Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 4 - Azimat


__ADS_3

Kegelapan menyelimuti dunia, mentari telah


berganti menjadi rembulan, berusaha menyinari malamku yang sunyi ini sendirian.


Malam itu kuberjalan sendiri ditepi sungai seorang diri, terlihat seorang pria


sedang duduk disebrang sungai sambil tersenyum melihatku


“Siapa kau?!”


Tanpa jawaban pasti ia hanya melambaikan tangan


dan langsung pergi, kucoba tuk mengejarnya setelah semakin dekat….


[Kriiing…]


alarm berbunyi membangunkanku dari mimpi aneh itu.


Kulihat smartphone dalam genggamanku buatku mengingatnya, semalaman ku coba


mencari petunjuk tentang gadis misterius itu dengan membaca pesan – pesan di


kontakku 3 tahun yang lalu, kelihatannya aku terdidur saat sedang mencarinya.


Waktu menunjukkan pukul 09 : 00 pagi dan hari ini aku tidak ada kelas,


kuputuskan untuk jalan – jalan ketaman sesambil mengganti suasana.


Setibanya ditaman dadaku terasa sesak karna


kenanganku bersama Rio kembali terbangun dan menghantuiku. Aku duduk dibangku


taman dan kembali menenangkan diriku, tapi ada sesuatu yang mengejutkanku


disini


“hi, Lean. Senang melihatmu sehat – sehat saja,


jadi kenapa kau terlihat murung?” Suara yang sangat nostalgia terdengar


dibelakangku, ku berbalik dengan rasa penasaran namun yang kulihat ternyata….


“R-Rio?!”


“Sudah – sudah jangan terlalu terkejut seakan –


akan melihat hantu,Lean.”


“Kemana saja kau selama ini? Tiba – tiba


menghilang begitu saja! Kenapa kau tidak memberitauku apapun?” Rio membalas


dengan senyuman kerinduan, dan langsung memukul wajahku sampai terpental


ketanah.


“Sekarang kita impas, Kawanku.” Ia mengulurkan


tangannya sambil tertawa, dalam hati aku sangat bersyukur Rio bisa kembali dan


tetap menjadi dirinya yang dulu.


“Jadi, kenapa kau terlihat murung, Lean?”

__ADS_1


“Tunggu dlu! Kau belum menjawab pertanyaanku!”


saat kulihat wajahnya ia terlihat sangat Serius. Kemudian aku putuskan tuk


menceritakan semuanya pada Rio tentang gadis misterius itu.


“Jadi Tia sudah mulai bergerak ya, Dengar ya Lean,


satu hal yang bisa kusampaikan padamu apapun yang terjadi jauhi gadis itu.”


Setelah berkata Rio langsung beranjak pergi dari hadapanku,


“oh iya, Gadis misterius yang kau sebut itu tadi


namanya Tia.” Setelah Rio pergi akupun kembali pulang dan mengerjakan beberapa


tugas yang belum terselesaikan sejak kemarin.


Malam telah tiba, dan setelah aku sadar aku sudah


berada ditepi sungai, seperti mimpiku kemarin


“Hi, Lean.”


“Kau lagi, siapa kau sebenarnya?”


“aku? Yah, bisa disebut akulah sebagian dalam


dirimu yang telah kaubuang.”


“Apa maksudmu? JANGAN BERCANDA KAU!! DASAR PALSU”


“Setelah membuangku kau cukup berani juga berkata


seperti itu ya, biarlah lagi pula aku tak bisa berbuat apa – apa.” Ia


Dengan perlahan kuambil benda yang ada dalam


genggamannya dengan tangan kananku.


“apapun yang terjadi jangan sampai kau hilangkan


pemberianku itu, kau bisa menganggapnya Azimat.”


Iapun langsung menghilang.


[Kriiing] Alarm berbunyi dan cahaya mentari telah


menyinari seisi kamarku yang berantakan ini.


Kulihat tangan kananku menggenggam smarphone yang


biasaku pakai yaitu smartphone milik Luce, setelah ku-aktifkan kembali ada


sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kuketahui


[Menyerahlah! Rumahmu sudah kami kepung, segera


keluar dengan tangan diatas dan jika kau tidak melakukannya aku tak bisa


menjamin keselamatanmu.]


Pesan apa ini? Iseng kah? Biarlah. Tiba – tiba

__ADS_1


terdengar suara ketukan pintu yang keras


“HEY, AKU TAU KAU ADA DIDALAM CEPAT SERAHKAN


DIRIMU DENGAN TENANG. ATAU KAU LEBIH MEMILIH MENGGUNAKAN KEKERASA?”


Tak pikir panjang aku langsung mengambil pedang


kayu koleksiku dan menuju pintu depan dimana suara itu berasal. Setelah semakin


dekat aku semakin curiga dengan suara itu.


“HEY,CEPAT BUKA AKU BERI WAKTU 10 DETIK ATAU KAMI


DOBRAK.”


Iapun mulai menghitung dan tak membiarkanku tuk


berfikir. Setelah buka dengan sekuat tenaga kupukul dia dengan pedang kayu


kesayanganku sampai ia tergeletak ditanah.


“eh? R-Rio? Selamat pagi, Rio. Yaudah aku kembali


tidur ya, selamat malam” bergegas kembali dan menutup pintu, tapi Rio bisa


menahan pintu dengan kakinya.


“Tunggu dlu kau, Sialan. Bukankah ada hal yang


harus kau katakan padaku, hah?


Dengan sekuat tenaga kututup pintunya dan langsung


berangkat kekampus lewat pintu belakang, dan tentu saja aku membawa smartphone


Luce. Setelah pergi agak jauh akupun mencari sebuah taksi dan ternyata ia


kembali muncul didepanku, ya benar, ia adalah Tia.


“L-Lean? Kenapa kau ada disini?”


“kenapa? Inikan daerah umum?”


“oh iya juga. LEAN! Kamu mau tidak pergi


bersamaku, ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu.”


Saat aku mau menjawabnya tiba – tiba ada sebuah


sepatu melesat dan mendarat di kepalaku sampai membuatku terjatuh. Dan ternyata


pelakunya adalah Rio, kelihatannya dia berhasil menemukanku karena melacak


smartphone milik Luce ini.


“akhirnya ketemu juga kau, Lean. Setelah kau


membuatku merasakan sakit bisanya kau meninggalkanku tanpa minta maaf ya.” Rio


datang dan menyeretku menjauh dari Tia


“RIO! Apa maksudmu ini? Kenapa kau menghalangiku?

__ADS_1


Bukankah kita memiliki tujuan yang sama untuk mengembalikan ingatan Lean?!”


- Bersambung -


__ADS_2