
Beberapa saat Wine terdiam, memperhatikan om Dimas di pelataran parkiran mobil. Dan kemudian terlihat Melda menghampiri dan mencium tangan om Dimas.
"Ayo!"
Wisnu memegang tangan Wine dan menariknya. Namun Wine melepaskannya kemudian berjalan meninggalkan Wisnu.
"Wine, ada apa ?"
"Tunggu, kamu mau kemana?"
"Pulang ke kosan ku!" sahut Wine.
Wine berlalu meninggalkannya namun Wisnu yang masih saja mencoba menghentikan langkah Wine yang berjalan begitu cepat di depannya.
"Wine!"
Wisnu berteriak mencoba menghentikan langkah Wine. Langkahnya semakin menjauh meninggalkan Wisnu. Sementara Wisnu bingung melihat sikap Wine yang mendadak berubah padanya. Wisnu Pun membiarkan Wine pulang tanpa ditemani olehnya kembali kosannya.
Beberapa jam kemudian
Drrrtt..drrrtt
Ponsel Wine bergetar nama Melda muncul di layar panggilan.
"Halo?" Kata Wine.
"Wine, kamu masih bersama Wisnu?" terdengar suara Melda dari sana.
"Tidak, aku lagi di kamar ku!"
"Ada apa mel?"
"Besok ke rumahku ya!" Melisa dan Robby kangen padamu!"
"Baiklah"
"Sopir ku akan menjemputmu besok pagi."
"Oke"
Setelah Wine menerima telepon dari Melda, ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur, begitu banyak yang ia pikirkan. Ingin rasanya saat ini juga Wine menemui Melda di rumah. Rasa ingin tahu mulai mengusik hati dan pikirannya tentang sahabatnya itu.
Wine menghapus air mata yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipinya. Ia menarik nafas dan melepaskannya pelan-pelan, sebelum terdengar suara pintu kamarnya diketuk seseorang.
Tok...Tok
"Masuk!" seru Wine.
Maia hanya berdiri di depan pintu kamar yang dibukanya sedikit.
"Ada apa Maia?"
"Ada kak Wisnu di bawah, dari tadi dia menunggu kak Wine berdiri di depan pagar kosan!"
"Apa?"
Wine langsung berdiri dari tempat tidurnya dan melihat dari kaca jendelanya. Terlihat Wisnu yang sedang berdiri di luar gerbang kosannya sambil melihat ke arah luar jendela kamarnya. Wine melambaikan tangannya ke arah Wisnu. Mengingat sikapnya tadi siang terhadap Wisnu, entah mengapa saat melihat Melda dan Om Dimas tadi siang, membuat dirinya mengabaikan Wisnu.
"Tunggu, aku turun!" teriak Wine dari pintu jendelanya.
Wine bergegas keluar kamarnya menuruni anak tangga menuju lantai dasar kosannya lalu membukakan pintu pagar kosannya.
__ADS_1
"Hai!"
"Sorry, tentang sikapku yang tadi siang di kampus!"
"Iya, kamu baik-baik saja kan?"
"Maafkan aku!" Wine tersenyum
"Sebaiknya kita lupakan,"
Kita jalan yuk! kata Wisnu sambil melepaskan senyum manisnya.
"Oke, aku ganti baju dulu" sahut Wine.
Wine segera kembali ke kamarnya sekedar mengganti pakaian lalu bergegas menghampiri Wisnu yang telah menunggunya di ruang tamu kosan.
"Ayo, aku sudah siap!"
Wisnu yang tidak menyadari kalau Wine sudah ada di hadapannya tampak kaget melihat Wine yang sudah rapi dan lebih cantik.
"Kamu cantik sekali, sayang!" ucap Wisnu.
Wine tersipu malu mendengar pujian dari Wisnu, Kedua sejoli itu akhirnya berlalu dari kosan dengan motor gede.
******
Dua sejoli itu melesat, sore yang cerah menyusuri keramaian menuju sebuah pantai yang indah di pinggir kota.
"Cukup Wisnu, Aku capek" teriak Wine.
nafas Wine tersengal-sengal, berlari di pinggir pantai menghindari kejaran Wisnu. Sementara Wisnu masih saja mengejarnya. Wisnu menangkap dan memeluk wine yang tak sanggup lagi berlari sehingga membuat mereka terjatuh di pasir pantai.
"Aku berhasil menangkap mu!" teriak Wisnu.
Wine membersihkan pasir yang menempel di bajunya lalu duduk di atas pasir yang putih, Wisnu pun merangkul pundak Wine. Kedua tatapan itu bertemu, wajah Wine yang cantik dan Wisnu yang tampan menyatu dalam satu kecupan mesra di bibir.
"Aku sangat mencintaimu," bisik Wisnu di telinga Wine.
"Matahari itu akan terbenam," kata wine sambil menghentikan ciuman di bibirnya.
"Aku masih mau di sini, bersama mu!"
"Ayo kita pulang!" Ucap Wine. Menarik tangan Wisnu, namun Wisnu Pun melakukan hal yang sama sehingga membuat Wine terjatuh di pelukan Wisnu.
Kedua mata itu saling bertatapan, sementara matahari telah kembali ke peraduan.
"Aku mencintaimu!"
Wisnu kembali berbisik di telinga Wine.
"Ayo kita pulang!"
