Kerinduan Yang Ternoda

Kerinduan Yang Ternoda
Awal sebuah pertemuan


__ADS_3

Menapaki kembali kakinya di kota dimana tangisan pertama dari seorang anak manusia bernama Wine Stefany terdengar. Ada sebuah kenangan indah masih kecil Wine di sini. Kota Megapolitan yang memang udaranya tidak segar namun menyegarkan ingatan Wine pada sosok seseorang yang begitu ia rindukan. Sosok itu telah lama menimbulkan kegundahan hatinya dan seakan ada rahasia yang sengaja ditutupin darinya.


"Papi, di kota ini aku kehilanganmu!" ucap Wine sambil menyapu butiran yang jatuh di pipinya.


Tak terasa sudah hampir 3 Minggu Wine berada di kota itu. Ia menyewa sebuah kamar kost, tidak jauh dari kampus, tempat dimana ia ingin melanjutkan jenjang pendidikannya. Memang suasana kota agak sedikit asing, orang-orang lebih kelihatan cuek dan tidak ramah, ketimbang waktu ia berada di kota tempat di mana ia dibesarkan namun menapaki setiap pagi sejak tinggal di kota itu dan membiasakan diri agar semua menjadi lebih mudah. Dan langkahnya pun tak terhentikan oleh sebuah kenangan. Kini tekadnya sudah bulat ia ingin melanjutkan studinya di kota itu, tinggal jauh dari keluarganya.


Tepat pukul 8:00 pagi, Wine sampai di sebuah Universitas ternama di kota itu untuk melihat pengumuman kelulusan. Begitu ramai aktifitas di kampus pagi itu, dimana hari itu adalah hari pengumuman kelulusan mahasiswa/wi baru. Pengumuman kelulusan ditempelkan di setiap pintu kelas sehingga Wine harus melihat setiap pengumuman yang di tempelkan, berpindah dari satu pintu kelas ke pintu kelas yang lainnya, dengan teliti Wine melihat nama-nama yang tercantum.


"Yes, aku lulus!" seru Wine sambil membalikkan badannya untuk memberi ruang gerak pada yang lain yang ingin melihat pengumuman kelulusan. Tanpa sengaja Wine bertabrakan dengan seseorang.


"Aduh!" teriak Wine kesakitan, sambil memegang kepalanya melangkah menjauh dari kerumunan.


"Maaf, apa kamu terluka ?" tanya seseorang dihadapannya.


Wine pun menegakan kepalanya untuk melihat, siapa yang menyapanya?


"Kenalkan namaku Melda," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Oh..tidak apa-apa!" namaku Wine sambil membalas menjabat tangan itu.


Tiba-tiba merekapun tertawa, sambil melihat baju yang mereka kenakan secara bersamaan.


"Hey, kita memakai baju yang sama!" serunya sambil tertawa.


"Iya sahut Wine, kita punya selera yang sama."


"Kamu Mahasiswi baru juga di kampus ini?"


"Iya, tadi baru saja aku melihat pengumuman kelulusan," jawab Wine.


"Kamu masuk kelas apa?"


"kelas A" jawab Wine.


Berarti kita sekelas dong seru Melda seseorang yang baru Wine kenal.


"Oh..iya sampai ketemu besok ya!" sambil melangkah menjauh, sahabat baru itu pun melambaikan tangannya dan Wine pun membalas lambaian tangan itu dan masih tetap berdiri dan melihat sampai sosok teman yang baru dia kenal itu menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Ini merupakan awal kisah pertemuan di mana Wine berkenalan dengan Melda. Kini ikatan itu telah berjalan selama 3 tahun dan menjadi sebuah ikatan persahabatan dari dua orang anak manusia yang di pertemukan tanpa di sengaja.


****


"Wowwww, terang sekali!" kaki kecil itu berlari-lari ke sana kemari diterangi cahaya bulan.


"Papi, lihat di sana!" sambil masih terus berlari, mendekat pada sosok seseorang yang kemudian mengulurkan kedua tangan yang kuat merangkul gadis kecil itu dan menggendongnya.


"Apa kamu mau seperti bulan itu sayang?"


"Iya papi, jawab Wine."


