Kerinduan Yang Ternoda

Kerinduan Yang Ternoda
Kesedihan


__ADS_3

Hari ini begitu terik, Wine melihat jam tangannya menunjuk pukul 13:20 siang. Wine beranjak dari kampusnya untuk kembali ke tempat kosan. Wine menghentikan langkah kakinya di depan pintu gerbang kampus, dimana seminggu yang lalu Wine melihat seseorang laki-laki setengah baya. Wajah itu seakan mengingat dia pada seseorang. Sosoknya dan wajahnya seakan tidak tidak asing, namun saat Wine ingin lebih dekat melihat, lelaki setengah baya itu berlalu mengendarai mobilnya. Wine berharap hari ini bisa melihat dan bertemu kembali.


Panas matahari semakin menyengat, Wine menyeka keringat yang jatuh di pelipisnya. Lama menunggu namun sosok itu sepertinya tidak muncul. Wine kembali melihat jam di tangannya sudah hampir jam 1 siang. Dari kejauhan terdengar suara knalpot motor yang tidak asing lagi ditelinga Wine. Pepi memberhentikan motornya di dekat Wine.


"Hey Wine, sedang apa disini?" Mari ku antar pulang, ucap Pepi.


Wine tidak menolak ajakan Pepi, ia langsung duduk di belakang. Suara knalpot motor terdengar begitu berisik, Wine menutup telinganya saat motor itu melaju mengantarkannya pulang ke kosan. Sesaat kemudian Wine telah sampai di depan pintu gerbang kosannya.


"Terima kasih ya, ucap Wine.


"Iya, Ada salam dari Wisnu untuk mu ucap Pepi.


Wajah Wine langsung merona. Setelah Wine turun dari motor, Pepi langsung mengendarai motornya dan melesat dan menghilang di tengah keramaian hiruk-pikuk kampus.


*****


Keesokan harinya.


Alarm jam weker berbunyi memekakkan telinga. Wine memang selalu menggunakan jam antik itu untuk membangunkannya setiap paginya.


Kring kring


Argh...Wine menggeliat, merentangkan kedua tangannya keatas sambil menguap dan mengucek mata indahnya.


Tok tok


Terdengar suara pintu diketuk


"Siapa, teriak Wine sambil mematikan bunyi alarm jam wekernya."


"Ini aku Melda!" terdengar suara sahutan dari luar. Seperti biasanya setiap pagi Melda pasti datang ke kosannya.


Saat Wine baru membuka pintu kamar kosannya. Melda langsung masuk dan membaringkan tubuhnya di kasur seperti biasanya namun wajahnya tampak sedikit cemberut.


"Ada apa kamu Mel?" tanya Wine.


"Aku bosan, mereka selalu sibuk dengan urusan bisnisnya saja! Teriak Melda, sambil tangannya memukul kasur.


"Mereka, siapa?" tanya wine.


"Orang tuaku, mereka sama sekali kurang memperhatikan aku dan kedua adik ku!" ucap Melda sambil berbaring terlentang dan meletakkan bantal di wajahnya.


Wine menghampiri dan duduk di pinggir tempat tidur. Tidak biasanya Melda bersikap seperti itu. Melda anak yang ceria, humoris dan sedikit kepo namun kali ini Melda tampak sedih dan marah. Wine mengambil bantal yang menutupi wajah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Selesai kuliah nanti, Aku ingin kamu ikut aku ke rumahku!" ucap Melda.


"Oke!" ucap Wine sambil meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Sementara Melda menunggu sambil memainkan ponselnya.


Beberapa jam kemudian


Kuliah hari ini sudah selesai, Wine dan Melda menuju parkiran dimana sopir dan mobilnya menunggu.


"Wine..lihat di sana, itu di parkiran motor!" ucap Melda sambil berbisik.


Wine melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Melda.


"Maksudmu Wisnu?" tanya Wine.


"Iya, siapa lagi!" sahut Melda sambil mencubit tangan Wine.


Wisnu berjalan dan sedikit berlari kecil menghampiri Wine dan Melda.


"Hey, Wine, mau kemana?" tanya Wisnu sambil tersenyum ke arah Wine, belum sempat Wine menjawab pertanyaan Wisnu, Melda menjawabnya.


"Wine mau ke rumahku, kamu mau ikut!" ucap Melda.


"Oh..maaf lain kali aja," ucap Wisnu.


Mobilnya yang di kendarai sopir melda pun sudah berada persis di depan Wine. Sopir itu membukakan pintu untuk mempersilakan Melda dan Wine masuk ke dalam mobil. Sekitar 45 menit perjalanan menuju rumah Melda. Mobil berhenti di depan sebuah rumah dengan gerbang yang besar dan tinggi, tampak seorang satpam membukakan pintu gerbang dan mobil melaju pelan memasuki pekarangan yang luas.


