Kerinduan Yang Ternoda

Kerinduan Yang Ternoda
Sebuah Pesta


__ADS_3

Sore itu, Wine tiba di pintu gerbang yang besar dan tinggi, kemudian menekan bel di samping tembok. Seorang penjaga mengintip dari balik lubang, tak lama kemudian penjaga itu keluar dan menghampiri Wine.


"Mau bertemu dengan siapa?"


"Saya teman Melda, apa Melda ada?"


"Oh, iya baru ingat kamu teman non Melda ya, ucap penjaga itu sambil tersenyum!"


"Sebentar saya tanyakan dulu!"


Penjaga mengambil ponselnya kemudian menelepon seseorang. Beberapa saat kemudian.


"Silahkan masuk!"


Wine berjalan di belakang penjaga itu menuju ke bagian samping rumah ada sebuah taman yang dipenuhi tanaman hias yang indah. Saat tiba di sebuah pintu, Wine di sambut seorang wanita yang berpakaian seperti pegawai restoran.


"Mari, saya antar ke kamar non melda!" ucap pelayan itu.


Baru saja Wine berjalan menuju sebuah ruangan, tampak Melda sudah menyambutnya.


"Tadi kamu katanya gak mau kesini! ini malah nyusul!!" ucap Melda.


"Lagi bosan aja di kosan, mel!"


"Tumben!!"


"Ga jadi ketemuan sama Wisnu?"


"Sebenarnya sih tadi aku udah janjian, tapi gak masalah nanti aku batalkan!"


"Tega bangetttt kamu, Wine! Kamu nginep ya!!"


"Okeh!"


Keesokan harinya


Wine baru saja terjaga dari tidurnya Setelah mendengar suara ponselnya berdering.


"Hello!"


Wine, kamu di mana? semalam kamu tidak pulang?" terdengar suara ibu kos dari sana.


"Wine nginep di rumah Melda, bu!"


"Besok- besok kalau kamu menginap di rumah Melda, kamu harus izin ibu dulu!" terdengar suara ibu kos sedikit marah.


"Baik bu!"


"Sebaiknya kamu cepat pulang ya!"


Suara ponsel di tutup.

__ADS_1


Wine melihat ke sekeliling kamar, ternyata Melda tidak ada di tempat tidurnya. Wine menuju balkon, ternyata matahari sudah mulai tinggi, Wine melihat ke bawah tampak Melda sedang senam pagi. Wine pun berteriak kemudian melambaikan tangannya.


"Ayo, kesini Win!!!" sahut Melda.


Wine pun bergegas keluar kamar lalu menuruni anak tangga, saat menuruni anak tangga, ia mendengar suara seorang yang sedang berbicara. Wine pun menghentikan langkahnya, kemudian melangkah menuju sumber suara itu. Dengan berjalan perlahan-lahan, Wine mengintip dari cela pintu yang tidak tertutup rapat, ada seorang wanita tua yang sedang berbicara dengan Om Dimas.


"Ada apa denganmu, Dimas! seakan kamu sekarang tidak peduli lagi dengan perusahaan kita!!"


Sosok wanita tua yang masih terlihat cantik, berdiri dengan tegak, kakinya masih kokoh meskipun kerutan di wajahnya tidak bisa menutupi usianya yang hampir 60 tahun itu. Mata wanita tua itu menatap tajam, menatap ke luar jendela. Kemudian ia membalikan tubuhnya, Om Dimas yang duduk di sebuah sofa dengan santainya sambil merokok.


"Ada maksud ibu dengan perusahaan kita? Perusahaan ini punya Cakra, bukan punya kita ibu!!"


Pernikahan Blanca dan Adipura Wicaksana menjadikan Dimas adalah anak sambung dari Adipura Wicaksana, meskipun Om Dimas bukan anak kandung dari Adipura Wicaksana namun memiliki nama belakang sama dengan Cakra meskipun Om Dimas bukan pewaris harta dari Adipura Wicaksana.


"Aku ingin kamu yang akan memimpin perusahaan kita! aku akan kata ini pada Cakra untuk menyerahkan untuk untuk mu!!" ucap wanita tua itu.


"Mengapa harus aku? bukankah Cakra yang menjadi penerus perusahaan!"ucap Om Dimas dengan suara lantang.


"Cakra itu bukan siapa-siapa! tapi kalau kamu adalah anak ku!!"


.


"Iya, aku anakmu tapi bukan anak Adipura!!" Apa yang sedang ibu rencanakan??"


"Tidak ada, aku hanya ingin kau yang mengambil alih perusahaan ini dari tangan Cakra!" dan itu sudah sepantasnya!!"


"Mengapa ibu sangat menginginkan perusahaan itu, jatuh ke tangan ku! Coba ibu jelaskan!!"


Wanita tua itu menarik tangan Om Dimas.


