
Aku merasakan Leo semakin jauh dari jangkauan ku, menghilang sekejam mata. Tepat ketika aku merasakan ingin menukar rasa sayang dengannya
Bagaimana jika ternyata Leo selama ini hanya kasihan denganku yang selalu dibully oleh Teman-temannya.
Bagaimana mungkin aku pernah menaruh harapan jauh tinggi ke angkasa tentang sosok Leo yang akan menjadi pacar pertamaku, haha kacau sekali fikiranku
Setelah pulang dari sekolah aku merebahkan badanku malas, suntuk sekali rasanya melihat kedekatan Leo dengan cecil-cecil itu.
Bahkan mbak Dewi yang menyambutku turut aku abaikan dengan dingin. Layaknya es yang dibiarkan mencair tanpa perlindungan.
Tak beberapa lama sebuah notifikasi masuk di ponselku lewat aplikasi obrolan hijau dengan logo telfon.
"Nomor baru?"
"Hmm siapa ya"
Aku tak mengetahui pengirimnya karena hanya melihatnya lewat notifikasi ponselku yang terkunci.
Bukannya membaca pesan yang baru masuk itu, justru aku memilih untuk mengabaikan pesan tersebut. Rasanya malas sekali untuk pesan yang tidak langsung ke intinya saja. Terlalu berbelit-belit dan menyebalkan
"Menganggu saja" Aku segera mengaktifkan mode senyap untuk semua jenis aplikasi akun sosial media milikku.
Aku memang sangat malas untuk merespon chat orang lain, entahlah tapi aku merasa tidak semua hal harus di balas bukan. Ini adalah ramah pribadi jadi aku sendiri yang punya andil untuk mengaturnya.
Tanpa mengganti seragam batik yang aku kenakan, dan juga tanpa makan siang, aku memilih untuk tidur. Kubiarkan tubuhku di himpit tas dan buku-buku sekolah yang telah ku biarkan terbuka tadi.
Rasanya aku hanya ingin tenang disini, bersantai, dan tidur dengan nyaman tanpa gangguan dari siapapun
Olehnya aku mengaktifkan mode kedap suara, agar tidak mendengar ocehan mbak Dewi hari ini yang akan selalu bolak-balik entah menyuruh makan, membawakan makanan, ataupun sekedar ingin memperbaharui status fbnya karena selalu berkonsultasi denganku. Tak lupa aku juga mengunci kamarku rapat-rapat agar mama tidak turut mengusik hari mendung ku ini
Mimpi menyelimuti lelapku, lekas aku bernyawa disana dengan bebas. Ruang ilusi putih yang megah. Tidak ada siapapun disini. Hanya ada cermin kuno pemberian teman mama dulu.
"Halo"
Suaraku menggema Seisi ruangan menjadi riuh seketika. Tiba-tiba aku merasa sangat senyap disini.
Ada yang memperhatikan, ada yang menakutkan, dan ada yang membuatku ingin segera pergi
Brukkk....
Cermin di depanku seketika retak
Haaa ada apa? Apa ini?
Aku segera mendekat, sosok hitam berdiri dibalik kaca tersebut. Dia tersenyum buas, membiarkan bulu kuduk ku menjadi saksi, aku cukup cemas saat ini
"Hahahahahah"
"Hahahahaha"
"Lama tidak berjumpa Nona"
Sosok gelap mendominasi ruangan, perlahan tapi pasti sosok ini akan keluar dari kaca bersamaan retaknya yang semakin hancur sedikit demi sedikit
Dimana aku ini yaampun, mengapa selalu di kelilingi hal-hal tidak menyenangkan disini
Bau busuk menampar paksa hidungku, seisi ruangan menjadi gelap hanya ada lilin kecil di sisi ruangan sekarang tak ada suara apapun, bahkan retakan kaca tadi sudah tak menimbulkan suara apapun lagi sekarang
Tiba-tiba.....