Motor Wisnu melaju di tengah keramaian kota, hiruk pikuk jalanan sudah tampak dipadati kendaraan seakan ikut memadati kota. Wine mendekap erat tubuh kekasihnya, sementara laju motor menebus dinginnya udara yang mulai menusuk tulang. Butuh waktu hampir satu jam, akhirnya laju motor gede itu pun berhenti tepat di depan kosan Wine.
"Besok ku jemput"! ucap Wisnu sambil melanjutkan laju motornya kembali.
"Aku sudah ada janji sama Melda!"
Teriakan Wine sepertinya tidak didengar Wisnu, sosoknya sudah menghilang melesat di tengah keramaian jalanan.
Jam menunjukkan pukul 20:45 saat Wine merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Ponsel Wine berbunyi, tampak di layar panggilan dari Wisnu.
__ADS_1
"Besok pagi aku jemput ya " terdengar suara Wisnu.
"Besok aku ada janji dengan Melda"
"Kalo begitu batalkan, besok aku ingin bersamamu," ucap Wisnu
"Tidak bisa Wisnu!"
"Batalkan sayang," Aku mencintaimu.
Sambungan telepon terputus, baterai ponselnya lowbat. Wine segera mengecas baterai ponselnya untuk kembali menghubungi Wisnu namun panggilan tak tersambung. Lama Wine menunggu telepon dari Wisnu, namun rasa kantuknya, membuatnya tertidur pulas sampai pagi.
*****
Tepat jam 7:00 pagi, Mobil yang akan menjemput Wine ke telah tiba di kosan. Wine masuk kedalam mobil yang akan mengantarkannya ke rumah Melda. Hari Minggu yang cerah, namun sesungguhnya tak secerah hatinya. Mobil melaju pelan memasuki pekarangan rumah Melda yang mewah, Wine mulai merasakan rasa ingin tahu tentang keluarga Melda. Terlihat Melda berdiri di atas balkon sambil melambaikan tangannya ke arah Wine yang turun dari mobil.
Seorang pelayan pun membukakan pintu rumah dan mempersiapkan Wine masuk dan seorang pelayan lain mengantarkan Wine ke tempat di mana Melda telah menunggunya.
"Hai Wine!" sapa Melda.
"Kamu sendiri, mana adik-adik mu?"
"Mereka sedang belajar," hari ini jadwalnya guru privat datang!" sahut Melda.
"Sepi!"seru Wine.
"Selalu seperti ini, ayah bundaku lebih suka menghabiskan waktunya bersama teman-teman bisnisnya!"
Seketika tangis Melda pecah, ia tak mampu lagi menahan segala sesak di dadanya. Wine hanya bisa memeluk dan memberikan bahunya untuk Sahabatnya itu. Wine mendengarkan segala keluh kesah dan kekecewaan Melda terhadap ayah bundanya. Namun dibalik itu, Wine ingin tahu tentang siapa ayah Melda sesungguhnya. Apakah Melda dan dirinya memiliki hubungan kekeluargaan.
Wine sampai sekarang sebenarnya masih mencari tahu siapa sosok dari papinya. Ternyata kehidupan yang serba berkecukupan, mewah dan memiliki kedua orangtuanya yang utuh yang selalu Wine impikan belum tentu menjamin hidup yang bahagia. Hanya sebuah kebersamaan di tengah keluarga yang harmonis akan membuat seorang anak itu bahagia.
Beberapa saat Wine merenung, ia pun mengusap rambut hitam legam Melda yang masih menangis. Wine terdiam, walaupun ia ingin juga menceritakan tentang dirinya yang masih mencari tahu tentang siapa jati diri dari sosok papinya pada sahabatnya itu. Kedatangan Wine hari ini pun, sebenarnya ingin mencari tahu lebih banyak lagi tentang keluarga Melda dan tentang foto seseorang yang sama dengan yang ia temukan dalam tas koper maminya tiga tahun yang lalu.
Drrrtt...Drrrtt
Ponsel Wine bergetar, Wine mengambil ponsel dari dalam tas yang masih di sandangnya. Ada panggilan masuk dari Wisnu.
"Halo Wine, kamu dimana ? terdengar suara Wisnu dari sana.
"Di rumah Melda!"
"Aku ada di kosan mu, mengapa kamu tidak membatalkan janjimu pada Melda?" suara Wisnu terdengar kecewa.
"Aku tidak bisa membatalkannya Wisnu!"
"Apa temanmu lebih penting daripada aku!"
Terdengar suara Wisnu sedikit kesal, Wine mencoba memberi pengertian kepada kekasihnya, namun Wisnu tampaknya tidak memberikan kesempatan untuk Wine menjelaskannya.
Sambungan telepon pun terputus dan Wine mencoba menelepon balik namun panggilan teleponnya tidak dijawab. Wine meletakan kembali ponselnya ke dalam tasnya yang di sandangnya lalu duduk kembali melihat Melda yang masih tampak sedih tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
Tok...Tok ...
"Permisi nona, ada tamu!" ucap seorang pelayan.
"Siapa?" tanya Melda.
"Om Dimas, Non!"
Wine pun terperanjat mendengarkan pelayanan itu menyebut nama Om Dimas. sementara Melda terlihat begitu senang saat pelayannya menyebut tamu yang datang adalah Om Dimas.
__ADS_1
Bersambung….