
Katrina menggeliat, matanya mencari sumber suara yang didengarnya. Ada tas koper di sudut kamar, namun Katrina tidak melihat Wine.
Katrina bangkit dari tidurnya lalu duduk, terdengar suara air dari kamar mandi.
Tok Tok Tok
"Wine, Itu kamu nak?"
Katrina berteriak, namun tidak ada suara jawab dari dalam kamar mandi. Katrina hafal sekali watak Wine, ia lebih senang mengurung diri setiap kali ada masalah. Lama Katrina berdiri didepan pintu kamar mandi, tak jua pintu itu terbuka.
Sekelebat Katrina mengingat kembali ke masa-masa di mana ia harus berjuang untuk lari menjauh dari lelaki yang telah membuat kehidupannya menjadi berantakan.
"Bodoh kalian, cari Cakra sampai di ketemu!"
Lelaki itu melempar ponselnya ke tembok hingga hancur.
Katrina berusaha untuk tidak bersuara, agar ia tidak ketahuan. Sesat kemudian lelaki itu keluar dari ruang kerjanya.
Katrina mengendap-endap, melihat ke luar untuk memastikan lelaki itu benar-benar telah pergi. Kemudian Katrina melihat ada Heru yang sedang membukakan pagar, sebuah mobil mewah melesat keluar.
Katrina mengintip dari kaca jendela, dan melihat Heru yang berjalan tergesa-gesa dan kemudian masuk ke rumah.
"Heru!"
"Maaf Nyonya saya sedikit terlambat, karena saya takut ketahuan. Ini surat-surat yang Nyonya butuhkan."
"Saya mengerti ini sulit untuk dipercaya, Nyonya!"
"Saya sudah pastikan jika orang itu benar bukan Tuan Cakra, ucap Heru.
Sebaiknya secepatnya nyonya tinggalkan tempat ini!
Krekkk.
Katrina tersentak dari lamunannya, pintu kamar mandi terbuka, tampak Wine berdiri tepat di depannya.
"Sayang."
Katrina memeluk Wine dengan eratnya.
"Maafkan mami, Wine!"
"Wine sudah besar, mami!"
"Wine ingin tahu yang sebenarnya!"
Air mata begitu deras membasahi pipinya, Katrina mengusap air mata di pipi putrinya.
"Mami akan ceritakan semuanya, tapi kasih mami waktu untuk itu!", ucap Katrina.
Wine mengambil tas kopernya lalu membukanya, kini selembar foto itu ada ditangannya.
"Ceritakan tentang siapa yang di foto ini, benar jika ini adalah papi?"
Katrina mengangguk kepalanya, sedari menghapus air matanya.
Katrina memandangi wajah putrinya yang cantik, ia tak sanggup saat matanya beradu tatapan. Sekujur tubuhnya terasa lemas, ia menyadari jika Wine sekarang bukanlah anak kecil lagi. Namun Katrina pun tak bisa mengatakan sebuah kebenaran pada Wine. Sebuah bom atom yang akan siap meledak yang akan menghancurkan dirinya dan putrinya jika ia mengatakan sebuah kebenaran, sementara ia pun tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan siapa jati dirinya yang sebenarnya dan bagaimana caranya untuk menjelaskan pada putrinya. Kini yang tersisa hanya rasa sakit yang sangat mendalam.
"Mami, apakah papi masih hidup?" tanya Wine.
Katrina membelai rambut indah Wine yang panjang tergerai. Air matanya jatuh, menatap nanar pada putrinya, bibirnya gemetar saat sebuah kata pun sulit diucapkannya.
__ADS_1
"Iya, dia masih hidup!" jawab Katrina dengan suara yang mampir tak terdengar.
"Katakan dimana papi, mih!"
"Suatu saat mami akan mengantarkan mu untuk bertemu dengannya", ucap Katrina.
"Suatu saat, maksudnya mih?"
"Mengapa tidak sekarang atau besok?"
"Tidak sayang!"
"Mengapa? tolong jelaskan, mih!"
"Cukup wine!!!"
Katrina berteriak kemudian menangis terisak-isak seketika tubuhnya ambruk ke lantai.
"Mami!!!"
Wine mencoba mengangkat tubuh Katrina dan meletakkannya ke pangkuannya.
Tok Tok Tok
Terdengar pintu yang tidak tertutup rapat itu diketok, Ibu kos telah berdiri di depan pintu kemudian masuk.
"Katrina!"
Rossi mencoba untuk menyadarkan dengan mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Katrina. Sesaat kemudian Katrina terlihat telah sadar.
"Mami mu kecapean, sebaiknya biarkan beristirahat dulu," ucap Rossi.
"Wine!!"
Katrina mencoba beranjak untuk duduk.
"Iya, mih!"
"Istirahat lah, maafkan Wine ya, mih!!!"
Wine memeluk Katrina dengan eratnya, begitu juga sebaliknya, pelukan itu begitu dalam.
******
Pagi mulai menampakkan geliatnya, saatnya Katrina bersiap-siap untuk pulang. Katrina membereskan barang-barang dan memasukan pada tas jinjingnya. Jelas masih terlihat rona ketegangan dan kesedihan di hatinya, kalau bukan karena sebuah pekerjaan, mungkin Katrina akan lebih lama lagi menemani Wine di kostnya.
