Kerinduan Yang Ternoda

Kerinduan Yang Ternoda
Siapa Melda ?


__ADS_3

Mobil taksi yang ditumpangi oleh Katrina dan Rossi berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang besar dan mewah. Ini bukan kali pertama Katrina ke tempat itu, dimana 15 tahun yang lalu ia pernah mengunjungi rumah besar nan mewah itu.


"Apa benar ini alamatnya, Rossi? tanya Katrina.


"Iya, betul kok ini alamatnya," jawab Rossi.


"Pak, tolong balik lagi ya," ucap Katrina pada sopir taksi.


"Kenapa, Katrina?" tanya Rossi.


"Kita pulang saja!"


"Loh,kenapa Katrina? Kamu sudah jauh-jauh datang kesini untuk mencari Wine!"


"Nanti ku ceritakan!" ucap Katrina.


Selama perjalanan, Rossi memperhatikan Katrina yang tampak gelisah. Katrina melemparkan pandangannya keluar kaca mobil, ia mencoba menahan agar air matanya agar tak terjatuh. 15 tahun bukan waktu yang singkat, namun luka di hatinya seakan masih baru. Ingatan kembali ke masa itu, dimana sebuah kenyataan pahit yang harus diterimanya atas kebohongan seseorang kepadanya.


*Sekelebat ingatan masa lalu itu singgah.


"Siapa dia, Heru?"


"Lebih baik kau tinggalkan tempat ini secepatnya!"


Tangis Katrina pun pecah, Rossi yang berada di sampingnya langsung memeluknya. Katrina bersandar di bahu Rossi sampai taksi yang ditumpanginya sampai di depan pintu pagar kosan. Katrina turun dari taksi dengan langkah kaki yang lemah, Rossi memapahnya masuk ke dalam rumah dan membaringkan Katrina di sofa.


"Minumlah dulu agar kau lebih baik!" ucap Rossi.


Rossi duduk di samping Katrina yang tampak begitu bersedih. Terlihat air mata itu masih jatuh membasahi pipi Katrina yang seakan tak terbendung lagi.


"Ceritakan padaku, sebenarnya ada apa ini?" tanya Rossi.


"Siapa nama temannya Wine, yang tadi rumahnya kita datangi itu?" tanya Katrina.


"Melda!"


"Apa kau mengenalnya?"


Katrina hanya diam, pikirannya menerawang jauh, mengingat kehidupannya dulu bersama Cakra. Perjalanan pernikahannya yang tidak berjalan mulus seperti yang ia rencanakan bersama Cakra waktu itu. Sebuah dendam seseorang yang membawa tragedi dalam hidupnya. Apakah Melda putri dari Liliana?

__ADS_1


Katrina mengelus dadanya yang mulai terasa sesak, saat semuanya kehidupan masa lalunya kembali di ingatannya. Katrina berdiri, beranjak dari tempat duduknya.


"Aku mau istirahat dulu, Rossi!"


"Baiklah!" ucap Rossi sambil menatap Katrina.


Kepribadian Katrina sangat tertutup, ia seseorang yang tidak dengan mudahnya bercerita tentang masalahnya dengan siapapun. Meskipun Rossi adalah sahabatnya dari sejak duduk di bangku SMA.


Malam semakin larut, Katrina membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memandangi langit-langit kamar, namun matanya tak bisa terpejam, ia memikirkan siapa Melda yang menjadi sahabat putrinya itu. Bayangan masa lalu itu kembali menghantui Katrina.


"Ada surat dari kedutaan Australia, Nyonya!"


"Surat apa ini?" Tanya Katrina.


Katrina membuka surat itu dan membacanya berkali-kali. Tangannya gemetar seakan ia tak percaya dengan apa yang dibacanya.


"Heru, apa ini maksudnya?"


"Saya akan mengkonfirmasi berita ini nanti siang nyonya tapi tolong jangan sampai Tuan tau!"


Air mata semakin deras membasahi pipinya, seakan tak terbendung lagi. Sekian lama ia bungkam atas kasus yang terjadi pada Cakra, hanya Heru, orang kepercayaan sekaligus sahabat dari Cakra yang mengetahui tentang apa yang terjadi pada Cakra. Malam hampir beranjak pagi,


Keesokan harinya


Drrt...drrt


Ponsel Wisnu bergetar di atas meja tamu, membuatnya terjaga dari tidurnya. Tampak di layar panggilan dari nomor telepon yang tidak diketahui.


"Halo, Wisnu, ini aku Melda!" terdengar suara


dari sana.