Cairan seperti lendir menyentuh kaki ku, rasanya sangat lengket dan menjijikkan
Perlahan tapi pasti aku merasakan cairan itu bergerak
Aku pun segera menghindar dan berlari ke arah lilin kecil untuk melihat apa yang sebenarnya sedang aku injak tadi
Meski harus jatuh berkali-kali karena kaki yang licin untuk sampai di depan lilin, akhirnya aku bisa merainya.
Walaupun nyalanya cukup kecil tapi bisa untuk menerangi jalanku yang gelap
Aku mengarahkan lilin ke segala arah mencari apapun yang bisa melindungi diri pada hal yang tidak bisa terlihat saat ini, tekanan udara di ruangan ini juga semakin kuat membuat getir rasa yang tak kunjung pulang
Tanpa sengaja aku mengarahkan lilin ke sudut ruangan yang lain, sosok hitam tinggi berdiri menatap tajam ke arahku. Matanya merah dengan taring di kedua sisinya.
__ADS_1
Badannya terlihat menjijikkan dan menimbulkan aroma bau yang semerbak, seperti oli yang mengalir dari motor bocor, makhluk itu terus mengeluarkan cairan dari tubuh tingginya.
Cairan yang sangat lengket dan sangat menyengat, membuatku sangat tidak nyaman.
Tubuhku mulai berkeringat dingin, tatkala makhluk itu tiba-tiba bergerak pelan menuju arahku
Aku berusaha berlari tapi kaki ku di rekatkan oleh cairan ini, aku hanya bisa melangkah satu persatu membiarkan alasan untuk hidup terus melaju
Tak ada siapapun disini, aku sudah berusaha sampai akhir untuk berucap tolong dan berteriak sekuat mungkin. Tapi nihil rasanya
Terus saja aku berlari, makhluk ini telah meraih kakiku, aku merasakan sesuatu yang panas menyentuh kakiku, di cengkramnya kuat-kuat. Sampai aku terjatuh membentur lantai.
Sakit rasanya, tapi lebih menyedihkan lagi wajahku penuh lendir saat ini. Kuraih lilin kecil untuk menerangi makhluk tadi
Dia sedang asyik menjilati kedua kaki ku seperti sangat kelaparan. Tapi aku tidak merasakan sakit. Hanya ada rasa panas dan menggelikan juga rasa tidak nyaman. Lidahnya menjulur aneh, aku berusaha melepaskan jeratannya dengan terus menendang tapi terus saja tidak berhenti
"Mahluk sialan" Kutuk ku kejam sekali makhluk ini
Aku berusaha semakin kuat, dan tak juga berhasil
"Oh iyaa lilin ini"
Aku segera melempar lilin ke arah tepat matanya"
"Arghhhhhhh"
"Auhhhhhhhhhh"
Suara kesakitannya terus menggema, dan ku lihat jelas bagaimana api kecil itu berhasil membakar habis dirinya
Dengan terlepas aku dari makhluk yang entah apa itu, dengan segera pintu ruangan terbuka otomatis, ruangan juga kembali terang kembali
Aku mendapati diriku berdiri di sisi ruangan dengan penampilan cukup kacau dan meresahkan
Cermin tadinya retak sekarang berubah utuh kembali. Aku menghampiri pelan, rupanya makhluk tadi tidak benar-benar hilang melainkan kembali kedalam cermin dalam keadaan baik-baik saja
Aku melihat sekilas makhluk hitam itu menatap penuh kesedihan kearahku
Rasanya sangat tidak mungkin, aku mengenal dirinya
Aku melangkah segera, menepis rasaku. Bagaimana pun dia telah berusaha untuk menakuti dan mengejarku.
