga itu sangat membuat Aluna tersentuh.

__ADS_1


"Baik banget ya kak Denis"


"Semua orang itu baik Aluna, tapi tidak semua orang yang berhasil mempertahankan kebaikannya itu"


Denis mengatakan semua itu dengan kalimat yang jelas dan berhasil menciptakan point 100% di dalam hati Aluna. Sejenak ia melupakan semua overthingkingnya sebelumnya bahwa Denis menyukai Mamanya, ia rasa sudah salah paham.


Terlebih karena Denis saja yang terlalu perhatian dan menjaga mereka bagaimana pun mereka adalah bagian dari keluarga Denis sendiri yang patut ia jaga dan lindungi.


"Nih makan anggurnya Aluna sekalian bawa pulang juga bagi ke mbak Dewi ya, lucu dia soalnya"


"Terima kasih banyak kak"


Tak lupa Denis membukakan satu keMasan anggur sebelum ia berikan kepada Aluna.


"Nih kakak bukain takutnya tangan kamu jadi luka, keMasannya susah di buka"


"Wah, makasih kak"


Pertemuan pertama antara Denis dan Aluna hari itu  menjadi kenangan manis yang ia ingat selalu. Tapi sayangnya, Denis harus kembali ke Amerika mengurus perusahaan milik ayahnya. Rasa cinta yang baru saja tumbuh akhirnya gugur sebelum ia mekar. Aluna mengurung diri seharian di dalam kamar.


"Aluna kenapa mbak?"


"Saya juga kurang tau Bu, non Aluna tidak keluar kamar dari tadi pagi sampai sekarang"


"Mbak sudah bawakan makanan?"


"Sudah bu, tapi ga di makan, susu tadi pagi saja sudah basi Bu"


"Astaga anak itu"


Anita pun bergegas menuju kamar Aluna. Ia Masih tidak habis fikir dengan fikiran anak gadisnya itu.


"Aluna.. Aluna .. Aluna" ujar Anita memanggil nama Aluna berkali-kali lewat pintu. Tak lupa ia terus mengetuk pintu kamar putrinya itu.


Tapi tidak ada juga jawaban. Anita menjadi sangat khawatir.


"Dewiii" teriak Anita


Dewi pun bergegas berlari ke lantai dua memenuhi panggilan dari tuan rumahnya itu.


"Kenapa bu"


"Ambilkan kunci cadangan di laci bawah"


"Kenapa bu, ada apa sama non Aluna?"


"Udah ga usah banyak tanya, cepetan" ucap Anita setengah berteriak ke arah pembantu rumah tangganya itu


"Baik Bu" Dewi pun menyeret kakinya untuk menuruni anak tangga.

__ADS_1


Ditengah kecemasan di dalam rumah megah pavillion itu, Anita pun segera menghubungi Andre dengan tangan yang Masih gemetar menahan rasa panik yang mengigit detak jantungnya hingga histeris.


__ADS_2