Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 6 - Hilang


__ADS_3

Semakin dingin ditengah hujan ini cahaya mentari


mulai meredup, perlahan tetesan air menyentuh tanah, membuatku mengingat


tentangmu lagi, tak tergapai, tak terhenti, tak bisa dipahami aku hanya dapat


melihat dan menunggunya sampai reda dan biarkan mentari menghapusmu jejakmu


begitu saja. Tanpa petunjuk, tanpa wujud, semuanya langsung sirna, Hilang dari


segalanya.


Sesudah aku mengusap air mataku terdengar suara


ketukan pintu buatku penasaran, kubuka pintu itu dan ternyata ada Tia


dibaliknya dengan keadaan basah kuyup karena diluar sedang hujan. Kubergegas


lari mengambil handur dan menyuruhnya masuk tapi ia hanya terdiam. Tetesan air


terus menetes dari dagunya, apakah itu hanya air hujan? Atau air mata yang


ditutupi air hujan?. Saat ku bertanya sekali lagi alasannya datang ia menatapku


dengan wajah pucatnya dan iya, sekarang aku yakin itu air mata. Tia langsung


berlari dan memelukku dengan erat seakan aku hendak pergi meninggalkannya.


Tangisannya terdengar jelas walau ditengah hujan


ini, disetiap tangisnya ia memanggil namaku berulang kali.”LEAN!LEAN! LEAN!


LEAN!.” Aku selimuti dia dengan handuk dan kubawa masuk, duduk didepan perapian


di ruang tamuku. Genggamannya padaku tak bisa dilepaskan bahkan jika aku


menariknya dengan paksa, ia terlihat begitu ketakukan sambil menggenggang


pergelangan tanganku dengan tangannya yang bergetar ketakutan. Kuputuskan untuk


duduk disebelahnya sampai ia kembali tenang. Kusuruh ia ganti baju tapi menolak


dengan keras untuk melepaskan genggamannya, dengan berbagai keputusan akhirnya


ia ganti baju dengan aku yang membelakanginya dengan mata yang tertutup.


Sesudah ganti pakaian ia kembali menggenggam


pergelangan tanganku dengan ketakutan, kubawa dia kembali keruang tamu untuk

__ADS_1


menghangatkan tubuhnya, dengan aku bersamanya.


15 menit telah berlalu…..genggamannya mulai


longgar dan akhirnya terlepas saat ku pandang wajahnya ia ternyata tertidur


dengan pipi yang dibasahi air mata. Kubaringkan ia disofa kan kuselimuti dia


sambil bertanya kepada diriku, apa yang sebernarnya ia rasakan saat melihatku


karena bisa sampai seperti ini?.


Dunia terus diselimuti kegelapan tanpa setitik


cahaya dimanapun, air terus berjatuhan mengisi kekosongan jalan di depan


rumahku, hujan dan perasaanku mulai synchron dalam irama kesedihan yang menusuk


hatiku dengan dinginnya.


Dari ruang tamu terdengar gaduh kucoba tuk


memeriksa ternyata Tia sudah terbangun, setelah melihatku ia tersenyum dan


memelukku lagi, “Lean! Aku tau kau tidak akan meninggalkanku sendirian lagi


kali ini. Pasti.” Karena Tia sudah mulai tenang aku mengajaknya berbicara


Iapun bercerita tentang kehidupan di SMAnya


bersamaku dengan Rio dan bersama dengan Luce juga, inilah yang membuatku kaget,


ternyata saat SMA aku sudah berhasil bersama dengan Luce lagi, penantianku


ternyata terbalaskan. Tia menjelaskan juga tentang perasaannya padaku itu mulai


tumbuh diantara ikatan persahabatan kita berempat, namun sebelum Tia membuat


rencena menembakku aku sudah bergerak terlebih dahulu untuk menembak Luce di


malam hari ditaman, kabar itu terdengar sampai Tia, karena kesal Tia berencana


mencelakakan Luce agar Lean bisa dimilikinya, ia menaiki sepeda motor dan


hendak menabrak Luce ditaman sebelum Lean tiba….berhubung saat malam Tia tidak


bisa melihat dengan jelas tapi ia berhasil menabrak satu orang sampai


terpental, setelah di dekati ternyata yang ia tabrak adalah Lean yang sedang

__ADS_1


menanti Luce, dengan segera Lean di bawa kerumah sakit terdekat dan dirawat


disana. Satu minggu berlalu Lean sudah kembali sembuh total namun ia harus


pulang kampung menuju keluarganya karena ia menderita amnesia dan anehnya


amnesia ini hanya membuatnya lupa tentang masa – masa SMAnya. Setiap kali Tia


menjenguk Lean terasa ada yang menangis dalam hatinya. Tia selalu bercerita dan


bercanda gurau dengan Lean, namun Lean hanya membalas dengan senyum palsu


seakan Lean tidak pernah mengenal Tia. Sebulan kemudian tanpa berpamitan Lean


pergi ke kampung halamannya.


Beberapa tahun kemudian Tia mendengar tentang


kabar Lean dari Rio, bahwa ia melihat Lean di kampusnya, tanpa pikir panjang


Tia langsung menuju Kampus Rio untuk bertemu Lean. Karena peraturan yang ketat


melarang orang luar masuk, Tia memutuskan untuk membuntuti Lean untuk beberapa


hari ini, mata mereka sering saling bertatapan tpi ttp Lean menggapnya, hanya


orang asing.


Disitulah perasaan putus asa Tia terlahir dan


membuatnya ingin bunuh diri dijembatan, namun saat bunuh diri ia tak melihat yg


dibawah hanya melompat dari atas, sampai Lean menangkap dan menyelamatkan Tia.


Hal itu membuat Tia semakin tak tahan untuk merelakan Lean. Tia hanya ketakutan


lean hilang tanpa kabar, tanpa alasan, tanpa ingatan, ingatan tentang mereka.


Setelah bercerita Tia memegang tanganku dengan


lembut dan meminta maaf atas apa yang ia lakukan kepadaku, setelah mendengarkan


semua itu emosiku langsung memuncak dan melempar genggaman tangannya sambil


berkata. “Aku bisa saja memaafkanmu atas apa yang sudah kau lakukan padaku,


Tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu karena sudah mencoba mencelakai Luce!


Sekarang pergi kau!” Tia hanya bisa menangis dan pergi meninggalkanku sambil

__ADS_1


bergumam “Ini semua karena kau, Luce. Lihat saja pembalasanku.”


- Bersambung-


__ADS_2