"Kau yakin tidak ikut bersama mami," ucap Katrina.
"Tidak mami," sahut Wine.
Katrina keluar kamar diikuti oleh Wine, dengan perlahan Katrina menuruni anak tangga. Kakinya terasa berat melangkah untuk meninggalkan putrinya. Sementara sahabatnya, Rossi yang tidak lain ibu kos dari anaknya, telah menunggunya di bawah.
"Biar ku antar ke bandara, kebetulan suamiku libur hari ini," kata Rossi.
"Tapi aku sudah memesan taksi," sahut Katrina.
Katrina menatap putri, tangan keduanya saling berpegangan.
"Kabari aku jika mami nanti telah sampai," ucap Wine.
Tidak lama menunggu, taksi pun tiba dan Katrina memeluk putrinya, sulit rasanya berpisah. Namun ia harus kembali. Katrina melambaikan tangannya namun senyumnya masih terlihat datar, rona wajah yang sangat letih dan lelah itu terlihat jelas. Mobil taksi berlalu membawa Katrina ke bandara.
__ADS_1
Wine pun kembali ke kamarnya, terdengar ponselnya berbunyi, tampak di layar panggilan dari Wisnu.
* Halo, sayang sapa Wisnu dari sana.
* Boleh aku berbicara dengan mami mu, sayang?
* Baru saja berangkat ke bandara, ucap Wine.
* Padahal aku ingin sekali bertemu untuk melamar mu.
Senyum simpul Wine mengembang.
*Setelah pulang dari kantor nanti sore aku ke kosan mu, jangan kemana-mana!!
* Okeh, ku tunggu
Panggilan pun diakhiri dan Wine meletakkan kembali ponsel di atas meja belajarnya dan merebahkan tubuhnya.
Tok Tok tok
"Siapa?"
Teriak Wine yang baru saja membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Dorrr!!"
"Ayo jangan suka melamun saja," ucap Melda sambil duduk di pinggir tempat tidur.
"Kamu ikut semester pendek?" tanya Wine.
"Iya, biasa perbaiki nilai ku yang jelek," sahut Melda.
"Mami mu mana?"
"Sudah pulang", ucap Wine.
"Kalau begitu ke rumahku yuk!" sebentar lagi sopirku datang menjemput," ucap Melda.
"Lain kali aja ya Melda, aku ada janji sama Wisnu sore ini," ucap Wine.
" Asyik ya, yang sudah jadian, bawaannya kangen melulu, ketemu melulu," sahut Melda sambil mencubit pinggang sahabatnya itu.
Terdengar ponsel Melda berbunyi.
"Sopirku sudah di depan kos, aku pulang dulu ya Wine," kata Melda sambil melangkah keluar dari kamar meninggalkan Wine yang masih terbaring di tempat tidurnya.
Hari ini Wine hanya ingin beristirahat melepaskan lelahnya dan mencoba melupakan masalahnya sampai menunggu Wisnu menjemputnya nanti sore. Namun pandangan Wine yang kosong saat menatap langit-langit kamar kosnya, mengingat kembali, apa yang telah mami katakan padanya malam tadi. Namun sosok omah muncul menjadi tanda tanya di hatinya, "Mengapa omah begitu marahnya sampai ia membenciku?" bisik Wine dalam hati.
Sulit sekali Wine memahami dari sederetan peristiwa yang dialami selama ini. Dengan sikap dan perlakuan omah terhadapnya, namun pasti ada sesuatu yang sangat besar yang belum diketahui, terlebih perihal kebisuan omah terhadapnya, pasti bukan tanpa alasan. Wine mencoba mengingat sosok papinya, walaupun hanya ingatan tipis yang bergelayut di benaknya. Mencoba mengingat sekilas raut wajahnya.
Kerinduan itu selalu saja hadir, saat Wine kecil selalu menghabiskan hari-harinya, bermain, tertawa dengan riang bersamanya. Tiba-tiba semua keceriaan itu menghilang, tidak ada lagi sosok papinya menemaninya bermain, hanya sebuah kerinduan menantinya untuk menunggunya datang kembali. Air mata Wine jatuh tak terasa telah membasahi pipinya, di tangannya masih memegang foto itu. Foto yang sama seperti foto yang menggantung di rumah sahabatnya itu.
"Apakah aku harus mengatakan kepada Mami jika sebenarnya ia sudah mengetahui keberadaan papi? tapi apa mungkin ayah Melda adalah ayahnya juga? gumamnya dalam hati.
Begitu besarnya harapannya, untuk segera bertemu. 14 tahun bukan waktu yang singkat dalam sebuah kerinduan. Pasti begitu banyak yang telah berubah bersama dengan waktu yang berjalan. "Apakah nantinya papi mengakuinya sebagai anaknya?" Apakah nantinya Melda dan adik-adiknya dapat menerima Wine sebagai saudaranya?" begitu banyak pertanyaan yang mengisi kepalanya.
Terngiang kembali kata-kata mami di telinganya bahwa suatu saat mami akan mempertemukan dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat dirinya bisa berpisah dengan papinya? permasalahan apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada hubungannya dengan sikap omah selama ini terhadap dirinya.
"Aku harus menyelidikinya sendiri," gumamnya dalam hati.
Bersambung.......
__ADS_1