
Sepasang mata memperhatikan Katrina dan mbok Lastri yang lagi berbicara dari balik jendela ruang tamu.Tatapan yang begitu tajam, penuh rasa curiga dan kecemburuan.
"Mbok saya ke kantor dulu!"
"Baik, Nya!"
"Kabari yah mbok, kalo Heru sudah datang! suruh tunggu saya di taman!"
Sesaat kemudian Mbok Lastri segera menutup pintu pagar, saat membalikkan tubuhnya, mbok Lastri terkejut saat omah sudah ada di belakangnya.
"Aduh, gusti!" Mbok Lastri mengelus dadanya.
"Omah! saya pikir siapa?"
"Sepertinya akan ada tamu nanti!" ucap omah.
Mbok Lastri terlihat gugup dan sedikit gelagapan saat menjawab pertanyaan Omah.
"Oh, itu omah keponakan saya yang di kampung pengen cari kerja di sini!"
Omah menatap tajam kearah mbok Lastri.
"Saya tau mbok Lastri itu di sini bukan saja menjadi pembantu tapi mbok Lastri adalah orang kepercayaan oleh lelaki busuk itu!" ucap omah.
Kemudian Omah kembali masuk ke dalam rumah. Mbok Lastri hanya diam saat masuk ke dalam rumah. Omah yang duduk di ruang tengah, mengawasi gerak-gerik mbok Lastri. Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.
Neng Nong..
Mbok Lastri segera ingin membukakan pintu, namun omah langsung menyuruh mbok Lastri untuk menyelesaikan pekerjaan dapurnya.
Krekkk
Omah membuka pintu, seorang lelaki tegap, kulitnya sawo matang dengan wajah rupawan, berdiri di hadapan omah. Sementara mbok Lastri berdiri di samping pintu memberikan aba-aba ke lelaki itu.
"Mencari siapa!" Tanya Omah.
"Mbok Lastrinya ada?"
"Ada!"
Mbok Lastri yang sedang berdiri bersembunyi di samping pintu kemudian keluar.
"Maaf Omah! ini keponakan saya yang saya ceritakan tadi!" ucap mbok Lastri.
**********
Sementara Katrina yang sedang berada di kantor, terlihat gelisah menunggu kabar dari mbok Lastri.
"Katanya jam 9 pagi, ini sudah hampir jam setengah 12 siang, mbok Lastri belum memberikan kabar kedatangan Heru!" gumamnya.
Katrina langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya Kemudian menelepon seseorang.
"Halo!"
"Mbok Lastri, Heru sudah datang?"
"Sudah, tapi Omah seperti curiga! jadi saya suruh Heru menemui Nyonya ke kantor saja!"
"Mungkin sebentar lagi datang!"
Katrina langsung menutup sambungan telepon, kemudian keluar dari ruang kerjanya menuju ke depan pintu keluar hotel dan kembali menelepon seseorang.
"Halo!"
__ADS_1
"Heru!"
" Heru, kamu jangan ke kantor!"
"Saya sudah ada di depan parkir, Nyonya!"
"Sebaiknya kamu ke seberang jalan, ada sebuah cafe! sebaiknya kita ketemuan di sana!!"
"Baiklah Nyonya!"
Katrina segera menuju sebuah cafe yang berada persis di depan kantor tempat ia bekerja.
"Sudah lama kita tidak bertemu!" ucap Katrina.
Lelaki itu menyalami Katrina kemudian mereka duduk berhadapan.
"Bagaimana kabar tuan, Nyonya!"
Katrina menggelengkan kepalanya.
Peristiwa 15 tahun lalu kembali mengusik ketenangan Katrina.
"Aku ingin kamu sekarang mengawasi dan menjaga anak ku!"
"Lelaki itu masih tetap mencari ku!" ucap Katrina.
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada Nyonya! saya sudah mengetahui siapa sebenarnya lelaki ini!"
Ia mengeluarkan sebuah map yang diselipkannya di balik jaketnya dan meletakkan di atas meja. Katrina langsung membuka map tersebut.
"Siapa orang ini!"
"Dia anak dari seorang pengusaha yang merupakan mitra bisnis dari perusahaan Cakra Prima!"
"Dulu Tuan Adipura semasa beliau masih hidup melakukan kerjasama dengan perusahaan Dionil Bimantoro namun kerjasama itu tidak berjalan lancar karena perusahaan Dionil Bimantoro melakukan kecurangan sehingga diketahui oleh Tuan Adipura Wicaksana. Kemudian keduanya berseteru hingga Permadi Bimantoro mengalami serangan jantung dan meninggal dalam perseteruan itu."
"Dan orang yang ada di foto itu adalah Dion Bimantoro, putra dari Permadi Bimantoro!"
"Jadi!!!"
"Iya, Nyonya! dia orangnya!!!"
"Saya permisi, Nyonya!!"
