Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 12 - Kurma


__ADS_3

Semakin lama, semakin dekat dengan kebenaran namun


semakin dekat juga dengan ketakutanku. Kian lama waktu berlalu semakin sering


posisiku digantikan olehnya dan semakin lama juga tubuhku dikuasainya, hanya


masalah waktu saja sampai aku dihilangkan dari dunia ini. Tapi sebelum aku


menghilang aku ingin bertemu dengan Luce.


Tia berusaha mengalihkan pembicaraan, ia berusaha


menutupi sesuatu yang tidak boleh sampai aku ketahui. Ku sadar semakin lama ku


berdebat dengannya pada akhirnya pasti sia – sia, mengingat sifatnya yang


sangat keras kepala. Udara dingin mulai menyelimuti kami, sinar mentari tlah


tergantikan oleh sinar rembulan sebagai saksi mata perjuanganku.


Kupalingkan wajahku dan beranjak menjauh dari Tia.


Beberapa menit kemudian Hpku bergetar dari kantongku, saat ku lihat tertera 28


panggilan masuk dari Rio dan Ria. Kujawab panggilan dari Rio sambil berjalan


mencari taksi untuk pulang, ku terus berjalan sambil memberitauku tempatku


berada hingga langkahku dihentikan oleh seseorang yang berdiri tepat didepanku.


“Halo? Lean? Hey lean kau disanakan? Kenapa kau


berhenti bicara?”


Ku terdiam saat melihatnya, walau kegelapan


menyelimuti suasana kota ini tapi dengan sedikit cahaya rembulan kini aku yakin


dia adalah Luce.


“LUCE!!!”


“gawat! Lean, hey lean? Kau dengar tidak? Jangan


coba – coba kau dekati gadis itu! Hey lean!”


Suara Rio dari Hpku tak terdengar sama sekali,


pikiran dan pandanganku berfokus pada Luce, kegelisahan yang selama ini


menghantuiku menghilang tanpa jejak, ku berlari tanpa beban yang menghalangiku


lagi dalam hati kuberteriak “Akhirnya tiba juga saat ini.” Nampaknya Luce juga


menyadari kehadiranku, ia berdiri dengan tangan terbuka sambil tersenyum


padaku, dengat erat kupeluk dirinya untuk meyakinkan kembali bahwa ini bukan

__ADS_1


mimpi. tiba – tiba aku ditarik kebelakang, saat ku lihat ternyata ia adalah


Rio, sebelum aku memberontak Ria langsung memukulku dan membuatku pingsan


seketika, Rio pun menggendongku dan membawaku ke mobilnya.


“Aku tak akan serahkan sahabatku padamu, dasar


iblis palsu.” Rio melirik gadis itu dengan sinis dan langsung bergegas


meninggalkannya bersama Ria dan Lean yang tak sadarkan diri. Dari kejauhan nampak


ia sedang tersenyum dengan lebar sambil melihat kami.


Kubuka mataku cahaya bola lampu beranjak masuk ke


dalam kesadaranku, tiba –tiba saja aku ada di sofa ruang tamuku, terdengar


suara langkah kaki mendekat dengan perlahan.


“eh udh sadar kau lean. Ini aku bikinin the


hangat, sama kurma kalau lagi bingung makanan manis emng paling cocok.”


“oh iya Rio makasih, ngomong2 kenapa aku bisa ada


dirumah? Seingatku aku kan ada ditaman sama kau dan Ria. Ria juga kemana?”


sambil meneguk teh buatan Rio


aku sama Ria bawa kamu pulang, kalau Ria baru aja pulang tadi soalnya dirumah


Cuma ada adiknya sendirian.”


“oh gitu a.” kumakan salah satu kurma itu tanpa


bicara lagi, namun sesaat kurma itu masuk kemulutku entah mengapa pipiku


langsung dibahasi air mata. Sekilas, hanya sekilas ku teringat sesuatu saat


bersamamu, dan pastinya Luce yang kumaksud. Hadiah pertama darimu adalah sebuah


kurma kau memberikannya karena tau kalau aku tidak suka kurma saat kecil itu.


Kau bersikeras memaksaku memakannya, dan saat itulah mengapa aku jadi sangat


suka kurma. Sekarang aku pecaya Memang cinta dapat mengubah segalanya.


“kau kenapa Lean? Kok menangis?”


“entahlah….aku tidak mau membahasnya.” Sambil


mengusap air mataku


“Rio, menurutku sekaranglah waktu yang tepat untuk


memberi tau semuanya, tentang kenapa kau dulu bersama Luce sebelum menghilang,

__ADS_1


kenapa kau dulu menghilang tanpa alasan? Kenapa jauhkan aku dari Tia dlu? Dan


terakhir kenapa kau sembunyikan keberadaan Luce dariku? Kau pikir aku dpt


dengan mudahnya melupakan kejadian tadi malam?”


“seperti yang aku bilang dulu, Lean. Kau jangan


pernah dekati Tia dan Gadis yang mirip Luce itu. Aku berulang kali


memperingatimu tapi kau tak pernah mendengarkanku.”


Kemarahanku langsung memuncak, ku hempaskan


cangkir yg ku genggam ke sampingku sampai hancur.


“ternyata selama ini kau dalang dari


segalanya,Lean. Aku kecewa padamu, kau tak pantas menjadi sahabatmu lagi, PERGI


KAU DARI KEHIDUPANKU !”


“aku tak peduli apa yang kau pikirkan tentangku,


lean. Apapun yg terjadi kau akan tetap ku anggap sebagai sahabat terbaikku, aku


tau kau tidak akan mempercayaiku tapi tolong jangan dekati 2 orang itu. Selamat


tinggal wahai kawanku.” Rio pergi meninggalkanku sendirian


Aku kembali duduk dan menenangkan pikiranku,


keesokan harinya aku berencana pergi ke kota dimna aku melihat Luce kemarin


malam, aku terus mencari tanpa kenal lelah sampai harapan itupun menghampiriku.


Kedua mataku ditutupi dengan tangan lembut dan mungil dan kudenger suaranya


“Tebak siapa hayoo?”


“Luce?”


Iapun menarik tangannya dan memandangku dengan


senyumannya yang manis.


“Hai, lama tak jumpa ya, Lean. Terakhir kita


bertemu saat masih kecil ya. Sudah berapa tahun itu.”


Aneh. Satu kata itu sekilas muncul dalam


pikiranku, padahal kata diriku yang masih SMA ia sudah kembali bertemu Luce


saat itu.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2