
Wine hanya memperhatikan wajah Wisnu yang kelihatan tegang, terlihat sekali ia berusaha untuk tenang saat mengendarai mobil menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Wisnu langsung menuju ruang IGD.
"Tunggu di sini saja!"
Wine menganggukkan kepalanya, lalu duduk di ruang tunggu sementara Wisnu masuk ke dalam ruang IGD.
Lama menunggu, Matanya tertuju pada seseorang yang sedang bertanya pada seorang resepsionis tak jauh dari tempat duduknya. Kemudian lelaki itu buru-buru masuk ke dalam ruangan IGD.
Wine seakan pernah bertemu dengan lelaki itu, lama ia mencoba mengingat, sebelum Wisnu datang dan duduk di sampingnya. Wajah Wisnu masih terlihat tegang, Wisnu menarik nafasnya kemudian mengeluarkannya pelan-pelan.
"Gimana keadaan papamu?" tanya Wine.
"Alhamdulilah, Papa sudah sadar, sekarang menunggu hasil laboratoriumnya dulu!"
"Aku mau urus administrasinya!"
Pandangan Wine tak lepas memperhatikan Wisnu yang berjalan menuju ruang administrasi rumah sakit dan beberapa saat kemudian tampak Wisnu kembali dengan terburu-buru masuk kembali ke ruang IGD. Cukup lama Wine menunggu, sesaat kemudian tampak bersama Pria setengah baya yang tadi dilihatnya di ruang resepsionis rumah sakit. Pria itu melihat ke arah Wine yang sedang duduk di ruang tunggu.
"Sebaiknya kamu tenang, papa lagi diperiksa!" ucap pria setengah baya itu sambil memukul pundak Wisnu.
"Kenapa papa bisa terjatuh di kamar mandi, om?"
"Om juga tidak tahu." sambil menggelengkan kepalanya.
Wine beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di samping Wisnu. Wajah itu seakan tidak asing lagi, ternyata dia adalah seorang yang pernah dilihatnya di kampus dua Minggu yang lalu.
"Om Dimas, Kenalkan ini Wine!"
Wine tersenyum dan memberi salam, terdengar suara seorang suster memanggil nama pasien, Wisnu langsung menghampiri suster tersebut. Suster mempersilahkan agar keluarga pasien segera menemui dokter di ruang IGD.
Wisnu bergegas masuk, sementara Wine dan Om Dimas menunggu di ruang tunggu.
"Siapa tadi namamu?
"Wine om!"
"Cantik seperti namamu!" Wine tertunduk malu.
"Ayo kita lihat keadaannya!"
Wine pun berjalan mengikuti Om Dimas menuju sebuah kamar, dimana papi Wisnu sedang terbaring lemah. Terlihat Wisnu tengah berbicara dengan seorang dokter, sesaat kemudian Wisnu menghampiri Wine dan Om Dimas.
"Apa kata dokter, Wisnu?" tanya Om Dimas.
"Papa hanya butuh istirahat Om."
"Syukurlah, kalau begitu Om pulang dulu ya!"
"Masih ada janji dengan klien."
"Terima kasih, Om Dimas."
Om Dimas tersenyum ke arah Wine, kemudian melangkah keluar lobby rumah sakit. Wine masih tidak melepaskan pandangannya dari sosok Om Dimas yang telah menghilang.
Sebuah senyuman dan wajah yang tidak asing. Seakan bukan pertama kalinya Wine melihatnya. Wisnu mengangkat tangannya lalu meletakkan di pundak Wine dan merangkulnya.
"Apa kamu mau menemani ku di sini!"
"Lebih baik aku pulang saja, Biar kamu bisa lebih fokus untuk menjaga Papamu di sini!"
"Ku antar kamu pulang!"
__ADS_1
"Tidak usah Wisnu, Aku bisa pulang sendiri!"
Wisnu mengeratkan rangkulan tangannya di pundak Wine berjalan keluar dari lobby rumah sakit. Sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit dan membuka kaca mobilnya, Ternyata Om Dimas.
"Wisnu, mau kemana?" tanya om Dimas sambil membuka kaca mobilnya.
"Menunggu taksi Om!" sahut Wisnu.
"Bareng Om Dimas saja!"
Wisnu melihat ke arahnya Wine yang berada di sampingnya.
"Bareng sama om Dimas pulangnya, gimana?"
"Boleh," jawab Wine.
Wisnu membukakan pintu mobil, Wine masuk dan duduk di samping Om Dimas.
"Hati-hati, kalo sudah sampai kabari aku!" seru Wisnu.
"Oke."
