
Motor gede yang di kendarai Wisnu melaju menembus keramaian kota, Wine memegang erat pinggang kekasihnya, ada debaran memacu dadanya saat mendekap tubuh kekasihnya. Wisnu menarik tangan Wine agar tetap berpegang di pinggangnya. Cuaca tampak gelap gulita, terdengar suara gemuruh, Wisnu tetap melajukan motornya namun kemudian hujan deras pun mengguyur kota.
Wisnu menepi dan memberhentikan laju motornya di sebuah toko yang tampak sudah tutup. Hujan semakin deras mengguyur, Wine yang masih duduk di motor, beranjak turun dari motor untuk menepi dan membuka helmnya. Angin yang membawa percikan air hujan membasahi tubuh Wine, Wisnu segera membuka jaket kulitnya dan memasangkan jaket pada tubuh Wine yang sudah tampak kedinginan.
Wisnu mendekap dan merangkul Wine, angin yang kencang membawa percikan air hujan hingga membasahi mereka berdua. Entah kapan hujan reda, Wine melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam 14:45 sudah hampir satu jam menunggu hujan belum juga reda. Wine melihat ke toko sebelahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat dia berteduh, ada sebuah warung nasi.
"Wisnu, kita ke sana!"
Wine menunjuk warung yang dimaksudnya.
Wisnu langsung mengiyakan dan memegang erat dan mendekap Wine sambil berjalan menuju warung. Setiba di warung tersebut Wisnu memesan sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh yang kedinginan.
"Bu, teh hangatnya dua!" ucap Wisnu kepada ibu penjaga warung tersebut.
"Ada, silahkan duduk!" jawab penjaga warung itu dengan ramah.
30 menit kemudian
Hujan pun mulai reda, mereka pun beranjak dari warung tersebut kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju apartemen yang baru beberapa bulan di beli Wisnu. Laju motor melesat membelah udara yang sangat dingin, Wine tampak sangat kedinginan dengan tubuh menggigil. Saat tiba di basement apartemen, Wisnu menggandeng Wine menuju sebuah toko pakaian yang berada di lantai dasar apartemen.
"Beli beberapa baju yang kamu suka untuk mengganti pakaianmu yang basah!" ucap Wisnu sambil memberikan sejumlah uang.
Wine mengikuti apa yang dikatakan kekasihnya dan memilih pakaian yang sesuai dengannya kemudian ke kasir untuk membayar. Wine menghampiri Wisnu dengan membawa kantong belanjaan. Wisnu tampak berbeda tidak seperti yang Wine pikirkan saat dia menelponnya tadi pagi, begitu jelas kekesalannya saat Wine tidak membatalkan janjinya pada Melda sahabatnya.
Wisnu kembali menggandeng Wine menuju lift apartemen hingga sampai di depan pintu apartemennya,Wisnu mempersilakan Wine untuk mengganti pakaiannya di kamarnya.
"Ada handuk di dalam kamar mandi, kamu bisa memakainya!" ucap Wisnu.
30 menit kemudian..
Wine telah selesai, dia tampak lebih segar dan cantik saat mengenakan baju yang baru saja dibelinya tadi. Wine membuka pintu kamar dan melihat Wisnu yang tengah asik menonton TV dan menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Wisnu meraih tangan Wine yang duduk di sampingnya.
"Kamu cantik!"
Wine tertunduk malu mendengar ucapan Wisnu.
"Bagaimana menurut kamu, furniture yang ku pilih buat apartemen kita?" tanya Wisnu.
"Bagus, aku suka!" sahut Wine.
Sambil menggenggam tangan Wine.
__ADS_1
"Aku ingin, kamu menata apartemen ini dengan sentuhan tangan mu nantinya!"
Wine setuju dengan menganggukkan kepalanya, kemudian Wisnu mendekatkan wajahnya ke wajah Wine, sebuah kecupan pun mendarat di bibir Wine
Tet Tet Tet !
Terdengar suara bel berbunyi, Wisnu melepaskan ciumannya yang mulai hangat itu dan langsung beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu. Seorang kurir makanan datang mengantarkan makanan yang tadi di pesan Wisnu saat Wine sedang mandi.
"Sayang, ayo kita makan!" Wisnu meletakan dua box makanan yang diletakkan diatas meja tamu.
