
Di pagi yang buta, Wisnu menekan tombol bel kos Wine. Ibu kos keluar dan mengintip dari balik pintu pagar.
"Cari siapa!!" teriak ibu kos.
"Maaf bu, ini saya Wisnu!!"
"Ada apa? pagi-pagi sekali!!"
"Saya ingin bertemu Wine bu!!"
Rossi memperhatikan Wisnu, ia tampak kusut, tidak seperti biasanya Wisnu selalu berpenampilan rapi dan bersih. Rossi membukakan pintu pagar.
"Kamu tunggu di situ dulu!!"
Rossi berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar Wine.
Tok tok
"Wine, kamu sudah bangun?"
Krekkk..
Suara pintu dibuka.
"Ada apa bu?" tanya Wine.
"Ada Wisnu di bawah! apa kamu ada masalah dengan Wisnu sampai sepagi ini dia menemui!!"
"Mungkin ada hal yang penting, bu!"
Wine berjalan menuju tangga kemudian menuju ke lantai bawah kosan.
"Ada apa Wisnu!!"
"Wine, aku ingin mengajakmu pergi! kita menikah saja meskipun tanpa restu!!"
"Apa!!"
"Aku tidak tahu bagaimana caranya menolak keinginan papa!!"
Wine menggelengkan kepalanya, Sementara sepasang mata sedang memperhatikan dan menguping pembicaraan Wisnu dan Wine.
"Wine, aku tidak ingin menikah dengan Melda! sementara lusa aku sudah harus pertunangan!!"
"Iya, aku sudah tahu! Melda kemarin memberi tahu ku dan memberikan undangan pertunangan kalian!!"
"Wine, kita kawin lari saja!!"
"Tidak Wisnu!!"
"Kamu tidak mencintai ku!!"
"Bukan begitu masalahnya! aku tidak ingin seperti mami ku!!"
"Jadi kamu akan membiarkan aku bertunangan dan menikahi Melda!!"
"Iya."
Wine menunduk kepalanya.
"Harus bagaimana lagi! maafkan aku Wisnu!!"
Raut kesedihan tampak di wajah keduanya.
"Maafkan aku! aku harap kamu nanti bisa bahagia dan bisa mencintai Melda, saudara ku!!"
"Kamu akan datang di hari pertunangan ku!!"
__ADS_1
Wine kembali menganggukkan kepalanya, kemudian Wisnu melepaskan genggaman tangan Wine, berlalu meninggalkan Wine. Rasa akan kehilangan itu begitu menyesakan dadanya, air mata jatuh membasahi pipinya saat Wine kembali ke kamarnya. Wine harus bisa tegar dan mengikhlaskan jika memang Wisnu tidak berjodoh dengannya.
2 hari kemudian.
"Kamu sudah yakin dengan pilihanmu!!" ucap Pepi.
"Aku tidak bisa menolak keinginan papa!!"
"Bagaimana dengan Wine?"
"Wine mendukung perjodohan ini!!"
"Apa?"
"Tuan Cakra memiliki anak dari seorang wanita! Melda dan Wine bersaudara!!"
"Kamu serius Wisnu!!" Pepi terkejut.
"Aku ingin mencari tahu tentang itu! setelah aku tahu, aku akan membawa Wine menemui tuan Cakra!!"
"Untuk apa?"
"Untuk menikahkan aku dengan Wine!!"
"Kamu serius!!" Pepi terperangah.
"Wine dan aku saling mencintai!!"
Tiba-tiba Darmadji setio, papa Wisnu sudah ada di depan pintu kamar.
Eemm..bagaimana kalian sudah siap? Tanya Darmadji setio.
"Ayo, kita berangkat, acara akan dimulai jam 10 pagi!!"
Tak lama kemudian Rombongan keluarga Darmadji setio telah tiba di kediaman Cakra Wicaksana.
Melda sedang di kamarnya, ia sedang di makeup, saat ponselnya berdering.
"Mel, aku sudah datang!!"
"Wine kamu langsung ke kamarku saja!!"
"Baik!"
Saat Wine mematikan sambungan telepon selulernya, ia melihat Wisnu yang baru saja tiba. Kemudian Wine bergegas menuju kamar Melda.
"Akhirnya kamu datang juga Wine!!"
"Kamu cantik sekali Melda!!"
"Aku pikir kamu tidak datang!
"Aku pasti datang untuk kamu dan Wisnu!"
"Kalau kamu tidak datang, aku akan batalkan pertunangan ku dengan Wisnu!!"
"Kamu jangan berkata seperti itu! ini hari bahagia mu, Melda!!"
"Wine, apa kamu akan tetap menjadi sahabat ku?"
"Selamanya kita adalah sahabat meskipun apapun yang terjadi!!" ucap Wine sambil memeluk Melda.
Seorang pelayan masuk dan mengatakan jika rombongan Tuan Darmadji setio telah tiba. Wine segera menuju tempat dimana akan dilangsungkan acara pertunangan antara Wisnu dan Melda.
