
Aluna bergegas ke arah Baim yang masih sibuk membersihkan kaca mobil.
"Pak Baim, anter Aluna ke sekolah ya"
"Jadi pak Andre Non?"
"Udah tanya sama Ayah, katanya biar Ayah bawa mobil sendiri hari ini"
"Oh baik Non, silahkan" supir Andre tersenyum dan segera membukakan pintu untuk Aluna. Aluna pun duduk dengan nyaman sembari melihat suster yang menjaga Zeus baru saja menuruni tangga menuju halaman depan.
"Halo Zeus"
"Kakak ke sekolah dulu ya"
"Suster tersebut pun melambaikan tangan Zeus untuk merespon Aluna"
Hingga akhirnya mobil kijang Innova putih itu meninggalkan pekarangan, dan menuju arah sekolah. Jalanan mulai dipadati kendaraan. Dan ini adalah kali pertama Aluna bepergian tanpa Ayah ataupun Mamanya disampingnya.
Tak beberapa lama setelah melewati jalanan yang cukup padat kendaraan dan antrian dalam tol layang Pettarani yang cukup lama. Akhirnya sampailah Aluna didepan gerbang SMA Tujuh Belas Jakarta, sebuah gerbang hitam yang kokoh dan tinggi berdiri tegak di hadapannya.
Hari Senin ini adalah hari pertama semua siswa baru berkumpul dan menjalani masa orientasi sekolah.
Alunapun melangkahkan kakinya dengan ragu, ada rasa cemas akan ketakutan tidak di terima di lingkungannya yang baru. Dia menjadi tidak percaya diri, dan hanya bisa menunduk mengamati sepatu yang Ayahnya sendiri pilihkan untuknya.
Baim mengamati Aluna dari sisi bersebrangan dia pun merasa kasihan melihat keraguan Nona muda tuan rumahnya tersebut, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun.
Ditengah keraguan Aluna, datanglah seorang gadis dengan kepang dua di sisi rambutnya. Dia tanpa aba-aba langsung merangkul Aluna dan mengajak dirinya masuk.
"Kamu kenapa berdiri disini kawan" ujar perempuan seumuran Aluna tersebut
"Ayok buruan masuk, nanti terlambat dan aku bisa ikut terlambat karena kamu, hahhha" ledek gadis itu
"Umm, iyaa" jawab Aluna dengan nada suara di pelankan
Rupanya apa yang dia sudah pelajari di YouTube maupun situs internet lainnya cara bersosialisasi agar tidak kaku tetap saja belum mampu di terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Ditengah perjalanan menuju koridor gadis disamping Aluna tidak hentinya bicara Aluna dia pun hanya bisa dengan setia mendengarkan bagaimana dia melafalkan banyak kata.
"Kenapa orang ini, bisa se easy ini ya bercerita dengan sangat nyaman pada orang yang baru saja dia kenal"
"Ohiya, aku lupa kita belum kenalan"
"Namaku Aluna Margaretha Andreomos"
"Aku panggil?"
"Kamu bisa panggil aku Aluna atau Aluna"
"Oke Aluna, kenalin aku Rachel Weisz"
"Aku panggil?" Ujar Aluna menyalin kata Rachel
"Rachel saja"
Aluna memberikan kesan yang sangat baik terhadap Rachel sebab pribadinya yang sangat supel dan mudah bergaul, terlibat pula bagaimana dia menyapa orang lain yang belum dia kenal di sepanjang jalan menuju koridor.
"Kamu udah tau, di kelas mana?"
"Belum"
"Sama aku juga belum, hehe"
"Jadi?"
"Gampang, paling ada informasinya di papan pengumuman disana" tunjuk Rachel
"Kamu kenapa bisa hafal lokasi disini?" Tanya Aluna heran
"Kakak aku ngajar disini, jadi aku kadang diajak kesini"
"Oh kakakmu guru disini ya"
__ADS_1
"Umm, guru matematika kematian"
"Kok gitu?"
