
"Kamu kenal sama Rachel dimana Luna?" Tanya Tiku sambil melahap gimbab ditangannya.
"Emm, kenal tadi pagi di pintu gerbang.” Jawab Aluna polos.
"Kamu sebaiknya ga usah temanan sama dia" tambah Farah dengan nada bercanda tetapi ada penekanan.
"Loh, memangnya Rachel kenapa?" Tanya Aluna dengan alis berkerut heran.
"Dia itu ringan tangan" bisik Tiku pelan.
"Ringan tangan bangettt" tambah Galuh dengan nada mengejeknya yang khas. Sudah cocok menjadi ibu-ibu kompleks yang merumpi.
"Tunggu, gimana maksudnya.” Ujar Aluna yang tidak paham dengan karakter orang lain.
"Ya dia, itu suka nyuri barang-barang berharga"
"Haaaaaaaa"
"Bener Lunaee, kita satu sekolah sama Rachel jadi tau semuanya" jelas Tiku dengan mulut yang masih penuh dan terus mengunyah.
"Makanya kamu harus hati-hati"
"Hmmm, iya" jawab Aluna singkat dengan rasa tidak percaya masih menyelimuti dirinya karena bagaimanapun Rachel adalah orang yang pertama kali dia kenal dan menghilangkan gugupnya pagi ini.
"Gimana kalau, kita ke McD saja?" Udah lapar banget ini saran Tiku
"Boleh" jawab Galuh dan Farah
"Tunggu, kita naik apa?" Tanya Aluna polos
"Kamu kesini ga bawa motor?"
"Enggak, aku di antar sama supir ayah"
"Yaudah gini aja, kamu bareng aku, di jalan nanti kita beli helm" saran Tiku
"Ga reportin kamu?" Tanya Aluna dengan rasa tidak enak
"Yaa gak lah, orang kita temanan."
"Kamu tunggu sini ya, kami ambil motor dulu" tanya Galuh
Aluna pun berdiri di depan sekolah seorang diri, sampai akhirnya Kevin melihatnya dan berhenti di samping Aluna.
"Aluna kok masih disini? Mau kakak anter?" Tanya Kevin dengan ramah
"Emm, ga usah kak ini lagi nunggu teman-teman" jawab Aluna sembari menunjuk ke arah Tiku dan yang lainnya
"Ya sudah kalau gitu, kakak duluan ya"
"Iya kak, hati-hati" jawab Aluna dengan senyum hangat.
Tak beberapa lama akhirnya Farah, Galuh, dan Tiku telah berhasil mengendarai motor Aerox mereka masing-masing.
"Yuk Lunae.." tanya Tiku
Tiba-tiba terdengar suara tak asing dari arah belakang mereka.
__ADS_1
"Eitsss, kenapa naik motor ga pake helm" teriak Leo dari atas motornya yang perlahan mendekat ke arah mereka.
"Eh kak Leo, ini baru mau singgah beli helm kak buat Aluna" jawab Tiku cepat
Leo pun melirik Aluna, dan memperhatikan gadis itu yang rambutnya akan di terpa angin jika naik motor tanpa helm.
"Kalian mau kemana memangnya?" Tanya Akli menimpali
"Mau ke McD Hertasning kak"
"Wah rawan sweeping tuh, apalagi belum punya SIM kan" tambah Alan menakuti mereka
"Tapi kalau pake helm ga terlalu di perhatikan kok" jelas Akli
"Tapi di depan kalian bakalan lewatin pos polisi dan sebelum itu ga ada toko helm"
"Yah, gimana ya"
"Aluna ga usah ikut deh guys besok aja, gimana?"
"Ya jangan dong, nga seru tau" tambah Tiku
"Aku tau kok tempat jual helm, tapi lewat jalan lorong-lorong gitu, gimana kalau Aluna kamu ikut sama aku, nanti aku anter ke teman-teman mu?" Saran Leo
"Ga usah deh kak" jawab Farah khawatir karena Leo yang terkenal nakal
"Yaudah kalau ga mau" jawab Leo
"Boleh kak" sambung Aluna
"Kamu yakin Luna?" Tanya Galuh dengan sigap
"Yaudah kalau gitu Alan, Akli kawal cewek yang lain ya"
"Siap bos"
Mereka berlima pun segera melajukan motor mereka kedepan. Dan dengan segera Aluna disuruh oleh Leo untuk naik. Tapi Aluna malah maju ke depan dan berbisik ke telinga Leo.
