Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Kedatangan Denis Ke Indonesia


__ADS_3

Matahari meliuk pelan, ia mengibarkan cahaya di seluruh pelosok kota. Kehangatan ia bagi rata guna memberikan rasa nyaman pada setiap manusia yang menyambut pagi dengan rasa syukur.


Pukul 07.03 WITA di The Vapillion


Seorang pria dengan setelan jas hitam meMasuki rumah Andre. Dia duduk di ruang tamu dengan nyaman dan sibuk memainkan ponselnya.


Pria ini begitu kharismatik, wajahnya cukup tampan dan alis tebal di atas kedua matanya. Kaki panjang dan bahu bidang akan menyebabkan siapa saja menyimpan perasaan terhadapnya.


Ditambah lagi tidak akan ada menyangka bahwa pria ini telah berusia di ujung akhir usia 20 tahunan, karena wajahnya yang cukup baby face, dan suara yang biasa saja tanpa vibra yang berat.


Tak lama berselang, Anita baru saja bangun dan hendak turun membantu Dewi  menyiapkan sarapan pagi dan meminta supir pribadinya menyiapkan mobil. Pasalnya hari ini, ia akan pergi meninjau lokasi untuk cabang butiknya di daerah Takalar.


Baru saja dia melangkahkan kaki turun tangga, suara yang tidak asing terdengar dari radar telinga milik Anita.


"Selama lagi Tante" Sapa Denis


"Siapa ya" tanya Anita


"Loh ga bisa ini, bisa-bisanya lupa sama keponakan sendiri, agak lain emang tanteku ini" ujar pria itu dengan wajah cemberut dan melipatkan kedua tangan ke dada bidangnya.


Anita pun menatap pria di hadapannya dari ujung kaki sampai ke ruas partikel rambutnya. "Coba muter, coba sekali lagi, lagi" perintah Anita dengan mempermainkan pria di hadapannya itu


"Astaga Denis?"


"Iya Tante, bisa-bisanya lupa" jawab Denis dengan senyum yang ia sengaja ia miringkan


"Maaf, kamu jadi beda banget sih pulang dari Amerika langsung glowing smering splendid gini, hahaha" ledek Anita


"Ga ah, Masih sama juga"


"Coba muter, coba sekali lagi"


"Ini aku udah puyeng loh Tante suruh muter udah 6 kali"


Candaan Denis pun membuat mereka saling membalas tawa. Hanya saja ketika Denis menatap Anita tertawa lepas sembari memegang pundaknya ia merasakan ada kupu-kupu yang ingin segera ia muntahkan. Detak jantungnya berdetak melebihi genderang kuda berlari di atas tanah.


"Siapa sayang yang datang" kedatangan Andre menyadarkan lamunan Denis.


"Halo om, ini saya Denis" salam Denis dengan sopan


"Denis anaknya Prof. Daus?"


"Iya betul om"


"Kamu sudah besar banget, keren lagi outfitnya" ujar Andre dengan mengaitkan lengannya ke leher Denis.

__ADS_1


"Keponakannya bisa mati tuh Mas, kehilangan nafas"


"Uhuk... Uhuk ... Uhuk ..." Denis terbatuk-batuk karena kehilangan seperempat oksigen karena sesak.


"Gokil sih, datang ga ngabarin. malah datang langsung keren gini."


"Nah karena ada Denis belajar lah dari style anak muda Mas, biar tetep awet muda"


"Gini-gini aku Masih laku diluaran sana, sekali lirik cewek-cewek mau pingsan"


"Heleh, ngarang terus. Bangun Mas ini udah pagi"


Tawa mereka mencairkan panas yang memagut diantara kaca.


"Kapan kamu kembali dari Amerika?"


"Kok ayah kamu ga pernah cerita, padahal kami ketemu waktu malam Sabtu kemarin kalau ga salah"


"Loh, om ketemu dimana?"


"Ada di Nipah mall kemarin" lirik Andre mengarang bebas.


