
Pintu terbuka, seorang anak laki-laki seumuran Melisa berlari kecil mendekat dan memeluk Melda kemudian berbicara dengan bahasa isyarat.
"Ini adikmu juga Melda?" tanya Wine.
"Iya, ini Robby, saudara kembar Melisa tapi sayang kedua adik kembar ku tuli dan bisu, ucap Melda."
Ini pertama kalinya ia berkunjung ke rumah Melda, walaupun sudah berteman dekat hampir tiga tahun lamanya. Namun di hari ini pula sebuah foto telah mengejutkannya, meskipun hatinya diliputi kesedihan dan rasa ingin tahu namun ada rasa bahagia yang terselip di hati. Bermain bersama Melisa dan Robby membuat Wine sedikit melupakan tentang foto yang dilihatnya itu. Sore telah beranjak malam, Wine menoleh ke jam tangannya.
"Aku pulang ya, Melda seru Wine."
"Lho kenapa?" tanya Melda yang setengah melotot ke arah Wine.
"Besok pagi aja, nanti sopirku yang mengantarkan kamu!" ucap Melda.
Wine mengambil tasnya dan menghampiri sahabatnya itu.
"Maaf, Mel...Aku belum pamit sama ibu kosan ku tadi."
"Okeh kalau begitu!" lain kali kamu harus menginap di rumahku, ucap Melda.
Mobil yang mengantarkan Wine melaju di tengah hiruk-pikuk kota. Warna warni lampu kota malam minggu memberikan keceriaannya. Namun malam itu hati Wine diliputi segala pertanyaan. Pikirannya menerawang jauh pada foto yang dilihatnya itu. Apakah Melda dan dia memiliki hubungan darah atau ini hanya sebuah kebetulan saja. Malam ini menyisakan segudang pertanyaan di hatinya.
Tak terasa mobil yang membawanya telah sampai di gerbang kosan.
*****
Masih terlalu pagi, perutnya sudah berdansa dan memainkan irama musik keroncong.
kreek...kreek
Wine membuka pintu pagar kos dengan sangat pelan dan hati-hati sekali, takut suara pintu pagar itu mengganggu penghuni kosan yang lain yang masih terlelap tidur.
"Kak mau kemana?" suara Maia mengagetkannya.
"Ssst...cari sarapan!" ucap Wine dengan suara pelan.
" Maia ikut kak!" serunya sambil buru-buru memakai sandal jepitnya.
Di perjalan menuju kantin ibu Entin, Maia memberitahu kalau kemarin ada seorang laki-laki mencarinya.
"Kak wine pulangnya malem banget!" kemaren ada temen kak wine yang mencari, ucap Maia.
"Siapa, ada pesan gak?" tanya Wine.
"Enggak sih!" Kalo gak salah namanya Wisnu. Orangnya ganteng kak, ucap Maia.
Wine hanya tersenyum melihat tingkah laku kocak Maia terpesona yang tersipu-sipu melihat ketampanan Wisnu. Selama perjalanan Maia tak hentinya berkhayal dan membayangkan untuk memiliki kekasih seperti Wisnu. Sampai akhirnya Wine di kantin bu Entin yang baru saja dibuka. Mereka memesan makanan dan membungkusnya untuk dibawa pulang.
"Kak nanti aku sarapan di kamarmu ya," ucap Maia.
"Oke, kita sarapan bareng sahut Wine."
__ADS_1
Setibanya di kosan, ibu yang punya kosan memanggil Wine sambil membawa bungkusan kado di tangannya. Wine yang sedang mau menaiki tangga menuju kamarnya pun menghentikan langkahnya.
"Neng Wine, ini ada kado!" ucap ibu kosan sambil memberikan ke tangan Wine.
"Terima kasih bu, tapi ini dari siapa ya bu?" tanya Wine.
"Itu temen neng yang sering kemari tadi sopirnya yang mengantarkan kado itu buat Eneng."
Drrt..drrt
Wine membawa kado itu ke kamarnya dan meletakkan di atas kasurnya, terdengar suara ponselnya berbunyi. Nama Melda muncul di layar ponselnya. Wine tidak langsung menjawab panggilan itu, ada keraguan di hatinya dan akhirnya Wine menjawab panggilan itu.
"Halo?", kata Wine.
