
Drrt drrt
Ponsel Wine bergetar, Wine segera menjawab panggilan telepon yang masuk.
"Halo, Neng Wine!" terdengar suara ibu kosan.
"Halo ibu!"
"Kamu di mana neng Wine?" Ini sudah jam berapa?"
"Iya, sebentar lagi Wine pulang!"
"Ingat jam 10 malam gerbang kosan ibu tutup."
"Baik bu."
Wine menutup sambungan telepon yang sambil melihat ke arah Wisnu.
"Ibu kosan yang menelepon mu?"
"Iya."
"Ayo, aku antar kamu pulang!" ucap Wisnu.
Saat menuju ke kosannya, Wine meminta Wisnu untuk berhenti motornya di pinggir jalan dekat taman kota itu, dimana taman kota inilah, tempat dimana Wine bersama papinya sering menghabiskan akhir pekan. Sepintas kenangan masa kecil itu melintas di pelukan matanya.
Suasana malam ini lebih dingin karena dari tadi siang diguyur hujan lebat, meskipun begitu gemerlap lampu taman menghiasi indahnya malam. Malam ini tidak terlalu ramai karena hujan yang deras dan tiupan angin tadi sore membuat ada beberapa pohon di taman kota yang tumbang. Biasanya banyak orang dan anak-anak yang berjalan dan duduk-duduk di taman.
"Ayo kita duduk di sana!" ucap Wisnu.
Wisnu memarkirkan motornya di pinggir jalan, kemudian mereka berjalan bergandengan, Wisnu memperhatikan langkah kaki Wine yang lambat dan pelan.
"Apa kamu lelah?" sini ku gendong!
Wisnu berjongkok dan menawarkan punggungnya. Wine pun naik ke atas punggung, dimana Wisnu akan menggendongnya sampai ke bangku taman itu.
Saat duduk di bangku taman kota, ingatan masa kecilnya melesat, membawanya teringat keceriaan bersama papinya. Tampak dari kejauhan seorang pengamen yang sedang berjalan, Wisnu memanggilnya.
"Bang, sini!"
Pengamen itu pun menghampiri, kemudian Wisnu membisikkan sesuatu pada pengamen itu. Pengamen itu mengangguk kepalanya kemudian ia mulai menyanyikan sebuah lagu cinta. Namun suara pengamen itu terdengar memekakkan telinga. Wine tersenyum lebar, seketika tawanya pecah. Wisnu pun tertawa geli lalu meminta agar lagu yang dinyanyikan di hentikan dengan memberi uang kepada pengamen itu.
"Mengapa bukan kamu saja yang menyanyikan lagu itu untukku?"
"Aku gak bisa bernyanyi, sayang!"
"Ayo, kita pulang!"
Udara malam semakin dingin
Wisnu melepaskan jaket yang ia kenakan kemudian memberikan dan memakaikan jaket itu kepada Wine
*Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.*
Katrina sedang duduk menghadap laptopnya, tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sampingnya berbunyi.
"Halo!"
"Bagaimana dengan kabar Windy, Katrina?"
"Apa dia baik-baik saja?"
Terdengar suara lelaki yang sangat parau dan berat dari sana.
"Ini dengan siapa?"
__ADS_1
"Hahahaha..Apa kamu sudah lupa Katrina?"
"Apa mau mu?" teriak Katrina.
Tet...Tet..Tet..
Sambungan telepon pun terputus.
Terlihat wajah Katrina yang tegang dan cemas. Dilihatnya kembali nomor telepon yang baru saja menghubunginya. Ia mencoba menghubungi nomor tersebut namun tak tersambung. Katrina teringat akan putrinya, dengan ponsel yang masih di tangannya, Katrina mencoba menghubungi namun tak ada jawaban.
Sementara Wine tak menyadari jika ponselnya bergetar saat Wisnu menyalakan mesin motornya, Wine segera naik dan duduk di belakangnya sambil berpegangan erat di pinggang Kekasihnya itu. Motor melaju menembus udara kota yang dingin untuk mengantarkan Wine kembali ke kosannya.
******
Keesokan harinya.
Wine...Wine
Terdengar suara keras memanggil, memecahkan kesunyian pagi. Wine membuka jendela kamarnya.
"Iya bu!" sahut Wine.
"Mamih neng, telepon!"
Ibu kos menyuruhnya turun menunjukkan ponsel di tangannya. Wine buru-buru turun, melewati anak tangga dan mengambil ponsel yang di sodorkan padanya.
"Halo mamih sapa Wine.
"Kamu baik-baik saja sayang, semalam mamih menelepon mu." Kenapa tidak kamu jawab telepon dari mamih?
"Maaf, Wine tidak tahu mamih menelepon semalam!"
"Ya, sudahlah, mamih sudah urus tiket kepulangan mu untuk penerbangan jam 2 siang ini!"
"Iya, bersiaplah ke bandara!"
"Baik mamih!"
Wine menutup telepon dan mengembalikan ponsel kepada ibu yang punya kosan.
"Ponselmu tidak bisa dihubungi, jadi mamih mu menelepon ke ponsel ibu!" ucap ibu kosan
"Iya semalam baterainya lowbat, bu!"
"Cas baterai hape mu ya!"
"Baik, terima kasih bu!"
