
"Lima tahun lamanya ayah mencari mu, sekarang kamu datang dengan membawa anak?"
Pergi kamu!!!"
Ayah tidak sudi mempunyai anak sepertimu apalagi cucu dari mu!!!"
Suara bentakan keras itu menggelegar.
"Ayah maafkan, Katrina!"
Kamu sudah mencoreng wajah ayah, kamu kawin lari dengan lelaki itu yang jelas-jelas keluarganya tidak menginginkan dirimu!!!"
"Apa yang kamu dapatkan sekarang dari orang kaya itu??"
"Kamu di campakkan!!!"
"Tidak, ayah, tidak seperti itu!"
"Seperti apa menurutmu, Jawab???"
Seketika lelaki tua itu menahan rasa sakit di dadanya kemudian Ambruk.
"Ayah, Ayah, Ayah!!!"
Katrina terbangun, tersentak dari mimpinya, peristiwa masa lalu itu hadir kembali di dalam tidurnya, Katrina menangis.
Krekkk..
"Nyonya, air hangat sudah tersedia,"ucap mbok Lastri.
"Iya, mbok."
Katrina beranjak dari tempat tidurnya lalu sesaat berdiri di depan cermin. Katrina teringat seseorang.
"Mbok!"
"Iya, Nya!"
"Mbok tau dimana alamat Heru sekarang?"
"Kurang tau tapi orang tuanya tinggal di daerah desa rembong, kebetulan mbok punya saudara yang tinggalnya tidak jauh dari kediaman orang tua Heru!"
"Oh, begitu mbok, saya sudah sering sekali menghubunginya namun seperti ia sudah mengganti nomor ponselnya."
"Sepertinya mbok punya kok nomor ponselnya yang baru, sebentar mbok ambilkan!"
"Ga usah mbok!" entar siang mbok coba hubungi Heru dan kasih tau dia kalau saya ingin bertemu."
"Baik, Nya!!" Apa ada masalah yang serius tentang neng Wine, Nya?"
"Iya, mbok!"
"Sebaiknya, nanti siang mbok coba hubungi Heru."
"Baik, Nya!"
Katrina bergegas masuk ke kamar mandi.
30 menit kemudian.
"Mbok Lastri!"
"Iya, Nya!"
Tolong jaga omah, saya mungkin pulang larut malam, mbok!"
__ADS_1
"Baik, Nya!"
Pagi begitu cerahnya, jalan masih sangat sepi, Katrina melajukan kendaraannya menuju kantornya. Selama perjalanan ingatannya kembali pada peristiwa 15 tahun yang lalu yang telah menghancurkan hidup dan mimpinya bersama putrinya.
Setelah ia bisa melepaskan diri dari cengkeraman seorang lelaki jahat itu, yang telah merubah total hidupnya. Katrina lari bersembunyi agar keberadaannya tidak diketahui, tapi setelah kepulangannya dan mengetahui jika Wine berteman dengan seseorang yang mungkin saja putri dari Liliana, kegelisahan dan rasa takut itu semakin menjadi-jadi menghantuinya, apa lagi sederetan peristiwa masa lalunya yang begitu menyudutkannya.
Entah bagaimana mana Katrina bisa menjelaskan kepada omah, sementara Katrina harus siap untuk menceritakan kepada Wine siapa papinya dan dimana keberadaannya. Meskipun Katrina tahu, dia tidak akan bisa menutupi ini selamanya dari ibunya dan putrinya. Keputusan untuk menikah dengan Cakra tanpa restu kedua orang tua keduanya 20 tahun yang lalu itu telah membawanya dalam masalah hidup yang rumit hingga ia memiliki seorang anak dari seseorang yang dia tidak tahu siapa ayah sebenarnya dari putri yang dikandung dan dilahirkannya itu. Katrina terjebak dalam dendam seseorang yang kini meluluhlantakkan kehidupannya.
"Arghhh!!!!"
"Begitu bodohnya aku!!!"
Katrina mengeram dan memukuli stir mobil berulang kali. Terlihat jelas wajahnya memerah penuh dengan amarah. Katrina tersentak saat mendengar bunyi klakson beruntun. Ternyata lampu hijau telah menyala, Katrina segera melajukan mobilnya.
*******
Sore itu
Katrina baru saja beranjak dari meja kerjanya, terdengar suara ponselnya berdering, tampak di layar ponsel tertulis nama Rossi, segera Katrina menjawab panggilan itu.
"Iya, Ros."
"Bagaimana keadaanmu, Katrina?"
"Baik."
"Kebetulan kamu menelepon," Rossi!
"Bagaimana keadaan Wine di sana?" aku harap kamu bisa mengawasi Wine lebih ketat lagi.
"Kamu jangan kuatir, Wine sudah ku anggap seperti Anakku sendiri!"
"Oh, iya.. Apakah teman Wine yang bernama Melda itu selalu mengunjungi Wine ke kosan?"
"Hampir setiap hari, memangnya kenapa?"
"Apa???""
"Sebenarnya apa yang terjadi??"
"Wine, sering pergi bersama Melda bahkan menginap di rumahnya!"
"Apa Rossi?"
