Kerinduan Yang Ternoda

Kerinduan Yang Ternoda
Pertemuan kedua


__ADS_3

Ponsel Wine kembali berbunyi, tampak di layar panggilan dari Wisnu. Wine menghela nafasnya dan mencoba menjawab panggilan.


"Iya, ada apa?"


"Aku jemput kamu di sana!" suara Wisnu terdengar antusias.


Wine menutup sambungan ponsel.


"Siapa yang menelpon barusan?" tanya Melda.


"Wisnu, dia ingin menjemput ku ke sini!"


"Ayo, Aku ingin memperkenalkan kamu sama Om ku yang paling ganteng!" ucap Melda sambil menarik tangan Wine.


"Ayo!''


Melda begitu bersemangat.


Wine kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.


Melda bergegas keluar kamar sambil menarik tangan Wine yang duduk persis disampingnya, sementara pelayan berjalan mengikuti dari belakang. Saat sampai di ruang tamu, sosok lelaki setengah baya yang tidak asing lagi bagi Wine. Berdiri sambil tersenyum, Om Dimas yang beberapa minggu lalu bertemu di rumah sakit, saat papah Wisnu menjalani perawatan.


"Om Dimas!" teriak Melda sambil memeluk erat.


"Om Kenalkan ini Wine, teman kuliah ku!" ucap Melda.


"Ketemu lagi kita," kata Om Dimas sambil tersenyum.


"Iya Om," sahut Wine.


"Jadi Om sudah kenal Wine?" tanya Melda. Om Dimas hanya tersenyum dan mengucek-ngucek rambut Melda.


Sosok Om Dimas yang mengundang tanya di hati Wine beberapa minggu kemarin, kini hadir dan bertemu kembali di rumah Melda. Ternyata Om Dimas adalah adik dari ayah Melda. Kedatangan om Dimas seakan membuat segala kesedihan dan kekecewaan Melda pada ayah bundanya sirna. Om Dimas hadir mencairkan suasana hati sahabatnya itu.


Sosok yang begitu bersahaja, akrab, penuh kasih sayang. suasana hari ini bertambah hangat dengan hadirnya dua malaikat kembar, Melisa dan Robby yang manja duduk di pangkuan om Dimas.


Keceriaan hari ini berlanjut saat Melisa dan Robby mengajak Om Dimas bermain di halaman belakang rumah. Sebuah taman yang indah, modern dan tertata apik dilengkapi fasilitas kolam renang. Om Dimas yang bersahaja dan mampu berkomunikasi dengan bahasa isyarat pada Melisa dan Robbi membuat Wine kagum dengannya.


Saat Om Dimas menggendong Melisa dan Robby secara bergantian dengan cara digendong kemudian dilepaskan ke udara dan ditangkap kembali di tangannya dan mendekapnya. Ada sebuah ingatan masa kecilnya yang melesat di pikirannya. Wine mencoba mengingat sosok Om Dimas yang sangat tidak asing dan melekat di hatinya itu, namun Wine tak menemukan jawabannya walaupun berulang kali Wine mencoba untuk mengingatnya.


Seorang laki-laki setengah baya, namun masih memperlihatkan kharismanya yang menunjukkan ketampanannya di masa muda. Wine duduk di pinggir kolam renang sambil memainkan ponselnya sementara Melisa dan Robby berenang bersama Om Dimas.

__ADS_1


"Ayo Wine, kita berenang bersama!"


Melda berteriak sambil memercikkan air ke arah Wine.


"Tidak, aku ingin mengambil foto kalian aja!" sahut Wine.


Wine mengarahkan kamera handphonenya untuk mengambil potret Melda bersama Melisa, Robby dan Om Dimas, begitu ceria dan bersahaja dengan senyuman yang manis saat Wine memotret momen kebersamaan mereka.


Sesaat kemudian Om Dimas keluar dari kolam renang bersama Melisa dan Robby, sementara Melda masih asyik berenang dengan segala gaya renang yang dikuasainya. Tidak menunggu waktu lama Melda Pun keluar dari kolam renang dan mendekati Wine.


"Mengapa kamu gak renang?" tanya Melda.


"Aku gak bisa renang!" jawab Wine.


Melda hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar Jawaban Wine, sambil mengambil handuk dan membalut tubuhnya kemudian berlalu. Sementara Wine masih saja duduk di pinggir kolam renang sambil menunggu Melda.


******


Tak terasa sudah pukul 11:45 siang saat wine melihat jam tangannya. Tak terasa hampir satu jam Wine duduk di pinggir kolam renang. Seorang pelayan menghampirinya.


"Non Wine, di tunggu di ruang makan!" kata pelayan itu.


