
Tangis Anita memecah hening yang ditautkan dengan rasa sedih, kecewa, amarah, dan kebencian. Terasa begitu dalam luka yang ia pikul.
“Tok, tok, tok” suara pintu di ketuk pelan.
Ketukan ini berhasil mencairkan kegaduhan keempat pria yang di ancam khawatir ini.
“Bukain Felix, siapa tau pendeta yang kamu hubungi tadi tuh yang dateng” perintah Aziz
“Oke, mas”
Felix segera berlari kecil dan meraih gagang pintu. Seorang lelaki paruh baya dengan jubah hitam putihnya nampak berdiri di depan pintu dan tampak memegang Alkitab.
“Pendeta Arnold, puji Tuhan pendeta datang tepat waktu” sini buruan.
Belum juga pendeta Arnold mengucapkan sepatah katapun Felix telah meraih tangannya untuk mendekat ke arah Anita.
“Buruan pak, ini udah darurat banget” celoteh Felix
“Mari pak pendeta silahkan” kata Aziz
“Tunggu, ini mbaknya kenapa di ikat gini?”
“Dia istri saya pak pendeta, tapi tiba-tiba dia kerasukan iblis yang entah dari mana” jelas Andre
“Coba ceritakan kronologinya bagaimana pak, agar kita bisa segera melakukan ritual pengusiran iblis”
“Kemarin itu Anita sempat hilang, dan ditemukan oleh pengawal saya di tepi danau, dia tidak sadarkan diri semalaman, tapi dia baik-baik saja tadi pagi”
“Iya, saya juga disapa mbak Anita di lift tadi pagi, walaupun terlihat kurang sehat” jelas kakek Sugi.
Pendeta Arnold memandangi Anita yang saat ini sedang menundukkan kepala bergelut dengan tangisnya sendiri.
“Tolong bantu Anita pendeta, saya sangat mencintai dia” tegas Andre dengan mata menahan pilu.
Aziz, Felix, dan Kakek Sugi tak henti saling menatap dan memilih diam.
“Tolong bantu saya untuk memegangi ibu Anita saat saya membacakan doa pengusir roh jahat” pinta pendeta
“Saya pegang tangan ibu Anita ya, pak Andre pegang kaki kirinya, Felix pegang kaki kanan” titah Aziz melihat keduanya hanya diam, dia pun meninggikan suaranya.
“Cepetan, yaAllah”
“Saya bisa bantu apa”? Ucap Kakek Sugi
“Tolong kakek ini”
“Sugi pendeta” potong kakek Sugi
__ADS_1
“Ohiya Kakek Sugi, mungkin bisa minta tolong ambilkan segelas air” tutur pendeta
“Baik, silahkan dilanjutkan pengobatannya pendeta, saya segera ambilkan airnya”
Pendeta Arnold pun memegang kepala Anita. Baru saja ia hendak merapalkan doa.
Tiba-tiba ada teriakan dari arah dapur
“Pendeta, pake air kran atau air galon” teriakan kakek Sugi sempat mengundang gelak tawa cucunya, tapi di hentikan oleh cubitan Aziz.
“Auh” Felix hanya bisa mengeluh kecil.
“Air yang bisa di minum kek” suara pendeta dengan Vibra yang standar untuk menanggapi pertanyaan kakek Sugi.
“Kakek saya agak kurang mendengar baik pendeta, lebih keras lagi” ujar Felix menahan tawa.
“Air galon kakek” kata pendeta sekali lagi.
“Apa?” Kakek Sugi mengulangi pertanyaan yang sama lagi.
“Air galon atau air kran, pendeta?”
Aziz pun menjadi tidak sabaran, astagfirullah.
“Felix susul kakek kamu itu, sebelum dia makin bingung sendiri”
“Bukannya balik kesini, malah teriak-teriak” gerutu Felix sembari beranjak
“Lailahailllah kakek ini, pantesan lama” protes Aziz yang makin tidak sabaran menghadapi tingkah absurd kakeknya Felix ini.
“Baik mari kita mulai ya” ujar pendeta untuk mempersingkat waktu.
“Nih pegangin cepet Felix”
“Baik, mas”
“Sembari saya obati, bapak-bapak yang lain bisa ikut mendoakan”
“Mohon maaf sebelumnya tapi saya seorang muslim pendeta, jadi doanya gimana?” Tanya Aziz dengan tampang seriusnya.
