
"Ga ah Alunaa, ayok balik saja ke kamar"
"Tiap malam juga kayak gitu anak itu, makanya mama sama papa ga nyaman dirumah"
"Bentar Tiku, aku kenalan dulu sama adekmu"
Terlihat juga ada Mbak Ratih yang disana, tapi entah mengapa dia hanya diam memperhatikan adik Tiku bermain sendirian tanpa menoleh akan kehadiran kami berdua. Yang tidak jauh darinya. Karena dia duduk di bangku tepatnya berada di sisi tangga
"Itu mbak Ratih ya? " Tanyaku memastikan setelah melihat perempuan dengan rambut yang di konde keatas
"Iya" Jawab Tiku singkat
Aku melangkah menuju mereka berdua sedangkan Tiku berdiri di tangga memperhatikan ku saat ini.
"Kok adik ganteng belum tidur sih, ini udah tengah malam loh"
Adik Tiku terus saja bermain bola, mengabaikan aku yang terus berbasa-basi kepadanya.
Tak lama, aku duduk di samping mbak Ratih ikut memperhatikan bagaimana adik Tiku mahir menggelindingkan bola di kaki kecilnya yang mungil
"Namanya siapa mbak adik Tiku itu? "
"Nando" Jawabnya
Aku bisa berfikir jernih akhirnya, karena mbak Ratih ini membalas pertanyaanku
Adik Tiku lalu menghampiriku dan memegang tanganku untuk ikut bermain bola bersamanya aku Meliirik ke arah Tiku dia terus saja menggelengkan kepalanya. Aku tidak paham apa maksudnya anak ini.
Entah mengapa aku merasakan tangannya dingin sekali, seolah memegang es batu saja
Mungkin karena udara yang dingin malam ini ditambar air hujan turun perlahan melewati celah langit
"Kak main bola yuk"
Aku berdiri tepat di depannya Nando saat ini.
Tapi tunggu mana bolanya, tadi kan ada bola dengan gambar spiderman itu
"Bolanya mana sayang"
"Yah gaada bola ya kak"
Tiba-tiba Nando yang sepertinya baru berusia 6 atau 7 tahun ini membelakangiku. Entah apa yang akan di lakukannya.
"Kan bolanya hilang kak, pakai kepala Nando saja ya kak untuk main"
Dia berbalik pelan, kedua tangannya sekarang memegang kepalanya sendiri yang telah putus dari lehernya
"Rghhhhhhhhj"
Lututku langsung terasa kebas, lemas sekali rasanya tubuhku. Tapi dengan cepat Tiku membantuku lari
"Kak, ini bolanya"
"Kakak"
"Kakakkk"
Aku akhirnya kembali menemukan kekuatan ku dan berlari lagi tanpa bantuan Tiku sampai dikamar Tiku langsung mengincu pintu dan memakain earphonenya kembali. Dan mengajakku bersembunyi di dalam selimut
"Kakak"
__ADS_1
"Ini bolanya"
"Kakak"
"Main yuk"
"Kakak"
Suara gedoran tangannya makin lama makin hilang. Akhirnya kami bisa bernafas lega
"Apa itu tadi"
Aku berusaha mengatur nafasku yang Ngos-ngosan setelah di kejar Nando adik Tiku
"Kan aku udah bilang Aluna ga usah cek itu anak"
"Emang ngeselin dia"
"Tunggu..."
"Aku masih ga ngerti Tiku"
"Seperti kamu lihat tadi kan"
"Adik aku udah ga ada"
"Kita udah beda alam dengannya"
"Kamu harus ceritain semuanyaa dari awal, aku makin ga ngerti Tiku"
"Jadi 3 tahun lalu ada insiden yang terjadi di rumah ini"
"itu tadi adikku umurnya belum genap 6 tahun namanya Nando, terus mama sama papa selalu sibuk kerja di luar kota maupun keluar negeri"
"Inisiatif lah mama rekrut perawat atau babysitter gitu, tapi lewat daring tapi tetap dibantu sama Om Mario saudaranya papa"
"Namanya mbak Ratih"
"Mbak Ratih sayang banget sama Nando, semua berjalan sangat baik"
"Mama dan papa juga semakin lama kerjanya baru pulang ke rumah, biasa sampai 3 bulanan"
"Satu waktu aku mau pergi lest bahasa Mandarin, akun inget betul"
"Terus Nando merengek mau ikut terus"
"Kak, Nando ikut yaaa"
"Nando takut disini"
"Ikut yaa kak"
Tapi tak lama, mbak Ratih datang menggendongnya
"Mbak Tiku pergi saja, biar Nando saya yang tenangin"
Aku pun berangkat tapi dengan suasana hati yang buruk hari itu. Entah kenapa aku ke fikiran Nando terus jadi tidak fokus di tempat les privateku. Karena tidak tenang, aku kembali ke rumah dengan terburu-buru.
