
Keempat sahabat ini pun berjalan bersama untuk pulang. Tapi Aluna tiba-tiba merasa ingin ke kamar mandi.
"Girls kalian pulang duluan saja ya,"
"Aku mau pipis dulu"
"Gak apa-apa kami tunggu saja"
"Ga usah, helm aku simpan di pos satpam saja Far, makasih yaaah"
"Kamu balik sama siapa? "
"Entar di jemput, aman"
"Yaudah, kami balik yaa Aluna"
"Iyaaa, daaaaaah"
Aluna dengan segera berlari kecil menuju kamar mandi. Setelah buang air kecil Aluna merasa jauh lebih baik.
Tapi ketika dia hendak membuka pintu, rupanya pintu kamar mandi telah tertutup rapat. Bahkan walaupun Aluna berupaya sangat keras dia tetap tidak mampu membukanya.
Aluna berusaha keras membuka pintu yang terkunci tetapi tidak berhasil.
"Tolong siapapun disanaa" Aluna mulai berteriak tapi lorong kamar mandi sangat senyap dan bahkan sudah semakin sepi.
Tiba-tiba seseorang menyiramkan air ke kamar mandi dimana Aluna berada.
"Woi tolong, siapaaaa" Aluna berteriak kembali tapi tetap saja hanya ada keheningan dan tak ada suara langkah siapapun disana. Sedangkan tubuhnya telah basah kuyup dan menggigil karena air yang begitu dingin ditambah pakaian seragam yang tipis.
Dengan panik Aluna segera meraih ponselnya tapi....
"Ahhhhhh, lowbat" Aluna memeluk tubuhnya sendiri dengan cemas
Suasana sekolah kian mencekam, tidak ada suara apapun selain air yang jatuh dari celah-celah kran air berdecik satu persatu.
Aluna mulai serak berteriak meminta tolong, tetapi kamar mandi di sekolah elit ini memang di desain kedap suara dan tembok yang kokoh. Sehingga sekeras apapun Aluna berteriak siswa-siswi yang lain tidak akan menjangkau suara minta tolongnya.
Aluna melirik jam tangan di tangan kirinya dengan cemas.
"Astaga sudah jam 4 sore" Aluna pun pasrah dengan keadaannya saat ini, dia terkulai lemas karena basah kuyup dan tubuhnya kedinginan memilih duduk di sisi pintu dan terus melap sekujur tubuhnya menggunakan tissue toilet.
Saat Aluna berusaha kembali bangkit menjangkau pintu malah dia terpeleset dan kepalanya terkena gagang pintu hingga menyebabkan dia pingsan.
Saat tersadar malam sudah menjangkau bumi.
"Aduhhh," Aluna meraih kepalanya yang masih cukup sakit dan berdarah karena insiden tadi.
Kembali dia lirik jam tangannya.
__ADS_1
"Astaga pukul 7 malam"
Untung saja lampu tengah di ruang wc tersebut menyala terang.
Ditengah keputus asaan Aluna, tiba-tiba dia mendengar suara sayup-sayup dari kejauhan.
"Alunae.... Alunaaaa"
"Tolong.... " Aluna kembali berteriak
Dan suara langkah Kaki mendekat ke depan pintu dimana dia berada saat ini, Aluna pun mengetuk-ngetuk pintu di depannya untuk memberi tahu kan keberadaannya.
"Alunaa kamu di dalam? " Ucap pria yang berdiri tepat di mana Aluna terkunci
Dia berusaha membuka pintu tapi sangat sulit dan keras.
"Aluna kamu mundur dulu, biar aku dobrak yaaa"
Aluna pun segera mundur kebelakang hingga pintu berhasil di buka.
Tampak seorang pria yang tidak asing baginya telah menyelamatkan dia hari ini. Pria itu datang dengan penampilan yang sangat kacau dan acak-acakan. Menandakan dia datang kemari dengan sangat terburu-buru. Rambutnya berantakan, baju kaos hitam oversize dan celana pendek selutut dan dengan sendal rumahan.
Aluna yang masih lemas karena luka di kepalanya segera memeluk pria di hadapannya tersebut dengan sangat erat dan memuntahkan semua tangisnya di bahu pria tersebut. Pria tersebut pun mengelus pelan rambut Aluna untuk menenangkan rasa nyesek di hati Aluna.