Wine berjalan mengikuti pelayan itu. Sungguh sebuah rumah yang sangat besar, entah ada berapa kamar dan ruang besar di rumah berlantai tiga itu. Meskipun sudah dua kali berkunjung namun Wine belum hafal betul, rumah ini bahkan tidak seperti rumah pada umumnya segala interior, furniture dan ornamen nya bagai sebuah istana yang besar dan dilengkapi taman yang asri dan luas di sekeliling rumah itu.


"Ayo Wine, kita makan siang bersama!" ucap Om Dimas.


Begitu banyak menu makanan yang dihidangkan. Wine tertegun sejenak melihat hidangan yang tersaji di meja makan. Melda yang duduk di samping Wine, langsung mengambilkan 1 sendok nasi dan lauk-pauk ke piring Wine.


"Mari kita berdoa dulu!"


Om Dimas berdoa sambil menundukkan kepalanya,


suasana menjadi hening.


Om Dimas melihat kearah Wine sambil menikmati makanan yang di santapnya di piring.


"0iya, Wine..Libur semester ini kamu pulang ke Bali?" tanya om Dimas.


"Sepertinya tidak Om!"


"Mengapa? gak kangen sama orang tuamu?"

__ADS_1


"Kangen?" Wine menundukkan kepalanya.


Melda sangat antusias saat mendengar kota Bali, dan Om Dimas yang pernah tinggal beberapa tahun di kota Bali menceritakan tempat-tempat wisata pulau Dewata itu kepada Melda. Wine yang dilahirkan dan dibesarkan di kota ini, sebelum ia pindah ke kota Bali saat usia masuk sekolah dasar. Pikiran Wine menerawang jauh, teringat saat ia kecil dulu saat masih tinggal di kota ini. Wine mencoba mengingat kembali, apa penyebab Wine pindah ke kota Bali? dimana di kota itu Wine tak lagi bisa melihat kehadiran papinya. Dan setiap Wine menanyakan dimana keberadaannya, maminya selalu mengatakan kalau papinya telah tiada. Namun yang mengganggu pikirannya, tak pernah sekalipun ia diajak mengunjungi makamnya.


Begitu banyak sekali misteri atau sesuatu yang ditutupi dari dirinya. Wine yang sedang melamun mengingat semua, tiba-tiba terkejut saat Melda menepuk bahunya.


"Wine, kok melamun!"


Wine mengalihkan pandangannya ke arah, sementara Om Dimas yang tersenyum dan tertawa melihat Wine yang terkejut dengan wajah merah merona.


"Jangan terlalu kamu pikirkan kekasihmu itu!"


Wine menundukkan wajahnya, saat Om Dimas bercanda dan menggodanya. Om Dimas berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia pamit sambil mengucapkan janji pada Melisa dan Robby untuk berkunjung kembali dengan menggunakan bahasa isyarat. Melisa dan Robby memeluk Om Dimas kemudian keduanya duduk di pangkuannya, Om Dimas mengeluarkan dua batang coklat kesukaan mereka kemudian kembali mencium kedua keponakan kembarnya itu.


Saat melihat dua batang coklat itu, ingatan Wine kembali ke masa silam. Waktu itu maminya memiliki seorang teman saat baru pindah ke kota Bali. Wine teringat cara Om Dimas berbicara dan bercanda saat memberikan dua batang coklat kepada Melisa dan Robby sehingga mengingatkan Wine dengan sosok tersebut. Sosok yang dulu dipanggilnya Om papa, apakah dia adalah Om Dimas? tapi mengapa Om Dimas tidak mengenalnya? tiba-tiba Om Dimas menepuk bahunya.


"Wine, Om pulang dulu ya!"


"Baik Om!"


Melda mengantarkan Om Dimas sampai di depan teras rumah, terlihat sekali Melda belum ingin berpisah, ia memeluk erat dan menangis. Om Dimas menghapus air mata Melda, seakan mengerti tentang perasaan ponakannya itu.


Wine melihat betapa dekatnya hubungan mereka. Mobil yang di kendaraan Om Dimas berlalu sementara Wine dan Melda masih berdiri di depan teras rumah. Kemudian motor gede Wisnu memasuki pekarangan rumah dan parkir di depan teras. Wisnu membuka helmnya dan mendekati Wine yang masih tertegun melihat ke arah luar gerbang bersama dengan menghilangnya mobil Om Dimas tadi. Sementara Melda yang sedang berdiri melihat Wisnu yang sedang menghampirinya.


"Hai, Melda!" sapa Wisnu.


"Mau jemput Wine ya!"


Wine masih saya berdiri tertegun menatap pintu gerbang rumah Melda, seakan Wine tak menyadari kehadiran Wisnu di hadapannya.


"Hey!"


Wisnu melambaikan tangannya di depan wajah Wine yang sedang melamun.


"Kenapa melamun, Non?" ucap Wisnu.


Wine melihat ke arah Melda kemudian berpamitan dengan sahabatnya itu.


"Aku pulang dulu!"


suara Wine terdengar tak bersemangat.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan!"


Bersambung......


__ADS_2