"Kamu harus menemukan mataharimu agar kamu selalu cantik," ucapan itu membangunkan Wine dari mimpinya. Dadanya terasa sesak dan berkeringat.


"Tuhan, Mengapa sosok itu selalu hadir dalam mimpiku?"


Wine duduk bersandar dipinggir tempat tidurnya kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya, melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Tok tok tok


"Siapa?" Wine berteriak dari kamar mandinya yang tidak tertutup.


"Pagi sekali kau datang" ucap Wine sambil membukakan pintu kamarnya.


"Memang tidak boleh?",Melda langsung merebah badannya di kasur.


"Hari ini Ada ujian matematika ekonomi 2, kamu tidak tau?" tanya Melda


"Tidak, jawab Wine sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku belum belajar dan tidak paham, pasti nilai ku hancur semester ini!" ucapnya sambil memperlihatkan wajah sahabatnya itu.


"Jawab saja yang kau bisa!" sahut Wine.


"Hey, aku ini enggak seperti mu!" ucap Melda. Kamu pintar dan bintang di kampus, aku enggak ada apa-apanya di banding dirimu ucapan Melda.


"Kamu pasti bisa!" aku pasti membantu mu ucap Wine.

__ADS_1


"Benarkah wine ?" sahut Melda sambil memegang tangan Wine.


"Iya, tapi kamu harus mau belajar lebih keras lagi!" ucap Wine.


"Oke, aku janji!" sahut Melda sambil memeluk Wine.


Tiba-tiba perhatian Melda tertuju pada wajah wine yang terlihat sembab dengan kantong mata sedikit bengkak. Melda melihat Wine lebih dekat, ada sesuatu yang beda dari biasanya.


"Wine, apa kamu habis menangis?" tanya Melda sambil menyingkap poni yang menutupi mata Wine.


"Ayolah cerita padaku", ucap Melda sambil menarik tangan Wine.


"Akhir-akhir ini kamu tampak murung dan lebih pendiam!" ucap Melda.


"Hey, bukankah aku memang pendiam?" Wine tersenyum.


"Tidak, bagiku kamu tampak berbeda!" seru Melda.


"Please, cerita dong?" ucap Melda merayu seperti anak kecil namun Wine seakan tak memperdulikan sahabatnya itu.


Wine berdiri di depan kaca kemudian mulai memoleskan bedak pada wajahnya dan sentuhan Lip Gloss pada bibirnya yang mungil, kemudian merapikan pakaiannya lalu bergegas mengambil sepatu Slip On favoritnya dari kolong meja belajarnya.


Wine menyandang tas di bahu kirinya sambil mengunci pintu kamarnya kemudian menuruni anak tangga dengan bergegas. Sementara Melda berjalan di belakangnya. Sepanjang perjalanan menuju kampus Wine hanya diam saja. Melda memperhatikan Wine yang sangat berbeda dari biasanya. Dia berjalan lebih cepat sambil melemparkan pandangan ke sebuah tempat jajanan kaki lima yang ramai dengan pengunjung.


"Wine, Awas!" teriak Melda sambil menarik tangan Wine.


Sebuah motor melaju kencang hampir menyambar tubuh Wine, seketika Wine terkejut saat tangannya ditarik dengan keras oleh Melda.


"Terima kasih, Melda!" ucap Wine sambil memeluk sahabatnya itu.


Melda berjalan sambil menggandeng tangan Wine, seketika Wine melepaskan pegangan tangan itu lalu berjalan sedikit berlari, perhatiannya tertuju pada sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan depan kampus. Wine tampak melihat sekeliling trotoar jalan, seakan-akan ia sedang mencari seseorang. Melda mencoba menghampiri sambil menepuk bahu Wine.


"Wine, apa yang kamu cari?" sebentar lagi ujian akan di mulai ucap Melda.


Wine hanya diam tak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. kemudian kedua sahabat itu menyeberang jalan menuju pintu gerbang kampus namun Wine masih tetap melempar pandangannya ke belakang sampai akhirnya tangan Wine di tarik oleh Melda. Mereka akhirnya berjalan bergandengan menuju kelas di mana ujian akan segera di mulai.


Peristiwa tadi membuat Melda kuatir tentang apa yang sebenarnya sedang dipikirkan dan apa yang sedang di cari oleh Wine tadi.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2