"Wine, Kamu sudah terima kadonya?" terdengar suara dari seberang sana.
"Sudah, terima kasih ya..!"
"Semoga kamu suka!" seru Melda.
Sambungan telepon pun terputus. Wine membuka bungkusan kado itu, begitu terkejutnya Wine melihat isi dari kado itu. Sebuah Boneka Panda. Ada tulisan yang menempel pada Boneka itu.
" Buat Anak ayah yang manis.
" Maafkan jika ayah sering
meninggalkanmu, sayang.
" Papi lihat di sana, di toko itu!!!" seru Wine sambil menarik tangan papinya.
" Wine mau boneka panda itu papi." ucap Wine.
"Iya sayang, sebentar yah!"
Seorang pramuniaga yang sedang mengambil boneka itu dan memasukan dalam kantong belanja berjalan menuju kasir. Papinya Wine menanyakan boneka itu padanya.
"Maaf tuan, boneka ini hanya sisa satu ini dan milik ibu yang di sana itu!" ucap pelayan toko itu sambil meletakkan boneka panda di atas meja kasir.
Wine kecil tertunduk lesu dan menangis.
"Papi janji akan membelikan yang lebih bagus lagi untukmu!"
Uhuh....
Wine menarik nafasnya panjang, sesak dadanya membuat butiran kristal dari matanya terjatuh membasahi pipinya. Masih sangat jelas kenangan itu di pelupuk matanya. Sebuah permintaan yang tak kunjung didapatkannya. Kemarin sebuah foto yang dilihatnya di rumah Melda telah mengejutkannya dan pagi ini sahabatnya memberikannya kado yang sama persis seperti yang dia minta dulu.
Terdengar suara Maia dari balik pintu kamar kosnya yang tidak tertutup rapat.
" Kak boleh aku masuk?"
Wine segera menghapus air matanya agar tak terlihat oleh Maia kalau dirinya sedang menangis. Wine sosok yang tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapapun, dia adalah pribadi yang sangat tertutup.
__ADS_1
"Iya, masuk Maia!" seru Wine sambil memperbaiki raut wajahnya dengan tersenyum pada Maia.
"Kak Wine sudah sarapan?" tanya Maia.
"Belum, Mai!" jawab Wine sambil mengambil bungkusan makanan yang diletakkan di atas meja belajar.
"Maaf ya kak, tadi aku sarapan bareng sama ibu," ucap Maia.
"Iya, enggak apa-apa Mai!" ucap Wine sambil menyantap makanannya.
Wine mengunyah makanannya walaupun dia sebenarnya tidak berselera lagi. Dia menelan makanan itu agar perutnya yang kosong terisi, walaupun dia harus mendorong makanan itu dengan air minum.
" Lucu sekali boneka ini!"
"Ini kado yang tadi ya kak?" tanya Maia.
" Iya Maia!" sahut Wine.
Maia mengelus boneka itu dan sesekali menciumnya.
"Kak Melda baik sekali ya!" seru Melda.
"Boneka ini, sepertinya mahal deh kak," ucap Maia.
"Hari ini kak Wine gak kemana-mana kan?" tanya Maia sambil terus mengelus boneka itu.
"Nanti agak siangan, mau keluar jalan-jalan sama teman!" jawab Wine.
"Dengan kak Melda ya, aku boleh ikut gak?" tanya Maia.
"Bukan Maia".
"Lalu dengan siapa?" tanya Maia.
" Ada deh!!" kata Wine sambil tersenyum dan meledek kearah Maia.
"Selamat bersenang-senang yah kak!" ucap Maia sambil keluar kamarku dan membawa boneka panda itu bersamanya.
Ponsel Wine kembali berbunyi kali ini pesan yang masuk dari Wisnu.
"Hello, Wine?" terdengar suara dari seberang sana.
"Nanti aku jemput jam 10:00!" terdengar suara Wisnu yang begitu bersemangat.
"Okeh!'"
"Bye, sampai ketemu nanti ya!"
Sambungan telepon pun terputus. Wine meletakkan kembali ponselnya di atas meja belajarnya, sebuah perasaan gaduh yang menyelimuti hati dan pikirannya, namun ia tak mampu membatalkan janji yang telah dibuatnya dengan Wisnu tempo hari.
Bersambung.......
__ADS_1