"Ia om, ini emang tiba-tiba mau ngasih surprise aja" hahaha


Andre bercengkrama dengan keponakannya itu dengan sangat gembira. Perihal ia yang telah 5 tahun tidak pernah bertemu. Karena harus melanjutkan studi nya di luar negeri dan mengembangkan perusahaan investasi saham milik ayahnya disana.


 Dia melihat Andre merangkul pinggang Anita dengan mesra ketika hendak membayar buku yang telah di pilihnya.


"Itu bukannya om kamu ya Denis?" Tanya teman baik Denis


"Mana?"


"Itu yang di kasir itu?"


"Weh bener, om Andre"


"Gila om lu, main gila itu"


"Lu tunggu sini ya, gua mau Mastiin dulu" titah Denis sembari mendekati meja kasir


"Eh om Andre, kok ada disini?"


"Emm, ini mau temani rekan kerja om beli buku" jawab Andre gelagapan


"Harus rangkul pinggang ya om?" Selidik Denis

__ADS_1


"Andre menghela nafas panjang, kamu tunggu di luar nanti om ajak makan" ujar Andre mengalihkan


Setelah membayar semua buku yang di beli olehnya, Andre pun mengajak keponakannya itu makan siang di sebuah cafe jiwa janji yang cukup populer ditengah remaja kala itu.


"Sebenarnya hubungan om sama Tante Dahlia udah ga bisa di selamatkan"


"Hmm, bagaimana mau selamat. Om kan selingkuh" celetuk Denis santai


"Tapi ga apa-apa Tante ini jauh lebih cantik dari Tante Dahlia, kenalan dong tant" ujar Denis lagi sembari mengulurkan tangannya


"Anita" jawab Anita menyambut uluran tanb Denis


"Denis tant" jawab Denis lagi dengan senyum tipis


"Pokoknya apapun yang kamu lihat hari ini, sebaiknya kamu rahasiakan ya" tambah Andre


"Gunanya buat Denis apaan, om?"


"Banyak mau juga nih anak" gerutu Andre


"Uang jajan kamu, om yang kasih tiap minggu "beneran om?"


"Iyaaa..."


"Yes, aman rahasia negara" Denis tersenyum puas lalu lanjut menyeruput jus matcha yang seharga sepatu saat itu yang sudah Anita pesankan sebelumnya. Sedang Andre memperoleh kembali ketenangannya. Anita pun tidak banyak bicara ia hanya menjadi penyimak percakapan keduanya.


Saat itu, Denis baru saja lulus SMA, dan cukup dewasa untuk memahami rahasia dan kondisi pamannya itu. Hubungan Andre dan Anita kala itu sudah berlangsung dua tahun.


Semenjak Denis menyimpan rahasia mereka, ia pun tak jarang diajak ketika Andre dan Anita liburan ke tempat-tempat wisata di seluruh Indonesia maupun luar negeri.  Denis juga tidak pernah kekurangan uang, karena rli yang selalu memberikannya uang yang cukup.


Itulah mengapa Denis sangat akrab dan mengenal Anita dengan baik bahkan walaupun telah lama tidak bertemu, kedekatan antara mereka tidak berubah.


"Kok jadi lamun gini sih, ayok sarapan dulu Denis" ujar Anita membangunkan semua orang ke dunia nyata


"Ga usah tant, aku udah makan tadi"


"Tadinya kapan, kamu aja datang kesini bersamaan sama matahari terbit"


"Ga ada tapi-tapi, ayok"


Denis pun ikut bergabung di meja makan. Ia duduk berhadapan dengan Anita.


"Perasaan macam apa ini, sialan" gerutu Denis.


Sebab, Anita pagi ini begitu cantik, walaupun baru bangun tapi wajahnya terlihat begitu segar dengan kerutan yang Masih tipis diantara matanya, dan lipstik warna Red Velvet yang samar di bibirnya begitu membuat Anita terlihat sangat manis. Walaupun sudah di usia 23 tahun.

__ADS_1


Anita Masih sangat cantik karena ia selalu menginvestasikan uang yang diberikan Andre untuk perawatan wajah dan badan. Tak heran jika Anita Masih cocok pakai seragam SMA.


__ADS_2