Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 23 - Jenaka


__ADS_3

Mendung perlahan menghampiri, menutupi mentari


yang selama ini menemani kami, cahaya mulai meredup di gantikan dengan


kegelapan dan kedinginan yang semakin menjadi. Kutatap wajahnya yang tak


berubah sejak dulu itu, semakin lama kupandang semakin sakit hati ini entah


disebut apakah perasaan ini, Bahagia? Sedih? Semua bercampur aduk dalam setiap


tetes air mata ini, ku usap dengan lembut rambut panjang yang selalu kurindukan


itu.


Lucepun melepaskan tanganku dari dan perlahan


menjauh dariku sambil menutup mukanya dengan kedua tangan mungil itu, semakin


ke mendekat semakin ia menjauh, tangisan mulai terdengar dibalik tangan itu.


Setiap kata yang terlontar membuat tangisannya semakin menjadi – jadi. Ku


berlari dan memegang kedua pundaknya dengan erat


“Tenanglah, Luce!” Dan ku dekap ia dengan erat, ku


belai rambutnya sekali lagi sambil berbisik padanya sampai tangisannya mereda.

__ADS_1


Ku ceritakan beberapa cerita jenaka kami berdua saat masih kecil


“Luce, kamu ingat enggk? dulu saat kita masih


kecil, kita sering main berdua di taman, berangkat pagi pulang malam g kenal


waktu, bahkan aku ingat dlu kita sampai dicari sama bibi gara2 g pulang udh


malam, pergi ke ladang jagung dan mengambilnya beberapa untuk di bakar dan


ketahuan sama pemiliknya kita pun lari dan kau sembunyi di dalam gubuk tua


sambil menutup pintunya saat aku masih di luar, jadinya aku yang kena marahi.”


Luce mulai tertawa kecil “itu kan gara2 kamunya yang ngeyel ingin makan jagung


“Akhirnya kamu tertawa juga Luce.”


Luce pada akhirnya memelukku dengan erat juga,


sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah dalam dekapanku, sekian lama tak


kurasakan perasaan ini lagi. Perasaan dimana aku sangat ingin memilikimu


sepenuhnya tanpa kecuali. Tak sadar mendung sudah mengelilingi kami, hujan


mulai turun namun tak ada artinya bagi kami berdua, tiba2 saja terdengar

__ADS_1


seseorang mendekat, tertutup pohon tak dapat kulihat dengan jelas, perlahan


mulai mendekat dan akhirnya sampai di depanku.


“Apa yang kau lakukan disini Jun?” Jun terdiam tak


menjawab pertanyaanku dan pandangannya terfokus pada Luce, ia mengeluarkan


pisau dari kantongnya sambil mendekat. Aku segera menghentikannya namun ia


terus melawan,


“Tolong minggir,Lean. Dia itu iblis, dia tidak


punya hati atau rasa penyesalan ia berhak mendapatkan balasannya, mata harus


dibalas dengan mata, maka ia harus membayarnya dengan nyawa kali ini.” Kupegang


kedua tangan dan kukunci kedua kakinya sampai ia tak dpt bergerak


“Lean, apa yang kau lakukan. Knp kau melindungi


pembunuh ini? Dialah yang membunuh ibumu lean, dia itu iblis bahkan ia telah


membunuh kedua orang tuanya dengan tangannya sendiri. Apakah kau masih


memihaknya setelah tau semua ini lean?!”

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2