"Halo, ada apa meneleponku?"


"Apa Wine bersamamu?"


" Iya."


"Tadi ibu kos Wine meneleponku dan memberi tau, Mamih Wine menunggunya di kosan!"

__ADS_1


"Oke, nanti disampaikan!" ucap Wisnu.


Wisnu mengakhiri sambungan teleponnya, kemudian berjalan menuju kamar namun terdengar suara dari dapur, seperti ada yang sedang memasak. Tercium wangi aroma roti bakar dari dapur.


"Pagi, sayang!" sapa Wisnu.


Wine yang sedang mengoles selai coklat dan menata roti bakar di atas piring, tersenyum dan menjawab sapaan kekasihnya, kemudian Wisnu memberikan ponselnya kepada Wine.


"Teleponlah mamih mu sekarang!" ucap Wisnu.


Wine terkejut mendengar ucapan dari Wisnu dan menghentikan tangannya yang sedang mengoles selai coklat pada roti. Wine duduk di kursi, sesaat ia terdiam sambil memandangi Wisnu. Wine mengambil ponsel yang diberikan kepadanya, kemudian meletakan di atas meja makan.


"Maaf aku tidak mau meneleponnya!" ucap Wine sambil menghela nafasnya.


"Kenapa?"


Mamih menunggumu di kosan tadi Melda menelepon ku!" ucap Wisnu sambil menggenggam tangan Wine.


Seketika air matanya jatuh, ada rasa rindu di hatinya, namun Wine tidak ingin bertemu. Wisnu menghapus air mata di pipinya, dan mencoba menyakinkan Wine untuk segera pulang ke kosannya.


"Aku akan mengantarmu sebelum aku berangkat kerja," ucap Wisnu.


Wisnu beranjak dan segera masuk ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian Wisnu sudah berpakaian rapi dan menghampiri Wine yang masih duduk di ruang makan. Wisnu duduk di sampingnya kemudian mengambil sepotong roti bakar yang telah tersedia. Wisnu menyuapkan roti bakar ke mulut Wine yang tampak masih saja diam.


"Aku belum mau kembali ke kos Wisnu!" ucap Wine.


"Tapi mamih mu menunggu di sana!" jawab Wisnu.


Wisnu mencoba membujuk dan menenangkan hati kekasihnya. Wine kemudian bangkit dari tempat duduknya berjalan ke kamar dan keluar dengan menyeret tas kopernya. Wisnu yang sudah tampak rapi berpakaian segera mengenakan sepatunya. Melangkah keluar dari apartemen, Wine tampak ragu, langkahnya terhenti namun Wisnu menarik tangannya dan menggandeng Wine sampai ke parkiran. Wisnu membukakan pintu mobil untuknya. Wine hanya diam saja, begitu banyak pertanyaan yang ada di benaknya yang berkecamuk jika nanti bertemu mamih. Wine tidak ingin melukai hatinya dengan segala pertanyaannya nanti dan dia pun tidak ingin kecewa jika nantinya mamih belum bisa berterus terang padanya. Pandangannya kosong, ia menatap ke depan melihat jalanan yang sudah ramai dari kaca mobil tapi tidak seramai yang sedang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya.


Wisnu mengendarai mobilnya dengan hati-hati, sekali-kali ia melihat ke arah Wine yang sedang melamun. Wisnu kemudian menggodanya, tatapan mereka saling bertemu, Wisnu mencoba kembali menggodanya untuk membuat kekasihnya tersenyum, namun sepertinya Wine pagi ini enggan untuk memberikan senyumannya. Tak terasa laju mobil yang Wisnu kendarai telah sampai di depan kosan.


"Sampaikan salam ku buat mamih, nanti setelah pulang kerja, aku akan menemuinya!" ucap Wisnu.


Wisnu pun turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Wine dan membantu menurunkan tas kopernya dari bagasi mobil, kemudian pergi meninggalkan Wine di depan pintu pagar kos. Wine masih tetap berdiri sampai mobil yang dikendarai Wisnu menghilang dari pandangannya. Kemudian ia masuk ke kosan yang tampak sepi, liburan semester ini biasanya para penghuni kos banyak yang pulang ke kampung halamannya.


Wine menyeret tas koper menaiki tangga menuju kamarnya, dengan perlahan-lahan ia membuka pintu kamar yang tampak tak tertutup rapat. Ia masuk dan melihat mamih yang sedang terbaring. Ia meletakkan tas koper di sudut kamarnya dengan hati-hati, takut membuat mamih terjaga.


"Wine, kamu sudah pulang!"

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2