
Aluna dengan patuh menurut saja dengan perintah Leo. Leo kemudian mengambil kapas dan menetaskan tiga tetes betadine lalu mengoleskan ke dahi Aluna yang terluka. Aluna tampak meringis karena perih yang dia rasakan hingga dengan spontan menggenggam tangan kiri Leo.
Leo hanya tersenyum dan menatap wajah Aluna yang sangat cantik di hadapannya. Ini adalah kali pertama dia sangat dekat dengan seorang perempuan selama hidupnya.
Tak lupa Leo memasangkan plaster obat di dahi Aluna yang terluka.
"Nah beres" Ucap Leo segera Aluna memundurkan badannya dari sisi Leo.
Tak beberapa lama, ponsel Leo berdering dan tertulis mama Aluna di balik handphonenya.
"Mama aku? " Lirik Aluna setengah berbisik. Aluna tidak mampu menyembunyikan rasa panik di wajahnya.
Leo hanya mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Aluna dan menatapnya untuk menenangkan.
"Halo tante"
"Gimana nak, udah ketemu Aluna nya? " Tanya Anita terdengar suara Anita yang bergetar karena cemas terhadap putrinya tersebut.
"Ga apa-apa tante, Aluna sama Leo sekarang. Dia dari rumah temannya tadi. Untung Leo punya radar"
"Syukurlah" Suara mbak Dewi terdengar di balik telfon.
"Aluna baik-baik saja sama Leo tante, nanti Leo anter pulang tapi Leo ajak dia makan malam dulu ya tante, hahah" Ujar Leo akrab dengan Anita
"Yasudah, Hati-hati yaaa"
Aluna pun bisa bernafas lega setelah melewati hari yang sulit.
“Kenapa nomor mamaku ada di kamu Kak?” Aluna melirik Leo heran karena dia tau pasti bahwa kontak mamanya hanya di berikan kepada orang-orang yang dia percaya saja.
Leo hanya mendekat ke Aluna dan mensejajarkan dirinya dengan tubuh Aluna sembari tersenyum jahil.
“Mama mu udah ngasih kode lampu hijau nih”
“Haaaa?” Aluna menaikkan alisnya dengan tampang acuh tapi tetap penasaran
“Jadi tadi aku bareng ibuku ke rumah kamu,”
__ADS_1
“Ngapain emang?”
“Udah diam aja, ini lagi cerita akutuh”
“hmmm, iya iyaa”
“Dan kamu tau, boooommm rumah kamu ternyata besar banget aku sampai tersesat pas mau cari toilet, heheh”
“Ihhhh malah becanda bahas yang lain” Aluna mencubit pundak Leo greget, wajah Aluna tidak menunjukkan wajah ramah sama sekali
“Aku tadi niat hati buat nyari kamu, tapi kata mama kamu, kamu belum pulang”
“terus aku heran dong, jadi aku tanya lagi”
“Aluna kenapa belum pulang ya tante, padahal siswa baru itu tidak ada kegiatan loh setelah orientasi selesai”
“terus mama kamu yang tadinya baik-baik saja, aman, tenang, tentram. Berubah panik dan bingung” Ucap Leo dengan mencontohkan mimic wajah Anita saat memikirkan Aluna yang belum pulang. Alhasil membuat Aluna kembali kesal dan mencubit Leo keras-keras.
“Auhhhh, mungil tapi tenaga kerja kayak gajah, parah sih ini cewek” Leo hanya terus berbicara dan mengusap-usap bahunya yang telah merah lebam akibat cubikan Aluna
“Ini Namanya kekerasan pra pacarana, huuuu”
“Emang siapa juga mau pacaran sama Kak Leo, ogah” Aluna menjawab perkataan Leo ngasal dan semaunya saja
Leo mendengar perkataan Aluna barusan hanya memilih diam dan menghela nafas, lalu memperbaiki posisi duduknya kembali menghadap stir mobilnya.
Aluna yang masih ingin bicara akhirnya memilih diam saja, setelah melihat wajah Leo yang mendung karena penolakan Aluna secara tidak langsung tadi.