Wine bergegas kembali ke kamarnya, kepulangan Wine yang mendadak, membuat ia tak sempat memberitahukan kepada Wisnu. Selama perjalanan menuju ke kota Denpasar, Bali. Wine menjadi gelisah, kuatir Wisnu mencarinya atau malah marah padanya. Wine mencoba menghubungi Wisnu setelah pesawat mendarat di bandar udara internasional Ngurah Rai, namun ponsel kekasihnya tidak bisa dihubungi. Wine melihat jam tangannya menunjukkan pukul 16:15 sore. Seharusnya Wisnu bisa dihubungi atau mungkin Wisnu ada rapat di kantornya, gumamnya dalam hati.
Di depan pintu kedatangan, Katrina sedang menunggu putri kesayangannya tiba. Wine melambaikan tangannya saat melihatnya dari kejauhan. Katrina pun melambaikan tangannya saat melihat Wine berjalan menuju pintu keluar kedatangan.
"Sayang", Katrina memeluk putrinya. "Bagaimana perjalananmu, melelahkan",? tanya Katrina.
" Iya, mamih ucap Wine.
Sampailah Wine menginjakkan kakinya di rumahnya kembali. omah yang tengah duduk di ruang tamu, mendadak berdiri dan berjalan menuju kamarnya, melihat kehadiran Wine. Suatu keadaan yang menjadi beban pikiran dan kegundahan hatinya, dimana omah yang tidak lain adalah neneknya sendiri namun tak pernah berbicara padanya, Omah selalu membisu dan tidak pernah menunjukkan rasa kasih sayang kepadanya. Omah terkesan angker dimata Wine. Omah selalu membisu dan tak menyukai keberadaan Wine.
Sosok omah begitu menghantui pikirannya dengan sikapnya terkesan seakan Wine tidak pernah ada di matanya. Katrina sangat memahami apa yang dirasakan oleh putrinya tentang sikap ibunya terhadapnya Wine, namun Katrina lebih memilih diam dan membiarkan situasi itu daripada menjelaskan pada Wine. Katrina jalan terburu-buru menuju kamar omah sementara Wine melihat ada ketegangan di raut wajahnya.
"Neng sudah datang!"
Mbok Lastri menyapa Wine dengan ramah dan mengambil tas koper milik wine dari tangan Wine, kemudian membawanya masuk ke kamar. Wine langsung menuju kamar, merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memegang ponsel dan mengirim pesan buat Wisnu.
*Maaf tidak memberitahu kepulangan ku hari ini*.
__ADS_1
Isi pesan yang Wine tulis.
Drrrtt... drrrtt
Ponsel bergetar, tampak di layar panggilan masuk dari Wisnu.
"Sayang, kamu dimana?
terdengar suara Wisnu dari sana.
"Bali, maaf baru bisa memberitahumu!"
"Apa, Bali?" terdengar suara yang terkejut.
"Iya, maaf Wisnu!"
"It's oke, aku tunggu kepulangan mu, sampaikan salamku buat calon mertuaku!"
"Iya sayang, nanti aku sampaikan!"
senyum Wine terkembang mendengar ucapan Wisnu.
"Aku ada rapat, sudah dulu ya!"
Sambungan pun diakhiri, Wine kembali merebahkan tubuhnya. Rasa lelah selama perjalanan membuat ia terlelap sesaat. Wine terjaga dari tidurnya saat mendengar teriakan dari kamar belakang seperti ada orang yang sedang bertengkar.
Wine berjalan mengendap-endap menghampiri sumber suara dan mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
"Sampai kapan kamu selalu diam padaku, Katrina!" bentak omah.
"Ibu tolong, jangan campuri urusanku!"
"Aku berhak tahu urusanmu, kamu anakku, Katrina!
"Ibu, tolong!"
"Katakan semua padaku atau kamu nanti menyesal tentang anak itu!" suara omah terdengar begitu keras.
Wine melangkah mundur namun ia menyenggol vas bunga sehingga terjatuh dan menimbulkan suara gaduh.
Brrraaak
Vas bunga jatuh dan pecah berserakan di lantai. Mamih keluar dari kamar omah mencoba untuk membantu Wine yang sedang memunguti pecahan kaca. Wine melihat ada butiran air mata di pelupuk matanya.
"Kamu sudah bangun, Wine!"
"Iya, maaf tidak sengaja menjatuhkan vas bunga ini mamih!"
"Sudah tidak apa-apa, biar si mbok yang akan membereskan!"
Terlihat wajahnya yang masih terlihat tegang walaupun Katrina berusaha menyembunyikan dari putrinya. Wine tau pasti ada masalah yang sangat besar antara mami dan omah sehingga terjadi pertengkaran tadi. Dengan suara yang sedikit tertahan, Wine mencoba menanyakan apa yang baru dia dengar tadi.
"Mengapa omah begitu marah, mamih?"
"Tidak, sayang!"
"Apakah Wine yang membuat mamih bertengkar dengan omah?"
"Tidak, sayang!"
"Siapa anak itu mamih?"
Katrina terkejut saat Wine menanyakan itu dan ia terlihat sangat gugup saat Katrina mendengar pertanyaan itu dari mulut putrinya sendiri.
Bersambung......
__ADS_1