Wine terperangah melihat rumah yang besar dan mewah itu dengan pilar yang menghiasi setiap sudut rumah serta pekarangan dengan taman yang indah dan tertata rapi.


"Pasti bukan orang biasa yang mempunyai rumah seperti ini!" ucapnya dalam hati.


"Ini rumah mu?" tanya Wine sambil terus melihat dari kaca mobil.


"Iya," jawab Melda.


Mobil akhirnya berhenti, Wine dan Melda keluar dari dalam mobil setelah sopir membukakan pintu mobil itu. Wine berjalan mengikuti Melda masuk ke dalam rumah dari pintu samping rumahnya. Tiba-tiba seorang gadis kecil menghampiri.


"Ada apa sayang?" tanya Melda sambil menggerakkan tangannya seakan berbicara dengan bahasa isyarat.


"Kenalkan ini adikku, Melisa namanya tapi sayang adikku tuna rungu!" ucap Melda.


"Hai..Melisa, sapa Wine sambil melambaikan tangannya dan tersenyum."


Wine berjalan mengikuti Melda menuju sebuah kamar.

__ADS_1


"Ini kamarku, ayo masuk!" seru Melda sambil membuka pintu kamarnya.


Sebuah kamar yang besar dengan interior yang apik dan furniture yang berkelas, begitu membuat Wine terpesona melihatnya. Seseorang menghampiri dengan pakaian seperti pelayan restoran.


"Maaf nona, Ada yang bisa saya bantu!" ucapnya sambil menundukkan kepala memberi hormat pada Melda.


"Bawakan cemilan dan jus lemon!" ucap Melda memberikan perintah.


Sementara pelayan itu mengangguk sambil kembali membungkuk di hadapan Melda.


"Melda, apa itu pelayan rumah ini?" tanya Wine.


"Iya, ada 20 orang pelayan di sini belum termasuk sopir, satpam dan tukang kebun. aku dan kedua adikku selalu dan bahkan setiap hari hanya ditemani pelayan-pelayan itu. Ayah dan bunda ku jarang sekali pulang dan berkumpul bersama kami."


Mata Melda berkaca-kaca dan sebutir kristal jatuh membasahi pipinya. Terlihat jelas kesedihan yang diliputi amarah.


Krekk...


Terdengar suara pintu terbuka, Melda langsung menyapu air matanya. Melisa berlari mendekati dan memeluk Melda dan terlihat Melisa dengan mimik wajah yang terlihat sedih, menggerakkan tangan dan bibirnya menyampaikan sesuatu kepada Melda.


"Kenapa adikmu Melda?" tanya Wine yang tidak mengerti cara mereka berkomunikasi.


"Tidak apa-apa", hanya menanyakan ayahku, kapan mereka pulang jawabnya."


"Ayo..Ikut aku Wine, kita ke kamar Melisa!"


Wine mengikuti Melda dan Melisa, ada banyak kamar dan ada sebuah ruangan yang cukup besar, Wine berjalan sambil memperhatikan setiap interior dan furniture rumah yang sangat besar, mewah dan memiliki banyak kamar itu.


Seketika matanya tertuju pada sebuah foto yang menggantung di dinding dengan pintu kamar yang dibiarkan terbuka saat Wine melewatinya, lalu ia menghentikan langkahnya, perhatiannya tertuju pada foto di dalam kamar itu.


Wine Melangkah masuk, mencoba melihat lebih dekat sosok yang ada di foto itu. Tubuhnya bergetar hebat dan tangan yang gemetar mencoba meraih foto.


Kemudian Wine menutup mulut dengan kedua tangan agar keterkejutannya tak mengeluarkan suara.


"Wine!"


Melda menepuk pundaknya dari belakang.


Seketika Wine menahan kesedihan agar air matanya yang mulai menggenang tak terlihat oleh sahabatnya dan Wine perlahan membalikkan tubuhnya sambil sedikit menundukkan wajahnya.


"Itu foto ayah ku waktu dia masih muda! Dia tampan bukan?" sambil menatapi foto di hadapannya dengan bangga.


Ucapan Melda bagai petir yang menyambar dan jantungnya berdegup kencang dan aliran darah mengalir sangat deras saat mendengar perkataan Melda. Wine berusaha menyembunyikan perasaan yang sedang menyelimuti hatinya. Ia berusaha tetap berdiri meskipun tubuhnya terasa tak bertulang lagi. Wine mencoba menarik nafasnya perlahan-lahan dan berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2