
Mendung perlahan menghampiri, menutupi mentari
yang selama ini menemani kami, cahaya mulai meredup di gantikan dengan
kegelapan dan kedinginan yang semakin menjadi. Kutatap wajahnya yang tak
berubah sejak dulu itu, semakin lama kupandang semakin sakit hati ini entah
disebut apakah perasaan ini, Bahagia? Sedih? Semua bercampur aduk dalam setiap
tetes air mata ini, ku usap dengan lembut rambut panjang yang selalu kurindukan
itu.
Lucepun melepaskan tanganku dari dan perlahan
menjauh dariku sambil menutup mukanya dengan kedua tangan mungil itu, semakin
ke mendekat semakin ia menjauh, tangisan mulai terdengar dibalik tangan itu.
Setiap kata yang terlontar membuat tangisannya semakin menjadi – jadi. Ku
berlari dan memegang kedua pundaknya dengan erat
“Tenanglah, Luce!” Dan ku dekap ia dengan erat, ku
belai rambutnya sekali lagi sambil berbisik padanya sampai tangisannya mereda.
__ADS_1
Ku ceritakan beberapa cerita jenaka kami berdua saat masih kecil
“Luce, kamu ingat enggk? dulu saat kita masih
kecil, kita sering main berdua di taman, berangkat pagi pulang malam g kenal
waktu, bahkan aku ingat dlu kita sampai dicari sama bibi gara2 g pulang udh
malam, pergi ke ladang jagung dan mengambilnya beberapa untuk di bakar dan
ketahuan sama pemiliknya kita pun lari dan kau sembunyi di dalam gubuk tua
sambil menutup pintunya saat aku masih di luar, jadinya aku yang kena marahi.”
Luce mulai tertawa kecil “itu kan gara2 kamunya yang ngeyel ingin makan jagung
“Akhirnya kamu tertawa juga Luce.”
Luce pada akhirnya memelukku dengan erat juga,
sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah dalam dekapanku, sekian lama tak
kurasakan perasaan ini lagi. Perasaan dimana aku sangat ingin memilikimu
sepenuhnya tanpa kecuali. Tak sadar mendung sudah mengelilingi kami, hujan
mulai turun namun tak ada artinya bagi kami berdua, tiba2 saja terdengar
__ADS_1
seseorang mendekat, tertutup pohon tak dapat kulihat dengan jelas, perlahan
mulai mendekat dan akhirnya sampai di depanku.
“Apa yang kau lakukan disini Jun?” Jun terdiam tak
menjawab pertanyaanku dan pandangannya terfokus pada Luce, ia mengeluarkan
pisau dari kantongnya sambil mendekat. Aku segera menghentikannya namun ia
terus melawan,
“Tolong minggir,Lean. Dia itu iblis, dia tidak
punya hati atau rasa penyesalan ia berhak mendapatkan balasannya, mata harus
dibalas dengan mata, maka ia harus membayarnya dengan nyawa kali ini.” Kupegang
kedua tangan dan kukunci kedua kakinya sampai ia tak dpt bergerak
“Lean, apa yang kau lakukan. Knp kau melindungi
pembunuh ini? Dialah yang membunuh ibumu lean, dia itu iblis bahkan ia telah
membunuh kedua orang tuanya dengan tangannya sendiri. Apakah kau masih
memihaknya setelah tau semua ini lean?!”
__ADS_1
- Bersambung -