"Mereka sudah lama dekat, bahkan hampir setiap hari bertemu, bagaimana caranya aku untuk menjauhkan Wine?"
Katrina terdiam, seluruh tubuhnya menjadi lemas mendengar penjelasan dari Rossi. Sementara Rossi di seberang telepon masih memanggil Katrina.
"Katrina, rina!"
Rossi melihat ke ponselnya, panggilan telepon pun terputus. Sementara hati Katrina semakin mengkuatirkan putrinya.
"Jangan-Jangan Wine sudah bertemu dengan Cakra!" Gumamnya.
Terlihat rona kegelisahan di wajahnya, Katrina langsung mengambil ponselnya. Berkali-kali Katrina menghubungi Wine namun panggilan itu tak kunjung terjawab. Akhirnya Katrina kembali menghubungi Rossi.
"Rossi, Angkat!"
Katrina kelihatan begitu gelisah, berkali-kali ia mencoba menghubungi Rossi, dan tak lama kemudian telepon seluler pun tersambung.
"Iya, Katrina!"
"Rossi, aku ingin kamu bisa untuk melarang Wine berteman dekat dengan Melda. Aku akan ceritakan semuanya kepadamu."
"Baiklah!!!"
__ADS_1
"Bagaimana Minggu depan kamu ke tempat ku, aku akan siapkan tiket penerbangan untuk mu juga penginapan di sini?"
"Okeh, kebetulan minggu depan anak-anak kos masih liburan semester, jadi aku bisa ketempat mu, apalagi aku ingin sekali tahu di mana kamu tinggal sekarang, Katrina."
"Terimakasih Rossi, besok aku telepon kembali, aku akan siapkan penerbangan untuk mu.
"Okeh, ku tunggu!!!"
Setelah Katrina menutup teleponnya, Rossi langsung menuju kamar Wine untuk melihat, apakah Wine ada di kamarnya atau tidak? Baru saja Rossi mau mengetuk pintu kamar, tiba-tiba Maia anaknya keluar dari kamar Wine.
"Mama!"
"Ada Wine di kamarnya?"
"Barusan aja pergi!"
"Sendiri atau bersama Melda?"
"Sendiri, tadi bilangnya sih ke perpustakaan kampus."
"Coba kamu telepon Mai, sekarang dia di mana!"
Maia langsung mengambil hape yang berada di kantong celananya. Kemudian ia menelpon Wine namun sudah beberapa kali mengulang panggilan tetap saya tidak ada jawaban. Rossi tampak semakin kuatir.
"Ya sudah, nanti coba kamu ulangi lagi!"
"Baik mah!"
***********
Pukul 22: 21 WITA.
"Maaf, sekali lagi saya ucapkan terima kasih, suster telah mengizinkan saya untuk menjenguk," ucap Katrina.
"Tidak apa-apa kami juga disini mengerti kesibukan ibu Katrina."
"Saya titip bapak kalo ada perkembangannya, tolong cepat hubungi saya suster."
'Baik bu."
Katrina berjalan sendiri melewati terowongan rumah sakit, malam sudah semakin larut. Katrina menuju tempat parkir.
"Mana anak ku, kembalikan anakku!"
Seorang wanita dengan rambutnya yang berantakan, berdiri di hadapan Katrina, matanya tajam penuh amarah. Kemudian wanita itu menarik tangan Katrina.
"Kamu yang mengambil Anakku!"
Dua orang suster berlari dan dengan cekatan memegang tangan wanita itu. Menuntun wanita itu masuk kembali ke dalam rumah sakit. Sementara Katrina bergegas masuk ke dalam mobilnya, sejenak Katrina menghela nafas panjang untuk membuang keterkejutannya. Kemudian ia mengendarai mobilnya, jalanan sudah sangat sepi. Katrina melajukan kendaraannya.
2 jam kemudian
Setibanya di rumah, Katrina duduk di sofa ruang tamu, melepaskan kepenatannya.
"Nyonya, mau di siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Mbok Lastri.
"Tidak mbok, bagaimana, apa mbok sudah bisa menghubungi Heru?"
"Sudah, minggu depan dia akan menemui Nyonya!"
"Maaf, kalau mbok boleh tau, kenapa nyonya ingin bertemu dengan heru? apa ada hubungannya dengan tuan besar?"
Katrina menganggukkan kepalanya, seketika air matanya jatuh tak terbendung, terlihat jelas kesedihan mendalam di wajah Katrina. Mbok Lastri yang selalu setia menemani Katrina semenjak dia menikah siri dengan Cakra Wicaksana, putra tunggal dari seorang pengusaha kaya raya yang sukses Adipura Wicaksana.
Setelah Katrina menikah siri, Cakra sengaja menyembunyikan keberadaan Katrina dan tinggal di sebuah villa di pinggir kota. Dan Mbok Lastri lah yang di percaya oleh Cakra untuk menjaga dan mengurus segala keperluan dari Katrina. Mbok Lastri tau segala peristiwa yang menimpa Katrina dan Cakra. Mbok Lastri langsung memeluk Katrina.
__ADS_1
"Mbok, apa yang harus aku lakukan??"
Bersambung..