
Denis Masih terus menatap Anita lekat, tampak kedua anting berbentuk salip mengayun di telinganya dan sebuah kalung berlian kecil yang menempel di leher jenjang putihnya. Anita sangat menarik di mata Denis sekarang.
"Sejak kapan, gua bisa suka sama perempuan yang lebih tua" arghhhh ....
Kepala Denis mengamuk dengan sendirinya, ia Masih menolak mengakui hatinya bahwa telah jatuh cinta pada seorang Tante-tante apalagi perempuan itu merupakan istri pamannya sendiri.
"Ini anak malah melamun" Anita mengambilkan roti tawar dan selai keju ke piring Denis.
"Makan gih, jangan melamun mulu, takut saya kamu tiba-tiba pingsan karena kelaparan"
"Hahahhaha, maklum ya Denis tantemu itu, korban iklan"
Suasana meja makan pun begitu hangat di tengah-tengah mereka bertiga.
"Mbakk .... "
"Iya Bu, ada apa? "
"Mbak Dewi, Aluna belum bangun?" Tanya Anita
"Belum Bu"
"Udah coba di bangunin?"
"Sudah bu, tapi katanya masih ngantuk"
"Ya sudah kalau begitu mbak, tolong siapkan apapun keperluan Aluna kalau dia sudah bangun nanti"
"Baik Bu, kalau begitu saya permisi kebelakang"
Denis Masih sibuk dengan bibir dan tenggorokannya yang sedang berusaha mengalirkan segelas susu coklat hangat kedalam perutnya.
"Denis, kamu betahin diri ya disini, om sama Tante mau pergi kerja dulu"
"Tante kerja juga?"
"Iya tantemu buka usaha butik"
"Tante, boleh ga aku ikut ke butiknya buat liat-liat"
" Ya jelas boleh dong"
"Yes"
"Yasudah kamu ikut saja sama Tantemu tapi kamu yang nyetir ya. Biaya pemakaman akhir-akhir ini lagi naik" ujar Andre sembari menepuk-nepuk bahu Denis.
Sedangkan Denis Masih menggulir otaknya untuk mengerti.
"Tantemu belum mahir bawa mobil"
"Ohhh, oke om. Nanti aku yang nyetir"
"Kamu aja yang temani tantemu, cek lokasi ke takalar ya"
"Loh Mas ga jadi temani aku?"
"Kamu sama Denis saja sayang, kebetulan dia baru dateng, manfaatin dikit lah"
"Om sialan emang"
"Hahahahahah" Andre dan Anita tertawa bersamaan melihat mimik wajah Denis yang mengeMaskan
"Lokasinya emang dimana om" tanya Denis lagi
"Ga jauh kok, cuman di takalar"
"2 jaman dong"
"Udaaah temani Tante mu ya"
"Hmm, okeee"
"sekalian ajak Aluna juga sayang, biar keponakan kita ini kenal sama keponakannya sendiri" hahahha
__ADS_1
"Iya Mas, nanti aku tanyain Aluna ya"
" Oke Sayang, aku berangkat kerja dulu ya"
"Iya Mas" Anita pun mengantar Andre sampai kedepan. Sedangkan Denis hanya bisa mengikuti langkah mereka dari belakang.
Tak lupa Andre mengecup pelan dahi Anita dan melambaikan tangan ke arah Denis.
"Hati-hati om" teriak Denis
Andre hanya membalas dengan pose bapak-bapak pada umumnya yaitu jari jempol 2. Mobil Pajero sport hitam itu meninggalkan pekarangan rumah. Anita melangkah Masuk kerumah. Denis sudah duduk di ruang tamu menyilangkan kedua kakinya keatas meja.
"Kamu disini anggap rumah sendiri saja ya. Tante ga lama kok siap-siapnya"
"Siap Bu boss"
"Hahaha" Anita pun melangkahkan kakinya pergi dengan tertawa kecil di sudut bibirnya. Denis memperhatikan punggung Anita yang tenggelam dibalik baringan tangga. Ia Masih mencoba menjaga kewarasan dirinya sendiri.
1 jam kemudian Anita belum juga terlihat batang hidungnya.
"Sudah hukum alam ya, perempuan kalau dandan pasti lama, kirain Tante Anita agak lain ternyata sama aja"
Denis pun menyandarkan dirinya di sofa ruang tamu dengan nyaman, sesekali menggerutu dengan menautkan kedua baris giginya.
"Kamu siapa?" Suara seorang gadis mengagetkan Denis yang sedang melamun
"Ah, aku?" Spontan Denis menunjuk dirinya sendiri sembari menoleh kebelakang meMastikan gadis itu berbicara dengannya
"Umm" jawab Aluna singkat
Seorang gadis dengan pakaian piyama kartun, bando Spongebob, dan tanpa alas kaki itu berjalan dari lantai atas, sembari mengintrogasinya.
"Gadis itu pasti Aluna" ujar Denis bergumam di hatinya.
