Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 22 - Anak


__ADS_3

10 menit telah berlalu, kupandang setiap sudut


taman tak ada orang lain, selain anak kecil yang sedang bermain di kotak pasir


sendirian. Nampaknya ia sedang membuat istana pasir, ia berusaha dengan keras


namun usahanya sia2, tanpa air mustahil dpt membuat istana pasir ku pantau di


sekitar tak ada air maupun keran yang hidup, kuputuskan tuk mendekati dan


menolongnya menggunakan air mineral di tangan kananku, walau aku belum mengerti


maksud dari Ria pasti tidak apa2 jika aku gunakan sedikit saja air ini.


Kupanggil anak kecil itu dan menoleh, ternyata


anak itu adalah adik dari Ria, terik matahari membunuh suasa ini, keringat


bercucuran padahal kurang lebih aku disini hanya 10 menit, tapi berbeda dengan


anak ini. Walau keringat sudah membasahi wajahnya ia tetap berusaha membuat


istana pasir seakan2 itu sangatlah penting. Pada akhirnya kutanyakan alasan itu

__ADS_1


padanya, dengan senyuman polosnya ia berkata


“Kata kakak, ia akan sembuh bila aku bisa membuat


istana pasir ini, jadi aku tak boleh bermalas2an sekarang, semua demi kakakku.”


Kata2 itu terus terngiang2 dalam pikiranku, ia terus berusaha walau ia tak


paham caranya mencapai tujuan tersebut, tapi ia tetap yakin dan punya tekad


yang kuat demi mencapainya. Berbeda denganku, hanya bisa mengandalkan orang


disekitarku saja, apa yang bisa kulakukan jika sendirian? Ku usap air mataku


dan membantunya membuat istana pasir.


didepan kami berdua, tak tahan akan rasa  penasaran ini kucoba untuk memeriksanya, saat aku berdiri aku kaget,


ternyata dibalik semak2 itu ada Tia, Ia loncat dan menabrakku sampai kami


berdua terjatuh


“adu-duh, hati2 dong – eh Lean? Akhirnya ketemu

__ADS_1


juga, sekarang giliranmu aku akan hadang mereka selama yang kubisa kau pergilah


ke tempat yang aman!”


Tia menarik tanganku dan menggandengkannya dengan


tangan seseorang dibelakangnya, sempat ku terdiam dan bertanya apa yang terjadi


Tia malah membentakku untuk segera lari. Saat aku berlari menjauh sempat


terdengar bisikan Tia “Terima kasih” sambil tersenyum sedih, aku tak punya


waktu untuk menoleh dan melihatnya secara langsung. Saat ku berlari sambil


menggandeng tangan terdengar suara


“lepaskan aku, Lean.” Setelah mendengar suara itu


aku kaget dan langsung melihat siapa yang aku genggam ini.


Ternyata itu adalah Luce, iya Luce yang dulu aku


kenal. Ia pun berhenti berlari dan melepaskan tangannya dari genggamanku, ia

__ADS_1


bahkan tak melihatku mataku saat bicara denganku.


- Bersambung -


__ADS_2