"Karena matematika bikin stress plus kakak aku itu galak juga" tambah Rachel mendefinisikan kakak lelakinya itu kepada Aluna.
Tak lama kemudian sampailah dua gadis ini di depan papan pengumuman yang di batasi oleh kaca besar, dan ornament-ornament bunga di berbagai sudutnya.
Rachel tampak semangat menggulir nama demi nama untuk memastikan nama dia di kelas mana.
"Rachel, Rachel, Rachel, Rachel"
"Ohhh disini, dapat"
"Yah kita ga sekelas Aluna"
"Kamu di kelas mana?"
Aluna pun masih sibuk dengan mencari namanya sendiri sehingga tak merespon semua pertanyaan dari Rachel. Hingga tangannya berhenti di Kelas 10 D. Rachelia Andrelios berbaris rapi dengan 21 nama siswa lainnya.
"Walaupun kita ga sekelas, kita harus tetap temanan ya" ujar Aluna menatap Rachel.
"Iya pasti dong, tambah Rachel merangkul Aluna pergi"
"Kita ketemu pas jam makan siang saja ya" ujar Rachel sembari melambaikan kedua tangannya setelah mengantarkan Aluna kedepan kelas 10 D.
Aluna pun memasuki ruangan kelas itu dengan canggung, dia menatap sekeliling mencoba menemukan bangku kosong. Lalu dua orang gadis lainnya melambaikan tangan, untuk mengirimkan kode bahwa di samping keduanya itu kosong.
Aluna mencoba menarik senyum di bibirnya mencoba senatural mungkin walau tetap terlihat begitu kaku.
"Disini saja"
"Ih sama aku saja"
"Ga ada, kamu sama aku ya"
Kedua gadis di depan Aluna sibuk memperebutkan untuk tempat dimana Aluna akan duduk. Sedangkan mereka sMamak berdebat seorang gadis lain meraih kursi yang kosong di depan mata Aluna dan tertawa girang.
Aluna pun dengan segera meraih kursi tersebut dan duduk mencoba menenangkan fikiran dan detak jantungnya yang semakin berseru kencang.
"Hahaha, nah kan aku yang menang" ujar Tiku meledek teman lainnya.
"Ohiya halo, kenalin namaku Tiku" ujar gadis yang Aluna akan temani sebangku kedepannya.
"Aluna" dia pun mengulurkan tangannya dengan sopan kepada Tiku.
Dengan ramah Tiku menjabat tangan Aluna dengan cepat.
"Halo, kenalin aku Farah" ujar gadis yang baru saja datang tadi
"Aluna" balas Aluna tersenyum ramah
"Aku juga dong, kenalin aku Galuh" terang gadis yang Tiku temani sebelumnya berdebat.
"Kalian ini sudah saling kenal ya?" Tanya Aluna berusaha mencari topik pembicaraan
"Oh iya, kami teman satu SMP dulu walaupun beda kelas akhirnya disini satu kelas juga"
"Ohh begitu"
"Kamu SMP nya dimana?" Tanya Farah dengan santai
"Aku homeschooling" jawab Aluna lagi
"Aku juga dulu homeschooling tapi tutornya ganteng, malah aku bikin ga nyaman tiap ngajar. Aku liatin terus, hahhaha" Tiku menceritakan kisahnya dan membuat mereka berempat tertawa bersama.
Tidak beberapa lama, terdengar pengumuman dari arah lapangan. Semua siswa mulai beranjak dari tempat duduk Masing-Masing. Sedangkan Aluna hanya menatap lurus kedepan.
“Yaampun, kenapa Masih bengong Aluna?” Tegur Farah.
“Memangnya ada apa?”
