Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Kehidupan Aluna Dirumah


__ADS_3

"Eh Non Aluna, sudah pulang" sambut Dewi yang baru saja datang dari arah dapur setelah mendengar suara Aluna.


"Iya mbak, kenalin ini teman Aluna"


"Halo neng" ucap Dewi dengan wajah sumbringah seperti biasanya


"Halo mbak, kenalin Tiku"  ujar Tiku tak kalah sumbringah nya.


"Non Aluna mau mbak bikinin apa?"


"Bawain cemilan saja ke kamar Aluna ya mbak"


"Oke siap Non"


"Ke kamar aku yuk Tiku" ujar Aluna menyambut tangan Tiku lembut. Tiku yang sedari tadi kembali bengong setelah mbak Dewi berlalu kedapur agak terkejut tapi akhirnya juga melangkahkan kakinya ke lantai dua menuju kamar Aluna.


Aluna pun mencari kunci kamarnya di dalam tas untuk membuka kamarnya yang selalu dia tinggalkan dalam keadaan terkunci rapat.


"Loh kamar kamu kok di kunci Aluna?"


"Emm, iya biar lebih private gitu"


"Jadi bersihinnya gimana?"


"Aku bersihin sendiri, wkw" ujar Aluna sembari membuka pintu kamarnya setelah berhasil di dapatkan dari dalam tas ranselnya.


"Silahkan masuk" ucap Aluna menyambut Tiku


Tiku tidak mampu berkata-kata melihat pemandangan ruangan di hadapannya saat ini. Sebuah kamar yang sangat mewah dan fasilitas lengkap.


"Ini kamar, apa rumah Aluna"


"Besar dan lengkap banget"


Tiku tak hentinya membiarkan matanya mengelilingi seisi ruangan yang sangat fantastis baginya. Tak lupa dia mengambil video dan beberapa foto untuk dikirimkan kepada Farah dan juga Galuh.


Ada sofa, alat olahraga, Tv led 55 inch. WiFi pribadi, bahkan ruangannya berbeda-beda. Untuk lemari pakaian pun tidak ada. Karena cukup membuka satu ruangan khusus yang masih ada dalam kamar untuk semua kebutuhan pakaian, sepatu, alat rias, dan lain-lain.


Ruang belajar pun bersekat dengan ruang pakaian yang di lengkapi ruang kedap sederhana dan perpustakaan koleksi buku pribadi yang cukup lengkap ada juga beberapa alat musik seperti gitar, biola dan piano. Bahkan kamar mandinya sangat mewah dan tertata rapi. Tak lupa ada kulkas mini di samping sofa yang ketika Tiku buka ada banyak ice cream dan minuman dingin di dalamnya.


"Keren banget kamarmu Aluna, ini mah kalau jadi kamu aku udah ga mau keluar kamar"


"Hehhe, aku udah lakuin itu kok"


Tiku melihat Aluna menatap ke arah jendela dengan tatapan hampa. Hingga dia menghampirinya pelan.


"Segala kemewahan tidak akan bisa mengobati kesepian tiku, bahkan liat deh itu adek aku tiap hari teman mainnya hanya mbak Dewi dan susternya, ketemu mama dan ayah paling malam itupun Zeus sudah tidur"


"Ternyata kamu se kesepian ini ya Aluna" Tiku pun merangkul dan memeluk Aluna dengan sigap saat melihat duka di wajahnya dan menahan tangis.


"Mulai sekarang, kamu tidak akan pernah kesepian Aluna, ada aku, Farah, Galuh, dan teman-teman yang lainnya yang akan selalu menjaga kamu" ujar Tiku menghibur Aluna.


Untuk pertama kalinya Aluna merasakan bahwa dia mempunyai harapan dan semangat kembali.

__ADS_1


"Udah jangan sedih lagi, ayok bikin grub WhatsApp"


"Buat apa?"


"Yah kita berempat"


"Supaya kalau ada apa-apa kita komunikasinya disini saja"


"Emm, aku ganti baju saja kalau gitu" ujar Aluna


"Kamu mau pake baju aku saja ga?" Tanya Aluna ke tiku yang masih memakai seragam lengkap


"Ga usah Aluna"


"Oke deh, bentar ya Tiku"


Tak berapa lama mbak Dewi pun mengetuk pintu dan di persilahkan masuk oleh Tiku.


Tampak mbak Dewi membawakan Es buah segar dan beberapa pusing coklat dan strawberry.