"Mau kemana kamu?" Aku belum selesai bicara!!"


"Ibu, aku tidak mengerti dengan keinginan ibu!" ucap Om Dimas.


"Aku katakan sekali lagi padamu, jika Cakra bersedia untuk menyerahkan perusahaannya padamu!!"


"Aku tidak bersedia!!!"


Sementara Wine buru-buru menjauh dari pintu dan bersembunyi di balik sebuah Vas bunga yang ukurannya sangat besar.


Wine melihat Om Dimas keluar dari ruangan itu, sementara Wine mendengar teriakkan wanita tua itu memanggil nama Om Dimas. Wine pun bergegas menuju taman di samping rumah. Saat menuruni tangga, Wine melihat seorang wanita setengah baya berpakaian rapi yang sedang berbicara di ponselnya. Terlihat Om Dimas menghampiri wanita itu, kemudian mereka duduk di pinggir taman. Namun saat Wine melihat ke arah teras taman itu, ia tak melihat Melda yang tadi sedang berolahraga.


"Dorrr!"


Wine tersentak kaget.


"Kamu mengagetkan aku, Mel!!"


"Lama bangetttt kamu!!"


"Mel, itu yang sedang bicara dengan Om Dimas siapa?"

__ADS_1


"Oh itu! bunda ku! Ayo, aku kenalin!!" sambil menarik tangan Wine.


Kemudian mereka menghampiri, Om Dimas melihat ke arah Wine dan Melda yang sedang berjalan, kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Pagi Bunda, Om Dimas!" ucap Melda.


"Oh, iya bun, kenalin ini Wine teman kuliahku!"


Wine pun mengulurkan tangannya, namun jabatan tangan Wine tak disambutnya, dia hanya melihat dan sedikit menaikkan alisnya. Wine hanya tertunduk sementara Melda hanya diam melihat perilaku bundanya terhadap sahabatnya itu.


'Melda, sebaiknya kamu suruh supir untuk mengantarkannya pulang! hari ini kita ada undangan dari teman ayahmu!!"


"Siapa nama kamu?"


"Wine tante!"


"Kamu tidak apa-apa kan?"


"Tidak tante!"


"Biar Wine pulang bersama ku!" ucap Om Dimas.


*****


Jam 19:00 wib


Wine terlihat sangat cantik dan Anggun mengenakan dress. Rambutnya yang terurai itu ditata dengan sangat rapi dan elegan. Malam ini ada sebuah acara spesial, namun Wine tidak tau acara apa yang digelar di sebuah hotel berbintang itu. Sore tadi Wisnu mengajaknya, Wine berjalan memasuki pelataran, ramai sekali tamu undangan yang datang.


Wisnu memegang tangan Wine kemudian mereka berjalan beriringan lalu menempati sebuah kursi yang telah disediakan. Seketika mata Wine tertuju pada seorang wanita yang tadi pagi bertemu di rumah Melda berdiri di atas panggung. Wanita itu menggandeng seorang pria setengah baya yang masih terlihat tampan dan di samping pria tampan itu terlihat Melda yang sedang tersenyum dan bersalaman dengan para tamu.


"Wisnu itu Melda?"


"Iya, dia bersama orang tuanya," sahut Wisnu.


Seketika itu juga pandangan Wine kembali mengarah kepada seorang lelaki setengah baya yang berdiri di samping Melda. Wajah Lelaki itu sama persis dengan foto yang dilihatnya di rumah Melda dan yang ia temukan di tas cover milik Mami namun hanya sedikit kelihatan lebih tua dan berisi.


"Siapa laki-laki yang berdiri di samping Melda itu?'


"Itu Ayahnya Melda, namanya Cakra Wicaksana!"jawab Wisnu.


"Kamu belum pernah bertemu dengan ayah Melda?" tanya Wisnu.


"Belum."


"Nanti ku kenali, kebetulan perusahaan papa sudah 1 dekade melakukan kerjasama dengan perusahaan Ayah Melda," ucap Wisnu.


Pandangan Wine tak lepas dari lelaki itu, sekelebat bayangan masa kecil singgah memenuhi ingatannya.Wine mulai kembali mengingatnya. Mata Wine sedikit berkaca-kaca. Wine mencoba agar kesedihannya tidak diketahui oleh Wisnu.


Rasa kerinduan yang mendalam itu tak bisa tersampaikan dan seketika menjadi kesedihan. Wine memandang nanar dari kejauhan, rasa di hatinya kian tak terbendung, Ia tak ingin Wisnu melihat kesedihan di matanya. Wine beranjak dari tempat duduknya, Air mata itu semakin membasahi pipinya. Wine meninggalkan acara pesta itu, langkah kakinya menuju semua toilet yang begitu sepi. Tangisnya pecah, malam ini tak disangka-sangka ia mengetahui keberadaan papinya yang selama ini di carinya.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2