Katrina terdiam, matanya berkaca-kaca, sorot mata itu terlihat begitu marah.
********
"Maaf, aku tidak memberitahu kedatanganku!"
Wanita tua itu duduk membelakangi kemudian memutar kursi kerja di mana itu adalah ruang kerja Cakra.
"Dion, sudah cukup lama kamu menikmati duduk di sini!!"
"Blanca, sejak kapan kau datang?"
"Baru saja!!"
"Kamu tahu maksud kedatangan ku!!"
"Tentu, aku tahu apa yang kamu inginkan, Blanca!!"
"Bagus!!"
__ADS_1
"Jangan sampai kamu pura-pura lupa dengan kesepakatan kita dulu!"
"Semua aset perusahaan Cakra Prima adalah milik ku! dan Dimas anakku yang berhak atas perusahaan ini!"
"Tapi masalah aku akan memberikannya kepada pewaris perusahaan Cakra Wicaksana! bukan kamu maupun Dimas!!'
"Apa maksudmu!!"
"Maksudku, aku akan berikan perusahaan Cakra Prima ini kepada pewarisnya!!"
Brakkk
Suara meja dipukul keras.
"Baiklah, tapi ingat aku akan membuka kedok Asli mu! ingat itu!!"
"Kamu mengancam ku!!"
"Kamu akan membusuk di penjara, Dion!!"
Wanita tua itu keluar dari ruangan dengan membanting pintu.
30 menit kemudian.
"Tuan, tuan Dimas sudah datang!!"
"Suruh masuk!!"
"Dimas!"
"Silahkan duduk! sudah lama kita tidak bertemu!!!"
"Mengapa kau memanggilku ke sini!!"
"Aku ingin tahu, apakah kamu sudah menemukan keberadaan Katrina dan anaknya!!"
"Sampai sekarang sejak kamu memilih menikahi Liliana, aku tidak pernah lagi bertemu Katrina, apalagi tau jika Katrina mempunyai anak!!"
Cakra terdiam, dan menyadari ia keceplosan saat mengatakan jika Katrina memiliki anak. Saat mendengar perkataan dari Dimas, adik tirinya itu.
"Untuk apa kamu mencari Katrina??"
" Oh..maksudku, aku hanya ingin memastikan, apakah Katrina memiliki anak dari ku!!"
"Kalau Katrina memiliki anak dari mu, mengapa kamu dulu menikahi Liliana!!"
Cakra kembali terdiam, karena ia pun tak mungkin mengatakan pada Dimas tentang suatu kejahatan di masa lalu yang dilakukan dirinya bersama Blanca terhadap Katrina. Dimas memperhatikan saudara tirinya itu, sudah lama Dimas merasakan ada yang berbeda dengan saudara tirinya itu.
Dimas merasakan jika Cakra yang ada di hadapannya bukanlah Cakra yang dikenalnya. Dimas menyadari itu bahwa sudah sejak lama, bahkan ia tidak mengerti sosok Cakra yang dulunya ramah, supel, humoris dan bersahaja itu tidak ada pada Cakra yang sekarang sedang ada di hadapannya.
Dimas tidak tahu penyebab perubahan sikap Cakra yang dulu dengan sekarang. Bahkan keputusannya dulu menikahi Liliana, seorang wanita yang bahkan tidak dikenalnya, seakan semakin membuatnya tidak mengerti. Dimas sangat mengetahui, bagaimana dulu Cakra sangat mencintai Katrina, dan berani menentang ayah Adipura Wicaksana yang tidak merestui hubungannya dengan Katrina hanya karena Katrina berasal dari orang biasa. Sejak Adipura meninggal dunia, semenjak itu lah, begitu banyak yang berubah dari diri Cakra.
"Eeemmhh!"
"Cakra, aku masih ada keperluan lain!!"
Seketika Cakra tersentak dari lamunannya.
"Baiklah, terimakasih sudah datang!!"
Cakra kembali ke meja kerjanya, sesaat setelah Dimas pergi, ia mengingat kejadian 20 tahun silam, saat dimana dirinya dikendalikan oleh Blanca. Blanca adalah kekasih gelap dari Permadi Bimantoro. Dia adalah istri kedua dari Adipura Wicaksana. Blanca seorang yang memiliki ambisi untuk menguasai harta dari Adipura Wicaksana, dengan kelicikannya, ia mendekati Permadi Bimantoro dan bersedia berselingkuh.
Melalui Blanca, Permadi Bimantoro dapat melakukan kecurangan dalam kerjasama bisnisnya dengan Adipura Wicaksana. Namun kecurangan Permadi Bimantoro terendus oleh Adipura Wicaksana. Semenjak itu hubungan kedua pebisnis itu menjadi tidak baik. Situasi itu dimanfaatkan blanca, terlebih setelah Permadi Bimantoro meninggal. Blanca memaafkan situasi itu untuk menghasut Dion Bimantoro.
__ADS_1
Bersambung…