
Setelah Maia pergi dari kamarnya, rona kesedihan tampak jelas terlihat di raut wajahnya yang cantik. Ia berdiri dan melemparkan pandangannya ke luar jendela, air mata mulai menggenangi, menetes dan jatuh dari kelopak matanya yang indah, sesekali ia mengusap air matanya yang membasahi pipinya. Kemudian ia duduk menghadap meja belajar, dengan kedua tangannya, ia melemparkan semua buku-buku yang tersusun rapi itu ke lantai. Seketika buku-buku itu berserakan.
Kesedihan, kekecewaan dan kemarahan telah menutupi hatinya. Wine terduduk lemas, menangis terisak, hari ini dimana, semua himpitan hatinya tumpah seketika. Apakah sebuah foto yang dilihatnya di rumah Melda, hanya suatu kebetulan? Wine juga mengingat akan sikap oma yang memperlakukannya, seakan-akan dirinya tidak ada. Wine berpikir keras untuk memahami semuanya.
Tiga jam kemudian..
Jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul 09:15 pagi. Wine beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi, dibasuhnya wajahnya hanya sekedar memberi rasa segar di wajahnya meskipun kantong matanya masih terlihat sedikit sembab.
Terdengar ponsel berbunyi, Wine segera melihat layar ponselnya, tampak panggilan masuk dari Wisnu, tidak menunggu waktu lama Wine segera mengangkatnya.
"Halo Wine !" terdengar suara Wisnu menyapanya.
"Aku sudah di depan kosan mu."
"Oke aku segera turun jawab wine sambil melihat ke bawah dari jendela kamarnya.
Sambungan telepon pun terputus, Wine keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga. Setibanya di bawah Wine berpapasan dengan ibu yang punya kosan.
"Mau kemana, neng Wine?" tanya ibu kos.
"Mau jalan sama temen bu!" sahut wine.
"Dengan siapa?"
Wine tampak gugup menjawab pertanyaan ibu kos, apalagi baru pertama dirinya pergi bersama teman laki-laki namun ternyata Wisnu sudah ada berdiri persis di belakangnya.
"Pagi Bu, maaf kenalkan nama saya Wisnu!" Yang Kemarin kesini, ucap Wisnu.
"Oh..iya, teman kuliah neng Wine."
"Iya bu"
Ibu kos mempersilakan Wisnu duduk di teras rumahnya yang persis bersebelahan dengan kosan.
"Kalian mau pergi ke mana?"
"Jalan-jalan aja bu."
"Boleh saja tapi jangan pulang terlalu malam ya Wine!"
"Ingat jaga dirimu."
"Baik Bu!" sahut Wine.
Wine dan Wisnu meninggalkan kosan menuju tempat dimana Wisnu memarkir mobilnya.
__ADS_1
"Ayo, silahkan!"
Mobil pun melaju dengan pelan, jalanan cukup padat sore itu. Wine hanya diam, sesekali memandang keluar jendela mobil untuk mengalihkan pandangannya dari Wisnu yang selalu memperhatikannya. Hari itu sebenarnya Wine ingin sendiri namun ia tidak mungkin membatalkan janjinya.
"Kamu kenapa?" Kok diam aja! seru Wisnu.
"Tidak apa-apa,Kamu mau mengajakku kemana?"
"Nanti juga kamu tahu!"
Wine melepaskan pandangannya keluar, melihat jalanan yang begitu macet. Wisnu mengendarai mobilnya dengan hati-hati, begitu banyak motor yang menyalip dari setiap mobil yang sedang melaju.
"Sepertinya kau habis menangis!"
"Oo..tidak, hanya kurang tidur saja, ucap Wine."
Wine melihat kearah Wisnu, saat mata itu saling bertemu dan bertatapan, jantungnya berdebar-debar. Meskipun perasaan sedih itu sebenarnya masih dirasakannya. Tibalah di sebuah gedung apartemen di pusat kota. Wisnu memarkirkan mobilnya di basement gedung. Wine hanya terdiam dan tidak mengerti kenapa dia mengajaknya ke sebuah apartemen.
"Kenapa kamu mengajakku ke apartemen?"
"Kenapa, nanti juga kamu tau".
