
Setelah keluar dari kamar perawatan Aluna, Andre mulai melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit.
Langkah kaki Andre terhenti tepat di depan kamar perawatan Naya. Ia mulai mengintip lewat kaca di bagian atas pintu yang mudah ia jangkau berkat tinggi 175 nya.
Matanya mulai mencari sosok naya di dalam sana, namun hanya ada seorang kakek lansia dan seorang anak kecil di sisinya. Kornea Andre tak berhasil juga membiaskan cahaya sosok Naya dari dalam sana.
“Apa Naya sudah keluar rumah sakit ya”
“Tapi kenapa tidak ada kabar dari pihak rumah sakit”
Ditengah tanda tanya yang menari-nari di fikirannya. Suster Riska yang sempat merawatnya saat sakit dulu tak sengaja melintas melewati Andre.
“Suster Riska” panggil Andre
“Eh iya Pak Andre, wah baPak kenapa ada disini?”
“Anak saya di rawat disini sus”
“Dikamar yang mana Pak?”
“Ruang Melati no.12 sus”
“Oh pasien yang baru Masuk kemarin itu yah Pak”
“Iya sus, saya mau nanya Naya sudah keluar rumah sakit ini atau bagaimana?”
“Mbak Naya sudah di izinkan keluar oleh Dokter Pak, jadi bisa rawat jalan” jelas Riska
“Tapi kenapa tidak ada kabar ya ke saya?”
“Saya juga kurang tau Pak, yang pastinya Mbak Naya itu di jemput oleh Kakak perempuannya”
“Kakak perempuan? Dahlia?”
“Waduh, mohon maaf Pak saya juga kurang tau mengenai keluarga pasien”
“Ciri-cirinya bagaimana sus?”
“Tingginya sekitar 155 cm Pak, kulit putih langsat, dan rambut sebahu”
“Ohh iya sus, terima kasih banyak ya”
“Sama-sama Pak, mari ya Pak” jawab Riska yang bergegas untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah suster Riska berlalu, Andre di buat bingung pasalnya Dahlia tidak sesuai dengan kriteria yang di sebutkan oleh suster tadi. Sedangkan Naya sudah tidak mempunyai keluarga lagi selain Dahlia.
“Jika bukan Dahlia, lalu siapa”
Andre semakin kehilangan stabilitas emosinya. Ia merasa beban fikirannya semakin menumpuk dan siap akan meledakkan otaknya kapan saja bom waktu itu siap.
Andre akhirnya memilih duduk di ruang tunggu seorang diri sembari merenung dengan banyak hal yang menimpa ia akhir-akhir ini.
__ADS_1
Tiba-tiba benda pipih dengan tiga kamera boba di saku celananya berdering. Dengan perasaan malas akhirnya ia pun tetap berhasil meraih kembali perhatiannya ke dunia yang signifikan bukan lagi dunia dengan fikiran-fikiran suntuk dan memuakkan.
“Halo, Mas dimana?”
“Ini dirumah sakit, kenapa sayang?”
“Kita kan mau ke gereja Mas”
“Astaga, maaf sayang aku lupa”
“Mas kok sampai lupa, Mas ada Masalah ya”
“Ga sayang, tunggu ya aku segera kesana, tolong hubungi pendeta Arnold kalau kita agak telat datangnya, jangan sampai beliau menunggu lama”
“Baik Mas, Mas hati-hati dijalan”
“Baik sayang”
Andre segera mengembalikan kesadarannya dan menghela nafas panjang untuk membangkitkan semangatnya kembali.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya Andre sampai di depan apartemennya.
“Halo sayang”
“Iya Mas”
“Ini aku udah ada di depan ya, aku tunggu disini”
“Baik Mas, aku turun dulu”
Sosoknya terlihat begitu cantik dan tak terlihat sebagai seorang perempuan yang telah mempunyai anak. Karena dirinya yang selalu awet muda.
Andre pun bergegas keluar mobil dan membukakan pintu untuk perempuan yang ia cintai tersebut. Anita hanya tersenyum manja dan mengikuti arah kakinya melangkah.