__ADS_1
“Udah berdiri saja, ayok” Tiku tanpa menerima persetujuan apapun dari Aluna langsung menarik tubuhnya untuk berdiri, disusul Galuh yang ikut-ikutan menopang tubuh Aluna agar segera cepat ke lapangan.
"Assalamualaikum, salam sejahtera untuk kita semua"
"Selamat datang untuk para siswa baru tahun ajaran 2023/2024 di SMA 57 Jakarta. Semoga anak-anak sekalian betah selama menjadi proses pembelajaran di sekolah ini dengan baik"
Sambutan Pak Hartono ditengah lapangan luas menggema lewat speaker yang di depannya.
"Kenapa ga di aula saja sih, kan lebih adem" keluh Farah.
"Aku malah ngira kita bakalan upacara, di jam segini" ujar tiku menyeringai kecil
"Kakek yang ganteng mana ya" celetuk Galuh
"Heeeee mata"
"Kalian inget ga yang kak Kevin dulu"
"Yang pernah neMbak Tiku kan"
"Hahahahahah" Galuh dan Farah hanya bisa tertawa mengenang masa-masa sekolah mereka yang berwarna.
Mereka bertiga tak menghiraukan Aluna yang tidak Masuk dalam obrolan mereka. Aluna pun hanya bisa menatap lurus kedepan. Baru saja semenit lalu, tadi mereka begitu ramah terhadapnya sekarang malah mengabaikan dirinya.
"Mereka kayak tidak melihat keberadaan aku disini" ujar Aluna lirih
"Kamu ngomong sesuatu Aluna? Tanya tiku meMastikan sebab dia rasa mendengar Aluna mengatakan sesuatu disusul dengan tatapan Galuh dan Farah ke arah Aluna.
"Emm, tidak ada"
"Ohhh, oke" ujar tiku lalu melanjutkan percakapan mereka bertiga.
Aluna memilih mendengarkan sambutan kepala sekolah lalu mereka para siswa baru diarahkan ke ruang Aula sekolah untuk berkumpul disana.
Aluna digandeng tangannya oleh Galuh menuju ruang Aula dengan penuh semangat.
"Kamu kenapa Aluna, murung gitu?"
"Emm, ga apa-apa"
"Jangan-jangan kamu sakit ya, tanya Farah yang dengan gesit menempelkan tangannya di dahi Aluna"
"Gimana Farah?
"Ish, ish... Maaf bu' kami sudah melakukan yang terbaik"
"Hahaha, sialan" pukul Tiku
Aluna pun larut dengan tawa ketiga gadis di sampingnya.
"Sepertinya aku terlalu overthingking tadi, dan merasa kalian tidak peduli terhadapku" Aluna melepaskan genggaman Galuh dan Aluna mulai berkata jujur terhadap yang ia rasakan. Ucapan Aluna ini berhasil menahan langkah kaki ketiga kawan sebayanya tersebut.
"Maaf ya Aluna, kami tadi terlalu asyik sampai mengabaikan kamu" ucap Galuh lagi
"Maaf ya Aluna, kami ga bermaksud apa-apa"
Mereka bertiga pun memeluk Aluna bersamaan, sampai akhirnya .....
"Woii kalian yang di tengah lapangan, ngapain disituuuu!!!!" Teriak salah seorang senior yang memegang pengeras suara
"Buruan!!!" Perintah senior dari arah lain
Mereka bertiga pun segera berlari menuju aula sekolah, karena terburu-buru Aluna tidak sengaja menabrak seseorang.
"Bruk..."
"Astgaaa, maaf kak"
"Jalan itu pake mata" bentak pria yang tingginya 180 di depannya saat ini
"Pake kaki juga kak" celetuk Tiku. Tapi sejurus kemudian pria itu menatap ke arah Tiku dengan tajam.
__ADS_1
Siswa pria itu terus saja memarahi Aluna, dan Aluna hanya bisa menahan air matanya lewat masker putih yang masih dia kenakan dan menggenggam erat kedua tangannya.