"Kak Leo, Aluna takut" Rupanya pria yang telah menolong Aluna dari insiden yang menimpanya hari ini adalah pria yang selalu dia anggap menyebalkan.
Leo pun membalas pelukan Aluna dengan sama eratnya entah karena untuk memvalidasi dirinya sendiri untuk cintanya ke Aluna atau hanya karena untuk membuat Aluna lebih tenang.
"Kuat Kak"
Tapi baru saja melangkah satu kali badan Aluna telah lebih dulu ambruk untung saja Leon dengan sigap meraihnya.
"Pakai ini dulu yaaa, kamu tampak kacau gini" Ucap Leo dengan segera memakaikan jaket hitam yang dia pegang di sisi tangan kanannya.
"Kamu diam saja yaaaa, ini demi kebaikan kamu juga dan aku gak suka penolakan" Ucap Leo serius sedangkan Aluna dibuat bingung dengan maksud perkataan Kakak seniornya tersebut.
Ketika Aluna masih menerka ucapan Leo, dengan segera Leo menggendong Aluna dengan gagah dan membiarkan kedua tangan Aluna di lingkarkan ke lehernya. Aluna pun menatap Leo dengan rasa harus dan hangat di hatinya. Pria yang selalu di remehkan terlihat sangat macho di matanya.
Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Leo di hampiri oleh dua security yang berjaga.
"Loh ada beneran siswa yang belum pulang yaaa mas Leo"
"Iya Pak, ini udah ketemu. Ke kunci di wc wanita"
"Astaghfirullah, dek ngak kenapa-kenapa? " Tanya satpam yang satunya lagi setelah melihat dahi Aluna yang berdarah
"Tidak apa-apa pak" Jawab Aluna pelan
"Pak mohon selidiki yaa, siapa dibalik ini semua, kasian Aluna sampai ketakutan seperti ini"
__ADS_1
"Baik mas Leo" Ucap kedua satpam tersebut dengan bersamaan.
Leo pun melanjutkan langkahnya ke arah mobil yang dia parkirkan sekarang.
"Aku berat gak Kak? "
"Gak kok, kayak lagi gendong gajah aja" Ucap Leo bercanda
"Ishhhh" Aluna hanya melirik pelan dan tersenyum ke arah Leo dengan manis.
"Dibawah cahaya bulan gini, kamu cantik banget yaaa. Sempurna"
"Ini kok ga sampe-sampe yaa Kak" Ucap Aluna mengalihkan karena wajahnya yang sudah berseri kemerahan seperti kepiting rebus.
"Gimana mau sampai dek, orang itu ga jalan-jalan" Celetuk satpam yang tidak jauh dari mereka. Aluna pun segera memutar pandangannya perlahan.
"Ishh ternyata dari tadi cuman jalan di tempat, pantesan ga sampai-sampai" Aluna sigap memukul bahu Leo kesal
"Iyaaa ini jalaaan"
"Pakk duluan yaa" Leo melambaikan tangan kepada kedua security sekolah yang dia akrabi tersebut.
"Hati-hati Mas" Ucap security yang menyapa sopan kepada Leo.
Leo pun membawa Aluna duduk di jok depan mobilnya.
"Kamu duduk tenang disitu" Leo berjalan menuju bagasi dan kembali dengan memegang kotak P3k di tangannya.
Setelah itu, dia masuk kedalam mobil dan mulai menyalakan mobilnya dan bergerak maju.
"Kirain aku mau di obatin" Ucap Aluna melirik kotak yang Leo simpan di sisinya.
"Emang iyaa, tapi lagi cari tempat sepi nih"
"Awass yaaa Kak jangan macam-macam" Ucap Aluna was-was
"Hahahah, gemesin banget sih kamu, bercanda"
"Gak enak nanti di liat pak budi sama pak anto kan malu" Ujar Leo menjelaskan dengan tetap fokus menyetir.
Setelah sampai di pusat kota, Leo meminggirkan mobilnya perlahan.
"Aku bantu obatin dulu lukanya ya Aluna."
Leo dengan cermat membuka kotak obat dan mengambil obat betadine dan sebuah hansaplast motif bunga.
"Sini dekat-dekat" Leo meraih dagu Aluna agar berhadapan dengannya.
"Parah sih ini" Jantung Leo berdetak sangat kencang hingga membiarkan dirinya bertengkar dengan dirinya sendiri.
__ADS_1