“Silahkan nona” ujar Andre
“Terima kasih Mas”
Anita pun duduk di samping Andre dengan nyaman.
Meskipun Andre tak kunjung meresmikan hubungan mereka di hadapan agama dan negara, Anita sudah merasa cukup senang untuk keberadaan Andre di sisinya selama ini, ditambah perhatian Andre kepada dirinya dan juga Aluna yang tidak pernah surut.
Anita sudah merasa cukup beruntung bersama Andre selama ini.
Setelah menempuh hampir 32 menit, akhirnya mereka sampai di depan gereja Maria. Segera satpam membukakan pintu untuk mereka berdua.
Segera mereka berdua memasuki gereja. Terlihat pendeta Arnold yang sedang menunggu mereka di bangku depan.
“Silahkan mari Pak Andre dan ibu Anita ke ruangan saya” ucap pendeta Arnold segera beranjak dari duduknya.
“Mohon maaf sebelumnya pendeta kami datangnya terlambat” ujar Andre dengan perasaan bersalah
__ADS_1
“Tidak Masalah Pak, silahkan”
Andre dan Anita mengikuti langkah pendeta Arnold ke sebuah ruangan yang di penuhi banyak buku, tempat tidur khusus satu orang, dan sofa di sisi ruangan.
“Silahkan duduk Pak Andre, ibu Anita”
“Baik pendeta”
“Seorang perempuan tadi datang menemui saya Pak, beliau mengatakan bahwa keluarga Pak Andre terkena kutukan dan karma atas luka-luka kepedihan yang dialami orang lain dari Masa lalu”
“Perempuan, siapa ya Pak” tanya Andre heran
“Beliau hanya mengatakan bahwa ketika saya menceritakan tentang harta Karun yang di curi perampok maka Pak Andre dan ibu Anita bisa mengenali beliau”
“Jangan-jangan Dahlia Mas” bisik lirih Anita
“Saya juga mikir demikian” ucap Andre
“Beliau tampak memendam dendam dan kebencian terhadap keluarganya baPak, jadi kalau boleh memberi saran sebaiknya kalian segera menyelesaikan urusan kalian dengan perempuan tersebut”
“APakah penyakit Anita dan yang menimpa keluarga kami ada hubungannya dengan perempuan tersebut Pak?” Tanya Andre khawatir
“Saya tidak bisa memastikan Pak, tapi dendam dan luka yang di bahan bakari kebencian akan mudah menghancurkan apapun yang menyebabkan luka tersebut tercipta”
“Separah itu ya Pak?”
“Iya Pak Andre”
“Lalu bagaimana dengan pengobatan Anita saat ini pendeta?”
“Saya hanya bisa menyarankan agar ibu Anita
Mendekatkan diri di sisi Tuhan, dan memperbanyak do'a”
“Saya juga akan membantu ibu Anita untuk mensucikan jiwa”
“Terima kasih pendeta”
Mari kita mulai kegiatan mensucikan jiwa ibu Anita. Setelah beberapa menit berlalu kegiatan mensucikan jiwa Anita pun selesai
“Terima kasih banyak pendeta” ujar Anita
“Pembaptisan dengan air tadi adalah perwujudan dari penyucian yang terjadi di dalam diri Anda.
Dengan dibaptis, anda diberikan kehidupan rohani yang baru dan hidup anda dipersembahkan untuk melayani Kristus. Pak Andre dan ibu Anita juga sebaiknya melakukan pertobatan”
“Terima kasih untuk hari ini pendeta”
Andre dan Anita pun berpamitan dan akhirnya pulang
Di sepanjang jalan, Andre dan Anita hanya saling mendiamkan diri. Keduanya sibuk menyelam fikiran masing-masing.
__ADS_1
Ada teka-teki yang merayap di kedua sisi otak keduanya hingga menimbulkan stimulus tak terduga berupa rasa tertekan dan tidak merasa aman.
Seolah di segala bidang penjuru bumi ini menyimpan bahaya yang akan siap menerkam keluarga mereka secepat kilat cahaya di balik kaca.