Wisnu hanya melihat dan tersenyum ke arah Wine lalu keluar dan membuka pintu mobil untuk Wine. Wisnu langsung memegang tangan Wine saat turun dari mobil dan memegang erat terus berjalan menuju pintu lift. Seketika Wine menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangannya dari Wisnu. Wisnu kembali meraih tangan Wine dan memegangnya erat.
"Ayo!" ucap Wisnu.
"Ayo, silahkan masuk!"
Wine hanya diam mematung, pikirannya berkecamuk. Entah apa yang Wisnu rencanakan sampai mengajaknya ke sebuah apartemen.
"Ayolah, masuk !" seru Wisnu
Wine melangkah masuk dan melihat ke dalam, ruangan apartemen yang masih kosong, tidak ada satupun furniture di dalamnya. Wine melihat setiap ruangan sambil melihat ke atas. Ornamen apartemen ini cukup mewah dan berkelas dengan warna cat tembok berwarna krem yang dipadukan dengan warna moccha yang manis.
"Ini Apartemenku!" Aku baru membelinya bulan lalu, ucap Wisnu.
"Lalu mengapa kamu mengajakku ke sini?"
"Aku ingin ada sentuhan tanganmu di apartemenku!"
Wine semakin tidak mengerti dengan apa yang Wisnu katakan padanya.
"Maksudmu apa?"
Wisnu menghampiri Wine dan berdiri di hadapannya lalu memegang kedua tangan Wine dan menciumnya. Wine hanya terdiam ia semakin gugup dan detak jantungnya seakan tidak normal.
__ADS_1
Aku jatuh cinta padamu!" sejak pertama kali kita bertemu di kampus, ucap Wisnu.
"Maukah kamu jadi kekasihku?"
Wine hanya terdiam mematung dan tertunduk saat Wisnu menyatakan cinta padanya, jantung Wine berpacu cepat seakan suara detak jantung itu terdengar di telinganya.
"Maukah kamu menerima ku jadi kekasihmu?"
"Kamu serius?" tanya Wine
"Iya aku sangat serius!" dan aku ingin kelak kamu jadi ibu dari anak-anakku, ucap Wisnu.
Wine kembali terdiam, tubuhnya seakan membeku mendengar semua keinginan yang Wisnu utarakan padanya. Wisnu kembali mencium tangan Wine, mata mereka seakan saling berbicara bahwa ada cinta yang sangat besar di hati ke duanya.
"Iya!" jawab Wine dengan suara yang pelan.
Wisnu menatap wajah cantik Wine dan tatapan mereka saling bertemu semakin dekat, Wisnu mencium bibir Wine dengan lembut. Ciuman pertama itu mendarat di bibir Wine.
"Hari ini kamu dan aku adalah sepasang kekasih!" ucap Wisnu sambil melepaskan ciumannya di bibir Wine dengan lembut.
"Aku ingin kamu nanti menata ruang apartemen ini!"
Wine masih terdiam dengan apa yang telah terjadi tadi. tertunduk malu, wajahnya merah merona.
"Maukah kamu mencintai ku?" dengan suara yang antusias.
Wine menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Seketika Wisnu yang mengerti dengan anggukan Wine, langsung melompat bahagia sambil memeluk Wine. Mereka Pun terjatuh di atas lantai, tubuh Wine berada tepat di atas tubuh Wisnu dan kedua bola mata mereka saling bertatapan, dan ciuman itu kembali terjadi.
Wine membiarkan Wisnu menciumnya dan memeluknya, api asmara itu tengah berkobar di hati mereka berdua.
Drrrtt...drrrtt
Suara ponsel Wisnu bergetar, ia pun melepaskan pelukan dan ciumannya lalu duduk sambil mengambil ponsel yang berada di kantong celananya.
"Halo."
"Iya, ada apa?"
Wisnu berjalan menjauh dari Wine, ia tampak terkejut. Sesegera Wisnu mengambil jaketnya yang tadi di letakkan di lantai.
"Wine, ayo kita ke rumah sakit!"
"Siapa yang sakit?" tanya Wine tak kalah terkejutnya.
"Ayo!"
__ADS_1
Wisnu yang berjalan sangat cepat, Wine sedikit berlari berjalan di belakangnya dengan tangan saling berpegangan memasuki lift yang terbuka menuju basement dimana mobil Wisnu parkir.
Bersambung.....