"Kak, aku baru kali ini naik motor. Aku baiknya gimana?" ucap Aluna lembut
Leo pun menatap Aluna dengan senyum tipis dia baru kali ini bertemu gadis kayak gini.
Leo meraih kedua stand kaki motornya.
"Kamu naikin kaki kamu satu disini, terus pegangan ke pundak aku, letakin kakimu disebelah juga" terang Leo
"Ohhh" Aluna pun mengangguk pelan dan mengikuti instruksi dari Leo.
Setelah Aluna duduk, Leo baru sadar rambut Aluna akan kusut jika terkena angin. Dia pun membuka helmnya lalu diletakkan di kepala mungil Aluna, dan memasangkan gesper pengait helm. Tak sengaja wajah mereka sangat dekat.
"Parah, jantung gua dakdikser gini" Leo menahan hatinya itu dengan tetap berusaha keren.
Tak jauh dari mereka, Lunaxa menyaksikan kejadian itu dengan teman-temannya dengan sangat kesal.
"Baru aja masuk sekolah udah gebet Leo aja, sialan emang cewek itu" ujar Lunaxa dengan sorot mata tajam
"Kita harus buat perhitungan sama anak baru itu" tambah Resda memanasi bos nya itu
__ADS_1
"Tunggu saja, tanggal mainnya. Udah yuk cabut" Lunaxa pun berlalu dan meninggalkan pemandangan yang membuat hatinya panas.
"Aluna, kamu pegangan ya" kata Leo
Aluna dengan polos memegang bahu Leo, tapi Leo malah menarik kedua tangan Aluna agar memegang pinggangnya. Aluna pun hanya bisa menurut saja.
Karena jalanan yang mereka lalui banyak polisi tidurnya, duduk Aluna pun makin merosot dan memeluk erat pinggang Leo.
"Maaf ya kak, Aluna jadi nyusahin kak Leo" ucap Aluna canggung
"Ga apa-apa, sekali ini doang ya" jawab Leo acuh
Tak lama mereka pun sampai di depan toko helm yang disampaikannya ada toko pakaian jaket yang di maksud oleh Leo sebelumnya.
"Kamu duduk anteng saja disitu, tunggu disini"
"Ini uangnya kak"
"Udah entar aja"
Leo pun masuk ke toko helm itu, dan Aluna melihat Leo sibuk melihat-lihat. Tiba-tiba handphone Aluna berdering ternyata dari pak Baim supir Ayahnya.
"Halo Non Aluna?"
"Ini Bapak sudah ada di depan sekolah"
"Udah bapak balik saja, nanti Aluna pulangnya sama teman"
"Oh iya baik Non" jawab Baim
Leo pun sudah selesai belanja dan keluar dengan membawa helm bogo yang persis miliknya dengan warna yang senada, yaitu putih cream.
"Lepas dulu helm ini, coba helm yang ini"
Leo menyodorkan helm yang baru dia beli tadi untuk Aluna coba.
"Wah Cocok kak"
"Kamu suka?"
"Suka kak" jawab Aluna tersenyum ke arah Leo dengan senyum yang sangat manis
"Kamu ga biasa kan panas-panasan kamu pake jaket ini ya"
Aluna belum sempat menolak, Leo sudah lebih lebih dulu menarik tangan Aluna untuk memakai jaket hitam yang dia baru juga telah beli"
"Kak tapi"
"Sudah pakai saja ini ya, biar kamu ga kepanasan"
"Nah kalau gini kan, aman.. " ujar Leo menatap lurus ke arah Aluna
"Makasih kak" jawab Aluna sopan
"Ayok berangkat, kamu pegangan ya"
"Iya siap kak" Aluna pun memeluk pinggang Leo dengan cepat. Sudah layaknya sepasang kekasih yang begitu mesra dan harmonis.
__ADS_1
Ditengah-tengah perjalanan, Aluna malah sibuk membayangkan bagaimana jika sosok Denis lah yang membonceng dia seperti ini.
Rupanya jauh di lubuk hatinya, Aluna tetap saja belum bisa melupakan sosok Denis dalam fikirannya.