
"Jawab aku mamih!"
"Kamu sudah salah paham, omah dan mamih tidak bertengkar!"
"Wine mendengar semuanya mamih!"
Katrina mencoba memeluk dan menenangkannya namun Wine langsung menepis tangannya. Katrina mencoba kembali memeluk dan membelai rambut putrinya, namun Wine langsung berlari masuk dan menutup pintu kamarnya.
"Wine!"
Katrina memanggil dan mengetuk pintu kamarnya.
"Tinggalkan aku sendiri, mamih!"
Katrina terdiam namun masih tetap berdiri di depan pintu kamar, berharap Wine membukakan pintu untuknya.
"Sudahlah Nyonya, biarkan neng Wine sendiri!" ucap mbok Lastri.
Katrina memerlukan mbok Lastri yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri. Mbok Lastri sudah lama bekerja dengan Katrina, bahkan sebelum Wine dilahirkan. Ia begitu sangat memahami perasaan Katrina dan selalu setia menemani Katrina.
Krekk..
Wine berdiri di belakang pintu kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya, air mata mengalir dari celah pelupuk matanya. Bukan hanya perlakuan omah yang membuatnya bersedih atau ucapan omah yang baru ia dengar tapi banyak hal yang ditutupi darinya selama ini. Wine membaringkan tubuhnya lalu meraih ponselnya.
Ia membuka galeri foto, ada foto Melda, Melisa, Robby dan Om Dimas yang tersimpan di ponselnya. Foto itu diambil saat Wine berkunjung ke rumah Melda tempo hari. Air mata itu semakin tak terbendung, dimana saat Wine mengingat saat berada di rumah Melda, ia menemukan foto seseorang yang sama dengan foto yang dia temukan di tas cover milik Katrina tiga tahun yang lalu. Malam semakin larut, rasa lelah membuat Wine terlelap dalam tidurnya.
"Mamih!!!
Wine memeluk Katrina sangat erat, seseorang menarik tangan Katrina dengan kasarnya mencoba merebut Wine dari dekapannya sehingga Katrina terjatuh dan Wine terlepas.
"Berikan anak itu padaku!"
"Tidak!!" teriak Wine.
Mimpi itu membuat Wine terjaga dari tidurnya. Wine mengusap keringat membasahi keningnya, ternyata ia bermimpi. Tercium semerbak aroma masakan, Wine melihat jam di dinding yang tergantung di sudut kamarnya, sudah jam 6 pagi. Wine keluar dari kamarnya menuju dapur, mbok Lastri tampak lagi sibuk memasak dan menyiapkan sarapan. Cacing di perutnya meronta-ronta, segera minta diisi karena dari kemarin siang Wine tidak sempat mengisi perutnya.
"Mbok, masak apa?" sapa Wine.
"Neng sudah bangun?" sambil mengambil segelas air dan memberikan pada Wine.
"Masak semur daging kesukaan Eneng Wine dan nasi goreng!"
Wine duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan mbok Lastri yang menata makanan di meja makan. Katrina keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut tubuhnya.
"Kamu sudah bangun, mandilah, setelah itu kita makan bersama."
Katrina memberikan handuk kepada Wine, kemudian Wine beranjak dari kursinya menuju kamar mandi.
30 menit kemudian
Tok...Tok
"Wine, ayo kita sarapan!"
terdengar suara mamih memanggil.
__ADS_1
Wine membuka pintu kamarnya, segera ia menuju ruang makan. Tampak omah sedang menikmati makanannya, Wine menghampiri dan duduk di sampingnya. Omah langsung berdiri menyudahi sarapannya kemudian masuk kembali kedalam kamarnya dengan membawa segelas air. Ini bukan perlakuan omah pertama kali padanya, Katrina hanya diam kemudian menyendok nasi goreng dan meletakkannya pada piring putrinya.
"Makanlah, sayang!"
"Iya mamih!"
Suasana hening tidak ada satu katapun keluar untuk menghiasi obrolan di meja makan, hanya suara sendok yang terdengar. Wine menikmati sarapannya meskipun hatinya bersedih dan kecewa.
"Mamih besok libur, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
Wine hanya mengangguk kepalanya. Katrina menyelesaikan sarapannya dan beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tas kerjanya lalu mencium kening putrinya.
"mamih berangkat kerja dulu, sayang!"
Katrina tampak tergesa-gesa menuju garasi. Terdengar suara mesin mobil menyala lalu kemudian menghilang. Wine masih duduk di meja makan setelah menyelesaikan sarapannya.
Sementara mbok lastri kembali Merapi meja makan. Tiba-tiba terdengar omah memanggil mbok Lastri. Wine beranjak dari kursi duduknya lalu mengikuti mbok Lastri yang berjalan tergesa-gesa ke kamar omah.
"Boleh Wine masuk omah!"
Omah hanya diam tidak menjawab sapaan Wine. Mbok Lastri menarik tangan Wine, menyuruhnya keluar namun Wine tetap masuk menghampirinya yang duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Boleh, Wine, ingin bicara dengan Omah?"
