Kerinduan Yang Ternoda

Kerinduan Yang Ternoda
Penawaran Liliana


__ADS_3

Di sebuah ruangan di rumah mewah itu.


"Aku harap kau masih ingat janjimu, Liliana! Aku sengaja datang kesini untuk mengingatkan mu!!"


Wanita tua itu duduk sambil menyalakan rokoknya.


"Apa ibu bisa menjamin, jika nanti perusahaan di tangan Dimas akan bisa menguntungkan untuk mu?"


"Kamu meragukan kemampuan anak ku!!"


"Dimas itu tidak berpihak pada mu! bagaimana jika dia mengetahui siapa Cakra yang sebenarnya?"


"Dia tidak akan mengetahuinya! tugasmu dan Dion harus mengembalikan perusahaan itu pada ku!"


"Baiklah, aku akan bicarakan ini pada Dion!"


"Aku dengar kamu dan Dion akan menjodohkan Melda dengan anak bapak Darmadji setio! Kamu dan Dion memang sangat cerdas!!"


Wanita tua itu menepuk kedua tangannya.


Wanita tua itu mendekatkan wajahnya pada Liliana sambil menaikkan alisnya.


"Aku mencium aroma terselubung dari niat kalian!!"


Terdengar suara pintu dibuka, sontak mereka berdua melihat ke arah pintu yang sedang dibuka. Sambil membenarkan posisi masing-masing..


Krekkk..


seorang gadis kecil masuk dan mendekati. Kemudian dari belakang, ada seorang pelayan yang berdiri di depan pintu.


"Maaf Nyonya!!" sambil membungkuk.


"Ajak Melissa keluar!" ucap Liliana.


"Baik, Nyonya!"


Baru saja Pelayanan menggendong Melissa untuk membujuknya keluar. Tiba-tiba Melda masuk.


"Pagi Bunda, pagi eyang!" sapa Melda.


"Sini, duduk samping eyang!"


Melda pun duduk di samping wanita tua itu. Sementara Liliana beranjak dari tempat duduknya.


"Eyang dengar kamu mau menikah yah!"


Melda menundukkan kepalanya.


"Kamu kenapa Melda?" kamu ga suka dengan pilihan ayah dan bunda mu ?"


"Bukan begitu eyang!"


"Eyang, mungkin karena belum kenal aja, kalau sudah kenal pasti mau!!" ucap Liliana.


"Siapa sih..jaman sekarang menolak lelaki tampan, kaya, apalagi sebentar lagi bakal diangkat jadi CEO menggantikan Darmadji Setio!"


"Betul kan Eyang?"


Wanita tua itu tersenyum tersungging mendengar ucapan Liliana.


"Melda, dengarkan kata bunda!" ucap eyang.


Melda langsung berdiri lalu berpamitan.


"Lihat anakmu, seperti dia tidak menyukai!!"


"Eyang, kita lihat saja nanti! jika Melda menikah dengan anak Darmadji Setio, aku punya penawaran yang bagus!!"


"Kamu memang luar biasa Liliana!!"


Wanita tua itu berdiri dari tempat duduknya, lalu dia menepuk bahu Liliana. kemudian ia keluar dari ruangan itu.


1 Jam kemudian

__ADS_1


"Rupanya kamu di sini! aku mencari mu!"


"Aku pikir kamu tidak pulang, Dion!"


Lelaki itu duduk di samping Liliana, kemudian merangkul pundaknya. Sontak Liliana melepaskan rangkulan itu.


"Dion, Dion! semakin hari aku menjadi bosan dengan mu! apa kamu tidak pernah merindukan aku lagi!!"


"Bukan begitu!"


"Lalu apa? seharusnya setelah kamu bisa mengingat semuanya, kamu tidak usah lagi mencari Windy!"


"Aku tau, kalau kamu selama ini membayar seseorang untuk mencari Katrina dan anaknya!!"


"Aku tidak bermaksud apa-apa! aku hanya ingin memastikan kalau Windy itu anakku atau bukan!!"


"Sejak kapan kamu peduli sama anak mu! aku tau kamu tidak bisa melupakan Katrina!!"


Liliana langsung meninggalkan ruangan itu, membiarkan lelaki itu sendiri. Tak lama terdengar suara ponselnya berdering.


"Hello!"


"Pagi tuan, hari ini kita ada rapat jam 2 siang!!"


"Baiklah, apa bapak Darmadji setio sudah tiba di kantor? saya ada janjian ketemuan!!"


"Belum tuan! nanti saya kabarkan jika beliau sudah sampai!"


Sambungan Ponsel pun ditutup.


Lelaki itu berdiri di depan cermin, lama ia melihat tiap lekuk wajahnya. Kemudian ia berjalan menuju sebuah foto yang menggantung di ruangan itu.


"Maafkan aku Katrina!"


Lelaki itu menundukkan kepalanya, lalu memegang kepalanya dan menjambak rambutnya, kemudian sebuah pukulan keras itu mendarat di tembok. Lelaki itu tampak tertekan, wajahnya memerah terlihat jelas kemarahan dan kesedihan itu di wajahnya.