Aku membuka pintu keluar dan menuju jalanan yang ternyata di luar sini cukup terjal. Tak mungkin juga aku kembali, aku khawatir sosok tadi akan mengejarku lagi
Aku melihat sekitar, banyak pohon tinggi dan lembab. Beberapa burung juga terlihat terbang di angkasa tapi jalanan disini tak hanya curam tapi juga sangat terjal
Sepertinya ini hutan yang cukup lebat dan akan berbahaya, ditambah aku hanya seorang diri
Sepanjang jalan aku merasa telah diawasi oleh seseorang yang entah siapa. Tapi aku mengabaikannya mungkin hanya beberapa hewan yang tinggal di hutan ini
Ketika sampai di persimpangan jalan tanpa sengaja kedua kaki ku tersandung sesuatu sampai akhirnya tubuhku ambruk dan menggelinding tanpa arah
Banyak sekali lumpur mengelilingi tubuhku saat ini, sampai akhirnya kepalaku terbentur pohon yang berhasil juga menahan tubuhku agar tak jatuh ke jurang yang sangat dalam
Setelah kejadian ini aku tak sadarkan diri, aku juga tak tau apa yang terjadi denganku, sampai akhirnya suara berisik membangunkan ku
"Aku dimana"
"Aku melihat sekitar"
"Aku terbaring diatas terpal jerami"
"Rumah siapa ini"
"Aku dimana"
Aku memikirkan banyak hal tentang keadaan ku saat ini tapi entah dimana aku saat ini
Seketika aku disadarkan dari lamunanku oleh seorang wanita yang sudah tua
"Nenek siapa? "
Aku berusaha bangkit, dengan segera beliau membantu memapahku karena tubuh ini masih sangat lemah
__ADS_1
"Nenek siapa? " Tanyaku tanpa basa-basi
Beliau menatap ku lekat dan menarik nafas dalam-dalam
"Aku sebenarnya mengetahui semua yang terjadi dengan ibumu"
"Ah"
"Aku merasa cukup aneh dengan penuturan sosok tua ini" Tapi aku tidak mengatakan hal tersebut takut jika menyinggung perasaannya
"Aku juga merasa aneh dengan tingkah mama Akhir-akhir ini"
Kejadian waktu itu juga masih teringat jelas
Aku sampai sekarang masih belum menemukan jawaban.
"Sebenarnya apa yang terjadi nek? " Lanjutku
"Jika kamu ingin lebih tau dengan apa yang terjadi kamu bisa menemukan saya di hutan Jurana Kirana di pelosok hutan desa Lombo Ati.
" Bisakah nenek menjelaskannya saat ini saja"
"Aku tidak punya banyak waktu untuk mengatakan semuanya. Cerita ini sangatlah panjang dan butuh waktu yang lama untuk membuatmu paham nak"
Setelah mengatakan hal tersebut tiba-tiba...
"Non Aleeee"
"Non.. "
Mbak Dewi telah sekuat tenaga membangunkan ku dari mimpi yang sangat menguras emosiku. Lama mbak dewi berjuang akhirnya aku kembali ke dunia nyata dan berhasil keluar dari mimpi yang membuatku menderita
"Ada apa mbak" Aku mengucek mataku malas
"Ini sudah jam 7 Non"
"Nanti telat sekolah"
"Ini juga seragam batiknya masih yang kemarin"
"Lailhailllah"
"Haaaaa"
Rasa kantuk yang masih menyelimuti tiba-tiba hilang.
Aku bangkit dengan cepat dan bersiap ke sekolah. Sepertinya hanya Mbak dewi lah yang bisa sabar dengan semua tingkah laku ku selama ini.
"Auh"
"Aku merasakan perutku nyeri"
"Nah kan bagaimana ga sakit perutnya Non, ga makan siang, ga makan malam, ini juga ga sarapan"
"Ini ga mau tau, Mbak mau Non makan dulu"
Akupun terpaksa memakan nasi goreng buatan mbak Dewi dan meneguh susu hangat tak lupa mbak dewi memberikan obat pereda sakit dan akhirnya membuat perutku kembali membaik
Aku sampai lupa, motor pesananku harusnya sudah tiba hari ini
"Mbak motor Aluna, udah dateng belum yah"
"Ada Non di depan"
"Tadi ibu yang tanda tangan bukti penerimaannya"
"Mama ada ngomong sesuatu ngak? "
"Ga Non, ibu keliatan santai saja"
Syukurlah jika begitu, akhirnya aku tidak butuh nebeng dengan Farah ataupun Tiku atau diantar jemput dengan pak Baim tiap hari. Itu cukup melelahkan bagi mereka.
__ADS_1