"Kamu pasti sudah lapar!"
" Iya!"sahut Wine
"Ini nasi goreng komplit kesukaanku!"
Wisnu membuka bungkusan itu, lalu menyuapi nasi goreng ke mulut Wine.
"Bagaimana enakkan?"
"Iya!"
Wine mengunyah dengan mulut yang terisi penuh.
"Ayo buka mulutmu!"
"Aku sudah kenyang, untuk mu saja!"
Wine masih tetap duduk di samping Wisnu dan memperhatikannya menghabiskan nasi goreng tersebut dengan lahapnya. Setelah menyelesaikan makan malam, Wisnu meraih remote Tv untuk mengganti channel untuk mencari tontonan yang disukainya. Sementara Wine membereskan sisa makanan dan membuang bungkusannya makanan ke tempat sampah yang ada di dapur.
Wine menghampiri Wisnu dan duduk di dekatnya. Wisnu menggeser duduknya lebih merapat dan tangannya merangkul pundak Wine.
"kita lanjutkan ciuman yang tadi!" bisik Wisnu di telinganya.
Tangannya membelai rambut Wine yang terurai sebahu, tatapan keduanya makin dekat, Wisnu mencium bibir Wine yang ranum dan kali ini **********. Keduanya hanyut dalam ciuman yang semakin memanas.
Wine menutup kedua matanya, menikmati sentuhan dari setiap celupan, keduanya merebahkan tubuhnya di lantai. Ciuman itu semakin liar. Wisnu memberikan ciuman yang semakin panas pada leher dan membuka kancing baju Wine satu persatu, tampak bukit kembar yang ranum yang terbungkus penyangga. Wisnu mengujami dengan kecupan di seputar bukit kembar yang berisi itu.
"Ougghhh..
Wisnu membuka baju kaosnya, terlihat dada yang berotot dan bahu yang kekar, dengan kedua tangannya yang kokoh dan berotot itu memeluk eratnya tubuh Wine. Kemudian kembali mencium bibir sampai ke lehernya, tangannya mulai traveling meraba dan meremas bukit kembar yang berisi.
__ADS_1
"Ahhh...Hentikan!" Apa yang kita lakukan ini?"
Wine mendorong tubuh Wisnu dengan kuat, segera Wine beranjak dari tempat dimana tadi dirinya terbaring dan Wine mengancingkan kembali bajunya yang terbuka.
"Maafkan aku!" ucap Wisnu.
Seketika ruangan terasa hening, mereka hanya saling menatap tanpa ada kata-kata yang keluar mencairkan suasana. Wine menyandarkan tubuhnya di sofa sambil mengatur nafasnya. Ciuman nakal yang diberikan Wisnu sempat membuatnya hanyut dalam sentuhan kenikmatan.
"Ku mohon maafkan aku!"
"Iya, seharusnya kita bisa mengendalikan diri," ucap Wine.
"Aku mencintaimu, Wine!" sambil meraih tangan Wine dan menciumnya.
"Kita belum sepantasnya berbuat begitu!"
"Iya, aku tahu!"
Wisnu duduk di sofa di samping Wine.
"Cintaku dengan cara yang benar, sebelum kamu menikahi ku!" ucap Wine.
Wine menyandarkan tubuhnya ke sofa, rasa letih dan lelah membuatnya terlelap, sementara Wisnu memperhatikan Wine yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Dua jam kemudian
"Wine...bangun"
Wine membuka matanya dan melihat Wisnu di hadapannya.
"Bangun, sudah hampir jam 8 malam!" ucap Wisnu.
"Lihat, kamu seperti anak kecil saat terlelap tidur!"
Wisnu memperlihatkan foto hasil jepretannya yang tersimpan di galeri ponselnya kepada Wine.
"Kamu memotret ku!"
Wine meraih ponsel di tangan Wisnu. Wine kembali tersenyum menanggapi candaan Wisnu.
"Maafkan atas sikap dan perilaku ku tadi!" ucap Wisnu sambil menggenggam kedua tangannya Wine.
__ADS_1
"Iya, berjanji lah untuk mencintai ku dengan benar sebelum aku menjadi istrimu!" ucap Wine.
Bersambung......