Di teras samping rumah yang berdampingan dengan taman bunga dan kolam renang telah dipenuhi tamu-tamu undangan. Dekorasi yang begitu indah dengan dihiasi bunga mawar, melati dan tulip. Acara pertunangan Melda terlihat begitu glamor dan berkelas.
Wine duduk di bangku yang telah dipersiapkan. Ia melihat sosok Cakra Wicaksana yang tengah menyambut tamu-tamu undangan. Sosok lelaki itu yang selama ini di carinya. Mata Wine tak lepas memperhatikan Tuan Cakra. Bayangan masa lalu bersama papinya terbayang di pelupuk mata.
"Wow, terang sekali!"
__ADS_1
"Papi lihat!" teriak Wine.
"Apa kamu mau seperti bulan itu, sayang?"
"Iya papi!"
Itulah kenangan terakhir yang masih diingatnya, hingga sampai akhirnya Wine tak pernah bertemu lagi.
Kenangan terakhir itu masih cukup jelas, kini ia bisa mengingat dengan jelas wajah itu. Seseorang yang selama ini dirindukan itu sudah ada di hadapannya. Namun ia tidak bisa untuk menumpahkan seluruh perasaan rindunya. Keinginan untuk memberi tahu akan keberadaannya harus menelan kekecewaan, sebuah cerita masa lalu dan sebuah rahasia yang masih disembunyikan darinya. Kenapa seorang Cakra Wicaksana yang sangat berwibawa dan terpandang itu meninggalkan maminya dan dirinya begitu saja. Seketika matanya berkaca-kaca.
Tanpa disadarinya, tiba-tiba saja Om Dimas sudah berdiri dihadapannya, kemudian ia duduk berdampingan dengannya. Wine berusaha menyembunyikan kesedihannya itu.
"Wine! apa kabar mu?"
"Baik Om!"
"Om bangga padamu! kamu bisa berlapang hati untuk menerima perjodohan antara Melda dan Wisnu!!"
Ponsel di genggaman tangan Wine tiba-tiba berbunyi.
"Maaf Om, Wine jawab telepon dulu!!"
"Halo!
"Ini Dengan mbok Lastri, neng!"
"Ada apa mbok menelepon!!"
"Neng, jangan kaget yah! mami masuk rumah sakit!!"
"Apa mbok! mami masuk rumah sakit!!"
"Sakit apa?"
"Tapi neng jangan kuatir, mami sudah lebih baik dan sekarang sudah masuk ruang perawatan!!"
"Besok Wine segera pulang!!"
"Baik neng!"
Wine menutup panggilan ponselnya. Om Dimas yang duduk di samping Wine mendengar percakapan Wine dan Mbok Lastri.
"Siapa yang masuk rumah sakit, Wine!"
"mami!!"
"Besok kamu akan pulang ke Bali?"
"Iya, Om Dimas!"
"Kalau begitu kita bareng aja! kebetulan om besok ada kerjaan di Bali, masalah tiket biar om Dimas yang atur!!"
"Terima kasih yah, Om!"
Om Dimas melihat rona kesedihan di wajah Wine, meskipun Wine berusaha untuk tetap terlihat tegar dan baik-baik saja.
"Acaranya mau segera dimulai!!" ucap Om Dimas.
Semua tamu undangan sudah menempati kursi yang telah disediakan, acara pertunangan Melda dan Wisnu tampak begitu mewah dan glamor, di hadiri oleh kalangan kaum elit, tokoh masyarakat, pengusaha, ada juga artis dan tokoh publik yang disegani.
"Akhirnya pertunangan anak kita bisa terlaksana hari ini!!" ucap Darmadji setio.
"Mereka betul-betul pasangan serasi!!" ucap Liliana.
"Semoga lancar sampai bulan pernikahannya!!"
Melda mengenakan kebaya modern yang di padukan dengan rok batik panjang sarimbit. Melda tampak begitu cantik, sementara Wisnu mengenakan kemeja batik dan celana panjang. Kedua calon yang kelak akan menjadi sepasang pengantin itu bertukaran cincin. namun pada saat Wisnu mengenakan Cincin pertunangan di jari manis Melda, cincin itu terjatuh. Acara pertunangan sempat terhenti untuk mencari cincin yang terjatuh dan menggelinding di antara tamu undangan.
Cincin itu menggelinding di bawa kursi yang diduduki oleh Wine. Wine mengambil cincin itu dan menyerahkan pada Wisnu, Seketika itu Wisnu menatap cukup lama ke arah Wine. Pikiran Wisnu menerawang jauh, ingin rasanya Wisnu menarik tangan Wine kemudian menyematkan cincin pertunangan itu ke jari manis Wine dan mengatakan pada semua tamu undangan yang hadir di acara pertunangan itu, jika Wine adalah kekasihnya yang sebenarnya. Wine menarik tangannya dari pegangan Wisnu, seketika itu juga Wisnu tersentak dari lamunannya.
__ADS_1
Acara pertunangan kembali dilanjutkan, peristiwa jatuhnya cincin tunangan yang akan disematkan ke jari manis Melda, sempat membuat tamu undangan di acara pertunangan saling berbisik-bisik akan peristiwa yang jarang sekali terjadi.
Bersambung…