
10 menit telah berlalu, kupandang setiap sudut
taman tak ada orang lain, selain anak kecil yang sedang bermain di kotak pasir
sendirian. Nampaknya ia sedang membuat istana pasir, ia berusaha dengan keras
namun usahanya sia2, tanpa air mustahil dpt membuat istana pasir ku pantau di
sekitar tak ada air maupun keran yang hidup, kuputuskan tuk mendekati dan
menolongnya menggunakan air mineral di tangan kananku, walau aku belum mengerti
maksud dari Ria pasti tidak apa2 jika aku gunakan sedikit saja air ini.
Kupanggil anak kecil itu dan menoleh, ternyata
anak itu adalah adik dari Ria, terik matahari membunuh suasa ini, keringat
bercucuran padahal kurang lebih aku disini hanya 10 menit, tapi berbeda dengan
anak ini. Walau keringat sudah membasahi wajahnya ia tetap berusaha membuat
istana pasir seakan2 itu sangatlah penting. Pada akhirnya kutanyakan alasan itu
__ADS_1
padanya, dengan senyuman polosnya ia berkata
“Kata kakak, ia akan sembuh bila aku bisa membuat
istana pasir ini, jadi aku tak boleh bermalas2an sekarang, semua demi kakakku.”
Kata2 itu terus terngiang2 dalam pikiranku, ia terus berusaha walau ia tak
paham caranya mencapai tujuan tersebut, tapi ia tetap yakin dan punya tekad
yang kuat demi mencapainya. Berbeda denganku, hanya bisa mengandalkan orang
disekitarku saja, apa yang bisa kulakukan jika sendirian? Ku usap air mataku
dan membantunya membuat istana pasir.
didepan kami berdua, tak tahan akan rasa penasaran ini kucoba untuk memeriksanya, saat aku berdiri aku kaget,
ternyata dibalik semak2 itu ada Tia, Ia loncat dan menabrakku sampai kami
berdua terjatuh
“adu-duh, hati2 dong – eh Lean? Akhirnya ketemu
__ADS_1
juga, sekarang giliranmu aku akan hadang mereka selama yang kubisa kau pergilah
ke tempat yang aman!”
Tia menarik tanganku dan menggandengkannya dengan
tangan seseorang dibelakangnya, sempat ku terdiam dan bertanya apa yang terjadi
Tia malah membentakku untuk segera lari. Saat aku berlari menjauh sempat
terdengar bisikan Tia “Terima kasih” sambil tersenyum sedih, aku tak punya
waktu untuk menoleh dan melihatnya secara langsung. Saat ku berlari sambil
menggandeng tangan terdengar suara
“lepaskan aku, Lean.” Setelah mendengar suara itu
aku kaget dan langsung melihat siapa yang aku genggam ini.
Ternyata itu adalah Luce, iya Luce yang dulu aku
kenal. Ia pun berhenti berlari dan melepaskan tangannya dari genggamanku, ia
__ADS_1
bahkan tak melihatku mataku saat bicara denganku.
- Bersambung -