“Jangan sampai salah baca mas, tau-tau setannya pindah mas” tawa Felix dan Andre pecah seketika mendengar lawakan receh kakek Sugi. Pendeta hanya tersenyum ringan. Sedang Anita masih saja menundukkan wajah dengan suara parau, ia mencincang luka yang entah dari mana dengan air matanya sendiri.
“Tuhan itu hanya satu mas, kita hanya perlu berdoa dan meyakinkan hati, sebab yang beda itu bukan tuhan tapi kepercayaan kita” ujar pendeta yang menghangatkan tali toleransi bagi mereka semua.
Pendeta dengan setengah berlutut, memegang kepala Anita.
“Bapa, Tuhan dan Raja yang menguasai Sorga. Engkau adalah alasan mengapa kami ada di sini, Engkau adalah alasan Yesus datang ke bumi sebagai juruselamat suaru hari kelak. Engkau adalah penolong dan pelindung yang agung.
__ADS_1
Bapa yang mulia, dunia ini penuh dengan kebencian dan kedengkian, semua berasal dari iblis dan roh jahat. Ya Bapa, Engkau yang mencintai manusia kami memohon kepada-Mu agar mengulurkan tangan yang penuh belas kasih untuk melindungi kami dari roh jahat.
Bantulah kami untuk mengusir, melenyapkan dan menjauhkan diri dari bangsa jin dan iblis jahat. Ya Tuhan kami, bermurah hatilah kepada kami, hambamu yang tanpa daya apa-apa, selamatkan hamba-Mu dari setiap ancaman dan kejahatan, lindungilah dengan mengangkat kami di atas segala yang jahat. Doa tulus kami panjatkan melalui perantara Maria, Bunda yang Mulia. Amin”
Pendeta Arnold mengulang-ulang terus doanya, hingga Anita terus meracau dan berontak.
“Pembunuhan, pembunuh, aku tidak akan lepaskan kamu gadis iblis, pembunuh” ujar Anita sembari menatap lurus potret Aluna yang tersenyum manis
“Ini saya ga kuat mas” tendangan kaki kanan Anita telah berhasil mendarat di perut Felix.
“auhhhhhh” pekik Felix
Kakek Sugi yang sedari tadi hanya berdiri segera membantu Felix menahan kak Anita.
“Sadar mbak, sadar” ujar Aziz disisi lain yang berusaha keras menahan tangan Anita.
“Sadar sayang” tangis Andre pun tak bisa di sembunyikan lagi. Perempuan yang ia cintai kini menjadi seseorang yang menakutkan.
“Segera rebahkan tubuh ibu Anita” pinta pendeta
Mereka pun berusaha sekuat tenaga untuk membaringkan tubuh Anita yang masih mengamuk.
“Kalau kayak gini sih, mbak Anita bisa ikut MMA nih pasti menang. Kekuatannya aja kuat gini, saya yakin lawan gajah aja pasti roboh nih” terang Felix disusul pukulan keras di bahunya. Tidak lain dan tidak bukan pastilah dari Aziz.
“Auhh” pekik Felix
Anita berusaha sekeras mungkin, ia mengamuk dan berkata sumpah serapah tak henti-hentinya.
Hingga akhirnya genggaman keempat lelaki ini lepas, dan Anita berhasil merangkak menjauh. Namun berhasil di tangkap kembali berkat doa pendeta yang semakin merasuk kedalam khalbu.
“Panas, panas”
“Takut, takut”
“Mas, Andre tolong”
Tangisan Anita begitu memilukan, saat pendeta Arnold membacakan doa sekarang tepat di telinga Anita.
“Panas, bodoh” teriak Anita sembari menyerang pendeta. Namun berhasil di tahan oleh Andre.
“Panas, panas”
“Segera keluar dari tubuh ini, atau kamu saya bakar dan kirim ke neraka” ancam pendeta
Sedang Aziz yang saat ini masih membantu menahan Anita sedang sibuk merapalkan ayat kursi, untuk membantu pengobatan terhadap Anita.
“Saya tidak akan pergi dari tubuh ini, sebelum berhasil membunuh gadis iblis itu, hahahahhaa”
__ADS_1
Seisi ruang di buat merinding seketika oleh tawa Anita yang mengerikan itu.
Pendeta lalu mengambil segelas air dan mmbacakan doa lalu mengusapkan ke wajah Anita. Awalnya dia berontak dan teriak. Namun setelah usapan ketiga, akhirnya Anita pingsan.