
“Pembunuh, teriak Anita”
Seisi rumah menjadi gaduh, pasalnya Anita yang semakin menyeramkan dengan gigi yang terus bergesekan, menimbulkan rasa ngilu bagi siapapun yang mendengarnya.
“Ayah, takut” rintih Aluna, seketika Aluna semakin emosional ketika tangan Anita berhasil meraih kaki kecilnya. Mama yang awalnya sebagai pelindung pertama baginya kini berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan.
Kuku Anita sekarang menggores kasar kulit halus Aluna. Andre dengan terpaksa menendang Anita hingga tersungkur di sisi tembok. Kepalanya pun terbentur di sisi meja ruang tamu.
“Mbak Anita kok ga gerak-gerak?” Ujar Tania
“Jangan-jangan udah mati” jawab yang lain.
Andre segera berlari mengamankan Aluna dan di berikan kepada Riki yang baru saja tiba.
“Bawa sekarang Aluna kerumah sakit” perintah Andre tegas.
Dengan wajah cemas dan tidak paham dengan situasi yang ada Riki segera meraih Aluna dari pangkuan Andre yang saat ini sudah menangis sesenggukan akibat kaki nya terluka.
“Segera katakan pada dokter untuk di obati secepatnya jangan sampai kaki Aluna infeksi”
“Baik pak, segera saya bawa nona Aluna”
Aluna di gendong Riki dengan terburu-buru menuju lantai satu untuk segera ke rumah sakit.
Sedangkan Andre dan tetangga yang lain yang terdiri dari Aziz dan Istrinya yang bernama Tania, Kakek Sugi, Ibu Rinda pemilik Apartemen tepat disebelah kamar Andre, serta Felix anak dari Kakek Sugi.
“Pendetanya mana Fex?” tanya ibu Rinda minta penjelasan
“Masih otw nih Bu” jawab Felix dengan wajah tengilnya.
Felix memang cucu kakek Sugi satu-satunya yang masih setia di masa tuanya. Dia seorang mahasiswa teknik industri semester 5. Belum juga ada yang menanggapi Felix.
Tiba-tiba pintu rumah Andre tertutup seketika. “Gubrak”
Mereka semua mulai saling menatap dan fokus menatap ke arah yang sama yaitu arah pintu. Keheningan tercipta dalam ruangan.
“Mbak Anita, Argh, awas Tania” teriak Ibu Rinda. Anita telah berhasil meraih rambut Tania sebelum Tania sempat menghindar. Ditariknya rambut Tania hingga tersungkur ke lantai.
“Mas tolong, mas”
Aziz segera bergegas ke arah Anita, dan menahan tangannya, Felix pun membantu memegangi tangan Anita.
“Tahan Felix, jangan sampai Anita lepas”
“Andre, cepetan sini bantuin” Aziz terpaksa memaksa Andre bergegas karena posisi Andre yang saat ini merasa cemas harus berbuat apa.
“Baik mas”
“Lepasin saya, saya akan membunuh seorang pembunuh, hahahaha” tawa Anita menggema dan Andre refleks menampar Anita hingga cengkeramannya di kepala Tania akhirnya terlepas.
“Mas, mbak Anita menyeramkan” hik,hik, hik, tangis Tania tumpah di pelukan suaminya, rambutnya bahkan rontok karena tarikan tangan Anita yang cukup kuat dan kasar.
“Ibu Rinda mohon maaf bisakah ibu temani Tania kembali ke kamar, saya takut jika dia disini nanti mbak Anita menyerangnya lagi”
__ADS_1
Permohonan Aziz kepada Ibu Rinda yang nampak ketakutan dan terduduk di depan pintu. Namun akhirnya bangkit perlahan memapah Tania.
“Mari Tania, ke kamar dulu istirahat”
“Baik, mbak”
“Terima kasih Ibu Rinda” tambah Aziz
“Tidak masalah, kita kan sudah sewajarnya saling membantu”
Ibu Rinda dan Tania pun tak terlihat lagi setelah habis jejaknya dari balik pintu.
“Om Andre, akan kita apakah mbak Anita ini”? Tanya Felix
“Sepertinya dia pingsan” tambah Kakek Sugi”
“Sayapun bingung, baru kali ini saya melihat orang kesurupan, biasanya hanya lewat channel YouTube paranormal” Jelas Andre.
Semua orang hanya bisa membiarkan Anita rebahan di atas karpet bulu di ruang tamu.
Ditengah kegundahan hati Andre, Riki menghubungi lewat udara Andre melalui handphone.
“Halo pak, Aluna telah ditangani oleh dokter, dan diberikan antibiotik”
“Syukurlah, jadi bagaimana keadaan Aluna sekarang?”