Aluna terdiam sejenak, setelah berjarak 10 langkah darinya. Denis pun langsung berdiri dari duduk santainya.
"Gantengnya" keluh Aluna pelan
"Haa? Kamu ngomong apa?"
"Kamu pasti maling ya?" Tanya Aluna santai
"Iyaa, emang kenapa? Hahahaha"
"Yaudah semangat" ujar Aluna ia pun berlalu dengan santai
Denis Masih mematung di tempat, mendapati gadis itu yang sangat datar dan aneh.
"Kok bisa sih, om Andre punya anak se kulkas itu" ujar Denis dengan rasa aneh di hatinya
Sedangkan di sudut tembok Aluna berusaha mengatur nafasnya sendiri.
"Gila, ganteng banget. Gua baru 14 tahun tuhan, tapi sudah engkau pertemukan dengan jodohku, terima kasih tuhan Yesus" ujar Aluna sembari menautkan tangannya berdoa
"Non Aluna, ngapain di pojokan situ? Tanya Mbak Dewi yang bekerja dirumah Aluna
"Astagfirullah, kaget aku mbak"
"Hust kamu itu Kristen"
"Habisnya kebiasaan denger mbak, kalau kaget pasti bilang itu"
Aluna tersenyum hangat,ia juga tak lupa membuat kesal art nya tersebut dengan terus mengoceh tiada henti.
"Mbak, yang di depan siapa?"
"Cowok ganteng itu ya?"
"Dia bagian mbak, awas Non Aluna di larang lirik-lirik"
"Dih pede" ledek Aluna di susul tawa mbaknya tersebut.
Hubungan antara Aluna dan art nya memang cukup akrab. Mbak Dewi yang sudah berusia 32 tahun itu, sudah menjaga dan selalu ada di samping Aluna semenjak Anita sering Kesurupan dulu. Dewi sudah sebatang kara jadi sudah menganggap Aluna sebagai anaknya sendiri.
__ADS_1
Keakraban antara Dewi dan Aluna inilah yang sering membuat Anita marah-marah tidak jelas, pasalnya Aluna kadang lebih peduli terhadap apa yang di katakan oleh Dewi.
Sehingga tidak jarang Dewi menjadi pelampiasan amarah Anita berupa kekerasan verbal. Tap Dewi sudah cukup terbiasa dan tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja dirumah mereka, karena sulitnya mencari pekerjaan di kota besar.
"Mbakk..."
"Kok ngelamun sih"
"Eh iya apa Non?"
"Itu mbak yang di depan itu siapa"
"Ohh di depan itu"
"Dia Mas Denis, Non"
"Siapanya ayah?"
"Mbak dengar tadi, ayahnya Mas Denis itu kakaknya pak Andre. Jadi pria ganteng itu om nya Non Aluna"
Aluna di buat penasaran dengan Denis yang nampaknya telah berhasil memikat hati gadis 14 tahun ini.
"Kenapa ya ayah tidak pernah cerita kalau Aluna punya paman secakep itu"
"Mbak Dewi udah pernah liat sebelumnya?"
"Ga non, katanya baru dateng dari Amerika"
"Ohh, pantes"
"Naksir ya non?"
"Ihh, apaan sih mbak" Aluna bahkan mengatakan itu sambil tersipu.
"Non cepetan sarapan, takutnya susu ini keburu dingin"
"Umm, mbak"
Aluna pun meraih gelas di depannya dengan hati yang Masih berbunga. Dia membayangkan bagaimana kedepannya kalau sampai Denis ternyata adalah jodoh yang di kirimkan tuhan untuknya. Betapa bahagianya hidup Aluna.
"Alunaaaaa" teriak Anita dari lantai dua
"Iyaa maaaa" jawab Aluna tak kalah kenceng
Denis yang ada diruang tamu hanya bisa bergumam "harusnya sih rumah ini di pasang louspeaker aja"
"Aluna, buruan sarapan, kita mau ke takalar"
"Ini Masih makan"
"Yaudah, cepetan ya keburu siang"
"Iya maaaa"
"Mbak, ngapain Mama ke takalar?"
"Mau cek lokasi butik katanya non"
"Mager ah, ga mau ikut-ikutan"
"Disupirin om gantengnya non loh"
"Haaa, serius mbak?" Ujar Aluna dengan mata berbinar.
"Iya, mbak tadi dengar sendiri ucapan ayahnya non"
"Yes" Aluna segera berhambur meninggalkan meja makan
"Padahal rotinya belum juga separoh kemakan" ujar Dewi sembari meraih roti itu dan memakannya.
"Mbak Dewi kalau udah beres, ke kamar Aluna ya bantu siap-siap" teriak Aluna dari lantai dua.
"Haaa, udah diatas aja, siap non" ujar Dewi.
__ADS_1
"Emang dasarnya disini pada teriak-teriak ya" ujar Denis kembali membatin.