“Maaf ya Kak, Kakak tersinggung ya?” Leo hanya menatap lurus kedepan dan menjalankan mobilnya perlahan dengan tetap fokus
“Kak Leo ayok katanya tadi mau ngajak Aluna makan?” Leo tidak menjawab lagi pertanyaan Aluna tapi memilih diam saja
“Kak Leo, Kak” Aluna terus saja memanggil Leo dengan jahil karena perasaan tidak enak dihatinya sebab secara tidak langsung Aluna takut Leo marah karena perkataanya
Leo hanya sibuk menyetir mobil tanpa memperdulikan suara Aluna lagi, dia memilih untuk mengantarkan Aluna saja pulang.
“Loh ini arah kerumah Aluna yaa” Gadis disamping Leo tersebut dengan sigap bertanya kepada Leo karena dia sebelumnya yang ingin mengajak dirinya untuk pergi makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Tetapi malah Leo yang semula hangat tiba-tiba berubah seperti es yang membeku perlahan
__ADS_1
Beberapa satat berlalu, di suasana mobil yang hening akhirnya tibalah kedua remaja ini digerbang tinggi rumah Aluna. Dengan cepat security membuKakan pintu rumah untuk mobil Leo agar bisa membawa Nona rumah tersebut kedalam rumah.
Di depan pintu sudah ada Anita dan Gracia yang menunggu keduanya. Leo pun memarkirkan mobilnya di samping rumah Aluna dan membuKakan pintu untuknya. Walaupun Leo saat ini sedang marah namun dia tetap bersikap manis untuk Aluna.
“Syukurlah, kamu gak apa-apa sayang” Anita segera meraih putrinya yang baru saja sampai dalam pelukannya.
Begitupun ibu Leo yang dengan lembut mengusap rambut Aluna yang ternyata masih basah akibat guyuran air di toilet
“Aduh kamu basah nak, kalian kena hujanya?”
“Iya buu, tadi pas Aluna keluar dari rumah temennya ujan” Jawab Leo santai sedangkan Aluna hanya diam saja membiarkan Leo menyelamatkan dia sekali lagi dari rasa panik mama dan ibunya sendiri
“Kamu naik mandi ya sayang” Anita yang mengetahui kondisi putrinya segera meminta Aluna untuk membersihkan diri
Aluna pun tanpa menatap kearah Leo memilih meninggalkan ketiganya diteras. Lalu mendengar samar-samar.
“Maaf ya tante, Leo ngak sempat ngajak Aluna makan. Karena takut Alunanya masuk angin”
“Iya leo, ga apa-apa. Tante malah terima kasih banget ke kamu. Untung ada kamu. Coban gak ada kamu tante pasti panik duluan. Apalagi Ayahnya Aluna ke luar kota”
“Iya tante, bukan masalah besar kok, Leo akan jagain Aluna dengan baik” Suara Leo terdengar sangat gagah dalam menegaskan untuk menjaganya dan berhasil menyentuh relung hati Aluna saat itu.
“Kalau gitu kami pamit dulu ya jeng” Ucap Gracia kepada Anita dengan tak lupa cipika cipiki terlebih dahulu.
“Pamit ya tante”
“Hati-hati yaaa, sekali lagi makasih banyak” Ucap Anita dengan senyuman ramah seperti biasanya
Anita berdiri di depan pintu melihat kepergian Leo dan Gracia, tak lupa dia juga membalas lambaian tangan teman arisannya tersebut sebelum membiarkan mobil Sport milik Leo tenggelam dibalik tembok yang tinggi
“Ngapain, masih kangen yah?” Anita segera membalikkan tubuhnya karena sedari tadi mnegetahui keberadaan Aluna di belakang pintu.
Wajah Aluna berseri seketika “Apaan sih maaa” Aluna pun pergi meninggalkan mamanya yang sedang membaca gerak gerik putrinya tersebut yang sepertinya memperhatikan senior di sekolahnya tersebut
“Mama ga jelas banget, huuu” Aluna menghempaskan badannya segera ke Kasur empuknya, tanpa melepaskan baju sekolahnya. Dia lalu memperhatikan jaket milik Leo yang telah melindungi dirinya dari rasa dingin semalaman.
“Oh astaga, ponsel ku belum ke charger” Aluna segera bangkit dan menyeret badannya yang lelah.
__ADS_1