"Non Aluna mana, Non Tiku?" sembari meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja


"Lagi ganti baju mbak"


"Makasih loh Non Tiku, sudah mau temanan sama Aluna, saya takut banget ga ada yang mau temanan sama Non saya"


"Kenapa memangnya mbak, Aluna kan baik orangnya, cantik lagi"


"Aduh, makasih buat apa mbak, orang saya senang kok temanan sama Aluna, mbak tenang saja Aluna biar aku yang jaga" ucap Tiku meyakinkan mbak Dewi


"Sekali lagi, makasih ya Non. Mbak kebawah dulu. Dimakan yaaa ini"


"Iya mbak, terima kasih juga"


"Eh mbak Dewi barusan saja turun, habis bawain ini" ujar tiku saat melihat Aluna keluar dari ruang ganti pribadinya.


"Eh dimakan tiku, silahkan"


"Iya ini tanpa kamu suruh juga aku udah makan semuanya,hahaha" ujar tiku tertawa lebar


Aluna pun berjalan menuju depan kamarnya, dan berteriak sejenak.


"Mbak Dewi makasih ya makanannya"


"Iyaaaa Non" jawab mbak Dewi dari arah dapur


"Ga sekalian pasang toa di sini Aluna? Hahahah"


"Hahaha, lain kali deh karena udah sore"


Tiku kagum dengan kepribadian Aluna yang selalu mengutamakan terima kasih bahkan kepada art nya sendiri. Aluna memang berhasil membuat siapapun kagum dengan dirinya hari ini, entah Karena kecantikannya, hartanya, atau karena kebaikan hatinya.


 Grub "ciwi-ciwi manis telah dibuat oleh Tiku" 

__ADS_1


Tiku mengirimkan sebuah video 


Tiku mengirimkan foto 


"Weshhhh itu rumah Aluna?" ujar Farah dengan emoticon kaget membulatkan mulut


Galuh pun tak lupa men tag foto es buah dan puding lezat yang dikirimkan tiku.


"Sialan, coba saja tadi aku ikutan kesitu"


"Kesini aja sekalian, biar ngumpul kita" ujar Tiku


"Ga ah, udah mau sore ini. Besok aja masih di terima ga, Alunae..?" Tambah Galuh dengan emoticon yang tertawa mengeluarkan air mata.


"Dengan senang hati" balas Aluna dengan dilengkapi emot hati.


"Udah ya girls, aku mau pulang dulu. Kelamaan disini bisa-bisa aku gendutan disini" ujar Tiku dan beranjak untuk pulang.


"Udah ya, perbaikan gizinya, hahhaa" tambah Galuh mengejek.


"Hati-hati, kabarin kalau nyampe" ujar Farah menutup percakapan grub mereka.


Tiku pun berpamitan dengan mbak Dewi dan juga Aluna mengantarkannya sampai depan pintu.


"Makasih ya udah mampir" lambai Aluna tersenyum manis ke arah Tiku


"Daaaaah iya sama-sama" jawab Tiku santai


"Hati-hati ya Non Tiku" tambah Mbak Dewi yang menatap lurus melihatnya.


"Siap mbak" jawab Tiku menaikkan jempol tangannya.


Tiku pun berlalu dengan motor Aerox putih miliknya tersebut. Aluna pun bergumam ke mbak Dewi.


"Aluna kalau minta motor, di kasih ga ya sama ayah mbak?"


"Ya dikasih lah Non, kan buat keperluan Non sekolah"


"Tapi emang Non Aluna tau bawa motor?"


"Ga sih mbak, hahahha"


"Sudah-sudah mending Non Aluna jagain Zeus itu, susternya mau sholat dulu kasian. Mbak juga ada cucian belum selesai"


"Baik mbak"


Antara mbak Dewi dan Aluna memang seperti itu, tidak ada tenggang rasa untuk saling menolong. Bagi Aluna mbak Dewi bukan sebagai pembantu rumah tangga dirumahnya melainkan sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Mbak Dewi yang paling setia disisi Aluna saat ayah dan ibunya sibuk dengan pekerjaannya.


"Sayang, sama kakak dulu ya. Susternya Zeus mau sholat dulu" ucap Aluna meraih tubuh mungil Zeus ke dekapannya.


Zeus pun dengan Anteng di gendongan Aluna, malah terus menerus menundukkan kepala dia ke bahu Aluna. Seolah ingin berlama-lama dengan kakaknya tersebut.


Tidak beberapa lama, Zeus ternyata tertidur di gendongan Aluna. Dengan segera dia meletakkan tubuh Zeus ke tempat tidurnya pelan-pelan. Dia duduk disamping Zeus menatapnya dengan penuh kasih. Sambil menunggu perawat Zeus, Aluna memainkan ponselnya untuk mengusir jenuh.

__ADS_1


__ADS_2