Aku penasaran dengan keadaan pintu rumah yang terbuka lebar hari itu. Aku segera memanggil Nando bergantian dengan mbak Ratih.Tapi tetap saja tidak ada jawaban apapun. Kondisi rumah juga berantakan sekali.
Bersamaan itu mama dan papa baru saja pulang. Langsung menghampiri ku karena bingung dengan keadaan rumah.
__ADS_1
Papa dan mama ikut berkeliling mencari, mama juga tak lupa menelfon polisi untuk membantu pencarian
Tak butuh waktu lama, 3 orang polisi datang ke rumah. Membantu mencari. Tetapi tidak ada apapun yang bisa menjadi petunjuk
Kami semua sudah putus asa dan memutuskan keluar halaman. Tapi tiba-tiba mama berteriak histeris saat melihat keatas atap. Teriakannya seperti pencakar langit. Lantang dan keras sekali mengguncang telinga
"Nando,.. Mass"
"Nando"
Mama terus saja menangis dan menunjuk keatas sampai akhirnya jatuh pingsan di pelukan ayah
Kami semua mengarahkan pandangan keatas, benar saja...
Ada tubuh Nando bersama tubuh Mbak Ratih diatas atap yang tergeletak dengan darah yang mengalir deras di lehernya
Segera pemadam kebakaran datang membantu karena atap rumah yang cukup tinggi. Aku melihat jelas bagaimana adik kecilku di bawa ambulance.
Tapi saat sampai dirumah sakit Nando sudah tidak bisa tertolong begitu juga dengan Mbak Ratih.
Belakangan baru diketahui bahwa Mbak Ratih adalah mantan pasien Rumah sakit jiwa karena depresi setelah kehilangan anak laki-laki satu-satunya setelah ditabrak mobilnya sendiri saat dia bersembunyi di garasi mobil.
Naas sekali, Mbak Ratih akhirnya bunuh diri dengan membawa Nando bersamanya
Itulah mengapa hari itu, Nando sangat ketakutan. Harusnya aku lebih peka terhadapnya.
"Andaikan aku bisa menjaga Nando lebih baik"
"Tentu saja dia tidak akan pergi secepat ini"
Tiku terisak-isak menangis, hatinya terluka sekali. Apalagi dia sangat mencintai Nando
Kubiarkan Tiku menangis dalam dekapanku.
Setelah dia tenang , aku baru berusaha mengajaknya kembali bicara
"Aku yakin satu hal Tiku"
"Apa itu Alunaa"
"Kalau adikmu ingin menyampaikan sesuatu"
"Makanya dia belum pergi dari rumah ini"
"Aku juga mikir kayak gitu Aluna, tapi aku terlalu takut dengan penampilan Nando yang menyeramkan"
"Mama dan papamu kemana? "
"Mereka menyelidiki kematian Nando"
Setelah kematian Nando mereka tidak lagi betah dirumah karena ingin segera menyelesaikan hal yang membuat arwah Nando gentayangan.
"Aku juga ingin dibawa mereka, tapi aku menolak"
"Aku hanya ingin disini saja menjaga Nando sebelum dia pergi"
Meskipun menakutkan tapi aku selalu memperhatikan dia setiap malam. Jam 2 malam dia akan muncul dan menghilang satu jam kemudian.
Kejadian semalam membuatku cemas dengan keadaan Tiku. Untung saja hari ini dan tiga hari kedepannya kami libur.
Aku tidak perlu bersusah payah pulang mencari seragam dan juga buku tentunya. Aku akan menyelinap pulang jika mama dan ayah tidak ada dirumah.
__ADS_1