"Katrina! aku pasti bisa menemukan mu!!"


*******


"Melda!" Lelaki itu tersenyum.


"Mana adik-adik mu?"


"Ada, mereka lagi bermain di taman, yah!"


"Ayo, kita ke sana!"


Lelaki itu merangkul Melda sambil berjalan ke sebuah taman di samping rumah yang besar dan mewah itu. Melissa dan Robby berlari mendekati Melda dan lelaki itu. Kedua adik Melda langsung menggerakkan tangannya dan menggunakan bahasa tubuh untuk berbicara.


"Ayah, Melissa dan Robby kangen!" pengen ayah ga pergi-pergi terus!" ucap Melda.


"Iya, tapi Ayah harus kerja! kalau kerjaan ayah sudah selesai, ayah janji ga pergi-pergi lagi!"


Lelaki itu berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat kepada Melissa dan Robby. Kemudian memeluk ketiga anaknya dengan erat.


Terdengar suara klakson mobil, sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah. Kemudian seorang supir turun.


"Pagi tuan!"


"Melda, ayah berangkat dulu, jaga adik-adikmu!"


"Baik ayah!"


Lelaki itu memeluk Melissa dan Robby dan menciumnya. Kemudian masuk kedalam mobil itu.


Tak lama kemudian Liliana dan wanita tua itu berjalan menuju halaman rumah dimana sebuah mobil keluaran terbaru terparkir.


"Liliana, jangan lupa janjimu!" ucap wanita itu.


"Okeh, tapi pikirkan juga penawaran ku!" ucap Liliana.


Mobil mewah yang membawa wanita itu melaju keluar dari gerbang rumah, sementara Liliana masih berdiri, melihat sampai mobil itu menghilang. Liliana melihat Melda yang sedang duduk di bangku taman. Kemudian Liliana menghampiri.

__ADS_1


"Melda!"


"Kenapa kamu!"


Melda mendongakkan kepalanya.


"Sedang apa kamu disini? kamu tidak kuliah!!"


"Melda ga enak badan bunda!"


"Mengapa bunda dan ayah menjodohkan aku dengan Wisnu?"


Liliana duduk di samping Melda


"Kenapa? kamu tidak suka!!"


Melda menundukkan kepalanya.


"Bukankah kamu dulu sangat menyukai Wisnu!!"


"Tapi Bunda, Wisnu itu kekasih dari sahabat ku! Aku tidak ingin melukai sahabatku!!"


"Sekarang apa kamu masih menyukainya?"


Melda menganggukkan kepalanya.


"Iya, bunda tapi bagaimana dengan sahabat ku!"


"Asal kamu nurut kata bunda, semua bisa bunda atur!"


"Tapi bagaimana kalau Wisnu tidak menyukai ku! dan tidak menginginkan menikah dengan ku!!"


"Asal kamu mau menuruti keinginan bunda!" kamu pasti bisa menikah dengan Wisnu!"


"Maksudnya bunda!"


"Wisnu tidak akan menolak keinginan papanya! dan dia pasti memilih kamu untuk menjadi istrinya!!"


Melda hanya diam mendengarkan ucapan bundanya. Ia merasa bagaimana jika nanti ia jadi menikah dengan Wisnu. Dalam hati Melda, ia sungguh tidak tega terhadap Wine. Namun sesungguhnya dari dulu Melda sangat menyukai Wisnu tapi karena Wisnu lebih memilih Wine, makanya Melda mencoba untuk membuang semua rasa sukanya pada Wisnu. Melda memainkan ponselnya, sudah seminggu Melda tidak bertemu dengan Wine.


Sejak acara pesta yang digelar oleh perusahaan ayahnya dan Melda mengetahui jika Wine ikut dalam acara Pesta tersebut. Melda menghela nafas dalam, kemudian ia mencoba untuk menghubungi Wine.


Drrtt drrtt


Ponsel Wine berbunyi, tampak di layar Melda memanggil


"Hello."


"Hello, Melda!"


"Kamu sedang di kampus!" terdengar suara dari sana.


"Tidak, aku di kosan!"


"Wine, aku mau main ke kosan mu!"


"Maaf, Melda aku sedang mengerjakan skripsi ku!"


"Kamu tidak sedang menghindar dari ku?"


"Tentu tidak Melda!"


"Kamu tidak marah dengan ku!"


"Tidak, Mel!"


"Aku ingin kamu tetap jadi sahabat ku, Wine!"


"Sudah dulu yah! nanti aku menelepon kembali!!"


Sambungan telepon pun terputus, Wine masih duduk menghadap laptopnya. Masih teringat jelas kekecewaan Wisnu atas sikapnya kemarin. Tapi apa yang bisa Wine lakukan. Jika ia tidak berada di situasi sulit ini, mungkin saja ia akan mempertahankan Wisnu. Kerinduan dan rasa ingin tahu tentang jati dirinya memaksanya untuk tidak memiliki untuk memiliki Wisnu. Air matanya menetes membasahi pipinya yang cantik itu.


"Maafkan aku, Wisnu!"

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2