Wine bersimpuh di kaki omah dan memegang tangan omah sambil menciumi.
"Maafkan Wine Omah!!" ucap Wine sambil menangis.
Omah hanya diam tanpa melihat ke arah Wine dan menarik tangannya kemudian berdiri. Wine memegangi kaki omah dan menangis.
Omah mendorong tubuh mungil itu dan menepis tangan Wine untuk melepaskan pegangan di kakinya lalu pergi meninggalkan Wine yang menangis. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Wine menangis duduk di lantai kamar omah, sementara mbok Lastri memeluknya dan mengajak keluar dari kamar omah.
"Ayo neng, ke kamarmu!" ucap mbok Lastri sambil membantu Wine berdiri.
Tangisnya kembali pecah, air mata tak henti mengalir dan membasahi pipinya. Bertahun-tahun Wine diam dari apa yang seharusnya ia ketahui. Wine menghapus air matanya lalu mengambil secarik kertas untuk menulis pesan lalu meletakkan di meja rias.
*Mamih, maaf Wine pulang ke
kosan.
Wine mengambil ponselnya lalu menelepon untuk memesan taksi setelah itu ia membereskan pakaian ke dalam koper, tidak menunggu waktu lama, ponsel Wine kembali berbunyi. Taksi yang dipesan sudah tiba.
Wine menyeret tas kopernya keluar dari rumah. Sementara mbok Lastri mencoba untuk menghentikan langkah Wine, namun Wine tetap berjalan keluar tanpa memperdulikannya dan masuk ke dalam taksi yang telah menunggunya.
Wine melihat arloji di tangannya, pukul 9:15 pagi, masih ada jadwal penerbangan siang ini. Setibanya di bandara Wine duduk sendiri menunggu penebangan jam 13:30 yang akan membawanya kembali ke kosannya.
Drrrtt... Drrrtt
Ponsel Wine bergetar, tampak di layar panggilan masuk dari Wisnu.
"Halo sapa Wine.
"Sayang, kamu lagi ngapain?"
suara Wisnu terdengar dari sana
__ADS_1
"Aku lagi di bandara, bisa jemput aku nanti jam 4 sore
ini," ucap Wine.
"Bisa, aku akan menjemputmu!"
"Sampai ketemu nanti, sayang!"
"bye!!"
Wine meletakkan kembali ponselnya ke dalam tasnya, setelah mematikan ponselnya sambil menunggu panggilan jadwal keberangkatannya. Tak terasa pesawat yang ditumpanginya sudah mendarat dan Wine kembali mengaktifkan ponselnya. Ada pesan masuk dari Katrina namun Wine hanya membacanya kemudian ia menelpon Wisnu.
20 menit kemudian…
"Cepat sekali kamu kembali, kamu pasti kangen padaku!"
Wisnu mengambil tas koper yang ada di tangan Wine kemudian memasukan tas koper milik Wine ke bagasi mobil. Segera Wisnu membukakan pintu mobil untuk Wine. Ada setangkai bunga mawar diletakkan di atas Dashboard mobil.
"Bunga itu untuk mu, sayang!"
"Terima kasih!" ucap Wine sambil mengambil buket bunga mawar itu lalu menciumnya.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Wisnu.
"Iya"
Wisnu menyalakan mesin sambil memperhatikan wajah kekasihnya dengan matanya yang tampak sembab. Namun ditengah perjalanan Wine meminta kepada Wisnu untuk ke apartemennya.
"Kamu mau menginap di apartemen ku," tanya Wisnu.
"Iya, aku ingin membantu merapikan apartemen mu!" sahut Wine.
Wisnu tersenyum mendengar jawaban kekasihnya, namun Wisnu merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan kekasih itu. Keputusan Wine yang akan menginap di apartemen bersamanya membuat Wisnu tak percaya. Mobil melaju menuju apartemen, Wisnu mengendarai mobil sambil sekali-sekali memperhatikan kekasihnya. Wisnu melihat sikap Wine yang sedikit berbeda. Wine yang duduk di sampingnya hanya diam saja sambil memang sekuntum bunga mawar.
"Kamu baik-baik saja!" tanya Wisnu.
"Iya, aku baik-baik saja!" sahut Wine.
Sesampainya di Apartemen, Wisnu membawa tas koper ke dalam kamarnya.
"Kamu tidur di kamarku dan aku tidur di kamar belakang!"
"Iya, terima kasih!"
Wisnu memang tangan Wine untuk menghentikan langkah kakinya masuk ke kamar.
Bicara padaku, Apa kamu lagi ada masalah?" tanya Wisnu.
Wine menganggukkan kepalanya lalu memeluk Wisnu dan menangis. Cukup lamanya Wine menangis sambil memeluk kekasihnya dengan erat dan Wisnu mencoba untuk menenangkan dan menghapus air mata Wine.
"Ceritakan padaku, apa yang terjadi?" ucap Wisnu.
"Aku tidak tau mau cerita apa pada mu, aku sendiri tidak mengerti!"
"Jangan menangis,aku selalu ada untukmu!" ucap Wisnu sambil memeluk kekasihnya.
__ADS_1
Bersambung....