Melihat ke arah Wisnu dan melambaikan tangannya. Mobil yang dikendarai om Dimas melaju. Wine melihat ke arah dan memperhatikan Om Dimas lalu tersenyum kemudian menundukkan kepalanya.
"Kamu tinggal dimana?"
"Indekos, tidak jauh dari kampus Universitas Vienna," jawab Wine.
"Oo, berarti satu kampus kuliahnya sama Wisnu!" seru Om Dimas.
"Iya, Om!"
"Orang tuamu tinggal di mana?" penuh antusias.
Selama perjalanan menuju kosannya, Om Dimas bercerita tentang indahnya pariwisata kota Bali. Senyum Om Dimas, mengingatkan pada seorang tapi Wine sulit mengingat siapa pemilik senyum itu. Selama mengobrol, Wine berusaha untuk mengingat.
"Apa pernah dulu ia bertemu dan mengenal sosok Om Dimas sebelumnya?" tanya Wine dalam hati.
Dua hari kemudian.
Drrrtt drrrrtt
Ponsel Wine bergetar, nama Wisnu muncul di layar ponselnya. Wine yang baru saja terjaga dari tidurnya. Di layar ponsel terlihat nama wisnu. Wine langsung menjawab panggilan.
"Halo?" kata Wine yang berusaha membuka matanya.
"Sayang, nanti kita ketemuan di kampus ya!"
"Gimana keadaan papa mu sekarang?"
"Hari ini Papah sudah bisa pulang!"
"Jam 1 siang ku tunggu di kampus!" ucap Wine
"Oke!"
"Bye, Love you."
Sambungan ponsel terputus, Wine meletakkan Ponselnya di atas meja belajar. Wine menuju ke kamar mandi.
Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Wine karena Ini hari terakhir Wine menyelesaikan ujian tengah semester setelah Minggu kemarin tertunda.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 01: 15, Wine beranjak dari tempat duduknya kemudian ia mengumpulkan kertas ujiannya dan kembali ke tempat duduknya. Wine segera mengaktifkan kembali ponselnya. Terlihat ada pesan yang masuk dari Wisnu.
"Ku tunggu di kantin."
Wine mengambil tasnya kemudian keluar kelas,
dari kejauhan terlihat Melda yang melambaikan tangannya.
"Wine tunggu!"
Terdengar suara Melda memanggilnya. Wine menghentikan langkahnya, melihat Melda yang berlari menghampirinya dengan nafas tersengal-sengal.
"Kamu mau kemana?" tanya Melda.
"Kantin!"
"Nggak biasanya kamu jajan di kantin!" ucap Melda.
"Wisnu menunggu ku di kantin!"
"Apa?"
Melda menarik tangan Wine.
"Jadi benar gosip pagi ini, kalau kamu udah jadian sama Wisnu?"
"Iya." Wine mengangguk.
"Iya, jadi itu benar?" Melda langsung memeluk Wine.
"Selamat, Aku senang mendengarnya Wine!" ucap Melda.
Mereka pun berjalan bergandengan menuju kantin. Setibanya di kantin, Wisnu segera berdiri dan beranjak dari tempat duduknya saat melihat Wine dan Melda yang berjalan datang menghampirinya.
Pepi menggoda Wisnu sambil menepuk bahunya.
Emmh.. Emmh..
"Asyik yang baru jadian."
Wisnu dengan mesrah meraih dan memegang tangan Wine di depan Pepi dan Melda.
"Kami jalan dulu ya!" ucap Wisnu.
Wisnu tak melepaskan pegangan tangannya, sementara begitu banyak mata tertuju pada mereka berdua. Wisnu seakan ingin memperlihatkan kemesraannya bersama Wine di kampus, yang membuat banyak dari teman-teman yang menggoda sambil bersiul dan bersorak.
"Lepaskan tanganku!" Wine berbisik.
"Kenapa?"
"Kamu tidak mendengar dan melihat teriakan orang-orang di kampus itu!" seru Wine dengan suara tertahan.
"Aku Tidak peduli, mereka harus tahu sekarang kamu pacarku!"
Wine menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya dari Wisnu. Tampak jelas Wine tidak menyukai sikap Wisnu yang berlebihan kepadanya. Kemudian Wine berjalan meninggalkan Wisnu di belakang. Saat menuju gerbang kampus, Wine melihat Om Dimas yang sedang berdiri di area parkiran. Langkah Wine pun terhenti.
"Kenapa sayang?" tanya Wisnu.
"Itu Om Dimas!" seru Wine.
"Iya, biasanya Om Dimas menemui Melda!" ucap Wisnu.
__ADS_1
Bersambung….....