“Nona Aluna sedang tidur pak, setelah di periksa tadi, dan lukanya sudah di obati, ada operasi kecil tadi karena adanya racun yang menempel pada kuku ibu Anita pak” jelas Riki.
“Pak? bagaimana keadaan ibu Anita”? Tanya Riki
“Halo pak”
“Pak?”
“Ohiya Riki, saat ini Anita sedang pingsan, saya dengan tetangga yang lain sedang menunggu pendeta untuk melakukan pengobatan”
“Semoga ibu Anita lekas membaik pak”
“Terima kasih Riki, tolong jaga Aluna dengan baik ya”
“Baik pak, saya akan menjaga nona Aluna dengan baik”
Jelang beberapa saat, Anita tersadar, dan membuka matanya perlahan.
“Mas Andre, Aluna dimana?”tanya Anita dengan suara bergetar menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya.
“Eh kamu sudah sadar sayang” Andre segera bergegas ingin menghampiri Anita.
“Tunggu, jangan mendekati dia dulu nak” tahan kakek Sugi.
“Loh wong dia mau datengi istrinya kok di larang sih kek” protes Felix
“Anita sudah sadar kek” ujar Andre
__ADS_1
“Mas, kemari aku tidak bisa gerak” ia pun menatap penuh harap kepada Andre.
Karena tak kuasa menahan air mata yang mulai mengalir di pipi Anita karena ia abaikan tak kunjung mendekatinya. Andre akhirnya bergegas ke arah Anita.
“Jangan dekat-dekat nak Andre” ujar kakek Sugi.
“Dia ga gigit orang kek” celoteh Aziz menambahkan.
“Hati-hati pak ya” ujar Felix ikut mengingatkan setelah melihat senyum culas di wajah Anita.
“Kok kamu jadi ikutan sama kakek mu Felix?” Aziz pun menepuk pundak Felix.
“Liat deh mas, wajah Mbak Anita, sebentar-sebentar nangis, nanti senyum lagi”
“Iya yah, kayaknya dia masih kesurupan tuh mas Andre”
Andre segera menoleh ke arah mereka bertiga, tapi sejurus kemudian.
“Hahahaha” tawa Anita kembali memecah kepingan ketakutan keempat laki-laki berbeda generasi ini. Andre bahkan yang tadi sudah sangat dekat dengan Anita kembali berlari ketempat semula.
Anita sebelumnya telah mereka ikat dengan tali, kaki dan tangannya. Dia tidak bisa bergerak sama sekali namun berhasil mengguncang psikologis keempat pria ini.
“Bacain doa gih kek” kan Tuhan mbak Anita sama kakek sama. Tutur Aziz yang disusul tawa Felix.
“Hust, jangan tertawa dalam kondisi kayak gini ga baik”. Kakek Sugi pun mengingatkan cucunya itu.
“Kakek mana tau, doa-doa pengusiran roh dan iblis, taunya hanya doa-doa Kudus gereja”
“Ya sudah itu saja kek” jawab Aziz
“Coba saja kek, siapa tau istri saya segera sembuh”
“Baik saya coba ya tapi kalian bertiga pastikan talinya kuat, jangan sampai kulit keriput yang sudah 65 tahun saya ini jadi sasaran iblis dalam tubuh Anita” ujar kakek Sugi dengan sedikit gusar lewat tutur katanya.
Mereka berempat pun memberanikan diri mendekati Anita.
“Halo mbak Anita, ini Felix”
“Jangan becanda” sikut Aziz
Kakek Sugi segera mendekati Anita dan membacakan beberapa doa di kepalanya, dan mencipratkan air yang sudah di bacakan doa.
“Hahahaha” tawa Anita malah semakin menggelegar. Untung saja, hunian mereka telah di lengkapi fitur kedap suara. Sehingga kejadian ini hanya bisa di ketahui oleh para tetangga terdekat.
“Kek, doanya benar ga sih, kok makin ngamuk mbak Anitanya” Felix mulai protes ga sabar.
“Sabar, liat deh kakek mu tuh udah sampai keringatan baca doanya”
Sejenak doa suci dari Kakek Sugi membuat tubuh Anita bereaksi dan mengalami kejang-kejang hebat sampai muntah.
Namun sejurus kemudian Anita semakin kuat hingga berhasil melepaskan semua ikatan pada tubuhnya.
Lantas bagaimana nasib keempat pria ini selanjutnya? Sedangkan mereka berempat mulai panik, ketika Anita tiba-tiba menangis sendu sembari menatap fotonya bersama Andre dan Aluna.
__ADS_1